Story

Menghalau Mega # 28

Tubuh lemas Mara bersandar pada tempat tidur pasien di ruang UGD.Matanya tidak lepas dari wajah ayahnya yang terlihat sangat lelah. Berkali-kali dia menyeka air mata dengan punggung tangan.  Nendo memintanya menemani mama yang terus menerus menangis. Ayah sudah mendapat bantuan oksigen. Tidak lama kemudian ayah dipindahkan ke mobile bed,  dibawa ke ruang lain  untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Mara bergegas menghampiri Nendo.

“Sudah, jangan terlalu cemas … Berdoa saja …. Ayahmu sudah ada di tangan dokter-dokter terbaik di rumah sakit ini,” ujar Nendo perlahan pada Mara. “Temani Mama dan adik-adikmu.”

Mara mengangguk lirih. Dia menghampiri  mamanya yang duduk di kursi tunggu buat keluarga pasien.

“Sudah, Ma. Jangan nangis lagi. Ayo kita doakan  semoga Ayah baik-baik saja.”

Nendo melihat Mama Mara tersenyum sembari mengangguk. Dia mengalihkan pandangan ke ruang tindakan.

“Maaf, Pak Nendo, ” Suara resmi Mara membuat Nendo dengan cepat  menoleh ke asal suara. Dia langsung berdiri, melihat Mama Mara berdiri di depannya.

“Kenalin, Ma. Ini Pak Nendo, guru pelatihan Mara. Sekarang Mara lagi magang di kantor Pak Nendo.”

“Pak Nendo, ini Mama saya.”

“Assalamua’laikum. Kenalkan, saya Nendo Pratama,” sapa Nendo.

“Waalaikum’salam. Saya Mama Mara, ” Mama Mara mengangguk. “Maaf kami jadi merepotkan Bapak.”

“Tidak apa-apa, Bu. Alhamdulillah kebetulan saya bisa. Semoga Bapak cepat pulih ya, Bu.”

“Ya. Mudah-mudahan, Pak,” ujar Mama Mara.

“Allah pasti nolong Ayah, Ma. Ayah kan orang baik,” sela Mara.

Mama Mara mengangguk-anggukkan kepala sembari tersenyum lemah. Pandangannya kembali ke arah Nendo. “Maaf, Pak. Mengenai biaya –”

“Jangan cemaskan masalah biaya, Bu. Kita fokus pada kesehatan Ayah Mara saja dulu,  sekarang.”

Mama Mara kembali menganggukkan kepala. Dari matanya terucap rasa terima kasih yang mendalam. “Terima kasih banyak sebelumnya, Pak Nendo.”

“Sama-sama, Bu,” ujar Nendo sembari tersenyum.

Spring, Tree, Flowers, Meadow, Tree Trunk, Sunlight

source

“Saya banyak sekali berhutang sama Bapak,” kata Mara dengan suara menahan tangis. Mereka sudah berada dalam ruang rawat VVIP. Ayahnya sudah tertidur dengan berbagai selang di tubuhnya.

“Jangan dipikirkan! Kebetulan  saya  bisa bantu.” Nendo tersenyum  lembut.

“Assalamu’alaikum,” sebuah suara menyusul ketukan di daun pintu.

“Waalaikum’salam,” sahut Mama Mara yang duduk di tempat tidur suaminya.

Nendo melihat wajah Mara menegang. Tak lama, muncul pemuda yang tadi dilihatnya naik motor. Alisnya terangkat sedikit. Mau tidak mau, sedikit kekaguman menyembul, melihat percaya diri  Firman.

Dengan gugup Mara berdiri. “Firman.”

“Mara … maaf saya tidak tahu Ayah kamu sakit.” Firman memberikan plastik hitam yang dibawanya pada Mara.

Nendo memperhatikan Firman yang bergegas menghampiri Mama Mara dan mencium tangannya. “Gimana Bapak, Bu?”

“Alhamdulillah,  sesak nafasnya sudah mulai hilang. Silakan duduk Firman.”

“Terima kasih Bu.” Firman melihat ke arah Mara.

“Duduk Firman … oh ya kenalkan ini Pak Nendo, atasan saya.”

Firman berjalan ke arah sofa. Dia mengulurkan tangan.

“Nendo.”

“Firman.”

Firman menoleh ke arah Mara, “Macet dari Jakarta?”

“Tidak terlalu ….” Mara tersenyum bingung.

Firman menoleh ke arah Nendo. “Mudiknya searah Mara ya, Pak.”

Nendo hanya mengangguk sembari menarik kedua ujung bibirnya sedikit.

Suasana menjadi hening.

“Syukurlah Mara, Ayah kamu sudah lebih baik. Maaf Mara … saya tidak bisa lama-lama,” ujar Firman tiba-tiba  sembari berdiri.

Mara ikut berdiri. “Terima kasih sudah menengok>”

Firman mengangguk dengan senyum di wajahnya. Dia  menghampiri Mama Mara. “Semoga Bapak cepat sehat, Bu.”

“Terima kasih sudah nengok.” Mama Mara tersenyum.

“Sama-sama, Bu.” Firman tersenyum pada Nendo. “Saya duluan, Pak Nendo.”

“Silakan.” Nendo mengangguk sedikit.

Firman berhenti sesaat di depan Mara. “Ada yang ingin aku  bicarakan, bisakah kamu antar aku keluar?”

Mara tertegun sesaat. Melihat  Nendo sesaat. Dengan cepat dia mengangguk.

Nendo melihat ke arah pintu yang dibiarkan setengah terbuka oleh Mara. Dia melihat sosok Mara yang berjalan semakin menjauh.

Matanya mengarah ke langit-langit. Dia menarik nafas panjang. Merasakan kosong yang menabraknya.  Kekuatan yang tersisa dalam tubuhnya saat ini, hanya bisa digunakan untuk bernafas.

Tubuhnya bergidik, membayangkan seumur hidup, akan dijalani dengan asa yang semakin tipis.

Seorang dokter spesialis masuk ke kamar membawa hasil pemeriksaan lab. Dia mendampingi Mama Mara, yang terus berlinang airmata mendengar penjelasan dokter.

“Tidak apa-apa, Bu. Tenang saja. Kita akan upayakan penanganan terbaik untuk Bapak,” ujar Nendo setelah dokter memberi penjelasan.

Mata Mama Mara menatap Nendo dengan khawatir. “Tapi—“

“Tolong Dokter … lakukan apa pun yang diperlukan,” ujar Nendo tegas.

“Baik … kami akan pasang satu ring, setelah kondisi Bapak memungkinkan.”

“Terima kasih banyak, Dokter,” Nendo menjulurkan tangan.

“Sama-sama, Pak.”

 

Chess, Game, Chessboard, Glass, Board, Planning

source

Mata Mara memandang lantai. “Pak Nendo sudah sangat banyak membantu saya. Ada sesuatu yang bisa saya bantu untuk Bapak?” tanya Mara sambil mendongakkan wajahnya. Walaupun ia termasuk tinggi, tapi ujung  kepalanya hanya mencapai mata Nendo.

Nendo tersenyum lebar. “Tidak  ada—“ Tiba-tiba senyumnya  terhenti. Ia memandang Mara dengan wajah sangat serius. Otaknya berpikir dengan kecepatan full. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Benarkah kau akan melakukan sesuatu untukku?” tanya Nendo, sebelum dia sempat memikirkan ulang rencananya.

“Iya, tentu saja. Kemarin Bapak membawa saya ke rumah sakit. Sekarang Bapak sudah menyelamatkan nyawa Ayah,” sahut Mara yakin.

“Apa pun itu!” Nendo menegaskan keseriusan Mara.

“Selama tidak bertentangan dengan agama dan hukum,” ujar Mara dengan tekad bulat.

“Baik.” Nendo menatap mata Mara tajam. Dengan nada suara yang digunakannya, saat mengambil keputusan, di tengah debat sengit para komisaris perusahaannya,”Menikahlah denganku.”

Mulut Mara terbuka. Dengan mata terbelalak, dia mengulangi kata-kata Nendo, “Menikah?”

Bandung Barat, Kamis 2 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *