Uncategorized

Lompatan Kuantum# 45

 

Jantung Mara berdetak kian bertambah cepat, melihat wajah Mas Nendo semakin mendekat. Kekhawatiran tentang mama lenyap dari pikirannya. Otaknya seperti kosong. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Matanya dipejamkan, untuk menahan perasaan asing yang dirasakannya. Kepalanya tanpa sadar ditekankan ke sandaran kursi.

Melihat kedua mata Mara menutup, membuat Nendo semakin lupa diri. Ketika bibirnya akan menyentuh bibir Mara, dia melihat Mara menekankan kepalanya ke sandaran kursi. Dia berhenti, dengan cepat menjauhkan diri.

Mara membuka mata, ketika merasa  mobil bergerak. Wajahnya merah padam menahan malu. Dia diselamatkan oleh suara deringan gawai. Tangannya gemetar, ketika  ia merogoh tas.

“Mama …” Dia melihat ke arah suaminya,  yang telah meminggirkan kembali mobil. Suaminya menyandarkan kepala ke jok mobil, dengan mata tertutup.

Tangan Nendo mematikan mesin mobil.

source

Andai tidak ada sandaran jok, Mara pasti sudah menghindarinya. Dia harus mendekati Mara lebih perlahan. Syukurlah, dia masih bisa berhenti di saat akhir. Nendo menepuk bahunya sendiri,  dalam bayangan mentalnya.

Mama benar. Apa yang harus membuatnya takut? Dia kan biasa terus berusaha.  Bukankah selama ini, ia selalu mendapatkan semua yang diinginkannya?  Belum lagi fakta,  Allah selalu memberinya lebih, dari yang dimintanya. Keyakinan  baru itu, mampu menetralisir perasaannya.

Bismilahirrahmanirrahim. Laa haula walaquwwata illa bilah. Ya Allah, tolonglah aku, agar bisa memperistrinya lahir batin, agar aku dapat beribadah dengan lebih baik lagi kepada-Mu.

“Ya, kami sudah di jalan… jangan repot-repot, Ma. Kami sudah makan malam … Mama sehat? …  Alhamdulillah, syukurlah … sampainya ….” Mara kembali  melihat ke arah Mas Nendo.

“Tiga jam lagi,” ujar  Nendo pelan. Ia menyalakan mobil dengan perasaan lega, kemudian langsung menginjak pedal gas  dengan santai.

“Sekitar tiga jam lagi, Ma … iya, Ma. Waalaikumsalam.” Mara menaruh  gawainya ke dalam tas.  “Kata  mama, jalannya jangan ngebut-ngebut.”

Nendo menjawabnya dengan senyuman kecil  disertai anggukan kepala.

“Bagaimana kabar mama?” tanya Nendo ramah.

Melihat sikap Mas  Nendo yang sudah kembali seperti semula, membuat tubuh Mara kembali rileks. Sikap santai Mas Nendo mempengaruhinya. “Alhamdulillah, mereka semua baik-baik saja. Ayah sudah mulai kembali beraktivitas. Aku tidak mengerti, apa maksudnya? Apakah ayah sudah kembali berjualan di pasar?”

Mereka melanjutkan perjalanan dengan pembicaraan santai mengenai sepak bola. Nendo diam-diam terkejut, ketika Mara menanggapi komentar-komentarnya. Nampaknya gadis itu mengerti bola.

“Kau suka bola?” Akhirnya Nendo tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.

“Pada dasarnya aku suka olahraga,” jawab Mara secara diplomatis. “… aku selalu dapat nilai tertinggi, kalau olahraganya lari atau berenang.”

Alis Nendo terangkat sedikit. “Di rumah kita, ada kolam renang.”

“Benarkah?”

“Mama tidak mengatakannya padamu?”

“Mama pernah akan mengatakannya, tapi aku memintanya tetap merahasiakannya.”

“Kenapa?”

Bahu Mara terangkat sekilas. “Kalau sudah waktunya tahu, nanti aku juga tahu.”

“Keliatannya mama dan pasukannya sangat mempengaruhimu,” ujar  Nendo sambil tertawa kecil, mendengar alasan filosofi Mara.

closeup photo of brown wooden swing during daytime

source

“Aku suka sekali belajar. Dari apa pun dan kapan pun. Aku benar-benar beruntung, bisa berkenalan dengan mereka. Membuat wawasanku melompat  secara  kuantum … bahkan, kadang-kadang, aku sendiri terheran-heran, dengan perkembangan diriku sendiri. Aku harus meyakinkan diriku sendiri di depan kaca, aku adalah Mara … semua ini bagaikan keajaiban. Aku seperti berada dalam mimpi.”

Nendo meraih tangan Mara,  menggenggamnya dengan lembut. “Ini semua bukan mimpi … bukankah aku sudah katakan … kita akan punya petualangan hebat?”

Jantung Mara kembali berdebar-debar. Matanya menatap tangannya yang ada dalam genggaman tangan Mas Nendo. Dia menarik nafas dalam. Dadanya terasa lega. Bahagia mengalir ke seluruh syarafnya. Tiba-tiba dahinya sedikit mengernyit.

“Kau selalu menepati kata-katamu?” tanya Mara.

“Tentu saja. Aku ingin menjadi laki-laki yang baik dan kuat. Aku menepati kata-kataku,” sahut Nendo tegas. Mara memang sangat cantik, namun isi kepala istrinya, yang dominan  terus membuatnya semakin tertambat. Pemikiran dan karakter wanita ini yang membuatnya terpikat. Kecantikan Mara,  jadi tambahan yang menyenangkan.

“Semuanya?” tanya Mara dengan perasaan sedih yang tiba-tiba hinggap di hatinya.

“Ya.”

Jawaban yakin Nendo, membuat kepala Mara tertunduk dalam.

“Kecuali dalam kasus kita, bukankah sejak awal ada klausul tambahannya,” lanjut Nendo riang, melihat Mara keliatan terluka mendengar  jawabannya.

Mara melihat ke arah suaminya, berusaha mengerti apa yang dimaksudkan pria itu. Wajahnya merah padam, setelah otaknya berhasil mencerna. Ia segera menarik tangannya dari genggaman Mas Nendo, namun suaminya menggenggam tangannya semakin erat.

Mara menghentikan gerakannya, ketika melihat Mas Nendo tersenyum mesra padanya. Dengan pipi yang terasa panas dan jantung berdetak cepat, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dia juga tidak sungguh-sungguh ingin melepaskan tangannya. Kehangatan tangan Mas Nendo menyebar ke seluruh tubuhnya.  Tangannya baru dilepaskan, ketika mereka sudah sampai di depan rumahnya.

Mara tertegun. Sebuah bangunan megah, berdiri di hadapannya. Begitu melihat pintu terbuka, dan melihat kedua adiknya keluar rumah baru dia yakin dengan apa yang dilihatnya.

“Mbak Mara!!!!” keduanya berhambur ke pelukan Mara.

Dengan penuh haru, Mara memeluk erat keduanya.

“Makasih, Mbak. Kamarku sekarang bagus,” bisik Dian gembira.

“Kita juga sekarang punya TV dan kulkas sendiri, jadi aku engga perlu ke rumah Dimas kalau mau nonton TV. Hebat, kita juga punya komputer dan internet sendiri sekarang!” seru Kardi tidak mau kalah.

Suara Mara seperti tertahan di tenggorokannya. Dia menoleh ke belakang. Menahan airmata keharuan, ketika melihat suaminya  tersenyum sembari  memandangnya.

“Ayo, bantuin Mas Nendo bawain bungkusan makanan!” ujar Mara sembari tersenyum pada kedua adiknya, ketika melihat mamanya keluar.

“Mama!” Mara menangis dalam pelukan mamanya. Dia benar-benar sangat  beruntung. Mas Nendo tidak hanya benar-benar mengurusnya. Suaminya benar-benar menganggap keluarga dari pihaknya, seperti keluarga sendiri. Sebuah perasaan hangat, memenuhi hatinya. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

Mama  Mara menepuk-nepuk punggung Mara perlahan. Ia berusaha menahan airmata haru, melihat anak gadisnya menangis sesugukan dalam pelukannya. Subhanallah wa bihamdihi … Subhanallah wa bihamdihi …. lantunnya tanpa henti dalam hati.

“Mbak, kenapa?” tanya Dian dengan suara khawatir, menyadarkan Mara. Ia segera menghapus airmata dengan kedua tangannya.

Engga! Mbak engga apa-apa. Gimana keadaan  Ayah, Ma?”

“Ayahmu engga mau tidur, begitu Bu Sayati menelpon mengabarkan kau akan kemari,” sahut  Mama Mara. “…tapi, Mama melarangnya menemuimu di luar.”

“Aku mau nemuin Ayah dulu, Ma.” Mara segera meninggalkan mamanya. Tapi ia masih sempat melihat Mas Nendo mencium tangan mamanya dengan takzim.

“Apa kabar, Ma?”

“Alhamdulillah. Sehat semua, nak. Bagaimana kabar mamamu?”

“Alhamdulillah, sehat. Mama kirim salam.”

“Terima kasih. Sampaikan juga ya, salam Mama sama mamamu.”

“Iya, Ma. Insyaa Allah.”

“Mamamu keterlaluan! Masa Ayah engga boleh keluar?” seru Ayah ketika melihat Mara memasuki pintu depan.

“Hehehe… itu karena mama  benar-benar sayang sama Ayah,” tukas Mara lembut. Dia memeluk tubuh ayahnya, setelah mencium tangannya.

“Alhamdulillah … suamimu baik sekali pada kami …” Ayah mengamati Mara dari kepala sampai kakinya, “… Alhamdulillah … dia juga baik padamu, ya.”

Wajah Mara merona. Ia menganggukkan kepala dengan gembira. “Semuanya baik, Yah… mama juga baik sekali padaku.”

Ayah Mara menganggukkan kepala dengan gembira.

“Apa kabar, Ayah?” Nendo mencium tangan Ayah Mara.

“Alhamdulillah… sekarang Ayah sudah jauh lebih sehat… ayo duduk dulu, kalian tentu lelah sekali di jalan!”

Setelah duduk di sofa yang ditunjuk ayahnya, barulah mata Mara memperhatikan sekeliling. Ruang tamu yang baru, sebesar rumahnya yang dulu. Sofa yang didudukinya terbuat dari kulit lembut.

Barang-barang yang ada di rumahnya, berkualitas sama dengan yang ada di rumah mama. Ia menarik nafas panjang dan  tidak berani melihat lebih jauh lagi. Kedua adiknya terdengar sibuk membuka bungkusan yang dibawa Mas Nendo, di ruang dalam.

Suaminya sendiri, bercakap-cakap dengan gembira dengan  kedua orangtuanya. Mas Nendo sama sekali tidak terlihat canggung. Perasaan damai menyerbu seluruh indranya. Melihat suaminya, berbicara dengan begitu hormat  dan santun pada kedua orangtuanya.

Mara terhenyak, ketika sebuah kesadaran memasuki pemahannya. Dia sudah jatuh cinta pada suaminya.

Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?

Bandung Barat, Minggu 26 Agustus 2018

Salam

Cici SW

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *