Fiction

Jatuh Cinta # 26

Mara hanya menjawab pertanyaan Nendo dengan anggukan kepala.

Nendo melirik, ketika sekilas melihat tangan Mara gemetar. Gadis itu meremas tangan di pangkuannya. Muka gadis itu nampak kuyu. Beberapa kali kepalanya terantuk kaca jendela samping. “Istirahat saja, Mara. Tidurlah.”

“Itu kan tidak  sopan!” tukas Mara lirih. Dia menoleh ke arah Nendo, dengan kelopak mata sengaja dilebarkan. “Saya tidak mengantuk.”

Nendo tersenyum dalam hati. “Tidak  apa-apa, sekarang kan darurat.”

“Bener, Pak?” Melihat dia mengangguk, Mara segera berkata, “Terima kasih, Pak Nendo. Maaf ya, Pak.”  Dia menyandarkan kepala ke belakang. Tak lama kemudian gadis itu tertidur.

Nendo menurunkan sandaran jok, hingga dia melihat Mara  rebah dengan  nyaman. Tiba-tiba hp Nendo berdering, “ Iya. Papa sudah berangkat sekarang. Sampai ketemu nanti ya, di sana.”

A woman standing on a hill, looking towards the sun.

source

Nendo memperhatikan wajah gadis yang sedang tertidur di sampingnya. Rasa hangat mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Alhamdulillah, katanya dengan penuh rasa syukur. Ia segera melihat ke arah depan, ketika dadanya berdebar-debar melihat bibir Mara yang penuh dan berwarna kemerahan, terbuka sedikit.

“Jangan! Jangan pacaran sama Nida! Firman!!!Firman!!!! teriak Mara kencang.

Dengan alis bertaut Nendo menoleh ke arah Mara.  Mara nampak sangat gelisah dalam tidurnya. Melihat Gadis itu semakin gelisah, Nendo menepuk lengan Mara perlahan,  bermaksud membangunkan.

Tanpa sadar tangannya langsung terangkat, ketika menyentuh kulit Mara yang panas.  Punggung rangannya menyentuh  dahi Mara,  langsung  memaki-maki dirinya sendiri. Ia memilih menggunakan jalur alternatif. Perjalanan lancar dan Jakarta sudah ditinggalkannya 4 jam yang lalu.

Seharusnya, aku heran kenapa dia tidur selama itu, Nendo memarahi dirinya sendiri. Tidak lama setelah mereka berangkat, Mara memang langsung tertidur. Dia mencari rumah sakit terdekat via ponsel. Nendo menginjak habis pedal  gas mobil. Untunglah jalanan tidak macet. Setengah jam kemudian, ketika melihat  rumah sakit di depannya, ia segera membelokkan mobilnya.

“Kenapa dia, Dok?” tanya Nendo khawatir.

“Malnutrisi, Pak. Puasa. Mungkin ia tidak makan sahur  dan terlalu lelah… tapi tidak apa-apa,” sahut dokter jaga.

Nendo termangu, menyaksikan tubuh Mara yang terbaring lemas di tempat tidur. Tangannya menepuk-nepuk paha, meredakan rasa cemas hebat dalam dirinya. Jari telunjuknya menggaruk alis yang tidak gatal.  Gadis itu keliatan sangat gelisah.

Tiba-tiba kelopak mata Mara terbuka. Kepalanya menoleh ke arah Nendo.

Dengan segera, Nendo menghampiri ranjang tempat tidur Mara. Tangannya memegang kening Mara. Masih panas. Dahinya berkerut dalam. Gimana rumah sakit ini? Dia sudah minta obat-obat paten.

“Firman! Kamu di sini?” mata Mara yang terkejut langsung berbinar-binar melihatnya. Gadis yang sering diikat ekor kuda itu memaksa bangun.

source

Perasaan marah memenuhi dada Nendo. Ia berusaha membaringkan tubuh Mara di tempat tidur. “Tidur Mara! … istirahat dulu. Kau sedang sakit.”

Mara bersikeras bengun. Dia  memegang tangan Nendo. “Firman … Aku menyukaimu sejak kita masih SD. Aku selalu belajar rajin, agar bisa bersaing denganmu. Kau selalu memberiku selamat setiap tahun … selama  12 tahun … kamu bilang waktu itu, kamu sayang aku … kamu masih sayang aku kan? … walau aku tidak bilang apa-apa, tapi—”

“Mara—“

“Katakan, sms  Tuti bohong kan? Kau tidak pacaran dengan Nida, kan?” tanya Mara dengan suara setengah menangis. Tangannya mengguncang  tangan Nendo dengan kencang.

Tubuh Nendo menegang sesaat. “Tidak,” sahutnya lembut.

“Kamu … masih suka aku?”

Nendo memandang mata  Mara sesaat. Kedua ujung bibirnya terangkat sedikit.  “Iya,” sahutnya lirih. “Aku sangat menyukaimu.”

Dada Nendo terasa lega setelah mengatakan hal itu.

“Ya Allah, syukurlah.” Mara menggenggam erat tangan Nendo. “…terima kasih, ya Allah.”

Tangan Nendo dengan lembut melepaskan pegangan tangan  Mara, ketika tubuhnya memiliki keinginan tak terkendali  memeluk  gadis itu. Kali ini gadis itu tidak melawan. Ia tersenyum lembut   dengan mata setengah terpejam. Setelah tubuh Mara kembali terbaring, dia langsung tertidur nyenyak.

Nendo tercenung lama memandang Mara. Ada senyum di wajah yang sedang tertidur itu. Muka gadis itu nampak sangat bahagia. Rasa damai menjalari sekujur tubuhnya.

Ya Allah. Mara benar-benar menghancurkan pertahanan  baja  kestabilan emosinya. Marah, senang, takut, cemburu … cemburu? …

Nendo  menarik nafas. Tidak bisa lagi memungkiri perasaannya. Dia … Nendo Pratama, yang sudah bersumpah tidak akan  jatuh cinta lagi seumur hidup,  bertekuk lutut pada gadis berusia   11 tahun lebih muda dari usianya.

Nendo  berdiri dan mengeluarkan hpnya, ketika tiba-tiba timbul dorongan yang kuat untuk memegang tangan gadis itu. Dia dalam masalah besar sekarang.

 

Bandung Barat, Selasa 31 Juli 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *