Fiction

The Secret Life of Mara # 9

“Asik … asik … Mama bikin nasi kuning!”  terdengar teriakan  adik laki-laki Mara dari dapur. “Ade … Ade … ayo sini bantuin Mama!”

Adik perempuan Mara yang sedang tidur-tiduran  sambil melihat-lihat buku cerita di sebelah Mara, langsung bangun.

“Wah! Mama bikin nasi kuning! Horee! Hore!” Kaki kecil anak perempuan  berumur empat tahun itu,  tergopoh-gopoh berlari keluar kamar.

Bibir Mara mengulas senyum. Mama yang lulusan SMK jurusan tata boga, memang koki hebat. Apa pun yang dimasaknya selalu enak. Dia senang, bakat Mama yang satu ini menurun padanya. Ditambah senyum yang selalu muncul di bibir Mama. Senyum itu senantiasa  membuat keluarga  mereka gembira. Dia ingin jadi seperti Mama, kalau sudah dewasa nanti.

Mara terus menulis konsep surat lamaran kerja.  Dia akan mengatakannya pada Mama dan Ayah malam ini.

 

Alam, Kayu, Pohon, Cahaya, Sun, Kabut, Berkabut, Hutan

pixabay

Suasana rumah sudah sepi. Adik-adiknya sudah tertidur pulas, setelah nambah nasi kuning berkali-kali. Lauknya kering tempe dan telor bulat bumbu rujak. Ini adalah hidangan mewah untuk mereka sekeluarga. Biasanya Mama akan membuat telur dadar tipis, kemudian dipotong kecil-kecil agar jadi banyak.

Perlahan Mara bangun. Dengan langkah berjingkat, menuju kamar orangtuanya. Mulut Mara yang sudah terbuka kembali tertutup, ketika mendengar suara lirih Mama dan Ayah  dari  dalam kamar.

“Gimana Yah? …   Tadi siang  Mama ketemu  Mama Nida. Dia bilang, hutang kita harus lunas besok. Kalau tidak dia akan melaporkan kita ke Polisi, karena mengingkari janji,” ujar Mama lirih.

Ayah menarik nafas panjang. “Dagangan Ayah belakangan ini lakunya sedikit … apalagi Ayah sering sakit, jadi sering ke Bu Bidan … kita memang salah. Tidak bisa menyicil sesuai dengan akad saat meminjam. Besok Ayah akan cari kerja tambahan.”

“Tapi Ayah kan masih belum sehat betul,” seru Mama kaget.

“Stt stt pelankan suaramu!” ujar Ayah lirih. “Nanti anak-anak bangun.”

“Katanya kita kasih motor kita saja sebagai jaminan … Mama  mau  jualan kue di PAUD.”

“Maafin Ayah ya Ma … tidak pernah nyenengin Mama.”

“Hush, Ayah ini ngomong apa? … yang Allah kasih ke kita lebih banyak …  ini kan cuma beban  kecil … sebenarnya … Mama punya tabungan di PAUD … gaji Mama bertahun-tahun  kan tidak pernah diambil … kalau ada sisa belanja, juga Mama tabung di sana …  tapi itu rencananya  untuk persiapan kuliah Mara.”

“Jangan dipakai uang itu! Mara harus kuliah ….”

Mara menggigit bibir, menahan air mata yang mendesak keluar. Dengan langkah sangat perlahan dia kembali ke kamar. Mara menarik nafas panjang beberapa kali. Mama Nida menepati kata-katanya.

Semua gara-gara dirinya. Tekadnya semakin bulat. Setelah perasaannya lebih tenang, Mara berjalan kembali  menuju kamar orangtuanya.

Sekolah geger, ketika Mara menyampaikan keputusannya menolak undangan fakultas kedokteran yang diterimanya.

Bu Supinah membujuknya berjam-jam.

Mara tetap bergeming dengan keputusannya. Airmata Mama dan Ayah semalam pun tidak membuatnya mampu mengubah tekad. Dia  memohon  izin  serta  doa dari  Mama dan Ayah, untuk menjalani hidup yang dipilihnya.

 

Lanskap Gunung, Pegunungan, Pemandangan, Steinweg, Alam

pixabay

Bapak Kepala Sekolah marah-marah, setelah berbagai bujukan dan masukan dari berbagai guru tidak mampu mengubah keputusan Mara.  Setelah berjalan mondar mandir di hadapan Mara yang duduk didampingi Bu Supinah, dia berhenti di depan  Mara.

“Penolakan ini akan membuat sekolah kita di black list universitas itu tahun depan. Kamu tidak memikirkan nasib adik-adik kelasmu?”  serunya  galak. Kumis tebalnya bergerak-gerak tidak terkendali.

Jangan Lupa Bahagia

Bandung Barat, Selasa 3 Julii 2018

Salam

 

 

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *