Fiction

Canda Maut dengan Keserakahan # 57

low angle photography of two people walked in glass flooring

source

“Apa yang sudah terjadi?” teriak Nendo sambil menggebrak meja.

Jamie, sekretaris Nendo  yang ingin mengabarkan kedatangan para direkturnya, langsung menutup pintu ruangan bosnya. Namun mereka semua sempat mendengar teriakan Nendo.

“Keliatannya sekarang bukan waktu yang tepat,”   Jamie  tersenyum minta maaf. Rencananya ia ingin memberikan kejutan pada Pak Nendo. Ternyata,  dia sendiri yang mendapat kejutan.

Dia tidak pernah melihat bosnya semarah itu. Ia pun tidak mengenal pria  yang berdiri di depan Nendo, dengan topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Padahal dia sudah mendampingi Pak Nendo, sejak perusahaan ini berdiri.

Siapa laki-laki yang ada di dalam ruangan Pak Nendo?

“Baiklah, kami akan kembali, nanti, ” sahut Pak Amir.

Dengan segera,  mereka langsung membubarkan diri. Pak Nendo yang biasa saja, saat memimpin rapat,  bisa jadi sangat menakutkan. Apalagi sekarang, saat berada di puncak amarah. Entah seperti apa jadinya.

“Aku akan mengusirnya sekarang, juga!” Nendo bangkit, dengan langkah lebar menuju pintu.

“Tidak akan menyelesaikan masalah inti. Kita masih tidak tahu siapa kaki tangannya,” ujar  orang yang wajahnya tertutup topi, dengan suara kalem. “Hanya akan membuat mereka semakin waspada. Dan menyusun strategi baru. Kita harus bersikap sebiasa mungkin, untuk menghindari kecurigaan mereka.”

Kalimat  panjang itu menghentikan langkah Nendo seketika.

Dia berbalik cepat ke arah pria bertopi. “Mungkin Mara ada dalam bahaya!” desak Nendo khawatir.

“Jangan khawatir! Akan kutugaskan  orang untuk menjaganya!” tukas orang itu tangkas.

“Atur.  supaya hanya dia yang bisa keluar masuk kamar kami. Demi Allah! Hanya itulah tempat teraman baginya!”

Syukurlah dalam kamar mereka, sudah didesain sedemikian rupa. Dari tempat bersantai, nonton tv, ruang makan, kamar mandi,  hingga sudut membaca buku di teras depan kamar yang terpisah dari  bagian rumah lain dengan waterfall. Tanpa keluar kamar pun, aktivitas keseharian Mara tidak akan terganggu.

Nendo menjambak rambutnya sendiri, dengan tangan kanan. Dia benar-benar teledor, memberikan kepercayaan besar pada orang yang salah.

“Bagaimana mungkin aku memasukkan iblis seperti itu ke rumahku?”

“Kalau mau secepatnya menuntaskan masalah ini, kita harus memancing emosi mereka.”

“Dan Mara yang jadi  umpannya?” tanya Nendo dengan mata melotot. Sebuah pertanyaan retoris. Syukurlah, dia sudah menempatkan beberapa CCTV  rahasia di bangunan utama, selain CCTV standar, sebelum Bude Parman menerima undangannya. Hanya dia dan kepala penjaga keamanan pribadinya, orang yang ada dihadapannya sekarang, yang tahu.

“Maaf … tapi begitulah situasinya. Semakin intens kita menekan mereka, memancing amarah mereka, semakin cepat mereka akan bereaksi, mengeluarkan sifat asli mereka,” ujar pria itu dengan nada tenang  tanpa emosi.

“Aku tidak menyangka Parman sejahat ini!” Nendo menghempaskan tubuh, ke kursi direktur.

“Parman tidak jahat,” kilah pria bertopi.

“Dia baik tapi lemah!” sergah Nendo marah. “Suami macam apa, yang tidak bisa mendidik istrinya?”

“Istrinya  anak bekas orang kaya. Pejabat sangat berpengaruh, sebelum tiba-tiba meninggal,  kena serangan jantung. Keluarga mereka langsung jatuh bangkrut. Karena tidak ada yang bisa melanjutkan bisnis keluarga. Istri dan anak-anaknya,  hanya tahu cara berfoya-foya.  Ketika melihat Parman menaiki mobil mewah berganti-ganti, wanita itu  berpikir,  semua milik Parman. Parman yang sedang jatuh cinta, karena tidak ingin kehilangan wanita cantik itu, tidak menjelaskan. Bahkan, ia tidak mengundang orangtua kandungnya,  ketika menikah. Sejak itu,  dia semakin terjebak keserakahan istrinya.”

 

 

man sitting on brown mountain located at Grand Canyon during daytime

source

Nendo berjalan menuju jendela besar ruangan kantornya. Mendung tebal menghiasi langit. Matamya dipicingkan. Warna abu-abu menjadi latar tanpa batas, belantara gedung. Membuat suasana  hatinya semakin bertambah muram.  Dia menarik nafas.  Tidak ada gunanya terus menyesali dan mengumpat diri sendiri. Otaknya berputar dengan kecepatan penuh.

Dia mengepalkan tangan menahan amarah hebat  dalam dada. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Mara.

“Aku akan mengaturnya.” Nendo tertawa sinis, “Aku tahu bagaimana mengobarkan iri hatinya.”

“Mas kok sudah di rumah, katanya ada urusan mendadak yang sangat penting?” tanya Mara ketika melihat Nendo memasuki ruang tamu.

Nendo merengkuh pundak Mara. Ia mencium bibir Mara agak lama. Suara mendehem di belakangnya, membuatnya menjauhkan diri perlahan. Matanya terus menatap mata indah  Mara,  yang terbelalak memandangnya. Bibirnya tidak bisa tidak tersenyum. melihat rona merah perlahan menjalari pipi putih istrinya.

Dengan cepat menekan rasa kasihan, saat melirik,  wajah istrinya merah padam, ketika melihat Pakde dan Bude Parman, serta Lestari terpengarah, melihat mereka. Dia memasang wajah tanpa dosa.

Maafkan aku, Mara. Aku sama sekali tidak bermaksud mempermalukanmu, di hadapan siapa pun.

Nendo langsung meghampiri  ketiganya, sembari menggandeng tangan istrinya. “Pakde, Bude,” Nendo mencium tangan mereka. “Halo Tari, apa kabar?”

“Tumben sudah pulang, Pak Nendo,” sapa Pakde Parman.

“Jangan panggil saya Pak lagi sekarang … saya juga kan panggilnya sekarang,  Pakde,” kilah  Nendo dengan senyum ramah.

“Ini  … saya belum memberikan hadiah perkawinan pada Mara, jadi saya beli dulu. Hanya hadiah kecil.” Dengan sengaja dia memberi penekanan kuat, pada kalimat terakhir.

“Sudah dapat, Nendo?” tanya Bude Parman ramah.

“Alhamdulillah, saya  membelikannya grand piano dan   mobil,” Sebuah mobil Audi R8  berwarna putih berkilat, memasuki halaman. “Walaupun Mara sudah bisa setir mobil sendiri—“

“Mara sudah bisa setir mobil sendiri!”  seru  Bude Parman kaget.

Nendo tersenyum sekilas, menjawab pertanyaan Bude Parman.

“Ayo, lihat dulu,” ujarnya lembut pada Mara. Tangannya merengkuh mesra bahu Mara. Ketiganya tanpa dikomando,  berjalan mengikuti mereka berdua di belakang, ke halaman depan.

“Iya … tapi karena belum mengenal jalan, maka saya meminta orang kantor, Dini,   menemaninya kemana pun dia pergi,” sahutnya tanpa menghentikan langkah.

“Tari juga  bisa kok,  menemani Mara kemana-mana!” tukas Bude Parman cepat.

Hadiah kecil? Seperti apa hadiah besarnya?

Matanya nyalang melihat mobil mewah baru itu. Rasa iri  membuncah hebat. Sebegitu entengnya, Nendo mengeluarkan  uang milyaran, untuk menyenangkan istri barunya. Ia mengepalkan tangan di kedua sisi tubuh, menahan emosi yang menggila. Memaksakan  hingga sakit, wajah tersenyum gembira.

“Iya, Mas. Aku punya banyak waktu senggang, kok!” Lestari menimpali kata-kata  mamanya. Dia berjalan mengitari mobil, seperti anjing kelaparan yang melihat tulang lezat. Dia segera masuk ke mobil, setelah memutari mobil tersebut.

“Terima kasih, aku sangat menghargai kebaikan dan perhatian kalian … tapi tugas Dini tidak hanya sebagai sopir … dia akan mengatur jadwal dan semua keperluan Mara … dari Mara bangun tidur dan saya pergi ke kantor, sampai saya pulang atau Mara tidur. Dini akan jadi bayangan Mara. Tanpa protokoler yang baik, Mara akan kewalahan dengan kegiatan yang harus dijalaninya.”

Ketika melihat Bude Parman akan membuka mulutnya, dengan cepat Nendo berkata, “Aku akan sangat butuh bantuan bude, untuk mengurus  pesta rumah, sebelum Mara mampu melakukannya.”

Nendo mengelus-elus lengan Mara dengan telapak tangannya, sembari tersenyum. ”Dua malam berturut-turut kita akan menerima tamu. Setiap malamnya sekitar dua ratus lima puluh pasang. Jadi semuanya sekitar  lima ratus orang. Dibutuhkan orang yang tepat untuk mengaturnya, dan Bude-lah orang yang tepat menurutku. Bude yang akan menjadi tuan rumah, untuk  mendampingi kami.”

Wajah Bude Parman menjadi lebih  cerah,“Baiklah, kalau itu yang  menurutmu baik … bagaimana kalau sekali-sekali … kita  juga mengajak Tari, ke acara yang akan kita selenggarakan? … supaya  dia punya pengalaman dalam pergaulan yang lain.”

“Tentu saja …” Nendo mengamati sebuah mobil yang memasuki halaman, “… pianonya sudah datang! Mau lihat, Mara?”

Melihat istri cantiknya yang kelihatan bingung, namun tidak mengatakan sepatah kata pun, mengangguk, ia langsung mengajak Mara kembali masuk  rumah.

“Piano yang lama mau kau apakan, Nendo?” tanya Bude Parman lembut.

“Belum ada rencana,” sahut Nendo sembari terus berjalan ke dalam rumah.

“Bagaimana kalau disimpan di rumah kami saja,  sementara?”

“Boleh juga! Aku jadi tidak perlu repot lagi.” Nendo menepuk tangan Mara dengan lembut. “Mara, bagaimana kalau kau mencoba memainkannya?”

“Mas!” Mara memandang Nendo dengan tatapan heran.

“Iya, Mara. Tentunya kau akan menyenangkan suamimu, kalau hadiahnya langsung kau gunakan,” ujar Bude Parman semangat. Awal yang hebat. suaminya sendiri, yang menjerumuskannya ke jurang rasa minder.  “Ayo, Mara. Bude atur, kamu konser solo  piano, nanti malam. Bagaimana menurutmu, Nendo?”

“Bagus sekali, Bude. Aku ingin Mara tampil malam ini, Bude. Tolong diatur, ya. Dia harus tampil. Jadikan itu puncak acara perkenalan Mara sebagai istriku, pada publik.”

Bude Parman mengangguk cepat, menerima usul calon menantunya.  Dia mengangkat dagu tinggi. Memberi pujian pada diri sendiri dalam hati, berhasil memberikan pukulan telak berturut-turut pada anak kampung itu. Ternyata dia tidak harus mengeluarkan banyak energi, menyingkirkan anak kampung itu, dari singgasana kerajaan Nendo. Bibirnya tersenyum lebar, membayangkan anak semata wayangnya, menjadi penguasa di rumah ini.

Mara mengelus tutup piano itu sebelum membukanya. Piano ini  lebih mahal, dari yang ada dirumah Mama.

Bibirnya menyungging senyum lembut, merasa kangen hebat pada Sayati. Bermain piano, berarti menghadirkan Sayati ke sisinya, detik ini juga. Perlahan dia membuka penutup  piano. Melihat tuts hitam putih mengkilat, seketika benar-benar menghadirkan wajah Sayati. Dia bisa merasakan kehadiran wanita cantik, yang selalu menyemangatinya. Matanya dipejamkan, menahan rasa kehilangan.

Seperti tahu apa yang sedang dipikirkannya, suaminya memegang pundaknya dengan sangat lembut. Ia membuka mata. Menoleh ke arah suaminya. Wajah Mas Nendo dipenuhi senyum,  memberi kekuatan.

“Ayo, Mara. Mulai saja sekarang!” desak Bude Parman yang luar biasa gembira melihat wajah pucat Mara.

Dengan sepenuh hati, ia  memainkan dua lagu favorit Nendo dan Sayati dalam tempo lambat, langsung berurutan.

Mulut Bude Parman menganga.

“Indah sekali, Mara! Membuatku senang membeli piano ini,” Nendo mencium pipi Mara sekilas. Tiba-tiba gawainya berbunyi, “Mama! … oh iya … mereka ingin mengenal Mara … masakan kesukaan mereka … ya … aku akan meminta Mara memasakkannya untuk mereka … main piano … beres Ma, Bude Parman akan mengatur acaranya dengan sempurna. Dia EO hebat.” Nendo memutuskan hubungan telpon.

“Sahabat Mama akan datang, dari Amerika, biasanya mama akan menemui mereka, karena masih sibuk dengan urusan pesantren, Mama meminta Mara mewakilinya ….”

“Aku….”

“Jangan takut, Mara. Aku akan menemanimu,”  ujar  Lestari dengan suara ramah.

“Iya, Mara. Kalau menghadapinya berdua, kan tidak terlalu bingung, nanti,” sela Bude Parman.

“Mama juga memintamu memasakkan sesuatu untuk mereka … ” ujar Nendo pada Mara.”

“Baiklah kalau begitu,” Nendo melihat jam tangannya, “Aku akan mengajak Mara pergi sebentar, sebelum teman-temanku datang. Ayo, Mara! Kami pergi dulu, ya.”

“Mas,” Tari memanggil Nendo.

“Ya.” Nendo membalikkan tubuhnya ke arah Tari,   memamerkan senyum terbaiknya.

Sesaat Tari tertegun. Walaupun sikap Nendo selama ini baik padanya, namun baru pertama kali inilah Nendo sangat ramah padanya. Memperlakukannya seperti  seorang  wanita. Jantungnya berdebar-debar. Wajah Nendo terlihat sangat keren.

Arloji emas yang dikenakannya bersinar tertimpa cahaya matahari, ketika jemarinya dengan santai memainkan kunci mobil sport mewahnya.  Pakaian  dan semua barang yang dikenakan, seperti berlomba berteriak, menunjukkan kemewahan. Semua lelaki yang ada di sekelilingnya saat ini, benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan Nendo.

“Ada apa, Tari?” suara lembut Nendo, membuyarkan lamunannya. Untung saja, dia senantiasa menggunakan makeup.  Dia menampilkan sosok wajah bidadari, yang telah dilatihnya ribuan kali di depan cermin.  Senyum yang tidak pernah gagal menjatuhkan setiap laki-laki yang diincarnya, tersungging  lembut dan polos di bibir indahnya.

 

Bandung Barat, Sabtu 8 September 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *