Fiction

Bisnis, Sosial, Titik Rawan # 48

Nendo terdiam sesaat.  Matanya memandang sekeliling. Dia sudah menuruti kemauan kedua saudara Ayah Mara. Membeli kembali semua sawah dan  ladang,  yang dijual Ayah Mara pada  keduanya, dengan harga tiga kali lipat dari harga pasar.

Hatinya terenyuh melihat wajah Ayah  Mara yang nampak  pucat pasi bercampur malu.

A workspace with an iMac and a laptop near a window

source

“Satu hal yang ingin saya tekankan di sini. Yang disampaikan Pakde Sarman dan Paklik Narma adalah urusan bisnis. Setujukah kita dengan kondisi awal ini?” Pandangan Nendo bergantian  beralih dari Pakde Parman ke Paklik Narma.

Melihat keduanya mengangguk, Nendo melanjutkan, “Orang tua Mara sama sekali tidak terlibat, dengan apa pun yang akan kita lakukan bersama … Saya tidak ingin orang tua Mara mendapatkan akibat, baik yang positif maupun negatif ….”

“Saya tidak pernah terjun langsung. Akan ada tim yang akan mendampingi.”  Nendo memasang wajah serius. “Pakde Sarman …  ini adalah pinjaman pertama, tapi akan jadi pinjaman terakhir, kalau bisnis Pakde dan Bude rugi terus. Kalau memang menguntungkan, saya akan bantu untuk mendapatkan pinjaman  tambahan dari bank. Pinjaman Pakde dan Bude Sarman selanjutnya,  hanya akan sebesar uang yang Pakde kembalikan melalui cicilan. Untuk Paklik Narma  juga  sama. Modal yang  akan diberikan sebesar Rp. 20.000.000,00 untuk masing-masing keluarga. Silakan diatur bagaimana bagusnya.”

“Wah, engga cukup!” kilah Paklik Narma.

“Iya, sewa kios aja Rp. 15.000.000,00,” Pakde Sarman menimpali kata-kata adiknya.

“Bukannya Bude tadi  bilang, tetangganya jualan di rumah  laku,” sahut Nendo kalem. “Kalau baru  mulai bisnis, tekan dulu  biaya operasionalnya.”

“Rp. 20.000.000,00 cuma habis untuk poster sama bikin kaos,”  pekik Paklik Narma setengah histeris.

“Paklik Narma, saran saya jangan gunakan untuk buat poster atau kaos. Coba buat sesuatu, yang bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh warga desa. Kalau yang Paklik lakukan dianggap layak, bantuan selanjutnya bisa diberikan.”

Nendo  melihat ke arah rombongan istri, “Bude Sarman dan Bulik Narma, biasanya tim  akan meminta rencana penggunaan uang, dan  perkiraan  pengembalian modal. Dalam satu atau dua hari, mereka akan datang ke sini.”

Wajah keduanya  langsung pucat pasi.

“Kok ribet amat sih. Saya mana ngerti yang seperti itu!” dengus Bude Sarman sengit.

“Kalau begitu,  cari usaha yang Bude ngerti,” ujar Nendo dengan senyum di wajahnya.

“Tapi Nak Nendo rencananya mau bangun desa ini besar-besaran. Ratusan juta yang kami mau pinjam, bukan jumlah yang banyak. Jangan lupa, ini  juga hanya pinjaman, pasti kami kembalikan!  Masak tidak percaya sama orangtua sendiri!” kilah Paklik Narma dengan suara tinggi mengandung kemarahan.

Nendo tersenyum, “Peruntukannya beda. Untuk sosial dan bisnis.  Di awal sudah saya katakan. ini adalah rencana bisnis.  Saya tidak memberi bantuan pada Pak Kades secara pribadi. Saya membantu warga desa ini, untuk dapat menikmati sarana dan prasarana yang lebih baik. Lagi pula saya tidak memberikannya secara gratis … ada persyaratannya.”

“Apa syaratnya?” tanya Pakde Sarman dan Paklik Narma bersamaan.

“Pak Kades  atau siapa pun tidak boleh ikut campur dalam pembangunan. Perangkat Desa, BPD,  serta aparat polsek dan kodim akan dilibatkan. Wewenang mereka memberi masukan, apa yang mereka butuhkan. Setelah rencana pembangunan  dan spek  disetujui bersama, panitia pembangunan akan  ke notaris, untuk mengesahkan perjanjian. Ada ikatan hukumnya,” tandas Nendo dengan penekanan intonasi di bagian aparat.

“Sampai  bawa-bawa polisi dan tentara segala?” tanya Pakde Sarman dengan suara ngeri.

“Tentu saja. Dan dari awal akan diberitahukan, bahwa ini bukan dukungan politik pada pihak mana pun. Jadi Paklik tidak perlu khawatir. Kalau memang warga desa menginginkan Paklik jadi kades, peluang Paklik tetap besar.”

Nendo menatap Paklik Narman dengan tajam. “Hanya satu permintaan saya, jangan pernah  libatkan  nama saya, dalam kampanye. Saya pasti tahu, kalau nama saya diam-diam dicatut.  Siapa pun yang menjadi kades nantinya, akan mendapatkan dukungan berkelanjutan dari saya, bila memang programnya bagus.  Jadi kalau mau jadi kades, Paklik harus buat program yang lebih bagus dari program Pak Kades yang sekarang.”

Tanpa sadar, bulu kuduk Paklik Narma berdiri. Tubuhnya terasa lemas. Dia tidak bisa main-main, dengan orang seperti Nendo.

Tiba-tiba  gawai  Ayah Mara berbunyi. “Maaf Nendo,  ini katanya Pak Kades dan beberapa pemuka masyarakat ingin menemuimu sekarang. Apakah kamu ada waktu?”

“Bagaimana kalau kita makan siang bersama sekalian?” tanya Nendo dengan senyum lebar ke sekelilingnya. Ketika tidak ada yang menjawab, ia menganggap itu sebagai sebuah persetujuan.

“Ya … silakan Ayah … kita akan makan siang  sambil ngobrol,” ujar Nendo seraya menganggukkan kepala,  pada Ayah Mara.

Mara dan Mama Mara yang akhirnya bergabung setelah mendengar nada tinggi dari dalam rumah,  bergegas bangkit dari duduknya. Mereka harus menyiapkan makanan lebih banyak lagi.

A creepy, foggy set of gnarly, barren trees

source

“Kenapa wajahmu murung?” tanya Nendo, setelah berkali-kali melirik Mara.

“Aku tidak pernah menyukai keluarga ayah. Pakde Parman jauh lebih baik,” Mara menghela nafas. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran jok.

Sebelum pulang Bude Sarman menghampirinya. Menjejalkan sesuatu ke tangannya. “Pakai ini, Mara. Rayu suamimu! Dia pasti akan memberimu uang lebih banyak lagi.” Ya Allah, apa yang mereka pikirkan tentang dirinya?

“Banyak sekali uang yang akan Mas  keluarkan nanti.” Dia memijit keningnya yang terasa sangat sakit.

Nendo menoleh sekilas ke arah Mara. Ia membuka pembatas tengah  mobil antara kursinya dan kursi Mara. Memberikan Mara dua buku tabungan. “Lihatlah! Aku tidak sempat menyimpannya di lemari besi, sebelum berangkat.”

Tangan Mara yang memegang buku tabungan gemetar. Dia belum pernah melihat angka nol sedemikian banyak. Dibukanya lagi buku tabungan kedua.

“Itu baru di dua buku,” kata Nendo lembut.

“Bisnis apa yang sebenarnya kau lakukan?” tanya Mara setelah mampu mengeluarkan suara. Tubuhnya terasa dingin. Pantas saja standar pelatihan Sayati  untuk pendamping hidup Nendo, luar biasa tinggi. Suaminya bukan orang sembarangan. Dunia macam apa yang akan dimasukinya?

“Core bisnisku  konstruksi. Aku punya jaringan hotel dan apartemen. selain itu  aku punya waralaba toko retail, tempat kau magang dulu. Karena mama suka bunga, aku juga mengembangkan bisnisku ke bunga potong dan beberapa produk pertanian. Tiga tahun terakhir yang sedang kukembangkan dan dipegang Pakde Parman adalah lapangan futsal.”

Mata Mara terpejam. Ia tidak menyangka menikah dengan orang yang sangat … sangat kaya raya.

“Kenapa kau bisa meninggalkan bisnismu sampai hampir tiga bulan?” tanya Mara dengan suara lirih. Dadanya terasa sesak seperti terhimpit ratusan ton batu kali.

“Aku sudah merancang  sistim di perusahaanku sedemikian rupa. Setiap bisnis yang kupegang, mendapat waktu penuhku selama 3 tahun. Saat itu tugasku jadi seorang entrepreneur. Ketika sudah berkembang bagus, aku beralih fungsi menjadi manajer. Sambil mengembangkan sebuah  bisnis, aku sekaligus menciptakan manajemen proses bisnis yang efektif dan efisien, untuk masing-masing bisnisku.”

“Entrepreneur lebih dibutuhkan saat tahap awal pengembangan perusahaan dan manajer dibutuhkan untuk mengatur perusahaan yang telah maju,”  ujar  Mara lirih. Kepalanya semakin terasa berat.

“Kau belajar sangat baik, saat pelatihan,” ujar  Nendo dengan gembira, bisa membicarakan semua hal dengan Mara. Matanya terus melihat ke depan, karena jalanan sangat padat hari itu.

“Alhamdulillah ,,, terima kasih.” Mara terdiam sesaat,

“Beberapa buku yang  kau bawa ke kamar tentang saham. Mas  juga tertarik berinvestasi di sana?” tanya Mara dengan perasaan semakin tertekan. Apa yang dipikirkan suaminya  sekarang,  tentang dirinya. Dia merasa sangat malu. Ia tahu Nendo menginginkannya. Tapi tanpa persetujuannya, Nendo tidak akan mendekatinya. Apakah …?

“Ya … aku harus terus berupaya meningkatkan kemampuanku di berbagai bidang, membuat energiku terus memancar.”

“Aku …  termasuk salah satu yang sedang kau latih?” tanya Mara lirih, dengan perasaan sangat  malu dan sedih. Airmatanya sudah tidak dapat ditahannya lagi.

Mendengar suara sedu sedan  menyayat Mara, membuat Nendo langsung menoleh. Wajah istrinya nampak sangat pucat. Airmata mengalir deras, membasahi kedua pipinya.  Seluruh tubuhnya gemetar. Pandangan matanya memancarkan sorot mata penuh penderitaan bercampur malu.

“Demi Tuhan, Mara!” Nendo segera meminggirkan mobilnya. Begitu berhenti, Mara keluar dari mobil dan mulai berlari. Nendo segera mengejarnya, menarik tangan istrinya, kemudian memeluk Mara dengan erat. Ketika Mara berusaha melepaskan diri, dia memeluknya semakin erat.  Suara suitan orang iseng bersahut-sahutan.

“Apa yang sudah kulakukan, Mara?… Kenapa semua yang kulakukan untukmu serba salah?” ujar  Nendo lirih di telinga Mara.

Tangis Mara semakin menjadi-jadi.

Bandung Barat, Rabu 29 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *