Story

Mama Lebih Sayang Sama Abang

Foto Sri Wahyuni.

 

 

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1769411956474192&set=pcb.1769412339807487&type=3&theater

 

Sahabat steemians pernah  salah paham sama anak?

Hehehehe karena anak-anak sudah besar, hubungan kami sudah seperti teman sebaya. Namanya  teman, sekali-kali pastilah ada gesekan. Lebih sering masalahnya ada di saya.

Predikat  orangtua … merasa punya lebih banyak pengalaman dan merasa punya hak dan  bisa  marah …  ya … tanpa sengaja sering disalahgunakan.

Saya punya dua orang anak. Sulung laki-laki, kami memanggilnya Abang. Yang kedua perempuan, kami memanggilnya Ade.

Selain pendamping hidup, mereka berdua ada di lingkaran  terdekat saya. Begitu Abang  mulai belajar bekerja dan harus pindah ke daerah berjarak kurang lebih 135 km dari tempat kami tinggal, otomatis saya lebih sering berdua Ade.

Ade  memiliki banyak sekali  persamaan dengan saya. Kemiripan ini, berdampak  sering memperlakukannya, seperti saya memperlakukan diri sendiri. Akibatnya ….

Mama lebih sayang sama Abang, dari pada sama aku, begitu kata Ade saat terakhir kali kami salah paham.

Dahi saya langsung berkerut dalam. Saya terdiam. Benarkah?

Merasa tidak seperti itu, saya memanggilnya, dan kami ngobrol di atas tempat tidur. Berhubung  persentase  cara kerja otak kiri dan kanan  kami sama, saya memberikan beberapa fakta yang sama-sama kami ketahui dan kami setujui. Akhirnya Ade bilang, “Aku aja lagi baper (bawa perasaan) kali, Ma.”

Kami berbaikan lagi. Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal hati saya.

Sabtu pagi, saya mengantanya untuk mengikuti kegiatan HiCollege 2018.  Diselenggarakan  di Bandung pada 30 Juni – 1 Juli 2018. Penyelenggaranya Forum Ikatan Silaturahmi Alumni HKPI SMAN 2 Cimahi.

Ade,  insyaa Allah akan memulai kehidupan kampus bulan depan. Ada beberapa cerita dan pengalaman yang sangat menarik  saat kegiatan berlangsung, yang diceritakan di tengah-tengah matanya yang mulai mengantuk. Keren banget. Di lain kesempatan saya akan ceritakan ya 🙂

Tanpa sengaja, saya menemukan kertas  hasil evaluasi HiCollge 2018. Dari hasil test kepribadian  MBTI,  ternyata  sama sepertii Abang. Ade lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan  dibanding informasi objektif. Dan selama ini saya  memperlakukannya  terbalik. Lebih mengedepankan informasi objektif dibanding perasaannya.

Ya Allah, apa yang sudah saya lakukan padanya?

Saya langsung mengetuk pintu kamar, memeluknya. Minta maaf padanya. Da balas memeluk saya. “Mama kenapa nangis?”

Perasaan sih engga nangis. Memang ada sedikit airmata yang mendesak keluar. Tapi masih bisa ditahan. Dan dia mengetahuinya. Berarti test kepribadian itu benar. Perasaannya dominan. Rasa bersalah saya membesar.

Saya hanya bisa mencium pipinya. Bolak balik. Seraya minta maaf. Ade mengelitik pinggang saya. Saya langsung berhenti memeluknya. Melihat matanya, dan meminta maaf, karena telah salah secara emosional dalam memperlakukannya. Pantas saja, dia beranggapan Abang lebih disayang dibanding dirinya.

Foto Sri Wahyuni.

 

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1769414029807318&set=pcb.1769414939807227&type=3&theater

Namun saya masih beruntung. Walaupun perasaan memegang peranan penting baginya,  informasi objektif juga berperan besar dalam dunia berpikirnya. Dan dia tahu, saya sangat  menyayanginya.

Semoga ke depan, saya bisa menjadi ibu dan sahabat yang lebih baik baginya

Jangan Lupa Bahagia

Bandung Barat, Minggu 1 Juli 2018

Salam

 

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *