Fiction

Rekonsiliasi Takdir # 50

Bab Dua Belas

Rekonsiliasi Takdir

Mara meringkuk di sofa dalam kegelapan. Sudah berjam-jam lalu, Mas Nendo berada di teras belakang. Hatinya terasa kosong. Seperti inikah rasanya,  tanpa Mas Nendo?

Subhanalah wa bihamdihi … subhahanallah wa bihamdihi … subhanalah wa bihamdihi … subhahanallah wa bihamdihi …

Mara membuka pintu geser perlahan. Udara dingin menyergapnya. Siluet sosok tubuh suaminya,  terlihat sedang berbaring di  kursi kolam renang. Punggung tangan kanan  Mas Nendo  menutupi kedua matanya.

Kelegaan dan kedamaian mengalir deras di setiap urat syarafnya. Mara menarik nafas lega.  Dadanya dipenuhi kebahagiaan luar biasa. Matanya  beralih menatap langit hitam kelam. Bintang seperti bersembunyi, menemani suaminya  dari  balik   tabir gulita.

Lighting di infinity pool   didesain sangat unik, menciptakan suasana romantis  penuh misteri. Mara berjalan perlahan. Setiap langkah seolah membawanya   memasuki  gerbang dunia lain. Tanpa suara ia duduk di dekat pinggang suaminya.

Tangan Nendo terangkat, ketika merasa ada orang di dekatnya.

“Maaf … tidak seharusnya aku membanting pintu sekasar itu ….” Nendo menarik nafas panjang. Ia memaksakan senyum di wajahnya. Matanya menyorot lembut, “Kau masih muda, Mara. Jangan ikuti emosimu! Aku sama sekali tidak  menyalahkanmu … Jangan salah paham, Mara. Gunakan akal sehatmu!  Ini sama sekali bukan bencana untukku.  Ini hanya akan menjadi tahun-tahun produktifku lagi.”

gold-colored ring on hands surrounded by green leaves

source

Mara tidak mengatakan apapun. Hanya mengulas senyum.

Nendo menahan nafas sesaat.  Terpukau melihat lengkungan bibir  menawan di wajah Mara. Mata istrinya bersinar seperti bintang.

“Saat melamarku, bukankah  Mas  sendiri yang  bilang kita tidak akan bercerai?” ujar  Mara dengan riang mengingatkan.

Alis  Nendo terangkat tinggi, mendengar nada suara Mara. Dengan cepat dia mengusir, harapan yang tiba-tiba muncul dari sudut gelap egonya.

“Aku sama sekali tidak menyangka perkembangannya ke arah sini,” kilah Nendo lemah. “Mara, aku hanya menginginkan yang terbaik, untukmu.”

“Mas yakin menginginkan yang terbaik untukku?” Hilang sudah senyum dan sinar gemintang di mata itu. Wajah Mara nampak sangat serius

Sebuah lubang  tanpa dasar menariknya tanpa ampun. Nendo mengangguk mantap. Dia tidak sanggup melihat mata indah itu menyorotkan  kehampaan.

“Mas percaya  pilihanku?” tanya Mara lagi.

Nendo mengepalkan kedua tangan di sisinya. Kebahagian Mara akan menjadi sumber kebahagiaannya juga. Tanpa ragu  dia mengangguk.

“Ijinkan aku terus jadi istri Mas.”

Tanpa sadar Nendo menahan nafas. Apa-apan ini?

Mara menatap mata Nendo langsung. “Ini yang terbaik untukku,” ujar Mara dengan penuh keyakinan.

Serta merta Nendo bangkit dari posisi berbaringnya. Dia duduk di ujung yang lain, dengan kedua kaki bersila. Alisnya bertaut. “Aku paling tidak suka dikasihani,” desisnya dengan suara tajam.

Mara mengibaskan tangannya dengan santai.

“Jangan takut! Aku hanya akan mencuri keahlianmu menghasilkan uang. Dan menghabiskan kekayaanmu,” tukas Mara cepat.

Nendo menatap wajah Mara lama. Ingin mencari, apa yang ada di balik wajah cantik yang memancarkan keyakinan dan ketenangan. “Mara! Jangan buat dirimu menderita! Itu akan lebih menyakitkanku, dibanding melihatmu bahagia dengan laki-laki lain!”

“Kau tidak mempercayai pilihanku?” seru Mara dengan nada menantang. Alisnya  terangkat tinggi.

“Mara—“

“Mas  banyak sekali menyembunyikan sesuatu di belakangku. Sedangkan aku mengatakan, semua yang harus diketahui seorang calon suami dari calon istrinya! Sekarang, Mas   juga tidak percaya,  kalau aku hanya akan mencuri keahlianmu menghasilkan uang? Persahabatan macam apa, yang Mas tawarkan padaku?”

Mulut Nendo terbuka mendengar kata-kata Mara. Alisnya berkerut sesaat, “Apakah aku sedemikian berhasil membuatmu menjadi seorang pengusaha? … mengubah ancaman menjadi sebuah peluang?”

Harapan aneh mulai mengembang dalam hati Nendo. Mungkinkah … ?

Mara mengangkat kakinya. Posisi tubuhnya sama dengan posisi Nendo. Dalam keremangan, ia bisa melihat wajah Nendo  sudah lebih rileks. Dia mengangkat dagunya sedikit.

“Apakah aku belum pernah mengatakan padamu, kalau aku sangat cerdas?”

Sebuah senyum kecil hadir di wajah ganteng itu. “Mama sudah sering  mengatakannya!”

“Mama sangat kompeten. Kau harus mempercayai penilaiannya!”

“Dosa  apa aku, dikelilingi  dua singa betina?”  Nendo  menyisir rambut dengan tangan. Kehangatan mulai mengisi rongga dadanya.

Tawa lepas Mara mencairkan suasana.  Tekadnya  sudah memenangkan negosiasi ini. Tapi ia menginginkan lebih. “Mulai sekarang, kita akan ganti sapaan  dengan ciuman!”

Melihat alis Nendo berkerut, Mara melanjutkan, “Kalau ada orang lain kita akan menyapa dengan mencium di pipi, tapi kalau hanya berdua kita akan saling menyapa seperti ini.” Mara menempelkan bibirnya ke  bibir Nendo dengan cepat dan ringan.

“Kau akan menderita, kalau aku tidak merespon!” Nendo mengingatkan Mara, dengan dahi berkerut. “Kau akan merasa lelah, lama kelamaan.”

Mara tertawa kecil melihat wajah khawatir suaminya.

“Kita lihat saja nanti. Bahasa Inggrisku sudah fasih. Beberapa bahasa asing lain, mulai kumengerti. Aku sudah mulai bisa bercakap-cakap dalam beberapa bahasa. Jadi aku perlu lebih sering mempraktekkannya, agar lebih fasih. Aku mulai mengerti keuangan. Sudah bisa menyetir mobil. Sekarang aku seorang wanita yang fashionable.  Dan karena tekadku sudah bulat, untuk mencuri ilmumu sebanyak mungkin, aku akan menempel seperti lintah padamu. Kau akan selalu berada dalam jangkauan penglihatanmu. Masa inkubasiku sudah selesai.”

“Pelatihan Mama sangat berhasil!” keluh Nendo seraya memijit tengkuknya. Dia tidak bisa tidak tersenyum.

Mara merentangan kedua tangannya, dengan wajah berseri.

“Aku mempunyai dua mentor utama yang sangat hebat! Mas dan mama. Belum lagi  bala kurawa favorit  mama dan berbagai instruktur yang didatangkan mama!”

Mata Nendo menyipit. “Seharusnya aku lebih berpikir panjang, saat mengajakmu menikah!”

Tangan Mara menyangga dagunya. “Bukankah seorang wanita harus keliatan lemah lembut, baik hati, dan rapuh, saat seorang laki-laki kaya raya  berada di sekelilingnya?”

Nendo tertawa terbahak-bahak. Dadanya terasa luar biasa lega.

“Aku memang sedang kebingungan, bagaimana menghabiskan uangku. Semakin banyak yang kusumbangkan, yang datang padaku semakin berlipat gande.” Dia mengernyitkan dahi, seolah berpikir keras.

“Dengan semua yang kau katakan, bagaimana aku bisa menolakmu?”

silhouette of mountain beside the body of water at night time

source

Lengan Nendo kembali disandarkan pada sandaran kursi kolam renang, yang tiba-tiba  terasa sangat empuk. Matanya menatap langit yang dipenuhi bintang yang berlomba-lomba  memancarkan sinar cantiknya. “Lakukan apa pun yang membuatmu senang. Tapi kalau kau sudah menemukan laki-laki,  yang  bisa membahagiakanmu, aku tidak ingin mendengarnya dari orang lain.”

“Satu lagi!” suara   tegas Mara,  membuatnya mengalihkan pandangan. Nendo menarik nafas dalam.  Wajah istrinya, jauh lebih menakjubkan,  dari ribuan kelap-kelip bintang di atas.

“Kita sudah terikat dalam perkawinan. Jadi  kita  harus bersikap layaknya seperti orang yang sudah menikah. Hanya melihat satu sama lain. Hanya melayani satu sama lain. Dan sama-sama menjaga satu sama lain.”

Nendo memperhatikan wajah Mara dengan seksama. Allah benar-benar luar biasa baik padanya.

“Kalau di rumah kita pakai aturanmu. Tapi kalau di kantor, kamu jadi bawahanku.”  Nendo menggunakan nada yang selalu digunakannya saat di lapangan. “Jadi kalau perlu, aku akan memarahimu di kantor.”

“Deal,” Mara menjulurkan tangannya.

“Deal.” Melihat wajah Mara, Nendo berkata, “Ada lagi yang ingin kau katakan?”

Hati Mara merasa sangat senang. Suaminya begitu mengenalnya dan sangat memperhatikannya. Ia tidak akan menukar hal ini, dengan apa pun. “Bolehkan aku memelukmu?” tanya Mara lirih dengan wajah merona.

“Kemarilah!” Kedua tangan Nendo terbuka.

Senyum lembut menghiasi bibir Mara ketika ia menjatuhkan diri ke pelukan suaminya.

“Bagaimana mungkin kau berpikir, aku mampu mengizinkan  laki-laki lain, menyentuhku seperti ini?”

suara lirih Mara menyentuh dasar hatinya. Ya Allah, tolonglah kami berdua.

Dia mengizinkan airmatanya menetes, ketika dadanya terasa  basah oleh airmata tanpa suara  istrinya,  dalam keheningan megah malam.

white wooden table near brown chair

source

Nendo memanggil semua orang yang hadir pagi itu. “Kenalkan ini adalah istri saya. Namanya Mara. Bu Mara akan membantu kita di sini, selama saya juga di sini.”

Dengan penuh percaya diri, Mara maju melangkah, dan berkata dengan tenang dan jelas. “Perkenalkan, nama saya Mara. Saya baru belajar. Mohon bantuannya.” Dia membungkukkan badannya sedikit.

Tanpa sadar semuanya ikut membungkukkan badan. Nendo tersenyum dalam hati. Pilihan blazer dan celana kerja senada Mara, menciptakan first impression yang sangat meyakinkan. Orang-orang yang dikenalkannya pada Mara, terlihat  mendapat efek yang sama, seperti saat dia pertama dekat dengan Mara. Sejak saat itu, di mana ada dia , selalu ada Mara.

Walaupun awalnya agak sungkan, tapi lama kelamaan para pegawainya  jadi terbiasa dengan kehadiran wanita itu. Mau tidak mau, Nendo harus mengacungkan jempol melihat kemampuan adaptasi Mara. Dia tidak pernah ikut campur dalam pekerjaan mereka. Namun selalu ada di sampingnya, dengan ipod di tangan. Yang dilakukannya hanyalah mengikutinya kemana pun dia pergi, mencatat dengan asik segala sesuatu di ipodnya.

***

Pak Hadi melihat jam tangannya. Pak Nendo meminta laporan perkembangan pekerjaan sampai hari kemarin. Akhirnya mereka semua bisa bernafas lega.  Setelah tiga bulan sebelumnya, seperti bekerja dengan robot yang tidak kenal istilah lelah, namun sangat  sensitif seperti orang sakit gigi. .Tangannya yang siap mengetuk pintu,  terhenti di udara,  ketika ia mendengar suara Nendo.

“Mara, aku minta lagi!” suara bosnya yang bernada manja, terdengar jelas dari luar ruangan kerja darurat.

“Baru jam 11.00 dan ini sudah yang ketiga kalinya,” suara Mara terdengar jelas.  alisnya berkerut, ketika tidak mendengar suara apapun dari dalam ruangan itu.

“Enak sekali rasanya …” Suara Pak Nendo terdengar sangat mesra.

“Bukankah Pak Hadi akan datang? Dia on time, Mas.”

“Kalau begitu cepatlah, aku tidak bisa menunggu lagi … bagaimana kalau ditambah bonus ini.” Tidak terdengar suara apapun untuk sesaat.

“Hei, bagaimana kalau ada yang lihat!” suara Mara terdengar lirih sekarang.

“Kau boleh melakukannya dan aku tidak!… kita kan sudah punya suratnya,”

Pak Hadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bos kaku yang selalu bicara  irit dan tegas di lapangan, terdengar seperti remaja belasan tahun, di dekat istrinya. Wajah ganteng Pak Nendo nampak sangat bahagia, sejak istrinya yang cantik selalu mendampinginya.

Bosnya selalu nampak berusaha menyentuh istrinya, yang mukanya akan terlihat merona. Senang sekali melihat pasangan pengantin baru itu.  Dia seperi berada di tengah pusaran kegembiraan, saat berada dekat keduanya.  

“Pak Hadi, belum masuk?” Suara Lisa dari arah belakang,  mengagetkan Pak Hadi.

“Bu Lisa! Belum … apa sebaiknya kita kembali nanti, sepertinya Pak Nendo sedang sibuk.”

Lisa langsung membuka pintu ruangan Nendo, setelah mengetuknya perlahan.

Dengan wajah merah padam dan jantung berdetak kencang, Pak Hadi menunggu pekikan Bu Lisa.

 

Bandung Barat, Jumat 31 Agustus 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *