Fiction

Berehat Sejenak # 33

“Mara memang punya banyak pengagum,” Nendo tersenyum masam  pada Sayati, mengingat berapa banyak para pegawai  laki-laki, menerima kerutan dahinya dua bulan terakhir.  “Karena itu aku harus secepatnya mengikatnya.”

Kepala Sayati mengangguk perlahan. “Baikkah … rencanamu untuk Mara sendiri?”

Tubuh Nendo tegak lagi. “Aku tidak pernah berpikir tentang itu,”  sahut  Nendo kaget.

Mara benar-benar menghancurkan sistimatika  berpikir,  yang dibangunnya bertahap  sejak puluhan tahun lalu. Nendo memaki-maki diri sendiri, dalam bayangan mentalnya. Sebagai orang yang melabelkan diri sebagai seorang perfeksionis murni, dia benar-benar kecolongan.  Memutuskan sesuatu, hanya benar-benar melihat dari satu sisi. Parahnya, hanya  dari sudut pandangnya. Dia  tersenyum dengan penuh rasa terima kasih pada mamanya.

“Ada apa?” tanya Sayati bingung.

“Entah akan jadi apa aku, kalau tidak ada Mama.”

Sayati menepuk-nepuk punggung tangannya lembut. “Kamu laki-laki hebat, Nendo. Kamu sudah melakukan ribuan hal hebat hampir seumur hidupmu. Jangan lupa itu!”

Heart, Love, Romance, Valentine, Harmony, Romantic

source

“Terima kasih, Ma.” Nendo kembali tersenyum pada mamanya.

Setelah menarik nafas panjang, dia  berkata lagi, ”Aku tidak tahu,  apa yang kurasakan … tapi, aku sangat marah, kalau ada laki-laki yang mendekatinya … atau kalau ia menyebutkan nama seorang laki-laki, sekali pun ia tidak dalam keadaan sadar … aku …  menginginkannya, hanya untuk diriku sendiri.” Dia berhenti sejenak. Pandangannya mengarah pada bunga bougenville unggu yang  berkilauan ditimpa sinar matahari. “Saat bersama Nisa, aku tidak pernah merasakan hal ini,” lanjutnya bingung.

“Tapi … keliatannya … Mara tidak memiliki perasaan yang sama denganmu … benarkah apa yang Mama kira?” tanya Sayati lagi dengan nada lembut.

Nendo tersenyum lebar.  Dia memperhatikan sekeliling yang mulai sepi. Ketika mamanya tidak juga bicara, Nendo mengetuk meja dengan telunjuknya.

“Mama benar … ia sendiri sangat kaget, sampai duduk terjatuh di lantai, begitu aku memintanya untuk menikahiku … tapi, aku akan membuatnya,  merasakan apa yang kurasakan saat ini,” ujarnya penuh percaya diri.

Sayati menelengkan kepala. “Kau mencintainya, Nak. Kau sudah jatuh cinta pada Mara.”

“Benarkah?” tanya Nendo dengan alis  berkerut dalam. Ia menyangsikan kata-kata mamanya. Dia tahu kondisi Mara. Gadis itu membutuhkan dukungan secara holistik, untuk secepatnya bisa mengaktualisasikan seluruh potensinya. Walaupun percaya, pada akhirnya Mara pasti bisa sukses  melalui berbagai kesulitannya.

Dia sudah membantu banyak sekali orang. Mara hanya akan masuk ke dalam kelompok itu. Toh, seperti ke orang lain, dia tidak menginginkan apa pun dari Mara. Kecuali, terus ada di sampingnya. Hingga dia bisa terus melihat Mara. Dia benar-benar tidak menginginkan hal  lain dari  wanita yang ingin dinikahinya ini. Bisa melihat Mara setiap hari, sudah cukup baginya. Dia sangat percaya pada dirinya sendiri.

“Hati seorang ibu mampu menembus perasaan anaknya,”

Key, Heart, Daisy, Love, Wood, Valentine'S Day, Symbol

source

Mata Nendo berkaca-kaca, ketika ia berkata pada Sayati dengan suara bergetar,” Ia … membuatku hidup lagi, Ma …”

Mata Sayati terbelalak. Wajahnya  berubah  sangat cerah. Senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.

Nendo memegang tangan mamanya yang berada di atas meja. “Tapi Ma … seberapa  pun aku menginginkan  Mara … aku … tidak akan menikahinya, apabila Mama tidak merestui … ”  ujar Nendo lirih.

Keharuan menyelimuti hati Sayati. Nendo sangat baik padanya. Walaupun suaminya, sepupu jauh ayah Nendo, sudah meninggal, sikap Nendo tidak berubah padanya. Bahkan Nendo semakin menyayangi dan menghargainya.

Apalagi,  setelah semalam Nisa menceritakan sebuah rahasia besar padanya. Ia semakin mengagumi kebesaran hati Nendo.  Sayati  menarik nafas panjang, wajahnya pasti aneh. Bangga, haru, bahagia, bercampur jadi satu.  “Satu lagi pertanyaan Mama. Jangan cepat jawab. Pikirkan baik-baik!”

Melihat Nendo mengangguk, Sayati menelengkan kepala. “Andaikata kau harus kehilangan semua kekayaan untuk bisa menikah dengan Mara, kau masih akan menikah dengannya?”

“Aku akan tetap menikahinya,” sahut Nendo cepat.

“Nendo, Mama bilang jang–”

“Ma. Jika kekayaanku hilang, aku bisa mencarinya lagi. Aku percaya Mara pasti tetap akan menerimaku.  Dia tidak tahu aku sekaya apa. Dia tidak menikahiku karena harta.  Aku pasti bisa membangun kerajaan bisnisku dari nol. Tapi kehilangan Mara,” Nendo bergidik membayangkan tidak bisa melihat gadis itu untuk selamanya.

“Mama  merestuimu.”

Serta merta Nendo mencium tangan Sayati. “Terima kasih, Ma. Terima kasih banyak.”

Tangan Sayati  bisa merasakan punggung tangannya yang lain basah oleh airmata Nendo.

“Ada satu lagi permintaanku.” kata Nendo. Ia mendongakkan wajah. Tangannya menghapus airmata yang  merebak.

Sayati meneguk  air mineral pesanannya, yang sejak tadi diletakkan pelayan di atas meja.“Katakanlah!”

“Aku sedang renovasi pesantren mama. Mungkin kami akan tinggal lama di rumah Mama … sekitar tiga bulan.”

“Sama sekali bukan masalah. Malah membuatku  sangat senang,” senyum Sayati kembali  mengembang.

“Ya … aku tahu … terima kasih, Ma  … Mara … tidak  mengenalku … dia belum menyadari  tanggung jawab yang datang,  bersama dengan statusnya sebagai istriku.”

“Dia tidak tahu kamu bujangan kaya raya yang sangat diincar?” Melihat Nendo menggeleng, Sayati mencondongkan tubuh ke arah Nendo, “Lalu apa yang membuatnya mau menikah denganmu?”

Wajah Nendo memerah. Ia tidak mungkin mengatakan pada Sayati, perjanjiannya dengan Mara.

Punggung  Sayati langsung tegak.  Wajahnya  menegang, “Kau sangat terburu-buru ingin menikahinya …. Nendo … dia … belum—“

“Tentu saja belum, Ma!” potong Nendo sambil tertawa kecil. Ia tersenyum melihat kelegaan di wajah Sayati. “Aku tidak akan membuat Mama malu lagi. Aku akan selalu berusaha, agar Mama bisa menegakkan kepala, melihat siapa pun, “ janji Nendo.

“Syukurlah. Terima kasih … jadi apa yang ingin kau minta?” Dia mereguk lagi air mineral yang masih tersisa setengah gelas.

“Maukah mama membimbingnya, selama tiga bulan ini … aku ingin, ia bisa mendampingiku dengan gembira dan tanpa tekanan  di masa depan …. Aku tidak bisa melakukan sendiri, karena  akan konsentrasi ke pembangunan pesantren.” Nendo memandang Sayati penuh harap.

Sayati-lah yang bisa membuatnya bisa jadi seperti sekarang. Keberhasilannya, tidak lepas dari tangan dingin Sayati yang telah membesarkan, membimbing dan mendidiknya. Sampai ia mampu menentukan sendiri,  semua hal yang harus  dan ingin dipelajarinya. Tanpa bantuan dan bimbingan awal Sayati, Nendo tahu, ia tidak akan mampu mencapai kesuksesan yang telah diraihnya saat ini.

“Itu permintaan yang menyenangkan.”

“Mara seorang gadis yang hebat. Dia sangat cerdas dan seorang pemberani.”

Sayati tidak dapat menahan tawanya. “Apa kekurangannya?”

“Sejauh ini aku belum menemukannya …” Nendo mengerutkan kening, “Kecuali cepat meyakini sesuatu, berdasarkan opini dan pengetahuannya sendiri. Pertama kali bertemu,   dia  seorang gadis pemalu, pemurung, walaupun sangat cerdas. Tiga bulan, mengubahnya menjadi Mara yang sekarang… dia ibarat wadah, dengan permukaan lebar … walaupun yang bisa mempengaruhinya, hanyalah apa-apa yang sesuai dengan yang diyakininya sebagai kebenaran … tapi pada dasarnya,  dia adalah seorang yang terbuka dan haus pengetahuan….”

“Kau terobsesi padanya!”

Nendo mengangkat bahunya sekilas. “Entahlah… aku sendiri belum tahu dengan jelas apa yang kurasakan.”

“Lalu kenapa kau ngotot ingin menikahinya secepat ini?” tanya Sayati heran. Nendo adalah orang paling rasional yang dikenalnya. Dia tidak pernah memutuskan segala sesuatunya dengan emosional. Semua diperhitungkannya dengan matang.

“Hatiku yang mendesakku … aku merasa harus melakukannya … dan selama ini, hatiku tidak pernah mengecewakanku.”

Ya. Sayati tahu, selama ini Nendo selalu berlatih mendengarkan petunjuk dari hatinya. Ia tidak meragukan keputusan Nendo lagi. Walaupun di antara semua keputusannya, yang satu ini sama sekali tidak masuk akal.  “Kalau begitu, mari kita temui keluarganya… keliatannya mereka sedang berkumpul semua.”

Kepala Nendo mengangguk. Ketika mereka memasuki ruangan, yang ada hanya Mara dan kedua orangtuanya.

Melihat ayah Mara sudah bisa berkomunikasi normal, Nendo menyampaikan maksud hatinya.

Ayah Mara terus melihat mata Nendo, selama Nendo berbicara.

Keheningan menguasai ruang rawat inap ayah Mara.

“Pak Nendo, sebelumnya saya sangat berterima kasih atas semua bantuan Bapak. Kami tidak bisa membalasnya.” Ayah Mara menoleh ke arah mama Mara.

“Mama Mara sudah menceritakan semuanya. Sebelum keputusan diambil, bersediakah Pak Nendo dan Bu Sayati menginap di gubug kami semalam? Besok siang, kita akan lanjutkan percakapan ini.”

Wajah Mara pucat pasi memandang airmuka ayahnya yang sangat tenang dan dihiasi senyum.

 

Bandung Barat, Kamis 9 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *