Story

 

Hari ini, Kamis 5 Juli 2018, pukul 12.20 WIB, adik mama saya, Sapto Trilaksono, saya memanggilnya Le Ato, meninggal dunia.

Saya banyak sekali memiliki kenangan bersamanya. Rumah mama dulu bersebelahan dengan rumah Mbah Kakung. Le Ato tinggal bersama Mbah Kakung.

Le Ato sangat pintar. Setelah kuliah di UI, meneruskan S2 di Filipina. Jadi direktur termuda di  perusahaan BUMN, di usia 36 tahun.

Waktu SD, saat saya harus berenang, Le Ato sering datang menjemput. Padahal dia baru pulang kerja, di daerah Gunung Sahari. Tempat berenang saya di dekat Cinangka, dari ujung ke ujung.

Dia yang pertama kali mengenalkan KFC. Waktu itu saya ada study tour ke Ancol dari sekolah. Sewaktu saya harus hadir di sebuah universitas untuk lomba puisi sebagai wakil dari sekolah, Le Ato juga yang mengantar saya.

Kenangan lainnya. Dia suka sekali cerita silat. Saya baca Kho Ping Hoo, nonton video cerita silat bersambung. Terkadang kami nonton silat di bioskop bersama sepupu yang lain, setelah keluar lanjut nonton midnight.

Ketika kelas 2 SMA, karena dapat rumah kantor, Le Ato dan keluarga pindah rumah. Saya dan seorang sepupu, ikut bersama Le Ato.

Saat saya sedang menyusun skripsi, jam 1.30 dinihari, Le Ato baru pulang kerja. Saya langsung disuruh tidur. Saat itu rasa haru, membuat saya hampir menitikkan airmata.

Le Ato banyak sekali mempengaruhi hidup saya. Dale Carnegie, buku pengembangan pribadi yang pertama saya baca. Dari koleksi buku Le Ato. Liburan ke Bali, Jogyakarta. Makan makanan korea di lantai teratas hotel.

Le Ato membuka dunia lain untuk saya. Selain jadi ayah secara emosional. Le Ato adalah ayah intelektual saya.

Begitu saya selesai sidang skripsi, saya dan pacar saya dipanggil Le Ato. Le Ato  bilang, kalian sudah mau selesai kuliah. Pikirkan masa depan kalian.

Kami berdua berbeda keyakinan. Le Ato memberikan gambaran, bagaimana kehidupan kami kalau memang mau terus berhubungan.

Puasa sendirian. Natal sendirian. Belum anak-anak yang kebingungan.

Tak lama kemudian, kami memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing.

Ceritanya belum selesai. Tak lama kemudian saya mulai dekat dengan mantan pacar.

Pagi itu ketika saya sedang duduk di teras, Le Ato mau siap-siap kerja. Ketika saya mulai ngobrol tentang hubungan saya, Le Ato langsung berkomentar, “Sudah kamu kawin saja sama Duzan. Mana telpon Duzan. Sini Le Ato yang telpon ke Duzan.”

Hehehe tentu saja saya tidak kasih nomor telepon, tapi tak lama kemudian saya menikah dengan Duzan.

Enam tahun saya tinggal bersama Le Ato. Dari SMA sampai menikah.

Tahun lalu, Le Ato meraih gelar doktor. Setelah berjibaku dengan ca prostat beberapa bulan terakhir, takdirnya sudah sampai.

Semoga sakitnya yang dijalaninya dengan sabar dan keyakinan penuh dan kuat ‘Allah pasti nolong aku’, menjadi penghapus dosa.

Semoga amal ibadahnya diterima.

Ini adalah sebuah catatan kenangan saya bersama Le Ato. Sudah empat jam kami dijalan, dan kami masih belum sampai juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *