Fiction

Lembaran Putih # 38

Nendo hanya mengangkat bahu sekilas. Dia tidak mungkin, melepaskan Mara terlalu lama bersama Firman. Hanya lima menit, toleransi yang diberikan pikiran sehatnya, pada gadis itu. Mara sudah mengatakan bersedia menikah  dengannya. Itu harga mati.  Kalau Mara berubah pikiran, jika memang diperlukan, dia akan menyeret Mara ke depan penghulu.

“Maaf, mama sudah menunggumu di tempat parkir,” sergahnya tanpa merasa bersalah.

Dengan wajah yang mengatakan ‘Bapak keterlaluan sekali’, gadis itu langsung meninggalkannya,   menuju tempat parkir.

Firman sama sekali bukan tandingannya sekarang. Tapi cinta, punya kekuatan luar biasa mengubah seseorang. Seperti yang nyata  dialaminya. Dia orang yang berbeda dari Nendo yang dikenalnya. Dia  tidak mengenali dirinya sendiri saat ini.

Alis Nendo berkerut dalam. Dia harus secepatnya membuat Mara jatuh cinta padanya, jika tidak mau kehilangan gadis itu di masa depan. Dia harus secepatnya menetapkan target-target mustahil, untuk meningkatkan hormon endorfin dalam tubuhnya.

Sistimatika cara berpikirnya mengambil alih. Bagaimana membuat Mara jatuh cinta padanya? Mengapa Mara  harus jatuh cinta padanya?

 

Bride in a wedding gown with a floral bouquet stands in the shadows

source

Ruang rawat Ayah Mara disulap menjadi sebuah ruang  bernuansa taman. Di dominasi warna hijau dan putih, penuh bunga. Rangkaian  bunga-bunga mawar merah, mawar putih, tulip warna warni , lily putih, seruni,  dan bunga baby’s breath ditata cantik, di  dinding,    tempat yang akan dijadikan tempat akad nikah.

Pojok=pojok ruangan dipenuhi dengan rangkaian bunga cantik.

Pintu kamar bagian luar, dirangkai  bunga-bunga lily putih, hingga menyerupai gerbang melengkung. Di bagian dalam pintu masuk, rangkaian bunga anggrek putih, menegaskan dominasi warna putih.

Ayah Mara yang merasa sangat gembira, mendengar Mara akan menikah, menjadi lebih sehat.

Mata gelisah Nendo tidak pernah lepas dari pintu masuk. Masih tersisa lima menit, sebelum acara dimulai. Sudah ratusan kali, dia melihat arlojinya. Ketika mempelai wanita dipersilakan masuk, mata Nendo menyipit.

Ia tidak mengenali seorang wanita cantik, yang  muncul di ambang pintu. Mengenakan brokat   putih, yang sesuai dengan motif  atasan yang dikenakannya. Ketika matanya yang lekat pada sosok wanita itu, bertemu dengan sang empunya, wajah cantik itu merona. Dia menahan nafas, ketika sadar wanita cantik itu, Mara.

Mara nampak sangat cantik. Berjalan perlahan mendekat ke arahnya.

Bisikan – bisikan halus memenuhi ruangan. Memuji kecantikan Mara.

Ketika Nendo menoleh ke belakang Mara, Sayati tersenyum puas. Nendo mengucapkan terima kasih padanya, lewat mata dan senyumnya. Mara duduk di sampingnya.

Mata Nendo melirik Mara. Saat itu Mara pun sedang melihat ke arahnya.

Mara tertegun. Dia tidak pernah melihat Nendo, seperti yang dilihatnya sekarang. Cerita Sayati tentang Nendo, tanpa disadarinya telah mengubah sudut pandangnya. Saat ini,  ia lebih melihat Nendo sebagai seorang laki-laki, daripada sebagai seorang guru.

Suara dehem petugas KUA menyadarkan keduanya. Dengan wajah memerah, keduanya mengarahkan pandangannya ke depan. “Untuk menjaga kelancaran, mohon HP dimatikan terlebih dahulu,” ia mengingatkan.

Nendo dan Sayati mematikan Hp mereka.

Acara berlangsung dengan khidmat. Nendo menarik nafas lega, setelah ia dinyatakan resmi menjadi suami Mara. Ketika sedang memasangkan cincin di jari Mara, ia melihat tangan Mara sedikit bergetar. Tanpa sadar ia mencium punggung tangan Mara. Ketika kepalanya ditengadahkan, wajah Mara kembali merona. Jantungnya berdebar-debar. Timbul keinginan yang kuat untuk memeluk Mara. Saat ini,  dia tidak yakin, mampu memenuhi janji, untuk tidak menyentuh wanita itu.

Pikiran Mara melayang-layang sejak dia duduk di sebelah Nendo. Nafasnya tercekat. Dia tidak mengenali wajah cantik yang menatapnya di cermin. Ketika dia tersenyum, wajah di kaca itu ikut tersenyum.

Kamu cantik sekali, Mara,” seru Mama Mara.

“Terima kasih, Ma.”

Dandanan wajahnya nampak natural dan alami. Tatanan rambut disanggul di bagian  terkesan acak, dengan beberapa anak rambut  dibiarkan menjuntai. Jatuh alami di salah satu sisi wajah Mara.  Ketika perias, mengangkat kaca dari arah belakang. Pada sela-sela rambutnya yang dikepang, diselipkan bunga-bunga kecil. Di tambah aksesori rambut glamour,  di bagian telinga.

Sayati dengan penuh semangat membelikannya berbagai macam barang, yang dipikirnya akan dibutuhkan Mara. Semuanya. Tak lupa, juga keperluan lebaran untuk keluarga Mara.

Ketika ia menolak, Sayati malah berkata dengan nada sungguh-sungguh, “Nendo sangat baik padaku… apapun yang kulakukan, tidak akan dapat membalas kebaikannya padaku.” Melihat keseriusannya, Mara tidak berani lagi melarangnya. Walaupun semakin lama, ia semakin ngeri, melihat jumlah uang yang dihabiskan Sayati.

Setelah selesai belanja, Mara diajak ke sebuah butik khusus yang menjual pakaian pengantin. Setelah ia memilih dan Mara menyetujui pilihannya, mereka segera pergi ke salon. Ia mendapatkan perawatan menyeluruh. Rambutnya juga dipotong, model long bob dengan poni panjang yang tebal dan ditata menyamping. Ketika menjelang Magrib, dan prosesi perawatannya selesai, ia tidak mengenali seorang gadis cantik yang dilihatnya di kaca.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Sayati dengan wajah puas.

Wajah Mara merona.

“Kau suka dengan yang kau lihat?” tanya Sayati lagi dengan nada gembira.

“Aku hampir tidak mengenali diriku sendiri,”  Maya mengakui  dengan suara bergetar.

“Nendo benar … kau—“Sayati menghentikan kata-katanya. “Sudah mau Magrib, ayo kita siap-siap untuk berbuka.”

“Nendo seorang laki-laki yang baik,” kata Sayati, ketika mereka duduk di kursi rotan dalam kamar sebuah hotel.

Mara mengangguk menyetujui.

Setelah nampak berpikir beberapa saat, Sayati berkata, ”Aku baru mengetahui sebuah rahasia tentang dirinya. Karena kau akan menikah dengannya, kupikir kau berhak tahu.”

“Tidak semuanya saya perlu tahu, bukan?” tanya Mara lembut sambil tersenyum.

Alis Sayati terangkat sedikit mendengar kata-kata Mara.

“Salah satu doa saya, meminta tahu hanya apa yang saya butuhkan dan perlukan. Mengetahui banyak hal, membutuhkan energi yang besar untuk menindaklanjuti ataupun hanya menyimpannya.”

Sayati tertawa kecil. “Benar,” Ia menyetujui. “Tapi aku ingin kau mengenal siapa suamimu … kau tahu Nendo pernah menikah?”

Wajah Mara merona. Ia menganggukkan kepalanya.

“Ia mempunyai seorang anak, berumur 10 tahun. Namanya Ima.”

Lagi-lagi Mara menganggukkan kepalanya.

“Yang baru kutahu beberapa hari yang lalu, Nisa, mantan istrinya, mengakui bahwa Ima bukan anak Nendo. Nendo tahu, dan tetap mengakui  dan membesarkan anak itu,” lanjut Sayati.

Mara menarik  nafas panjang perlahan. Perhatiannya teralih ke saat sekarang, ketika Pakde Sarma dengan lantang, berkata, “Sah.

A top view of white dahlias on a white surface

source

Setelah acara akad nikah selesai, Sayati  langsung pulang. Karena keluarga Mara akan menyiapkan acara syukuran nanti malam, mereka semua juga  pulang. Tak terkecuali ayah Mara. Ruangan sudah kembali diubah menjadi ruang rawat inap. Karena setelah syukuran, ayah Mara akan kembali  di rawat di rumah sakit.

Hanya Mara dan Nendo yang tersisa. Keheningan menyeruak di ruangan.

“Mama menyukaimu,” kata Nendo membuka pembicaraan, setelah lama berdiam diri. Dia sudah berganti pakaian.

“Mama sangat baik padaku,” pelan, nyaris tidak terdengar.

Nendo menoleh ke arah Mara. Gadis itu sudah tidak marah lagi padanya. “Kenapa kau jadi pendiam?” tanya Nendo.

Tanpa sadar, Mara menggeser duduknya hingga ke ujung sofa. “Aku tidak tahu, apa yang harus kulakukan.”

Bandung Barat, Kamis 16 Agustus 2018

Salam

Cici SW

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *