Fiction

Cerita Mudik

Bab Enam

Ambang Asa

Beautiful skyline of Tokyo with orange and blue lights illuminating its streets

source

Dengan langkah bergegas, Nendo menghampiri  Mara, yang sedang duduk  dengan wajah kebingungan di pos jaga satpam kantor. Kepala Mara sedang menatap langit, hingga tidak menyadari kehadirannya.

“Mara, kenapa masih di sini?” tanya Nendo dengan alis bertaut. “Bukannya kamu sudah pulang  kampung dua hari  lalu?”

Mara menoleh ke arah Nendo  dengan wajah kaget.  “Pak Nendo!   Saya  belum dapat bis, Pak,” sahut Mara dengan senyum lemah di bibirnya. “Bapak belum mudik?”

“Saya baru  mau berangkat … ada dokumen  yang tertinggal di kantor,” tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Nendo. “Sebentar, jangan kemana-mana! Saya  ke dalam dulu.”

Mara mengangguk seraya berdiri. “Saya sekalian mau isi air mineral,” ujar Mara. Dia  mengikuti Nendo memasuki kantor.

Tak sabar menunggu pintu lift terbuka, Nendo lari melalui tangga ke kantornya di lantai tiga. Dalam hitungan menit, dia  sudah kembali ada di lantai dasar.  “Tujuan mudik kita  searah,  mau bareng?”

“Naik mobil Bapak?” tanya Mara linglung. Matanya melihat sekeliling.

“Iya … atau kau mau ke rumah Pakdemu?” tanya Nendo setengah hati.

Mara menelan ludah.  Ia menarik nafas dalam. “Pakde sudah pulang kemarin.”

“Kenapa  tidak bareng Pakdemu?” Nendo berusaha membuat suaranya tidak terlalu gembira.

“Pakde mau lebaran di rumah keluarga Bude.”

“Ok …  ayo berangkat!”

Nendo membalikkan badannya, ketika ia mendengar Mara bertanya,”Apa tidak apa-apa pergi berdua? … bagaimana kalau ada yang lihat.”

“Kalau ada yang lihat kenapa?” Nendo mengambil paksa  tas ransel tua yang dipegang Mara. “Kita kan tidak melakukan hal-hal yang dilarang Allah.”

Dengan ragu-ragu, Mara mengikuti langkah Nendo. Ketika Nendo membuka pintu depan mobilnya, ia masih memandang Nendo dengan wajah sangsi.

“Bagaimana kalau hari ini kau tidak dapat bis lagi?”

Mendengar kata-kata  Nendo, Mara langsung masuk ke mobil.

Tiba-tiba Nendo bersiul riang. Dahinya mengkerut ke atas. Kebiasaan itu sudah ditinggalkannya belasan tahun lalu. Dia langsung berhenti bersiul. Pasti  karena aku tidak akan sendirian di jalan selama belasan jam, logikanya menjelaskan. Dia mengangguk paham.

“Bukankah kau bisa naik mobil beberapa kali ganti, ke sana?” tanya Nendo penasaran, ketika mereka sudah melaju di jalan raya. Ia tahu, gadis itu sangat cerdas dan berani. Dia tidak percaya, Mara tidak melakukannya karena takut.

Wajah Mara merona ketika ia berkata,”Uang saya tidak cukup, kalau harus berganti-ganti kendaraan. Semua kan sekarang sudah kena tuslah.”

Ketika Nendo memandang dengan wajah heran, Mara lanjut berkata, “Seminggu yang lalu, temen saya di kampung memberitahu,  ayah sakit, harus segera dibawa ke rs. Semua uang saya kirim ke kampung. Hanya disisakan  pas untuk untuk ongkos pulang  saja.”

A curve in a road through a forest in the autumn

source

Nendo memberikan sen kiri, mengambil jalur kiri. Jalanan tidak macet. Dia tidak ingin berkendara dengan cepat. Lagi-lagi di luar kebiasaannya. Dia memijat tengkuknya.

“Lalu dua malam kamu tidur di mana?” tanyanya memecah keheningan.

“Terminal … “

“Terminal!” teriak  Nendo marah.

Mara menoleh ke arah Nendo dengan wajah terkejut.  Matanya terbelalak ketakutan. “Waktu saya bangun, bis selanjutnya sudah penuh … karena engga tahu jadwal datangnya, saya  kecolongan terus.“

“Ya Allah, Mara! Kenapa tidak telpon? Kalau kamu kenapa-kenapa, gimana? Dua malam kamu tidur di terminal?” tanya Nendo marah karena takut. Dia menyisir rambut dengan tangan, menarik nafas dalam, berusaha menetralisir marah yang menguasainya.

“Kamu sahur semalam?” tanya Nendo dengan nada lebih pelan.

 

Bandung Baear, 30 Agustus 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *