Fiction

Memahat Hidup # 17

“Gajimu bulan ini .”

Tangan Mara yang membuka tas kertas itu  terhenti. “Saya kan belum mulai kerja?” Dia mengembalikan  tas kertas   itu pada Pakde Parman.

“Tidak  apa-apa. Bukan uang Pakde … ini atas perintah Pak Tama juga.” Pakde Parman mengambil tangan Mara, kemudian menyerahkan tas  itu kembali. “Kamu engga usah ngomong apa-apa sama Bude. Budemu tidak  tahu masalah ini.”

Mara mengangguk perlahan. Pandangan Mara  menerawang  langit biru. Pakde Parman, selalu mentaati perintah Pak Tama. Bude Parman sendiri tidak berani menentang keputusan Pak Tama. Seperti apa Pak Tama? Galakkah Pak Tama? Pasti Pak Tama laki-laki tua bertubuh besar berwajah sangar, kalau Bude Parman yang tinggi besar dan sangat galak saja,  takut sama Pak Tama.

“Mara kamu kenapa?” tanya Pakde Parman.

Mara tersadar dari lamunannya. Dia melihat ke arah Pakde Parman.  “Harus saya apakan uang ini,  Pakde?” tanyanya dengan perasaan campur aduk.

“Untuk keperluanmu … kalau punya motor kan kamu harus beli bensin … juga untuk keperluan harianmu yang lain. Buka dulu isinya!”

Tangan Mara gemetar ketika membuka amplop. Tangannya mengeluarkan kertas tanda terima. Matanya terbelalak, melihat angka yang tertera di kertas dalam amplop.  Dia mendapatkan  upah minimum. Belum pernah  dia melihat uang sebanyak ini.

“Untuk percobaan selama tiga  bulan … kalau kinerjamu dianggap baik, gajimu akan dinaikkan.”

“Semuanya punya saya, Pakde?” tanya Mara tidak percaya.

Pakde Parman tersenyum sembari mengangguk.

Pikiran Mara langsung melayang ke rumah. Dia akan mengirimkan sebagian uang ini ke mama. Subhanallah wabihamdihi, dia bisa membantu ibu. “Pakde saya mau nabung dan kirim ke kampung  sebagian.”

“Boleh … ayo, mumpung waktu Pakde senggang. Pakde antar sekalian. Kita buka rekening dulu di bank.”

“Terima kasih banyak, Pakde.”

“Sama-sama, Mara … Pak Tama sudah baik sekali padamu … kamu juga bawa nama Pakde. Kerja yang bagus!”

“Ya, Pakde,” sahut Mara dengan tekad bulat. Subhanallah wabihamdihi  … subhanallah wabihamdihi … subhanallah wabihamdihi, Allah baik sekali sama aku.

Workplace, Team, Business Meeting, Business People

source

“Wah, Mara punya motor baru, ya?” tanya Pak Deni.

“Alhamdulillah. Dapat motor inventaris dari kantor … oh iya Pak Deni, kartu saya sudah jadi. Buku yang saya pinjam atas nama Pak Nendo, sudah dikembalikan. Tolong sampaikan terima kasih saya pada Pak Nendo, kalau ketemu.”

“OK. Siap belajar materi baru, Mara.” Tangan kiri  Pak Deni mengacungkan sebuah modul ke udara. Tangan kanannya memegang segulung kertas besar.

“Siap, Pak.”

“Bagus! Bapak seneng, punya murid semangat kayak kamu.” Pak Deni meletakkan modul di bangku panjang, kemudian  menempelkan kertas besar itu  di papan pengumuman.

“Pengumuman apa, Pak?” tanya Mara.

“Ini  … mau ada pelatihan kewirausahaan.”

“Belajar jadi pengusaha, Pak?” tanya Mara antusias. Dia berdiri di sebelah Pak Deni. Berusaha membaca tulisan yang tertera.

Pak Deni membalikkan badan ke arah Mara. “Ya. Ada bonusnya. Nanti akan ada test akhir, untuk melihat sejauh mana penyerapan materi. Yang mendapat nilai tertinggi, akan mendapatkan kesempatan magang di tempat  Pak Nendo kerja.”

“Pak Nendo memang kerja di mana, Pak?” tanya Mara dengan dahi sedikit berkerut. Kaliatannya Pak Nendo hampir seumuran dengan Kak Heri. Umur Kak Heri 22 tahun. Baru lulus kuliah dan masih cari pekerjaan.

“Pak Nendo punya banyak tempat kerja. Yang mau ngajar ini juga Pak Nendo.”

Kepala Mara mengangguk-angguk. “Kapan Pak, pelatihannya?”

“Minggu depan. Ayo kita belajar dulu ke kelas. Nanti kalau mau ikut, daftar  di ruang guru, Mara.”

“Engga apa-apa, Pak, saya ikut pelatihan lagi,” tanya Mara ragu. Dia sudah ambil kelas masak kue, memijat, menjahit. Semua pelatihan  keterampilan,  yang jam belajarnya tidak berbenturan. Dia akan mengajarkan pada mama, semua yang dipelajarinya di sini. Mama pasti senang.

“Kalau waktunya tidak bentrok, silakan.”

Mara mengangguk dengan senyum lebar. “Terima kasih banyak, Pak Deni.”

Dahlia, Dahlias Bud, Flower, Bud, Dahlia Garden

source

Pandangan Mara beralih ke arah pintu, ketika merasa ada orang di ambang pintu.

“Pak Nendo.” Serta merta Mara berdiri dari tempat duduknya.

“Siang, Mara.”

“Siang, Pak. Ada yang bisa dibantu?” Mara kembali duduk, setelah Pak Nendo duduk di hadapannya. Dia  mengecilkan volume speaker di sebelah pc.

“Saya mau ketemu Pak Deni.” Mata Nendo memperhatikan wajah Mara sekilas. Ada yang berubah pada diri gadis itu.

“Pak Deni lagi keluar sebentar. Tadi sudah titip pesen, kalau ada yang cari, tolong minta tunggu sebentar,” sahut Mara sambil tersenyum. Dia mematikan komputer, serta merta ruangan itu sunyi senyap. “Tamunya ternyata  Bapak.”

Nendo mengangguk sedikit. “Lagu apa itu, Mara?”

“Hm,” sejenak Mara  menatap Nendo dengan wajah tidak mengerti. Ketika melihat tangan Nendo menunjuk ke komputer, dia segera menjawab,” Instrumental lagu The Blue danube … kata buku yang saya baca, salah satu fungsinya akan merasa lebih rileks dan ringan.”

Melihat dahi Nendo terangkat sedikit, Mara melanjutkan setelah tersenyum lebar, “Kata buku yang saya pinjam pakai kartu Bapak, beberapa lagu bisa memberikan efek positif pada kita. Ini adalah salah satu lagunya. Ya … saya coba aja … kedengerannya juga enak … saya suka bunyi pianonya.”

“Kamu bisa piano?”

Mara menggeleng. “Saya pegang pianika waktu di sekolah.”

“Jam segini belum pulang?”  Wajah gadis didepannya terlihat sangat cerah dan bersemangat.

Mara melihat jam di dinding. Pukul 15.50 WIB.  “Mau … sebentar lagi.” Mara mulai  membereskan buku-bukunya.

Syukurlah tadi dia langsung ke sini.  Dahi Nendo sedikit mengernyit, menyadari lintasan pikirannya. Kerutan semakin dalam ketika darah yang mengalir dalam pembuluh darahnya terasa hangat.

“Masih suka ke perpus?” Mata Nendo mengikuti kesibukan tangan gadis itu. Entah kenapa, dia tidak mampu terus menatap wajah Mara.

Nendo berdiri, berjalan menghampiri jendela. Jalan raya di sebelah bangunan ini  terlihat lenggang. Tidak ada satu pun yang melintas. Matanya menatap langit yang mulai teduh. Dugaannya benar.  Dekat anak kecil ini, membuat emosinya campur aduk. Ada apa dengan Mara?

 

Jangan Lupa Bahagia

Bandung Barat, Kamis 19 Juli 2018

Salam

 

 

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *