Fiction

DNA Asmara # 27

“Ma… aku  terlambat… ada teman yang sakit…” katanya seraya berjalan keluar ruangan.

Ketika membuka matanya, wajah Nendo yang pertama kali dilihat Mara.

“Pak Nendo!” Mara dengan kaget berusaha bangun.

Tangan Nendo menahannya. “Jangan bangun dulu, Mara!  … nanti kamu pusing.”

Mara bersikeras bangun. Pandangannya berkeliling. Ruangan serba putih, seperangkat sofa. Tatapannya terhenti di tiang infus.  “Ini di mana?”

“Rumah sakit.”

Jawaban Nendo membuat Mara mengalihkan pandangannya kembali ke arah Nendo.

“Rumah sakit?” tanya Mara dengan mata terbelalak.

“Kau pingsan di jalan.”

Mara terperanjat.

Nendo meneleng. “Kemungkinan kata dokter karena kau terlalu lelah, kurang makan … kau tidak makan dua hari?”

Dengan wajah merona, Mara mengangguk perlahan dengan pipi merona.

“Kenapa tidak  bilang, Mara!” tegur Nendo halus.

Senyum Mara mengembang ketika ia menjawab, “ Kata Bapak, jangan terlalu mudah mengeluh! Gimana bisa jadi pengusaha sukses kalau seperti ini saja, sudah merengek seperti bayi.”

“Tapi Mara! Bukan ini maksud saya,” tukas Nendo dengan dahi berkerut. “Saya juga kan bilang, katakan apa yang kau pikirkan dan rasakan, dengan kalimat efektif.”

“Masak  harus bilang ke bos, kalau saya   sudah dua  hari engga makan,” sungut Mara dengan wajah cemberut. Tiba-tiba ia tertawa geli. Bahunya terangkat sedikit, “Kan malu, Pak!”

Dna, String, Biology, 3D, Biotechnology, Chemistry

source

Nendo menegakkan tubuh. Melihat perubahan sikap Mara yang tak diduganya. Sisi lain Mara yang bisa membuatnya ganti mood tanpa dikehendakinya.  Tangannya memegang dahi Mara. “Dokter salah ngasih obat ke kamu?” syukurlah, dahi Mara sudah  dingin.

“Hehehe… “ Mara ikut memegang dahinya. “Normal panasnya. Kenapa saya dimasukkin rumah sakit?”

“Tadinya, telor matang kalau di letakkan di dahimu,” seru Nendo jengkel.”Tapi badanmu cepat sekali pulih.” Mara terlihat lebih segar, walaupun masih terlihat sedikit pucat.

“Sepertinya saya  mimpi sangat indah semalam,” kata Mara perlahan. Senyumnya mengembang.

Nendo merasa tubuhnya kaku. Perasaan cemburu kembali  menguasainya. Ia langsung bangkit dari duduknya. “Saya  akan panggil dokter,” katanya dengan wajah tanpa ekspresi.

Dahi Mara mengkerut, ketika matanya mengikuti langkah Nendo keluar. Ini pertama kalinya Nendo keliatan marah padanya. Apakah aku melakukan kesalahan?

Seorang perawat masuk  dengan senyum lebar di wajahnya. “Selamat Pagi. Sudah bangun, Mara! Gimana rasanya sekarang?”

“Sudah sehat, Sus. Bisa tolong  dilepas infusnya,” sahut Mara dengan tangan terangkat.

“Tunggu dokter dulu, ya!” Suster mengukur tensi dan suhu badan Mara. “Sudah normal …. Pacar kamu baik sekali.”

“Pacar? Siapa?” tanya Maya heran.

Suster ramah itu tersenyum lebih lebar, “Suami kamu?” Suster itu balik bertanya.

Mara melihat wajah suster. Tangannya  menunjuk ke arah pintu. Melihat suster itu mengangguk, mata Mara melebar.  “Pak Nendo bukan pacar saya. Dia bos saya!” sergah Mara sambil tertawa lebar.

Kepala suster itu mengangguk-angguk jenaka. “Baik sekali bos kamu ….  Semaleman dia nunggu kamu terus di sini,” tukas suster itu dengan nada riang.

“Pak Nendo?” tegas Mara.

“Siapa lagi?” sahut suster lagi-lagi dengan nada riang.

Pintu terbuka. Nendo dan  seorang laki-laki laki-laki berseragam putih-putih memasuki ruangan. Wajah Nendo sudah kembali seperti biasa.

Setelah dokter memeriksa Mara, dia diperbolehkan pulang. Dalam 30 menit, mereka berdua sudah kembali ada di jalan raya. Jalanan mulai macet.

“Kalau lapar makan dulu, Mara. Tidak usah puasa dulu hari ini.”

“Terima kasih banyak, Pak Nendo.”

“Sama-sama Mara. Badan kamu  sudah lebih enak?”

“Ya,” sahut Mara dengan suara riang. Keceriaan  suster itu menular.

Suasana hati Mara menciptakan kegembiraan dalam mobilnya. Dia memasang channel ceramah ustadz favoritnya. Mereka berdua tertawa, ketika mendengar pengalaman lucu sang ustadz.

Jam Sembilan keesokan hari, mereka memasuki jalan ke desa Mara. Karena jalannya kecil, mereka harus berjalan bergantian dengan kendaraan lain.

Nendo melirik ke arah Mara, ketika Mara berusaha menekankan tubuh ke jok kursi dengan wajah pucat. Di samping mobilnya,  tampak sepasang muda mudi naik motor sambil tertawa-tawa.

“Tenang, Mara. Mereka tidak bisa melihatmu,” ujar Nendo. “Kau kenal mereka?”

Mara mengangguk dengan wajah lega. Gadis itu menundukkan wajah dengan tarikan nafas panjang.

“Itu yang namanya Firman?” tanya Nendo, setelah motor itu melewati mereka.

Mara mendongak ke arah  Nendo. Kepala gadis itu ditelengkan. Kebiasaan Mara saat sedang berpikir keras.  Tiba-tiba wajahnya merona.

Mobil Nendo melaju perlahan.

“Kemarin malam … apakah… Bapak yang ada di sana?” tanya Mara dengan pandangan menerawang lurus ke depan.

“Ya,” sahut Nendo, setelah menghitung dari satu sampai sepuluh.

“Saya—“Wajah Mara merona. Kepalanya ditundukkan  dalam.

“Tidak usah dipikirkan. Saat itu kau sedang demam,” ujar Nendo sambil lalu.

Setelah menghela nafas panjang, Mara mengangkat kepalanya.

“Terima kasih  banyak, Pak Nendo.” Tiba-tiba matanya menatap tajam, ke sebuah rumah yang penuh kerumunan orang.

“Ada apa?” tanya Nendo heran, melihat Mara sangat tegang.

“Itu rumah saya!” seru Mara panik. Tanpa sadar, dia langsung membuka pintu mobil. Nendo mengerem mobilnya tiba-tiba.

Mara segera berlari menembus kerumunan orang.

Computer, Business, Typing, Keyboard, Laptop, Doctor

Nendo bergegas mengikutinya di belakang. Sudah banyak suara yang melantunkan ayat suci. Dia mendesakkan tubuh, di antara kerumuman. Ruangan kecil yang penuh sesak itu terasa pengap.

Hatinya terenyuh, melihat Mara menangis sembari  memeluk seorang laki-laki yang terlihat tua, hanya terbalut kulit. Seorang wania mirip Mara menangis, seraya memeluk seorang anak laki-laki dan anak perempuan.

Dengan cepat Nendo mengarahkan pandangannya kembali ke Mara. Ayah Mara sesak nafas. Laki-laki itu  nampak  tidak sadar. Dia segera duduk di sebelah Mara,  memegang nadi laki-laki tersebut. Masih terasa denyutnya, walaupun lemah. Dia segera mengambil tubuh ringkih itu dari pelukan Mara dan  membopongnya.

“Ayo, Mara! Kita bawa ke rumah sakit sekarang!”

Bandung Barat, Rabu 1 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *