Fiction

Langkah Demi Langkah # 24

“Iya.” Tubuh Nendo menegang. Walaupun sudah memprediksi Mara akan menanyakannya, tak urung, hatinya berdebar-debar juga. Yaa  dzal jallali wal ikram … yaa dzal jallali wal ikram  …. Tanpa henti ia terus mengucapkannya dalam hati.

Mara mengangguk dengan wajah kebingungan.

“Kenapa, Mara?” Dia harus mendapatkan kepercayaan Mara lagi.

“Bapak sengaja melakukan semua itu?” Ketika melihat Alis Nendo terangkat, Mara melanjutkan,”Saya dapat inventaris motor, gaji sebelum bekerja, dibuatkan SIM A dan C.”

“Tidak seperti itu, “ Nendo menggelengkan kepala untuk menegaskan maksudnya. “Pelatihan dan reward  sudah direncanakan  jauh sebelumnya.  Saya tidak membocorkan soal, bukan? … dan siapa pun yang mendapat nilai tertinggi, akan mendapat perlakuan yang sama sepertimu,” Nendo berusaha mengalihkan pembicaraan.

Kepala Mara kembali mengangguk dengan wajah lega.

Nendo tersenyum. Caranya memberikan hasil sesuai keinginan. Tinggal skak mat. “Bukankah kau  memilih fokus untuk lebih ingat  betapa beruntungnya kamu!”

Mata Mara bersinar, ketika ia tersenyum kepada Nendo.

person wearing green pants

source

“Baiklah, sampai ketemu lagi, Mara.” Nendo langsung berjalan meninggalkan Mara. Ia takut gadis itu akan mengejarnya dengan pertanyaan lain. Langkah Nendo terhenti seketika.

Takut! Kenapa gadis itu sering menimbulkan rasa takut dalam dirinya? Ia memijit tengkuknya perlahan, untuk mengusir rasa gundah yang tiba-tiba dirasakannya. Dia membalikkan tubuh.  Mara masih melihat ke arahnya. Tersenyum hormat seraya menganggukkan kepalanya. Dia langsung membalikkan badan, setelah membalas senyum Mara.

Dengan langkah gembira Mara memasuki ruangannya.

“Kamu dikasih apa, sama Pak Nendo?” tanya mentornya.

“Buku.” Ia menyodorkan tas plastik yang diberikan Nendo. “Mau baca?”

Mentor Mara  menggelengkan kepala, sembaril tertawa. “Kalau makanan aku mau. Aku engga suka baca buku. Aku  sholat dulu, Mara”

“Ok.” Mara melihat jam dinding di ruangannya. Masih ada waktu  istirahat 15 menit. Ia membuka kantong plastik.  Membaca judul  buku-buku itu sekilas. Melihat harga yang tertera di bagian belakang plastik pembungkus, membuatnya sangat resah. Jumlahnya sama dengan gaji minimum yang diterimanya. Ia akan mengganti uang buku, itu dengan cara mencicilnya.

Tapi ketika bertemu dengan Pak Nendo beberapa hari kemudian, bukannya mencicil, Mara malah dibelikan lebih banyak buku. Pak Nendo menanyakan buku apa yang sudah dibaca Mara. Ia mengajak diskusi singkat tentang buku tersebut.

Pak Nendo sering mengajaknya makan siang bersama di kantin karyawan. Mara tidak bisa menolaknya. Pernah suatu kali ia menolak dengan alasan banyak pekerjaan. Pak Nendo malah mengatakan akan makan siang di ruangannya.

“Pak, kalau kita makan di sini, banyak yang ngeliatin?” ujar Mara lirih. Ia memperhatikan sekeliling sekilas, sebelum memusatkan perhatian kembali pada makanan.

“Engga apa-apa,” sahut Nendo santai. “Mereka cuma ngeliat, kan? Engga ada yang jahat, sama kamu?”

“Semuanya baik,”  sahut Mara  dengan kepala tertunduk. Beberapa pegawai perempuan, jelas-jelas menunjukkan rasa benci, melihat Pak Nendo sering menemuinya.

“Kamu suka kerja di sini?”

“Sebenarnya iya ….” kata Mara dengan nada menggantung.

“Sebenarnya?” Alis Nendo naik ke atas sedikit.

“Iya … cuma kalau sering makan siang dengan Bapak, kita sering diperhatiin. Jadi saya susah nelen makanannya.”

Nendo tersenyum. “Engga bisa dianggap patung semuanya?”

“Malah ngeri, Pak! Kalau patungnya pada ngeliatin sambil melotot.”

Nendo tergelak. Setelah tawanya reda, Nendo bertanya dengan suara serius, “Saya jadi ngerepotin ya, Mara?”

“Engga juga, ” sahut Mara cepat. Ia mengaduk-aduk nasinya. “Saya seneng sekali, ada orang yang bisa diajak ngomong, tentang hal-hal yang baru saya pelajari. Kadang-kadang saya harus berpikir keras atau membacanya berulang-ulang, untuk mengetahui arti  sebuah kalimat.”

“Kalau begitu fokus aja, ke hal yang menguntungkanmu. Toh, kau tidak akan lama  di sini. Yang penting, kamu menjaga hubungan baik dengan semua orang.”

“Iya. Bener juga, Pak.” Mara menarik nafas lega. Mendapatkan solusi, dari keadaan yang mengganjal.

“Kalau engga bener, namanya bukan Nendo!” ujar  Nendo dengan nada bercanda.

Walaupun tidak mengerti, Nendo mengikuti kata hatinya. Setiap hari, ia akan mencari alasan yang masuk akal untuk dirinya sendiri dan Mara, agar bisa makan siang bersama gadis itu. Ia sadar, kelakuannya yang ganjil, pasti akan menjadi bahan pembicaraan. Namun karena selama ini, ia dikenal sebagai seorang pemilik usaha yang ramah dan adil, mereka pasti tidak akan berani secara terang-terangan memojokkan Mara.

Senang sekali, melihat Mara begitu giat membaca buku-buku yang dibelikannya. Bertanya tentang hal yang tidak dimengertinya. Mencoba hal-hal baru. Ia benar-benar terkesan, melihat semangat belajar Mara.

“Kenapa kamu giat sekali belajar, Mara?” tanya Nendo suatu ketika.

“Untuk mengembangkan diri.”

Alis Nendo terangkat sedikit. “Setelah itu apa?”

“Meningkatkan bidang keuangan.”

“Kenapa itu jadi pilihan kedua, bukankah tujuanmu ke sini untuk cari uang?”

“Saya  lihat Ayah bekerja sangat keras, membanting tulang, namun tetap saja pendapatannya kecil. Maaf… bukannya mengecilkan ayahku sendiri… tapi seperti yang Bapak bilang saat pelatihan,  para pemain Opera Van Java, mereka bekerja dengan gembira, seperti main-main, waktunya sangat singkat, namun bisa menghasilkan uang yang jauh lebih banyak.  Pasti itu karena mereka bekerja sesuai dengan passion mereka. Saya ingin menjadi orang yang seperti itu.” Mara tersenyum melihat ke arah Nendo. Dia terdiam sesaat. “Produktif selaras tuntutan jiwa.”

Nendo tersenyum menyetujui.

“Saya  masih mencari di mana passion saya. Sementara belum temukan, saya kerjakan dan pelajari,  apa yang ada di depan saya. Allah pasti akan menolomg saya. Pintu passion  pasti akan pasti  saya temukan.”

“Bagus sekali logika pikiranmu!” puji Nendo.

“Siapa dulu, gurunya.”

Nendo tertawa tergelak, mendengar jawaban Mara. Tak sabar rasanya, menunggu hari esok. Mengetahui apa lagi yang dipelajarinya kali ini. Melihat Mara, seperti melihat dirinya sendiri belasan tahun lalu. Haus informasi, persisten. Mara tumbuh lebih cepat dari perkiraannya.

river surrounded by trees

source

Dikelilingi pertumbuhan selalu membuat batinnya terasa damai. Seperti perasaannya saat melihat air sungai yang mengalir. Rasa damai yang dirasakannya saat mendampingi pertumbuhan Mara sangat  dalam. Kalau waktu magang Mara yang dua bulan habis, ia akan menawarkan Mara untuk magang di perusahaannya yang lain.

Feelingnya mengatakan, gadis di hadapannya akan sukses, di bidang apa pun yang dipilihnya.  Siapa laki=laki beruntung yang akan terus melihat pertumbuhan ini?

Tiba-tiba dia merasa sangat kesepian.

Bandung Barat, Jumat 27 Juli 2018

Salam

Cici SW

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *