Fiction

Lamaran Pernikahan Nendo # 29

“Ya,” sahut  Pak Nendo yakin.

Jantung Mara berdebar aneh. Seolah terikat kuat, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari  mata guru pelatihannya. Mata Pak Nendo berkilauan,  memancarkan sinar asing  yang belum pernah dilihat Mara sebelumnya.

source

“Please … menikahlah denganku, Mara,” ujar Pak Nendo sangat lembut dan tenang.

Bertubi-tubi  kejadian  yang merobek emosi-emosi terdalam perasaan Mara, membuat kakinya tiba-tiba  lemas. Tanpa bisa dicegah, tubuhnya melorot. Sebelum sempat menyentuh lantai, Pak  Nendo menangkap tubuhnya. Mata mereka  masih terus bertatapan.

Nendo mendudukkan tubuh Mara perlahan di lantai. Namun dia tetap memegang tubuh Mara.

“Coba…  katakan sekali lagi!” ujar Mara lirih.

“Saya  ingin kamu menikah denganku, secepatnya,” ujar Nendo perlahan kata demi kata.

Suasana dalam ruangan menjadi lebih  hening dan mencekam.

Hembusan nafas panjang Mara bergema ke penjuru  ruang inap. Gadis itu  berusaha bangun dari lantai. Nendo membantu  sekaligus membimbingnya ke sofa. Mara menoleh ke arah adik-adiknya.“Kalian berdua main dulu di luar ya!” perintah Mara perlahan.

Keduanya  segera berlarian  keluar  kamar. Yang ada di dalam ruangan  hanya Ibu Mara, Mara, dan Nendo.

“Saya tidak mengerti, apa yang baru saja Bapak katakan.” Mara menatap lurus mata Nendo. Seolah ingin menyelami apa yang sedang dipikirkan pria itu.

 

source

Nendo tidak mengalihkan tatapannya dari mata coklat Mara. Perasaannya semakin tenang dan yakin. Dia tahu, telah mengambil keputusan yang benar.  “Saya ingin menikahimu, secepatnya!”  Dia mengulangi perkataannya dengan suara yakin.

“Tapi… bukan ini maksud saya, ketika  mengatakan akan melakukan sesuatu untuk Bapak.”

“Saya mengerti.”

“Lalu … kenapa Bapak meminta saya untuk menikah dengan Bapak?” tanya Mara dengan wajah tidak mengerti.

“Karena saya memang ingin menikah denganmu.”

“Kenapa?”

“Kenapa seorang laki-laki ingin menikahi seorang wanita?… tentu saja karena ia menyukainya.”

“Bagaimana mungkin Bapak menyukai saya?”

Wajah Nendo memerah, mendengar pertanyaan Mara. Ia tersenyum pada Mama Mara, kemudian berkata, “Bolehkah saya bicara berdua dengan Mara, Bu?”

Mama Mara melihat ke arah Mara sesaat, sebelum mengalihkan pandangan ke arah Nendo. memperhatikan Nendo sesaat. “Silakan,” sahut Mama Mara.

Dengan wajah kebingungan dan langkah terseret,  Mara bejalan mengikuti Nendo meninggalkan ruangan.

Mara duduk di kursi depan ruang rawat Ayahnya. Pavilyun ini berlokasi agak jauh, dari tempat pelayanan utama. Tidak nampak seorang pun lalu lalang. Gemerisik dedaunan, menandakan udara segar yang bergerak. Kedamaian tempat ini, sedikit menenangkan hati Mara.

Namun tidak bertahan lama. Jantungnya kembali  berdetak cepat,  ketika Pak  Nendo tidak juga mulai bicara.

“Saya pasti salah mengerti?” tanya  Mara memecahkan keheningan, dengan senyum di wajahnya. Seakan yakin, bahwa apa yang tadi didengarnya, adalah sebuah kekeliruan.

“Saya benar-benar ingin menikah denganmu.” Nada suara Nendo menunjukkan keinginan yang tak tergoyahkan.

Mara terhenyak di tempat duduknya. Matanya menatap tajam mata Pak Nendo. “Bapak tidak mungkin sungguh-sungguh!”

“Saya tidak pernah main-main dengan keputusan besar!”

“Kenapa Bapak ingin menikah dengan saya?” tuntut Mara.

Nendo memandang Mara sesaat.

“Ayahmu terkena stroke …  harus pasang dua ring. Belum penyakit dalam  lain yang sudah akut. Pengobatannya akan panjang dan membutuhkan biaya yang sangat  banyak … kedua adikmu masih kecil …  kau tidak akan mau minta bantuan pada siapa pun … dengan menjadi istriku, tidak ada alasan bagimu untuk menolak bantuanku ….” kata Nendo.

Mara tercenung mendengar jawaban Nendo. Ia melihat ke arah kamar  ayahnya. “Saya  menukar hidupku dengan nyawa Ayah …” katanya dengan nada pahit.

“Mara … saya tidak akan meminta hakku sebagai suami,” ujar  Nendo sembari tersenyum lembut.

“Saya benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Bapak.” Mara menoleh ke arah Nendo dengan wajah terkejut.

“Kita bisa terus  menjadi sahabat. Menjalani pernikahan inteletual.  Seperti hubungan kita saat ini. ” Yang diinginkan Nendo, hanyalah kedekatan dengan Mara. Dia  tahu,  tidak bisa menerima  jika ada laki-laki lain di dekat gadis itu.

“Tapi tidur di satu kamar dan satu tempat tidur?” suara Mara penuh kesangsian. “Lagipula umur saya baru delapan belas tahun.”

“Sembilan belas tahun, minggu depan. Itu pengaturan yang mudah.  Saya  tidak akan tidur di tempat tidur. Kita akan meletakkan sebuah sofa di kamar.  Saya  akan tidur di sofa.” ujar Nendo, dengan suara yang digunakannya apabila ia harus meyakinkan koleganya.

“Sampai kapan harus menjalani pernikahan intelektual?” tanya Mara dengan perasaan bimbang. Pak  Nendo hanya menginginkan persahabatan. Entah kenapa, ia mempercayai ucapan  Pak Nendo. Lagipula ia memang suka sekali menghabiskan waktunya dengan Pak Nendo.

“Sampai kamu tahu apa yang ingin kamu lakukan.”

Sejenak mereka saling berpandangan.

“Bapak sudah berkeluarga!” seru Mara kaget, ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu. Wajahnya memucat. Apa dia akan dijadikan istri muda?  Pikiran itu membuatnya sangat ngeri. Sekujur tubuhnya terasa dingin.

Bandung Barat, Jumat 3 Agustus 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *