Fiction

Di Tengah Rintik Hujan # 44

Hati Mara terasa kosong, ketika Nendo memandangnya dengan pandangan aneh. Tanpa berkata apa-apa, Mas Nendo meninggalkannya. Ia menarik  nafas panjang.  Mara menggigit bibir, menahan airmata jatuh.

Saat tahu Firman pacaran dengan Nida, perasaannya  tidak sesedih ini. Apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Apa yang harus kulakukan? Bukankah yang diinginkan suaminya hanya sebatas persahabatan?

Mara menatap serumpun mawar hasil perawatannya bersama Bu Agus, yang mulai bermekaran. Wangi bunga-bunga itu tercium dari  tempatnya duduk.

“Mara! Kenapa duduk sendiri di sini?” tanya Sayati heran. Melihat wajah Mara yang tidak seperti biasa, ia bergegas menghampiri, “Ada apa?”

Serta merta Mara mengembangkan senyum. Dia benar-benar menyayangi Sayati. Apakah aku juga akan kehilangan mama  juga?

“Mas mengajak menengok keluargaku,” ujar  Mara berusaha sekuat tenaga  suaranya segembira mungkin.

“Kalian akan menginap lama?” tanya Sayati kaget. Ia sudah begitu terbiasa dengan kehadiran Mara di dekatnya.  “Maaf! Mama sedikit kaget….” ia langsung menambahkan, setelah menyadari kerasnya reaksinya. “Mama engga pengen ditinggal lama sama kamu. Mama pasti kangen sama kamu.”

Mara berdiri dan langsung memeluk Sayati erat. Kerongkongannya seperti tersumbat.  Matanya dikerjap-kerjapkan menahan airmata yang berdesakan keluar. “Engga, Ma. Apa pun yang terjadi … Mama engga akan pernah kehilangan Mara.”

Nendo yang berjalan ke arah dua orang yang dicintainya, langsung  membalikkan tubuh. Mengerti mengapa Mara mengatakan hal itu,  dengan nada sedih yang mendalam. Ia kembali berjalan ke dalam rumah.

“Nendo, mamamu mana? Kami mau  pamit sekarang?” tanya Bu Agus.

Nendo kembali membalikkan badan. Ia berjalan ke teras luar. “Ma! Pada mau pamit!” seru Nendo dengan suara lembut.

Lho sudah pada mau pulang?” tanya Sayati.

“Iya … besok kan masih ke sini lagi … pr-nya sudah dikerjakan, Mara?” tanya Bu Niki kepada Mara.

“Sudah.”

“Mara, besok mau ke rumah orang tuanya,” ujar  Sayati lirih.

“Kapan, Mara?… lama di sana?” tanya Bu Agus kaget.

Mara terharu, ketika melihat teman-teman mamanya berat melepaskannya. “Engga! Mas Nendo kan juga  harus kerja.”

“Besok, kalau mau pergi bilang-bilang dulu, ya! jangan dadakan seperti ini,” ujar  Bu Agus seraya memeluk Mara dengan erat.

“Iya, Mara. Jangan bikin kaget kayak begini!” suara Bu Niki seperti tersendat.

“Nendo! Engga boleh bawa pergi Mara lama-lama, ya!” Bu Salim ganti memeluk Mara.

“Hei, Mara kan cuma pergi sebentar!” Sayati mengingatkan teman-temannya. Membuat suaranya segembira mungkin. Padahal dalam hatinya, dia sendiri merasa sangat resah.

Valentine's Day floral arrangement of roses, carnations, and peonies in a vintage pitcher

source

“Sejak kapan kamu berteman  dengan teman-teman mama?” tanya Nendo memecah keheningan.

“Sejak hari kedua aku di sini,” sahut Mara tanpa menoleh. Walaupun dia sudah terbiasa berkendara di dalam kota, tetapi jalur luar kota tetap membuatnya was-was.

“Jangan terlalu tegang, Mara! Ini kan dua jalur. Dan kau sudah mengambil jalur kiri.”

Mara tertawa kecil. Ia menyandarkan punggung dengan santai. “Benar. Maaf, apakah membuatmu tidak nyaman?” ia menoleh ke arah Nendo.

“Tidak juga … hanya aku belum pernah ke luar kota disetiri perempuan.” Nendo mengalihkan pandangannya ke depan.

Wanita di sampingnya, benar-benar berkilau. Hanya dengan jeans hitam yang membungkus kaki panjangnya  dan atasan putih, ia  terlihat sangat cantik. Nendo menarik nafas dalam.  Kecantikan yang dimiliki Mara, seperti kecantikan seorang putri kerajaan. Kecantikan yang  sebatas hanya  bisa dinikmati dari jauh,  namun tidak bisa dijamahnya. Begitu dekat, namun tidak terjangkau.

“Disetiri istrimu,” Mara membetulkan perkataan Nendo. “Aku kan bukan hanya sekedar perempuan.”

Nendo tertawa tergelak. “Benar,” sahutnya gembira. “Sudah waktunya sholat Magrib. Berhentilah kalau ada mesjid …  Di depan ada mesjid, kita berhenti dulu, Mara!”

Setelah sholat, Nendo bersikeras untuk membawa mobil. “Sudah lebih setengah perjalanan, Mara … tidak jauh dari sini, ada tempat makan yang enak. Kita akan makan di sana.”

source

Tangan Nendo penuh, dengan bungkusan makanan yang dipesannya untuk keluarga Mara. Mereka berlari kecil, ketika rintik hujan mulai membasahi pakaiannya.

“Terima kasih,” kata Mara lirih, ketika mereka sudah berada di dalam mobil.

Tangan Nendo yang akan menyalakan mesin mobil berhenti. Ia menoleh ke arah Mara. Dalam cahaya remang-remang, siluet wajah Mara benar-benar sangat menakjubkan. Tangannya menekan tombol. Hujan deras mulai menimpa kaca mobil.

“Jangan bersikap seperti itu. Keluargamu adalah keluargaku juga, bukan?” kilah Nendo setelah menarik nafas panjang. Ia berusaha mengendalikan desakan luar biasa  untuk merengkuh istrinya.

“Mamaku … orangnya sangat baik. Sesusah apa pun kehidupan kami, tidak pernah sekali pun, ia mengeluh. Ia menyuruhku dan adik-adik, sering mengucapkan kata Subhanallah wa bihamdihi. Katanya untuk membersihkan pikiran dan hati kita, dari prasangka buruk. Baik pada Allah maupun pada siapa pun…” ujar  Mara lirih.

“Aku tidak pernah bertemu dengan ibu kandungku ….” Mata Nendo tidak bisa dialihkan dari wajah  Mara.

“Mama sangat baik padamu!” Mara mengingatkan Nendo dengan lembut.

“Ya. Aku sangat beruntung, dibesarkan oleh keduanya. Mereka benar-benar sangat menyayangiku.”

Mara mengangguk menyetujui.

“Mama …  pasti akan segera tahu,  ada yang tidak beres dalam pernikahan kita,” akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya. “Dia sangat peka.”

“Lalu … apa yang harus kita lakukan?” tanya Nendo dengan suara sama pelannya. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Mara. Walaupun merasa tersiksa, ini jauh lebih baik daripada tidak bisa melihat Mara sama sekali.

“Entahlah …. aku juga bingung….” desah Mara lembut. Ia menengadahkan kepala, ketika merasa suaminya sedang menatapnya. Jantungnya berdebar-debar ketika melihat wajah Nendo semakin mendekat.

“Mas ….” suara Mara bergetar sangat lirih. Campuran antara ketakutan dengan sebuah perasaan asing yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

Nendo tidak berani berbicara. Satu-satunya  hal yang dibutuhkan saat ini,  mencium Mara. Dia menyerah pada desakan luar biasa. yang tidak mampu lagi dibendungnya.

Ya Allah, tolonglah aku.

 

Bandung Barat, Sabtu 25 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *