Fiction

I Love Myself

Mara menghembaskan tubuh ke sofa. Matanya tak berkedip menatap ranjang tempat tidur rumah sakit. Menikah?  Tangannya dimasukkan ke saku jaket. Ujung jarinya menyentuh sebuah benda. Perlahan Mara mengeluarkan benda itu. Matanya tidak berkedip memandang kotak kecil berwarna hitam. Dia menarik nafas dalam. Wajah ganteng Firman terbayang di pelupuk matanya.

“Maaf, waktu itu aku datang terlambat … waktu sampai sana, kamu sudah pergi,” ujar Firman perlahan. “Aku harus langsung ke kota, jadi tidak sempat lagi ke rumah kamu.”

Mara memandang Firman dengan dua alis terangkat.

Firman tersenyum lebar. Jantung Mara berdetak kencang. Wajah yang diam-diam sering dirindukannya, benar-benar hadir nyata. Tidak akan menghilang, seperti biasanya.

“Aku sudah bilang ke mama aku. Mama setuju kalau aku mau serius sama kamu.”

Mara refleks mencondongkan tubuhnya ke arah Firman. “Kamu bilang apa?”

Firman memasukkan tangan ke dalam kantung kemeja. Sebuah kotak kecil berwarna hitam, berada di tengah telapak tangannya. “Mama sampai membatalkan rencana pergi hari itu, dan membantuku memilih cincin untukmu.” Dia membuka kotak itu.

Mata Mara mengerjap. Sebuah cincin emas dengan ukiran dua hati bersinar memantulkan cahaya matahari.

“Aku sangat serius dengan hubungan kita. Syarat mama aku harus lulus kuliah, bekerja. Dan aku setuju dengan syarat mama. Tentu saja kita tidak bisa menikah,  sampai aku lulus kuliah. Tapi cincin ini, melambangkan hati yang sudah kuserahkan padamu. Walau kita berjauhan, kita akan tetap dekat. Lihat! Aku juga menggunakan pasangan cincin ini.” Firman memperlihatkan tangan kiri, dengan sebuah cincin emas di jari manis.

 

Looking upward to the starry night sky from a ravine.

source

Otak Mara terus  mencerna informasi dari idolanya sejak kecil. “Mama kamu setuju kamu pacaran sama aku?” tanya Mara heran. Alisnya berkerut.

Firman mengangguk cepat. “Aku juga tidak menyangka, restunya sangat mudah kudapat.”

Pandangan Mara beralih pada wajah Firman dan cincin emas itu bergantian. “Kamu bilang ke mama kamu, mau ketemu aku pagi itu?”

“Ya. Aku bilang ke mama. Mama dukung aku untuk mengikat kamu,  walaupun tidak secara resmi.  Mara, di mana pun kamu berada, kamu pasti akan jadi pusat perhatian. Aku engga mau kehilangan kamu. Aku engga bisa jagain kamu lagi, karena kita ada di kota yang berbeda.”

“Jagain?” tanya Mara dengan alis bertaut.

“Kamu engga heran, engga pernah ada yang nembak kamu?” alis Firman terangkat tinggi seolah tidak percaya.

A macro shot of a leaf.

source

Mara tersenyum. Mau tidak mau tertawa.  “Itu karena aku engga cantik, seperti Nida.” Alis Mara terangkat sedikit. Aneh sekali, mengatakan hal itu sama sekali tidak menimbulkan  sedikit rasa iri seperti biasa. Kesadaran ini, membuat senyumnya semakin lebar. Dia sudah mencintai dirinya sendiri. Kelebihan orang lain, menjadi bukti kekuasaan Allah yang sempurna. Toh seperti Nida, dia juga  punya kelebihan. Sekarang dia sudah sangat menyukai dirinya sendiri.

“Itu karena aku ancem mereka, engga akan bisa lulus seumur hidup dari SMA,” sahut Firman  jengkel dengan wajah serius.

Mulut Mara menganga karena tercengang. “Jangan bercanda!”

“Kamu pernah lihat aku bercanda?” Firman balik bertanya dengan dahi berkerut. Kebiasaannya saat keputusannya sedang dipertanyakan.

Perasaan Mara campur aduk. Dadanya berdebar kencang. “Kenapa?”

“Aku engga mau ada laki-laki lain yang deketin kamu, selain aku.” Mata Firman memicing. “Setelah lebih dari 10 orang, aku sudah engga ngitung mereka lagi.”

Nafas Mara tercekat. Ada banyak teman laki-laki yang suka dia? “Kamu  benar -benar serius deketin aku?”

“Kamu pikir, ngapain aku ikut rombongan berbagai olimpiade yang kamu ikutin?” Alis Firman naik tinggi.

“Aku pikir kamu suka olimpiade itu, makanya aku juga ikut, supaya dekat kamu.”

Firman menyugar rambutnya. “Kita sudah buang-buang waktu bertahun-tahun.”

“Kenapa kamu engga pernah bilang?” tuntut Mara.

“Ke siapa? Ke kamu? Selama ini yang kamu perhatiin  cuma buku, pelajaran, lomba-lomba. Kenapa kamu sendiri engga pernah bilang? Malah aku pikir, kamu tahu aku ada, hanya pas akhir tahun saja, saat kita salaman,” dengus Firman kesal.

Mara tersenyum dalam hati. Mara yang dulu   pasti hanya akan menundukkan kepala. “Bilang ke kamu? Ketua OSIS, Kapten Tim Basket, Pramuka, Paskibra, dengan Nida yang terus menempel? Gila kali aku! Mau double bunuh diri? Ditolak terus dipermalukan?”

“Dipermalukan?” tanya Firman heran.

Mara menaikkan bahu sekilas. Memang bukan Firman.Tapi Nida cs yang melakukannya.

“Aku minta maaf, tidak bisa bantu kamu. Tabungan aku habis untuk bayar kos dan kuliah. Tapi aku akan cari kerja sambilan di sana.  Buat tabungan di bank, Mara. Kirim saja ke aku nomor rekening kamu.”

Mara terhenyak. Benar yang dikatakan Nida. Apa yang bisa aku kasih ke Firman? Orang tua yang sakit-sakitan dan butuh biaya besar?

“Kamu jangan punya pikiran macam-macam,” ujar Firman seperti bisa membaca pikiran Mara. “Aku tidak merasa terbeban sama sekali. Aku jadi tambah semangat. Punya motivasi  baru.”

Melihat dia hanya terdiam, Firman lanjut berkata, “Aku sayang banget sama kamu, Ra. Aku engga mau kehilangan kamu lagi. Tiga bulan ini, aku kayak orang gila. Engga tahu kamu di mana? Kamu ngapain? Bergaul sama siapa? Kamu sehat atau engga? Tidak ada yang mau ngasih alamat kamu ke aku!”

Dia memang berpesan ke mama dan Tuti, tidak memberikan nomor ponselnya pada siapa pun. Mara terpaku melihat kesungguhan wajah Firman.  Firman akan memberikan seluruh yang dimilikinya untuk dirinya. Dia kenal Firman. Dia bisa memegang kata-kata Firman. Denyut-denyut kebahagiaan merambah di pembuluh darahnya.

“Kamu benar-benar berubah, Firman,” ujar Mara terdiam sesaat. “Aku engga tahu, kamu bisa terbuka seperti ini.”

Firman menoleh ke arah lain. Lalu lalang orang di rumah sakit tambah ramai. Dia melihat arloji. Jam 10 pagi. Waktunya besuk pasien. Ketika melihat ke arah Mara, dia berkata,” Tiga bulan ini aku benar-benar ketakutan kehilangan kamu. Aku … menyesal, tidak  bicara  apa-apa selagi ada kesempatan. Mungkin karena aku terbiasa selalu lihat kamu …. biasanya aku selalu  dapat cerita tentang kamu dari Nida …  Kata Nida, kamu tidak mau mikirin pacaran dulu sebelum jadi dokter. Jadi aku juga  engga deketin kamu secara terbuka.”

“Nida?”Perasaan bimbang menyelimuti lembut kegembiraannya.

“Dia juga benar-benar tidak tahu kabar tentang kamu.”

Mara memijat tengkuknya.

“Ini buat kamu,” Firman meletakkan kotak hitam itu di telapak tangan Mara. “Kalau kamu lihat cincin ini, kamu harus ingat. Aku sayang banget sama kamu. Kita pasti nemuin cara, supaya ayah kamu, bisa terus berobat. Seperti yang selalu kamu bilang, saat kita sudah maksimal persiapan, dan keadaan mulai kacau ‘Allah pasti nolong kita’.”

Kepala Firman meneleng. “Kamu juga sudah berubah sekarang.”

“Berubah?” Mara langsung memegang rambutnya yang sudah tiga hari tidak dikeramas. Syukurlah di restoran yang mereka singgahi terakhir kali, dia sempat ganti baju, bersih-bersih sedikit,  dan cuci muka.

Wajah ganteng Firman yang sedang tersenyum,  seperti dipenuhi cahaya saat berkata, “Kamu  jauh  lebih cantik sekarang.”

 

Bandung Barat, Selasa 7 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *