Fiction

Cantik, Indah, Penuh Arti # 46

Bab 11

Cantik, Indah, Penuh Arti

 

Langkah Mara terhenti di ambang pintu kamar yang ditunjukkan mama. Hanya terisi  sebuah tempat tidur besar, lemari pakaian, meja rias dan  sebuah sofa  duduk dua orang lengkap dengan meja.

Nendo yang melihat ke dalam kamar dari atas kepala Mara tertawa kecil, “Tenang saja … aku tidak akan tidur di ranjang … aku mau ganti pakaian dulu. Ayo masuk, Mara!”

Nendo duduk di atas sofa. Dia membuka koper.  “Mara, ini apa?” tanya Nendo dengan suara heran, ketika mengambil sebuah gaun tipis menerawang berwarna hitam.

Mata Mara terbelalak. Ia langsung membuat cepol di atas kepala, dengan rambutnya sendiri. Anak-anak rambutnya menjurai di kedua sisi wajah.

Nendo terkesima melihat penampilan Mara. Ia buru-buru bangkit dan minum air putih, yang disediakan di meja dekatnya duduk.

Karena terburu-buru, mama menawarkan diri  membantu mengemasi pakaian mereka. Mama bilang dia biasa membantu Nendo mengepak pakaian, bila mendadak harus keluar kota. Dengan perasaan khawatir, Mara mengambil koper dari  hadapan suaminya. Meletakkannya di atas ranjang. Dia mengeluarkan semua barang yang ada dalam tas.

Dahinya sedikit mengernyit. Dia tidak pernah membeli pakaian tidur seperti itu.  Ada dua pasang pakaian yang bisa dipadu padankan serta tiga buah gaun terusan, yang semuanya sangat tidak nyaman digunakan untuk tidur.

“Ya, ampun! Apa yang dipikirkan mama?” tanya Mara panik. Ia mengangkat gaun tidur lain berwarna merah darah. Pakaian itu hanya akan membuat tubuhnya lebih banyak terlihat, daripada tertutup.

“Lihat, Mas!” Tanpa sadar, Mara memperlihatkannya pada Nendo.

Nendo melihat gaun tidur itu sekilas. Pandangannya langsung beralih ke langit-langit. Ya Allah, apa yang merasuki otak mama? Mimpi apa dia semalam? Malam ini dia harus kembali menghitung ulang laporan keuangan perusahaannya enam bulan ke belakang, tiga kali berturut-turut.

“Sudah malam Mara, aku tidur duluan ya.”

Mara sempat melihat wajah suaminya berubah, sebelum mengalihkan pandangannya. Mara  merasa pipinya panas. Dengan cepat dia menurunkan baju tidur itu dari udara.

Jantungnya berdetak cepat. Perasaan-perasaan aneh itu datang lagi. Ia melihat wajah Mas Nendo menghadap punggung sofa. Tubuh tingginya pasti sakit, tidur di sofa yang kekecilan, untuk ukuran tubuhnya.

Matanya memandang tubuh kaku Mas Nendo yang diam tidak bergerak. Menggunakan pakaian senada berwarna khaki, membuat laki-laki itu terlihat sangat menarik. Ia tahu Mas Nendo menginginkan dirinya, rasa hormatnya bertambah, melihat bukti  ia menepati janji.

Mara menarik nafas panjang, ketika hatinya memutuskan. Ia menarik nafas panjang lagi … ditahannya beberapa saat, dikeluarkannya perlahan. Setiap kali melakukannya, hatinya bertambah tenang ….

“Mas … badannya nanti sakit, kalau tidur di sana …  mau pindah ke sini?” tanya Mara lirih.

Nafas Nendo seperti tertahan sejenak di tenggorokan. Ia menarik nafas panjang,  berusaha mempertahankan akal sehatnya.

“Mara…” Nendo memaksakan senyum di bibirnya. Dia  menelentangkan tubuh di atas sofa kecil itu. Tanpa mengalihkan pandangan dari langit-langit, dia berkata,  “Kau terbawa emosi melihat semua ini … aku … hanya benar-benar ingin membantu keluargamu ….”

“Aku tahu. Bukankah katanya kau akan berubah pikiran, kalau aku yang meminta? … dan Mas … bukan orang yang  suka melanggar  janji.”

source

Wajah Mara merona, ketika Nendo melambaikan tangan dari ujung kolam. Dia balas melambai.  Ketika terbangun, jam  menunjukkan pukul 5 pagi. Tapi suaminya  sudah tidak berada di tempat tidur.

Mara memperhatikan sekeliling. Semua bagian  warisan ayah dan harta yang dimiliki  sebelum ayah sakit, sudah kembali jadi milik keluarga mereka. Alhamdulillah. Allah baik sekali pada mereka sekeluarga.

Sebuah kolam ikan  besar berada tepat di belakang rumahnya. Ketika berjalan ke samping, nampak halaman yang dipenuhi aneka macam sayuran. Dia tertegun. Seperti mimpinya, ketika dia pernah ditanya saat magang, apa yang diinginkannya bila dia punya uang.

Ia memandang Mas Nendo yang terlihat sangat gembira, memancing bersama adik-adiknya.

“Mbak aku sudah dapat ikan banyak… kata Mas Nendo, ikannya mau dibakar nanti!” seru Kardi dengan wajah riang.

“Ayah sama mama kemana?” tanya Mara seraya mendekati ketiganya

“Lagi beli tempat bakar ikannya.”

Tak lama kemudian, sebuah motor memasuki  halaman rumah. Kedua tangan mama penuh belanjaan.

“Wah! Belanjanya banyak bener, Ma?” tanya Mara seraya menghampiri. Ia segera mengambil belanjaan di tangan mama.

Mama memperhatikan wajah Mara sekilas. Tersenyum hanya dengan sedikit anggukan.

Ketika melihat Mara, ayah juga hanya tersenyum sedikit, kemudian langsung menaruh sepeda motor baru di garasi. Setelah itu langsung masuk ke dalam rumah.

Dahi Mara berkerut, melihat tingkah laku ayahnya. Jarang sekali, ia tidak melihat senyum di wajah ayah.  Sesulit apapun keadaan mereka. “Ada apa, Ma?”

“Ketika tahu, Nendo datang, saudara-saudaranya langsung akan berdatangan siang ini,”  ujar Mama pasrah.

“Siapa, Ma?” tanya Mara dengan alis bertaut.

“Semuanya! Pakde dan Paklikmu, sama istri mereka masing-masing.”

“Mereka mau apa? Ngerampok lagi!!!!” seru Mara dengan suara tinggi. Ketika mereka susah, tidak ada satu pun dari keluarga ayah, yang mengulurkan bantuan. Mereka malah menawar bagian  warisan dan tanah milik ayah, dengan harga sangat rendah. Karena terpaksa dan tidak ingin terus berhutang, ayah terpaksa menjualnya pada mereka.

“Ada apa, Mara?” tanya Nendo yang langsung menghampiri Mara, ketika mendengar suara tinggi istrinya.

Mara memejamkan mata sesaat. Angin  dingin membelai wajahnya. Ia mengisi paru-paru dengan udara segar. Sebelum  membalikkan tubuh, ia sempat melihat wajah mama pucat pasi.

Mara melihat k arah  kedua adiknya masih memancing dengan gembira, di kejauhan.

“Ada yang aku ingin bicarakan!” ujar  Mara pada Nendo. “Tapi jangan di dalam rumah!” Ia memeluk pundak mamanya. Mengajak jalan bersama. Semalam ia melihat ada bangku kayu,  di depan bangunan yang ada di samping rumah.

“Ini apa, Ma?” tanya Mara. Tangannya menunjuk  bangunan yang menggunakan rolling door.

“Nendo memberikan modal pada kami, untuk membuka toko kelontong,” sahut Mama Mara lirih.

“Terima kasih,” ujar Mara lirih kepada Nendo.

Nendo hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.

Melihat mama tidak berhenti mengeluarkan air mata, Mara melihat ke arah bangunan itu lagi. Seperti hanya ingin menegaskan, ia bertanya tanpa emosi, “Mereka juga mengambil barang di sini, tanpa membayar?”

“Kata mereka, seharusnya kami berbagi rezeki,” sahut Mama Mara  dengan suara sendu. “Sebenarnya … kami malu sekali pada Nendo … jadi kalau dia menelpon, untuk menanyakan keadaan kami, kami tidak pernah mengatakan apa-apa.”

Suaminya suka menelpon keluarganya? Mara kembali memandang suaminya  dengan penuh terima kasih. Hatinya berdebar cepat. Wajah Mas Nendo yang  terlihat lebih muda dan selalu tersenyum, terlihat  sangat menarik.

“Lalu mau apa mereka berbondong-bondong datang hari ini?” tanya Mara dengan suara ketus, ketika perlahan dia mendengar mamanya berusaha menahan tangis. Dia belum pernah melihat mama menangis seperti ini. Emosinya meledak.

“Melihat Nendo banyak uang, Paklikmu ingin mencalonkan diri jadi kades … dia ingin minta modal pada Nendo.”

“Lalu membuat desa ini luluh lantak?” tanya Mara geram.

“Kalau gampang  emosi, kamu  cepet tua nanti.” Nendo  mengacak-acak rambut Mara dengan wajah lagi-lagi tetap menyungging senyum.

Gelombang amarah Mara mereda. Dia menarik nafas dalam.

“Maaf! Aku memang gampang  marah, kalau ada yang membuat keluargaku menderita,” Mara kembali menarik nafas panjang.

source

“Sudah tenang saja. Ini masalah kecil. Biar aku yang selesaikan … bagaimana dengan kades di sini, Bu?” tanya Nendo pada Mama Mara.

“Orangnya baik, Nendo. Jujur. Amanah. Istrinya juga aktif dalam kegiatan sosial. Walaupun rumah mereka tidak besar, mereka menyediakan rumah mereka untuk kegiatan PAUD … Mama juga mengajar di sana.”

Nendo memperhatikan sekeliling. Daerah orangtua Mara belum berkembang, seperti daerah lain di sekitarnya. Wilayah desa ini terlalu luas, dengan jumlah penduduk yang relatif  banyak.

“Kalau memang diperlukan, kita bisa bangun gedung serba guna, yang  sekaligus bisa digunakan untuk kegiatan PAUD.”

Mara menoleh ke arah suaminya dengan mata terbelalak.

Bandung Barat, Senin 27 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *