Fiction

Unsur Kehidupan # 55

Bab Empat Belas

Pondasi dan Benteng

“Mara sudah  lama sekali kita tidak ketemu?” seru Bu Agus seraya memeluk Mara  erat.

“Iya, maaf ya, Mara temenin Mas Nendo ke kantor. Giliran belajar sama Mas Nendo. Mara juga  kangen sama semuanya,” Mara memeluk ketiganya bergantian. “Bagaimana, sudah siap semuanya? Kita punya tugas penting sekarang … mempersiapkan peresmian pesantren sekaligus syukuran ulang tahun mama.”

“Bagaimana kalau ulang tahun itu, tidak  disebut-sebut?” usul Sayati dari meja makan.

“Mama … kalau ulang tahun banyak yang doain kan, seneng.” Mara menghampiri Sayati. Mencium pipi Sayati sekilas.

“Tapi aku lebih seneng, kalau bangunan itu tidak selesai-selesai,” keluh Sayati sembari memalingkan wajah.

“Lho! Kenapa, Ma?” tanya Mara kaget. Dia menarik kursi di samping Sayati dan langsung duduk.

“Kalau sudah selesai, kau akan ikut Nendo pulang, kan?”  ujar  Sayati lirih.

Kegembiraan dan semangat yang tercium di udara dengan tebalnya, menghilang. Semua mata beralih memandang Mara dengan  pandangan muram. Sesaat Mara kehilangan kata-kata. Perasaan hangat memenuhi hatinya. Mereka semua menyayanginya, seperti keluarganya sendiri.

“Kalau sudah pindah,  aku  kan bisa sering ke sini? Atau Mama dan semuanya nginep di sana.”

Ketika suasana masih muram, Mara memutar otak, “Bukankah Bu Salim sering mengatakan setiap perubahan selalu menuju ke arah yang lebih baik?”

“Rasanya lebih mudah saat diucapkan, daripada dijalankan,” sahut Bu Salim lemah.

“Ayolah, untuk apa berpikiran negatif  tentang  masa depan,  yang  belum tentu  bisa dijalani? Bukankah sebaiknya kita memilih untuk melewati hari ini, saat yang benar-benar kita miliki,  dengan kegembiraan  dan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan?” tanya Mara lagi.

“Nah, itu kata-kata yang sering kuucapkan!” Wajah Bu Agus  berkilat  senang.

“Apa ada yang kau sukai dari semua yang kukatakan?” tanya Bu  Niki  penuh harap.

“Teraturlah! Allah menyukai keteraturan,” ujar  Mara dengan pasti.

“Kalau dari Sayati! Apa yang kau pelajari darinya?” tanya Bu Agus tanpa bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Dia ikut duduk di sekeliling meja.

“Hati mama benar-benar dipenuhi kasih.” Mara memeluk Sayati. Setelah melepaskannya, ia berkata,”Benar-benar suatu kehormatan bagiku, mengenal semuanya. Terima kasih banyak, sudah berbagi dan mengajariku segalanya … seperti pohon, rasanya aku sudah memiliki semua yang kubutuhkan untuk tumbuh dan berkembang.”

Mara memandang mereka satu per satu dengan penuh rasa hormat dan terima kasih mendalam. Kedua tangannya menangkup lembut,  tangan Sayati yang diletakkan di atas meja. “Air, mineral, unsur hara. Suhu. Matahari. Oksigen. Kelembaban udara dan tanah. Serta cahaya. Semua yang telah kupelajari dari mama dan semuanya, melambangkan semua yang kubutuhkan. Aku yakin, dengan semua yang telah diajarkan  aku bisa tumbuh dan berkembang seperti pohon itu.”

Mara menunjuk lukisan pohon di dinding. Dia terdiam sesaat. Tersenyum lembut. Tanpa melihat ke siapa pun, dia lanjut berkata, “Aku ingin seperti pohon itu. Dengan penuh keindahan, dalam keheningan,  begitu sibuk di dalam, hingga mampu  jadi penyejuk hati  siapa pun yang melihatnya. Memberi keteduhan bagi yang kepanasan, memberi makanan bagi mereka yang kelaparan, menghasilkan oksigen  dan menahan air untuk kelangsungan hidup umat manusia.  Menjadi salah satu kebaikan,  dalam lintasan kehidupan kita yang kecil, di antara alam semesta.”

“Mara. Itu indah sekali,” ujar  Sayati setelah  mampu berkata-kata.

“Mama yang mengajarkan itu semua padaku,” Mara tersenyum lembut. “Mama mau aku terus di sini?”

Bu Salim memeluk bahu Sayati lembut. “Mana yang kau pilih? Melihatnya terbang dan menjalani hidup hebat sekarang, saat kita masih sehat dan bisa menjadi jaring pengamannya? Atau melepaskannya terbang nanti , saat kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi,  untuk membantunya, saat dia menghadapi tantangan?”

Pandangan Sayati beralih dari wajah Bu Salim, Bu Niki, Bu Agus, Mara, dan berlabuh pada lukisan  pohon di dinding. Dia menarik nafas dalam. Sayati melontarkan senyum pada para sahabat dengan mata berkaca-kaca. Dia mengangguk perlahan.

selective photography of green leaf plant

source

“Syukurlah,” Dia melihat kembali  ke arah teman-temannya, setelah tersenyum lebar pada menantunya. “Proyek kita sukses. Hampir empat bulan, kita semua sudah bersenang-senang, mendidik dan melatih Mara, semua yang kita bisa. Hanya tinggal copy paste, ke   anak-anak yang kita asuh, in syaa Allah akan muncul banyak  Mara – Mara baru nanti.”

“Benar! Setiap perubahan selalu menuju kebaikan!” seru Bu Salim dengan penuh semangat. “Ayo teman-teman! SEMANGAT!!!!!!!!”

“SEMANGGAATTTT!!!!!” Secara berbarengan mereka menjawab yel-yel yang diucapkan Bu Salim. Setelah saling pandang sejenak, mereka  berlima tertawa dengan penuh kegembiraan. Ruangan kembali ramai dengan berbagai usulan menarik dan lucu.

Subhanallah wa bihamdihi … subhanallah wa bihamdihi … Mara tanpa henti terus mengucapkannya dalam hati, dengan penuh rasa syukur.

***

Rumah di hadapan Mara bertembok tinggi namun diperlunak dengan banyaknya pohon-pohon besar dan kecil yang berdaun warna warni.

“Kau menyukainya?” tanya Nendo penuh harap. Ia menghentikan mobilnya sejenak, sebelum memasuki pagar yang dibuka oleh remote.

Pandangan Mara mengarah ke halaman rumput luas yang terlihat seperti permadani tebal. Rumpun bunga warna warni terlihat mekar di beberapa tempat. “Mas, indah sekali,” ujar Mara dengan mata bersinar-sinar.

“Aku akan kenalkan semua orang yang bekerja di rumah ini. Semuanya adalah rekomendasi mama. Mama mengenal mereka semua,  masing-masing secara pribadi.”

Ketika mobil Nendo berhenti di depan bangunan utama, sederet orang telah berdiri menanti mereka. Mara dikenalkan pada satu persatu orang. Nendo juga memberikan keterangan singkat,  tentang keluarga masing-masing orang.

“Semuanya baik-baik,” ujar  Mara gembira sembari membaringkan dirinya di ranjang besar dan empuk, dengan mata terpejam.

Merasa ranjang di sebelahnya bergerak, Mara membuka mata. Ia memiringkan tubuh ke arah suaminya. Dia mengganjal kepala dengan sebelah tangannya. “Kau tidak kesepian,  tinggal sendiri di rumah sebesar ini?”

“Ini rumah baru. Aku  mengundang Pakde Parman dan keluarganya ke sini, sejak beberapa bulan lalu.”

“Benarkah?”

“Ya … aku ingin mengadakan pesta perkenalan istimewa untukmu. Bude Parman sangat ahli mengorganisir pesta. Di rumah yang dulu, kadang-kadang  aku suka menjamu tamu … aku suka gaya budemu mengurus segala sesuatu tentang kegiatan itu … untuk tamu-tamu tertentu.”

“Tamu-tamu tertentu?” Alis Mara naik sedikit. Bude Parman memang suka sekali menjamu orang. Bahkan saat ada di  kamarnya, dia bisa ikut merasakan gelombang kegembiraan dari para tamu Bude Parman.

“Temanku tidak hanya dari satu kalangan atau usia … mereka lintas usia dan pekerjaan … karena aku juga jadi broker.” Nendo mengangkat kedua bahunya sekilas. “Mereka suka menawariku bisnis. Kadang-kadang aku tidak menguasainya. Aku lemparkan pada orang lain yang memang kompeten dan ahli di bidang itu, dan mendapatkan fee dari sana.”

Nendo tersenyum malas. “Pakde Parman sekeluarga kebetulan ada acara hari ini, jadi tidak bisa ikut menyambutmu.”

“Tidak apa-apa. Aku kan juga sudah kenal mereka. Hm… ada lagi yang suka ke sini?” Mara memainkan kancing kemeja suaminya.

row of four men sitting on mountain trail

source

“Teman-temanku suka datang ke rumah, kalau aku tidak ada kegiatan di luar … aku bilang aku sudah menikah, mereka  akan datang besok sore.”

“Apa yang biasanya kalian lakukan?” Mara mendongakkan wajah, hingga matanya bertemu dengan  mata suaminya.

“Main tenis, berenang, nonton, main bilyar ….”

“Mereka semua belum menikah?” tanyanya sedikit penasaran.

“Belum. Semuanya teman-teman kuliahku.”

“Mereka suka makan apa?

“Kanibal,” Nendo tertawa kecil, “… makan apa pun yang disediakan.”

“Kau sangat menyukai mereka?” tanya Mara dengan senyum lebar.

“Walaupun terkadang menjengkelkan, tapi mereka teman yang baik dan setia kawan.” Tiba-tiba Nendo tertawa kecil.

“Ada apa?”

“Pernah suatu ketika kami pergi ke kedai kopi yang baru buka,  untuk  pertama kali. Saat itu kami memesan gelas kopi  kecil. Salah seorang dari mereka mengganti ukurannya dengan medium. ‘Terlalu kecil’ katanya. Kami semua mengganti pesanan mengikutinya. Gelas medium besar sekali.  Keesokan hari ketika kami  bertemu lagi di kampus,  kawanku  yang pertama ganti pesanan, berkata dia tidak bisa tidur. Ternyata kami berempat, sama-sama  tidak bisa tidur sampai jam 3 pagi. Setelah itu,  selama seminggu, habis dia menjadi bahan olok-olok.”

Mara tertawa lepas.

Tiba-tiba suasana menjadi hening.

“Mas … mereka—“

“Ya. Mereka tahu kondisiku. Makanya mereka ingin tahu, wanita seperti apa yang mampu menghidupkanku—“

“Sekaligus mematikannya lagi,” potong Mara dengan getir.

“Aku merahasiakannya kali ini. Aku tidak mau, mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk menggodamu,” ujar Nendo cepat.

Mara memeluknya  sangat  erat. “Alhamdulillah. Aku punya suami lagi sekarang.” Ia melepaskan pelukannya dan memandang Nendo dengan mata  bersinar seperti bintang.

Lho, dari kemarin memang aku  kemana?” Nendo memainkan rambut Mara yang menghias indah kedua sisi wajahnya.

“Entahlah … perasaanku, kemarin-kemarin  kau masih gamang, tentang apa yang harus kau lakukan … tapi sekarang … kau memiliki tekad, untuk tetap memilikiku.”

“Tentu saja aku bingung, aku menikahi anak yang baru lulus SMA! Apa yang harus kulakukan padanya?”  sergah  Nendo dengan nada menggoda.

“Aku sudah bukan anak kecil lagi, sejak kau menikahiku …. “ Mara menelentangkan tubuh di sebelah Nendo. Matanya dipejamkan.

Nafas Nendo tertahan di tenggorokannya.

“Aku mau mandi dulu,” Mara tiba-tiba membuka mata dan tersenyum.

Dia hanya menganggukkan kepala. Pandangannya mengikuti tubuh Mara, yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Sejak mengetahui Mara memilih terus mendampinginya, karena mencintainya dan bukan mengasihaninya, jiwanya seperti mendapatkan asupan bergizi.  Tanpa sepengetahuan Mara, ia mulai sering memperhatikan istrinya.

Mereka tidur di ranjang yang sama. Menjelang tidur, dia akan menebak-nebak,  mana  gaun tidur yang dipilih Mara untuk menemani tidurnya. Sering kali ia menyetujui pilihan istrinya. Kali ini Mara mengenakan gaun tidur favoritnya. Istrinya  menghadap ke arahnya. Wajahnya terlihat sangat segar dengan aroma tubuh yang menenangkan syarafnya.

“Mas  belum  mengantuk?” tanya Mara lembut.

“Belum.” Dia tidak ingin kehilangan satu detik pun anugerah indah di hadapannya.

“Aku lelah sekali … aku tidur duluan, ya?”

“Tidurlah.”

Mara mencium bibir Nendo sekilas. “Terima kasih.” Istrinya  langsung terlelap.

Setelah memejamkan matanya sesaat, Nendo kembali membukanya. Ia memanjakan matanya menikmati pemandangan di hadapannya

Memandang wajah Mara yang selalu seperti tersenyum saat tidur, membuat hatinya terasa damai. Kegiatan rutin ini  jadi penghantar tidur terbaik untuknya. Sejak ada Mara, dia tidak pernah lagi kesulitan tidur. Jam tidur tahun-tahun terakhirnya, yang   hanya sekitar 10 jam seminggu, menjadi lebih panjang. Tubuhnya lebih terasa segar dan bugar.

***

Langkah Mara langsung menuju ke kolah renang. Dia mendengar seseorang sedang berenang.  Seorang wanita muda nampak berenang dengan santai. Ketika akhirnya berbalik arah, baru ia tahu kalau  wanita itu adalah Lestari.

Tari menyipitkan mata, ketika seorang wanita muda cantik tersenyum padanya dari pinggir kolam renang.  Dahinya mengkerut. Ini bukan kolam renang umum.

Siapa yang berani-berani mengizinkan wanita itu berenang di sini?

Bandung Barat, Kamis 6 September 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *