Fiction

Sepadankah dia denganmu? # 32

Mara bergegas menghampiri ranjang rumah sakit, ketika sekilas melihat tubuh ayahnya  bergerak. “Ayah sudah bangun,” ujar Mara sembari tersenyum.

Ayah Mara  mengangguk bingung perlahan. Tangan ayah  Mara berusaha  melepaskan masker oksigen. “Jangan dilepas dulu! Nanti Ayah sesak nafas lagi.” Dengan lembut tangan Mara memegang tangan ayahnya.

Mata ayah nanar mengamati sekeliling. “Mama … Mama mana?”

“Sebentar, Mara panggil mama dulu.” Mara berlari ke arah pintu. Dengan cepat dia  menurunkan handle pintu. “Ma!  Dicariin ayah.”

Seorang wanita cantik membalikkan tubuh ke arahnya.

***

source

“Mama,” Nendo langsung  bangkit dan berjalan mendekati seorang wanita berhijab yang tampil  elegan. Ia mencium tangan wanita itu. “Mama, sama siapa ke sini?”

“Ditemani Ardi,” sahut Sayati.

“Kenalkan Bu,  ini Mama saya,” ujar Nendo seraya memeluk bahu Sayati.

“Sayati.”

“Mama Mara …  mari,   silakan masuk,  Bu Sayati,” ujar Mama Mara setelah menjabat tangan Bu Sayati.

Tubuh Nendo berputar ketika mendengar pintu ruangan di belakangnya terbuka keras. Mara berdiri di ambang pintu pintu.

“Mara,” Nendo memanggil Mara.

Mara berjalan menghampirinya. “Ma, kenalkan ini Mara… Mara,  ini  mamaku.”

Hati Mara berdebar-debar. Ia mencium tangan Mama Nendo. “Mara.”

“Sayati.”

A person holding a wire with tiny light bulbs in their hands

source

“Mara calon istriku, Ma,” kata Nendo dengan nada bangga yang tidak disembunyikannya. “Kami akan menikah besok!”

“Pak Nendo,” seru Mara kaget, melihat dengan santai, Pak Nendo mengenalkan dirinya sebagai calon istri. Bagaimana ini?

“Mara,  panggil Mama?” tanya Mama Mara memecahkan keheningan canggung,

Suasana kembali cair. Mara tersenyum sembari mengangguk. “Ayah nanyain Mama.”

Mama Mara setengah berlari menuju pintu. Sebelum membuka pintu, Mama Mara berbalik, “Tolong temani Mama Pak Nendo dulu, Mara.” Dia menatap mata Pak Nendo sesaat.

Nendo menangkap isyarat tatapan mata Mama Mara. Dia mengangguk sangat perlahan. “Duduk dulu di sini, Mara,” ujar Nendo lembut.

Sayati memperhatikan Mara yang nampak  kebingungan,  mendengar perkataan Nendo. Pandangannya beralih pada Nendo, ketika Nendo bertanya, “Berangkat jam berapa dari rumah, Ma?”

“Jam 7,” sahut Sayati singkat. Dia masih sangat terkejut mendengar perkataan Nendo.

“Pegang apa, Mara?” tanya Nendo ketika Mara memainkan benda hitam di tangannya.

“Hm,” Mara melihatnya dengan pandangan bertanya. Pandangan gadis itu  terarah pada ujung  telunjuk Nendo.

Mara membuka telapak tangannya. Dia terpaku sesaat. “Bukan apa-apa,” sahut Mara seraya memasukkan benda hitam itu,  ke dalam kantung jaketnya.

“Macet, Ma, di jalan?” Nendo menoleh  ke arah Sayati.

“Belum. Kebetulan Mama mau ke rumah orangtua Bu Anita. Ibunya sakit,  sudah dua minggu di rumah sakit ini.”

Tiba-tiba serombongan orang  berjalan menuju ke arah mereka.

“Maaf itu keluarga ayah … saya  mau  menemui mereka dulu,”  ujar Mara terdengar  lega. Setelah   dia  menganggukkan kepala, baru Mara meninggalkan mereka berdua.

Nendo mengajak mamanya meninggalkan teras, setelah mereka bersalaman dengan semua rombongan yang baru datang. Syukurlah kantin rumah sakit tidak terlalu ramai.

“Mendadak sekali rencanamu?” Sayati menegur Nendo  halus. “Kapan kau mulai mengenalnya? Kenapa tidak pernah cerita sama Mama?” Sayati memuntahkan isi hatinya.

“Aku  sendiri baru mulai memikirkannya secara serius,  pagi  ini,” Nendo mengakui. “Dia keponakan Pak Parman. Aku mengenalnya tiga bulan yang lalu.”

Sayati menganggukkan kepala. Ia kenal Pak Parman. Ia  juga menyukai laki-laki itu walaupun sangat tidak menyukai istrinya. Sebenarnya kata kasihan lebih tepat, daripada menyukai. Kalau sebuah biduk rumah tangga tidak harmonis, itu adalah salah laki-laki. Karena laki-lakilah yang jadi pemimpin keluarga.

“Bagaimana kau mengenalnya?” tanyanya dengan wajah dan suara sangat serius. Ini adalah pertama kalinya, Nendo berkata akan menikah. Dan dia  tidak keliatan main-main, saat mengatakan ingin menikahi Mara, besok.

“Awalnya dia akan bekerja di lapangan futsal yang sedang kubangun … tapi karena lapangannya belum jadi, dia magang di salah satu perusahaanku.”

“Bagaimana bisa?” Sayati menaikkan alis sedikit.

“Aku pernah cerita kan, aku mengajar tentang kewirausahaan. Mara menjadi salah satu peserta pelatihan. Nilai tesnya tertinggi,  aku memberinya reward untuk magang di salah satu perusahaanku. Kami sering bertemu ….” sahut Nendo.

Ketika Sayati memberikan pandangan tidak percaya, Nendo menambahkan, “… lebih tepatnya aku yang mendekatinya.” Ya kecil sekali kemungkinannya, mereka sering secara tidak sengaja bertemu. Karena banyaknya aktivitas yang harus dilakukannya. Dan mamanya mengerti hal itu.  Ia mengangkat kedua pundaknya sekilas. “… yah ….”

“Dia masih muda sekali.” Mata Sayati memandang Nendo dengan lembut.

“Iya … baru lulus SMA tahun ini.” Tangan Nendo memijit tengkuknya sendiri. Ia sudah mengingatkan dirinya sendiri tentang perbedaan usia yang jauh, namun semuanya seperti sia-sia. Keinginan untuk memiliki Mara bukannya meredup, malah semakin kuat.

Alis sayati terangkat naik, mendengar jawaban Nendo. “Kau yakin dengan pilihanmu?”

Nendo menarik nafas panjang. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku di taman. “Belakangan ini aku sering merasa lelah …  selama ini, tidak ada yang kulakukan untuk diriku sendiri … menikah dengan Mara, salah satu hal yang ingin kulakukan untuk diriku sendiri,” sahut Nendo dengan pandangan menerawang ke langit.

“Apakah …  ia sepadan denganmu?” tanya Sayati dengan nada hati-hati.

Pandangan Nendo mengarah ke Sayati. “Papa pernah berkata aku adalah seorang visioner yang luar biasa … kalau saatnya  mekar, ia akan menjadi seorang wanita yang luar biasa. Cantik, cerdas, humoris, baik hati. Itu yang aku lihat pada dirinya.”

“Kau tidak sedang galau, karena Ima ingin kau menikah dengan mamanya?” tanya Sayati lagi, seolah ingin memastikan   isi hati Nendo.

“Setelah kami bercerai … tidak ada lagi yang tersisa untuk Nisa, Ma.” Nendo menghela nafas. “Hanya sekali pernah terlintas, selama 11 tahun ini, itu pun hanya untuk Ima.”

“Tapi belakangan ini, hubungan kalian sangat baik.” Sayati berusaha mengingatkan Nendo dengan lembut.

“Nisa  ibu kandung Ima. Tidak ada alasan aku tidak perhatian padanya.  Aku tidak ingin, membuat hati Ima  sedih, dengan menghalangi keinginannya untuk mengenal ibunya lebih jauh.”

“Kau tahu, Ima sangat ingin kau menikah dengan Nisa?” tanya Sayati sambil memperhatikan wajah Nendo tanpa berkedip. Ia ingin sekali lagi memastikan,  apa yang sebenarnya ada  dalam hati anaknya.

“Iya,” sahut Nendo yakin, setelah terdiam beberapa saat. “Tapi ini  hidupku. Aku ingin menikah, karena hatiku yang menginginkannya. Bukan karena hal lain,” lanjutnya pasti dengan senyum di bibirnya.

“Segitu hebatkah, Mara?” Sayati menaikkan alisnya, melihat Nendo tidak bergeming. Biasanya nama Ima, selalu meluluhkan hati anak laki-lakinya.

“Kalau dia ada di tangan yang tepat,” sahut Nendo dengan pandangan menantang pada Sayati.

Sayati menaikkan alisnya lagi  tinggi sesaat, sebelum akhirnya tersenyum. “Bagaimana dengan Mara sendiri. Benda yang tadi dipegangnya, itu kotak cincin, kan?”

 

Bandung Barat, Rabu 8 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *