Fiction

Titik Nadir

“Sebuah kehormatan menjadi tamu keluarga Mara, Pak,” sahut Sayati seraya menganggukkan kepala. Nendo  maupun Mara, perlu   tambahan waktu,  untuk memutuskan hal  besar yang berdampak sangat panjang, pada  mereka berdua.

Ia mengalihkan pandangan pada Mama Mara,  yang tersenyum mendukung keputusan suaminya.   Mau tidak mau, timbul rasa hormat, pada keluarga Mara. Tampaknya mereka bertiga memiliki  pendapat yang sama.

Nendo memperhatikan  Sayati dan kedua orangtua Mara sama-sama tersenyum,  Ada bahasa lain di antara para orangtua?  Tanpa sepatah kata pun. Tampaknya mereka sama-sama menyetujui satu hal.

“Mara, sebaiknya pulang sekarang. Kamu harus menyiapkan makanan untuk berbuka,” ujar Mama Mara.

“Jangan repot-repot, Bu.  Nanti kita beli saja makanan di jalan,” Nendo tidak tega melihat wajah Mara yang kebingungan.

“Kebetulan tadi pagi, saya sempat belanja. Mau bikin pecel rencananya. Tapi belum sempat dimasak. Pecel buatan Mara, enak lho,” promosi Mama Mara. “Tidak apa-apa,  Mama dan adik-adikmu menemani ayah di sini, Mara?”

Mara melihat wajah kedua orangtuanya yang tersenyum. Ia ikut tersenyum, “Tidak apa-apa, Ma.” Dia mengalihkan pandangan  ke arah Nendo dan Sayati. “Kita berangkat sekarang?”

Sayati mengangguk menyetujui.

Setelah mempersilakan Nendo dan Sayati beristirahat, Mara langsung meracik bumbu pecel di dapur. Mama mau buat mendowan, dan peyek kacang. Ketika sedang mengulek kacang goreng, ia mendengar pintu rumah diketuk.

Wajah sinis Mama Firman terpampang di ambang pintu, begitu ia membukanya.  Tangannya menunjuk wajah Mara.  “Kamu jangan macem-macem, ya!”

“Ada apa, Mama Firman?” tanya Mara kaget.

“Jangan salah sangka dengan omongan Firman!  Jangan  ganggu hubungan Firman dengan Nida! Saya tidak akan pernah nerima kamu sebagai mantu saya. Jangan mimpi di tengah bolong.”

“Saya ti–”

“Bapak kamu di rawat di VVIP? Bayar dulu hutang ke saya, gaya-gayaan,  engga punya uang di rawat di sana. Kamu tahu engga,  berapa biaya pasang  dua ring? Ratusan juta! Sok bener sih keluarga kamu! Bayar dulu hutang, kalau mau sok kaya. Engga malu kamu sama hutang?”

Ratusan juta? Tubuh Mara sedikit terhuyung. Dia mengepalkan kedua tangannya, mencegah airmatanya turun.

“Berapa hutang Ayah Mara?” tanya Nendo dengan suara dingin, Dia menarik tangan Mara, hingga gadis itu ada di belakang punggungnya.

Mama Firman melihat Nendo sekilas, sebelum melihat melalui atas bahu Nendo ke arah Mara. Dia tersenyum sinis pada Mara. “Oh ini, orang  yang bawa ayah kamu ke rumah sakit? Hebat kamu, Mara. Engga dapat Firman, kamu cari mangsa lain?”

“Kalau kamu tidak berhenti, saya akan beli dua showroom ayahmu!” ujar Nendo dengan wajah tanpa ekspresi.

Mata Mama Firman  melotot ke arah Nendo.  Tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali orangtuanya, yang tahu showroom itu masih atas nama ayahnya. Siapa laki-laki ini?

Mama Firman mengibaskan tangan dengan angkuh. “Sembilan juta lima ratus. Itu saya kasih discount, Cape saya ngitung bunganya.”

“Tidak usah discount. Hitung saja semuanya,” sergah Nendo.

“25 juta,” seru Mama Firman lantang dengan dagu terangkat tinggi.

“Mama Firman, hutang ayah  tujuh juta! Kemarin sudah dibayar dua juta!” teriak  Mara marah. Dia menggeser tubuh Nendo sekuat tenaga. Namun usahanya sia-sia. Tubuh Nendo tidak bergerak sedikit pun.

“Sudah berapa tahun, ayah kamu ngutang?” kilah Mama Firman dengan nada tinggi.

Nendo mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas selempang kulitnya. Mengeluarkan tiga bendel Rp 100.000,-    “Ini 30 juta. Jangan sekali-kali injak rumah ini lagi.”

Mama Firman melongo, melihat uang yang disodorkan Nendo.

Bridge, Golden, Light, Mystical, Dramatic, Woods

source

“Masih ada perlu lain?” tanya Sayati yang tiba-tiba berdiri di samping Nendo.

“Dasar orang sombong!” Mama Firman langsung membalikkan badan, setelah menyabet uang di tangan Nendo.

Sayati memeluk Mara yang menundukkan kepala dengan tangan terkepal. “Mara,” Dia mengusap-usap pundak Mara perlahan.

Nendo menarik nafas panjang. Dia berjalan ke arah dapur, setelah menutup pintu rumah.

“Tidak apa-apa, Mara. Menangislah kalau kamu mau menangis,” ujar Sayati lembut.

Mara menyerah. Tangisnya  meledak. tepukan lembut di punggungnya, membuat airmatanya mengalir semakin deras.  Ketika mendengar suara masakan digoreng, dia dengan cepat melepaskan diri,  dari pelukan Sayati..

Dengan lembut Sayati mengajak Mara duduk di kursi tamu. “Sudah, biarkan Nendo yang masak kali ini!”

“Bu, jangan!” seru Mara kaget. “Memang Pak Nendo bisa masak?”

“Dia pinter masak. Biarkan saja, Ibu kangen sama masakan Nendo. Kita ngobrol saja di sini.” Sayati  berdiri mengamati piagam Mara yang dipajang berjejer memenuhi dinding ruang tamu. Puluhan medali, dikumpulkan  di satu sudut.  “Hebat! Kamu sering dapat juara, Mara.”

Kepala Mara mendongak. Matanya mengikuti tubuh Sayati,  yang berjalan perlahan, membaca berbagai piagam yang diperolehnya. Sayati berdiri di depan  piala-piala yang selalu dibersihkan ayah setiap hari.

“Alhamdulillah.”

“Kamu suka bahasa, ya?”

“Ya. Gampang belajarnya.”

“Benarkah?” Sayati memutar badan  ke arah  duduk Mara. “Saya suka sakit kepala,   saat  belajar bahasa lain.”

Mara tersenyum malu. “Untuk saya rasanya mudah. Teman-teman saya bilang susah.”

Sayati sudah berdiri di rak  piala lain. “Kamu suka olahraga?”

“Basket dan renang.”

“Kamu juga jadi vokalis,  di paduan suara sekolah?” tanya Sayati, ketika melihat foto Mara sedang berdiri memegang mic, di tengah paduan suara.

“Mama suka nyanyi. Kami semua jadi suka nyanyi … maaf ya Bu, tadi ….”

“Tidak apa-apa. Tenang saja. Kamu punya orangtua hebat Mara,” melihat Mara kebingungan, Sayati berkata, “Dengan tekanan ekonomi seperti ini, mereka bisa membesarkan anak hebat sepertimu.”

“Mereka memang hebat,” aku Mara bangga.

“Rumah kamu sangat rapi dan bersih,” puji Sayati. Walaupun kecil dan cat sudah terkelupas di sana-sini, namun rumah keluarga Mara,  sangat terawat dan menimbulkan rasa nyaman. Biasanya dia sangat sensitif, untuk urusan yang satu ini.

Senyum Mara mengembang. Wajahnya mulai terlihat kemerahan. “Mama bilang ‘Kebersihan sebagian dari iman.’ Allah mencipta dan mengurus ciptaan-Nya  dengan teratur. Jadi kami juga harus belajar teratur.”

Sayati ikut tersenyum. “Kamu harus bangga sama mereka berdua. Seperti mereka bangga dan percaya, padamu.”

“Saya beruntung jadi anak mereka ….” Mara terdiam sesaat, “Ibu baik sekali.”

“Banyak yang bilang begitu,” ujar Sayati dengan wajah serius. Mereka saling berpandangan. Tak lama kemudian, keduanya tertawa berbarengan.

“Sudah magrib. Ini teh hangat tawarnya,” Nendo berjalan ke ruang tamu membawa dua gelas air di tangan kanan dan kirinya.

“Maaf, Pak Nendo!” Mara berdiri. Pasti mereka kehabisan gula pasir  sekarang.

“Duduk!” perintah Nendo  dengan telunjuk mengarah ke kursi tamu.

Dengan patuh, Mara mengikuti perintah Nendo.

“Sudah,  biarkan saja Nendo siapin makan kita,” ujar Sayati santai. “Masakan Nendo bikin nagih.”

Setelah sholat tarawih berjamaah, Sayati mengundurkan diri ke kamar.

“Bu Sayati baik sekali, Pak Nendo,” suara perlahan Mara terdengar dari tempat Sayati berbaring.

“Mama sangat luar biasa.”

Ruang tahu itu kembali hening.

“Bapak sudah tahu kondisi saya sekarang.” Suara Mara meningkah suara-suara binatang malam di kejauhan.

“Hm,” sahut Nendo singkat.

Kepala Mara tertunduk. “Sekali lagi, terima kasih untuk  segalanya. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak,  berlipat ganda …. Besok, saya saja  yang  bilang ke mama dan ayah. Jadi Bapak sama Bu Sayati, bisa langsung pulang ke rumah.”

Fantasy, Light, Mood, Sky, Beautiful, Fairytale, Dream

source

Alis Nendo terangkat tinggi.”Lalu,  kapan kamu mau menikah dengan saya, Mara?”

Mata Mara terbelalak, ketika ia menoleh ke arah Nendo. “Bapak masih mau menikah dengan saya? …. Setelah semua ini?”

“Kenapa tidak?” Nendo balik bertanya dengan nada heran.

“Saya hanya akan mempermalukan Bapak, nanti.”

“Kalau begitu, buat saya bangga, nanti, Mara.”

Mara terdiam. Dia ingin punya pernikahan seperti mama dan ayah. Mereka nampak saling menyayangi. Saling memberi. Dia menatap mata Nendo.

“Apa yang bisa saya kasih ke Bapak? Selama ini, saya hanya menerima.”

“Petualangan, Mara,” sahut Nendo dengan senyum lebar.

“Petualangan?” tanya Mara dengan alis bertaut.

Nendo mengangguk yakin. “Petualangan hebat, menjelajahi potensi-potensi diri kita.”

sayati memejamkan mata, dengan senyum puas di bibirnya.

 

Bandung Barat, Jumat 10 Agustus 2018

Salam

Cici SW

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *