Fiction

Awal Babak Baru # 30

Bab Enam

Awal Babak Baru

 

“Aku pernah menikah, tapi kami sudah berpisah,” kilah Nendo cepat.

“Kenapa?” Mara menatap mata Pak Nendo tanpa berkedip. Tangannya menyilang di depan dada. Seolah memeluk diri sendiri.

Nendo mengangkat pundak sekilas, “Karena sudah tidak cocok lagi.”

source

Tiba-tiba hati Mara terasa kosong. “Kita juga nanti akan bercerai?” tanyanya  lirih. Bercerai? Ia tidak suka kata yang terakhir diucapkannya sendiri.

Mata Nendo menatap tajam mata Mara. “Tidak! Kita tidak akan pernah bercerai!”

“Tapi kalau  tidak cocok, bagaimana?… Bapak sendiri bercerai, karena tidak cocok,” sergah Mara tandas.  Ia belum menemukan  inti  dari situasi ini.  Mara membuang pandangan ke arah langit, dengan kesedihan aneh yang tidak dimengertinya.

Nendo menggeser kursi hingga berhadapan dengan kursi Mara. Telunjuk dan ibu jari Nendo memegang dagu Mara dan memaksa wajah itu menatapnya. “Kita tidak akan bercerai, karena aku yang mengatakannya,” sahutnya yakin.

Mara terkesima melihat pandangan  tegas Nendo dan kata-katanya yang penuh kekuatan dan keyakinan. Ia tidak kuasa menentangnya. Kepalanya tertunduk. Suara melemah ketika ia berkata, “Menikah itu bukan sesuatu yang remeh, sekalipun hanya pernikahan intelektual  … bagaimana mungkin harus menikah dalam waktu dekat?….”

Tiba-tiba kepala Mara mendongak, “Kapan secepatnya itu?”

Tangan Nendo menarik rambut Mara yang berjuntai di bahunya dengan lembut. Ia tertawa, saat berkata, “Aku kan tidak memintamu jadi istri biologis. Aku memintamu jadi sahabatku. Hubungan kita tidak akan berubah, dari yang selama ini sudah kita jalani. Hanya lebih terikat. Kita tidak bisa seenaknya, berhubungan dengan laki-laki atau wanita lain, yang bukan muhrim.”

Nendo terdiam sesaat. “Kita akan menikah besok.”

Alis Mara berkerut dalam. Mulutnya mengangga.  “Besok ?” sahut Mara setelah mampu mengeluarkan suara.

Kepala Nendo meneleng sembari tersenyum. “Kau bisa melanjutkan kuliahmu.”

Mata Mara menatap Nendo, dengan dahi berkerut dalam. “Semuanya… hanya untuk kebaikan saya… lalu bagaimana dengan Bapak sendiri?… bukankah ini pada akhirnya, hanya akan membuat hutang budi saya pada Bapak, akan semakin banyak dan tidak terbayar?”

Two pigeons nuzzle on a wall in the Trocadéro, the Eiffel Tower visible in the background

source

“Selama ini aku melakukan perjalanan  seorang diri. Memiliki sahabat yang sangat dekat, sampai harus berbagi kamar,  adalah sesuatu yang tidak ternilai bagiku. Kau sama sekali tidak berhutang apa pun padaku. Yang kau berikan padaku, tidak bisa diukur dengan uang.”

“Bisakah saya menjadi sahabat Bapak?” tanya Mara pelan, seolah  bertanya pada diri sendiri.

“Bukankah kita sering tertawa, saat bersama?” Nendo mengingatkan Mara. “Suka adu argumentasi, saat tidak sepaham?”

Keheningan menyeruak di teras ruang inap ayah Mara.

“Akan seperti apa pernikahan ini?” Mata Mara menerawang. Mencoba menembus jendela yang tertutup vitrase.

Bahu Nendo terangkat dengan santai. “Mungkin akan berakhir, pada sebuah kondisi yang tidak pernah kau bayangkan.”

“Apa maksudnya?” tanya Mara dengan wajah tidak mengerti. Pandangan Mara beralih ke arah Nendo lagi. Pandangannya menuntut penjelasan.

“Aku berjanji tidak akan meminta hakku sebagai suami … tapi kalau kau sendiri yang berubah pikiran, seorang suami harus menyenangkan istrinya, bukan?”

Mara mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan Nendo. Setelah mengerti, matanya terbelalak. Wajahnya merah padam dan tanpa disadarinya mulutnya terbuka. Ia memukul lengan Nendo dengan keras. Tidak mungkin terjadi sampai dunia kiamat.

Nendo tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Mara. Hatinya terasa lebih ringan dan gembira.  Ia tahu, lagi-lagi pilihan waktunya tepat.

“Maaf, bisakah kita bicara sebentar, Pak Nendo,” suara Mama Mara mengejutkan Nendo.

Dengan cepat Nendo berbalik kemudian berdiri. Wajahnya pasti merah. Sejak kapan Mama Mara ada di belakangnya? Apa yang didengarnya?

Seraya tersenyum, dia memaki diri sendiri dalam hati.Seluruh konsentrasinya tertuju pada Mara. Tidak pernah sekali pun, dia bisa kehilangan perhatian pada sekeliling sebelum ini. Dia harus lebih hati-hati. Kepala Nendo mengangguk. “Tentu saja, Bu.”

“Mara, tolong temani ayah dulu, ya,” ujar Mama Mara pada Mara.

Mara menyapu pandangannya pada wajah mama dan Pak Nendo bergantian. Dia percaya pada dua orang di hadapannya. “Ya, Ma.”

“Silakan duduk, Bu,” Nendo menggeser kursinya ke tempat semula.

“Terima kasih,” Mama Mara tersenyum sedikit. Pandangannya melekat pada wajah Pak Nendo beberapa lama. Kepalanya mengangguk-angguk, dengan wajah sangat serius.

Senyum sudah lenyap  dari wajah Mama Mara. Tatapan tajam itu memperhatikan wajahnya, seolah berusaha menyelami dirinya.  Nendo merasa seperti berhadapan dengan seorang jendral yang sudah membakar kapalnya. Dan bertekad bulat menang. Apa pun harga yang harus dibayarnya.

“Kami sangat berterima kasih dengan lamaran Pak Nendo untuk Mara. Sebuah kehormatan untuk kami sekeluarga, Bapak memilih Mara untuk mendampingi Bapak.”

Nendo menegakkan tubuh. Seluruh perhatiannya terpusat pada wanita di hadapannya. Tidak heran, Mara memiliki karakter  kuat. Mama Mara terkesan  sangat well educated, di balik pakaian yang sangat sederhana. Kalau dia tidak bisa menyakinkan Mama Mara ….

“Sebuah kehormatan luar biasa bagi saya, bila bisa mendampingi Mara seumur hidup,” ujar Nendo tenang, penuh percaya diri.

Mama Mara tersenyum, sembari mengangguk menyetujui.  Dia menarik nafas panjang sebelum bicara. “Kami memang belum ditakdirkan untuk memiliki keleluasaan rezeki. Saya dan ayah Mara terkadang merasa sangat bersalah, terutama pada Mara. Mara sejak SMP sangat suka pramuka. Dia terpilih ikut Jambore Tingkat Nasional. Dia sering diminta sekolah-sekolah lain untuk menjadi pembina Pramuka. Dia mendapatkan uang saku. Rp.200.000 dari masing-masing sekolah. Selama enam tahun. Setiap bulan paling sedikit lima sekolah, yang memintanya jadi pembina pramuka.”

Suaranya mulai diwarnai tangis. Mama Mara menarik nafas sejenak, berusaha  menetralisir emosinya.  “Dia selalu memberi uang itu pada saya semua. Tidak pernah mengambil sepeser pun. Bahkan untuk sekolah saja, dia rela harus berangkat pagi-pagi sekali, karena harus berjalan sejauh delapan kilo pulang pergi setiap hari.”

Telapak tangan kiri Nendo menutupi telapak tangan kanannya yang dikepalkan. Menahan rasa posesif yang luber meluap. Kepalanya ditundukkan. Mara tidak pernah sekali pun menyinggung hal ini, dalam setiap obrolan mereka. Dia benar-benar tidak menyangka, beban yang harus dipikul gadis itu ….

“Mara sudah  terlalu banyak mengambil tanggung jawab saya dan ayahnya. Dia harta  tak ternilai keluarga kami. Kali ini saya tidak akan mengizinkannya lagi berkorban. Dan saya percaya … saat ayahnya sadar, dia pasti akan sependapat dengan saya. sekali pun harganya adalah kematian.”

Nendo menarik nafas dalam. Dia melihat langsung mata Mama Mara.  Saat ini, jadi momen paling penting dalam hidupnya.

“Saya tahu, dia sangat berharga. Saya tidak pernah bertemu dengan wanita seperti Mara. Saya sangat mengaguminya. Saya tidak berniat mengambil keuntungan apa pun dari Mara. Sebelum Ibu memutuskan, bolehkan saya menceritakan tentang diri saya?”

Alis Mama Mara terangkat sedikit.

Nendo menceritakan semua hal tentang dirinya. Mama Mara mendengarkan, tanpa pernah menyela sekali pun.

“Nendo!” sebuah suara yang sangat dikenal Nendo, membuatnya secepat kilat  membalikkan badan. Seorang wanita cantik  dengan wajah tersenyum,  berdiri hanya dengan jarak satu meter di depannya.

Bandung Barat, Senin 6 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *