Fiction

Metamorfosis # 42

Bab Sepuluh

Dua Bulan 28 Hari

 

“Kau tidak pernah sesibuk ini sebelumnya,” Sayati mengangkat kacamata bacanya.

“Aku ingin secepat mungkin menyelesaikan pembangunan itu … Mama tahu, aku paling tidak suka keterlambatan.” Hidung Nendo mencium aroma yang mengingatkannya pada udara bersih pegunungan. Matanya  mencari sumber bau. Sesosok tubuh ramping berjalan dengan anggun melintasi ruangan.

“Belum berangkat, Mas?” tanya Mara.

“Belum.” Alis Nendo berkerut. Tubuhnya seperti terpancang di tempat duduknya. Matanya lekat mengamati seorang wanita muda cantik, yang sibuk menata sesuatu di meja makan. Dia menutup mulut yang sempat menganga sesaat. Kepalanya menoleh ke arah Sayati. Mamanya hanya tersenyum kecil, kemudian mengangkat bahu sekilas. Benar-benar di luar prediksinya. Pandangannya kembali mengarah ke Mara.

Belum tiga bulan, dia seperti orang gila, melakukan semua yang bisa dilakukannya, hanya agar bisa menjauhi Mara.  Dia akan bangun sebelum Mara bangun,  langsung berangkat. Dan pulang ke rumah, di waktu wanita itu sudah dipastikannya tertidur. Tidak ada hari Minggu di kalendernya belakangan ini.

Dua bulan 28 hari, lima jam, tepatnya dia menghindar. Rasanya seperti sudah belasan tahun. Selain renovasi panti asuhan mama, dia juga akan mengunjungi lokasi-lokasi yang didanai dana CSR perusahaannya, yang bisa dijangkau mobil.

Upayanya untuk mengelak tidak berhasil hari ini. Rapat  panjang yang harusnya dihadiri,  tiba-tiba dibatalkan. Ibu koleganya masuk rumah sakit. Syukurlah  dia punya rencana cadangan, hingga tetap bisa keluar rumah hari ini. Hanya tidak sepagi biasanya,

source

Koran di tangannya, hanya jadi tameng. Berkali-kali matanya dipaksa  kembali melirik istrinya.   Mara benar-benar berbeda, dengan pengantin wanita kikuk yang diajaknya masuk ke kamar tidur mereka. Langkahnya sekarang  ringan, seperti tidak menapak. Pilihan busana yang dikenakannya terlihat sangat modis. Kulit wajahnya nampak lebih cerah, sehat dan segar.

Mara yang dikenalnya sudah raib. Digantikan Mara yang bersinar menyilaukan matanya. Nendo menutup mata.

Sayati yang memperhatikan Nendo dari balik surat kabar, tidak bisa menahan senyum. Melihat Nendo tidak bisa melepaskan pandangannya dari Mara. Perubahan Mara jauh melampaui harapannya. Semangat kompetisi istri pilihan Nendo sangat luar biasa.

Dia selalu meminta tambahan jadwal belajar, dari yang sudah disusunnya. Padahal, standar yang dibuatnya sudah sangat tinggi. Semua yang dimintai tolong mengajar Mara, mengangkat dua jempol, ketika dia menanyakan, bagaimana perkembangan menantunya.

Matanya kempali menyapu sosok anak didiknya. Rasa bangga memenuhi rongga dadanya. Walaupun pakaian yang dikenakannya adalah pakaian rumah dengan potongan sederhana, ia terlihat sangat manis namun tetap chic.

“Kau mau pergi?” tanya Nendo ragu-ragu. Wajah Mara terlihat  jauh lebih muda. Potongan rambutnya membuat wajahnya terlihat  sangat cantik dan elegan.

“Teman-teman mama hari ini mau datang … aku janji akan memasakkan sesuatu pada mereka.”

Alunan nada merdu memasuki indra pendengaran Nendo. Dahi Nendo berkerut. Suaranya juga berubah? 

Dia memijit  tengkuk sesaat. Aku pasti sudah gila karena lelah. Mana bisa suara orang berubah?

“Andi juga akan datang,” sela Sayati dengan nada seolah sambil lalu.

“Andi! Mau apa dia datang?” tanya Nendo heran mulai bercampur cemburu. Dia tahu siapa Andi. Salah seorang sepupunya, dari pihak mama. Mereka kuliah di tempat yang sama. Saat masih di kampus, tidak ada satu pun wanita cantik yang lewat darinya. “Dia sering datang ke sini?” tanyanya dengan alis terangkat tinggi.

“Kebetulan aja, waktunya lagi senggang … dia mau buka cafe, Mara akan membuatkan mereka masakan spesial, dia langsung tertarik untuk hadir,” sahut Sayati kalem. Rencananya berhasil. Nendo keliatan semakin  kalang kabut.

“Kau mengenal Andi?” tanya Nendo kepada Mara. Alisnya bertaut dalam.

“Dia datang  beberapa kali, saat teman-teman mama datang ke sini,” sahut Mara seraya menganggukkan kepala.

“Memang kamu mau masak apa, Mara?” tanya Nendo. Dia tidak tahu, kepandaian Mara memasak, bisa menarik perhatian teman-teman mamanya, yang jago masak.

“Sebenarnya itu sih masakan mama … aku cuma nambah bumbu sama variasi bahan aja.”

“Bagaimana kalau kau ikut hadir juga?” ajak Sayati pada Nendo. Mara sudah siap sekarang.

“Ma … Mas Nendo kan lagi sibuk,” sergah Mara.

Melihat Mara kelihatan tidak mengharapkan kehadirannya, membuat darah  Nendo  mendidih seketika.

“Kurasa aku bisa hadir,” katanya dengan pandangan mata menantang kepada Mara. “Aku sudah lama sekali tidak libur … libur sehari, tidak akan membuat bangunan itu tertunda selesainya.”

“Bagus sekali!” seru Sayati gembira. Dia sudah menyalakan sumbu. Tinggal menanti meluncur ke udara dan memercikkan api.

Nendo memperhatikan Mara yang sedang asik bercengkerama dengan teman-teman mamanya. Gaun terusan Mara berwarna  krem, dipadu dengan sendal  senada. Rambutnya diikat ekor kuda, agak ke samping. Sentuhan poni yang jatuh di dahinya, membuatnya terlihat sangat menarik hati.

Ia bisa melihat, Mara hanya mengenakan sedikit makeup. Namun  benar-benar terlihat sangat memikat. Kecantikan utama Mara, terletak pada sikapnya yang selalu ceria dan penuh perhatian.

Nendo tidak bisa melepaskan pandangan dari istrinya. Matanya  terus menerus memperhatikan Mara secara diam-diam. Berkali-kali dahinya mengernyit dalam, melihat Andi selalu berusaha membantu istrinya. Nendo menarik  nafas panjang.  Tangannya mengepal. Meredakan keinginannya, untuk menarik dan memukuli wajah Andi,  yang selalu tersenyum pada istrinya.

“Bagaimana Mara sekarang, menurutmu?” tanya Sayati yang tiba-tiba duduk di sebelah Nendo.

“Saat aku meminta Mama untuk menolongnya, aku tidak berpikir hasilnya akan seperti ini,” sahut Nendo penuh terima kasih, setengah menyesal. “Luar biasa.”

“Tidak banyak yang kulakukan … aku hanya memberinya sedikit rambu … dia sendiri yang melesatkan dirinya …. yang kau lihat sekarang, baru perubahan fisik ….”

“Benarkah?” Nendo mengangkat alis sedikit. Ya Allah. Masih ada lagi perkembangan lain. Lehernya terasa semakin kaku. Kepalanya mulai berdenyut. Dia harus mulai bekerja lebih keras dan panjang lagi.

“Penilaianmu tentang wanita itu benar … dia seorang wanita yang baik dan pemberani … luar biasa cerdas … di sela-sela belajarnya, dia ambil kuliah di UT, bahasa Inggris,” kata Sayati lagi, sambil mengikuti pandangan Nendo yang tidak bisa lepas dari Mara.

“Dia sudah mulai kuliah? …. Aku tidak tahu kalau dia suka bahasa,” kata Nendo sambil menoleh ke arah Sayati.

“Memang apa yang kau ketahui tentang Mara?” tanya Sayati lembut.

Hari hasil test, kecerdasan Mara dominan pada bahasa, seni, dan kecerdasan fisik, walaupun kecerdasan lainnya juga berada di atas rata-rata. Upaya mereka ditekankan pada penguasaan bahasa asing, olah raga, dan seni. Ia memilih lima bahasa yang dikuasai Nendo. Ia memilih belajar tenis. Walaupun sudah jago berenang, Sayati bersikeras memanggil seorang instruktur renang profesional.

“Kuasai sampai sempurna,” alasan Sayati. Untuk seni, Mara memilih untuk berlatih piano dan vokalnya. Dalam hati, Sayati menyetujui semua pilihan Mara.

Di tengah-tengah jadwal ketat, selain para instruktur pilihan,  dia juga  memanggil orang-orang mumpuni di bidang masing-masing,  serta para native speaker,  untuk memberi tambahan  pelajaran privat pada Mara.

Mengasah kemampuan Mara membawa diri, ia juga mendatangkan pelatih khusus, untuk melatih cara Mara berbicara  dan membawa diri di depan umum.

White and beige dresses on hangers in a store

source

Jalan Mara nampak luwes dan penuh percaya diri.  Dia sudah bisa mengenakan make up sendiri, untuk beragam kegiatan  pagi, siang, dan malam hari. Gaya busana Mara sangat fashionable sekarang. Warna putih tua sebagai favoritnya,  membuatnya tampil  sangat elegan dan menawan.

Wajah Nendo memerah, mendengar pertanyaan Sayati.

Sayati menatap Nendo dengan wajah sangat serius. Dia tidak mengerti. Dia tahu betul, Nendo tergila-gila pada Mara. Tapi kenapa sikapnya malah aneh. Apakah ada sesuatu yang tidak diketahuinya?

“Kau sepertinya sedang menghindar. Biasanya orang menghindar karena lari dari sesuatu. Sebenarnya kau lari dari apa, Nendo?”

“Aku! … lari?”

Nendo menatap Sayati, dengan wajah orang yang tertangkap basah melakukan sebuah kejahatan.

Bandung Barat, Kamis 23 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *