Story

Why me? Why not?

Saat mengikuti sebuah pelatihan guru PAUD, narasumber mengatakan beliau belajar Quantum Healing.

Setelah selesai, saya mendekati pembicara. Bertanya mengenai Quantum Healing. Saya tertarik mempelajari Self Healing.

Beliau mengatakan waktu itu pelatihannya di Jakarta dan sangat mahal. Karena banyak tingkatannya.

Saya tinggal di Kabupaten Bandung Barat.  Jadi saya hanya mengangguk. Sempat bertanya mengenai aura, beliau mengatakan itu adalah Biofisika.

Ma syaa Allah. Saya lihat dari salah satu buku-buku warisan  Le Ato, terdapat Quantum Healing By Syamsul Balda.

Saya baru baca sekilas. Di sana dibahas dzikir, energi penyembuh dalam Alquran, power of mind, quantum touch, olah teknologi, olah nafas, olah fikir, olah rasa, olah jiwa, mengoptimalkan energi dan cakra. Beberapa disiplin ilmu yang diramu menjadi sebuah pendekatan secara holistik.

Saya dulu sering bertanya, kenapa saya bertahun-tahun jadi kepala sekolah PAUD?

Saya berdoa memohon pada Allah, pekerjaan sebagai novelis romance comedy. Dan berhenti bekerja sebagai guru les, agar bisa punya banyak waktu untuk menulis. Tapi PAUD justru meminta waktu dan perhatian lebih banyak.

Syukurlah saya tetap bertahan di PAUD.

Karena melalui PAUD saya mengenal Steemit, kembali belajar menulis novel, mempunyai lebih banyak sahabat, belajar berkomunitas, sekaligus mendapatkan penghasilan dari kegiatan yang saya sukai.

Saya juga jadi tahu tentang keberadaan Quantum Healing.

 

Penting sekali mengetahui apa yang benar-benar diinginkan.

Sekali lagi, saya dibuktikan, Allah memberi apa yang saya inginkan. Sayang sekali kan, kalau kita meminta apa yang tidak kita butuhkan. Dan permintaan kita dikabulkan.

Saat keadaan jadi begitu menekan, muncul sebuah pertanyaan, “Why Me?”

Pertanyaan yang dijawab Allah dengan balik bertanya, “Why Not?”

Kemampuan kita untuk bisa memahami, apa makna dibalik sebuah peristiwa atau kejadian yang ditakdirkan pada kita, membuat pertanyaan “Why me” akan semakin jarang terlontar dalam pikiran.

Karena tidak ada rencana-Nya yang sia-sia.

Karena mengerti, semua yang terjadi hanya mempunyai dua dampak, baik dan baik sekali.

Tidak semudah membalik telapak tangan, memiliki keterampilan ini. Pasti banyak peristiwa-peristiwa yang mematahkan hati.  Namun manfaatnya akan luar biasa, bila kita mulai memiliki kemampuan ini.

Dari pengalaman di atas, saya  belajar mulai  hari  dengan pertanyaan, “Apa yang saya inginkan hari ini?”

Ini membuat saya lebih efektif merencanakan kegiatan harian.

 

Jangan Lupa Bahagia

Jakarta, Jumat 13 Juli 2018

Salam

 

Cici SW

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *