Fiction

Kepastian dari Sisi Manusia # 58

“Aku tidak punya pakaian yang pantas untuk acara-acara malam,” ujar  Lestari dengan wajah dibuat sedikit bingung. Selalu berhasil, membuat setiap laki-laki, meluluskan permintaannya.

painting of woman's face

source

Nendo memperhatikan  wajah Tari  yang full makeup sejenak.

“Belilah sesuatu untukmu. dan Bude Parman sekalian. Minta uangnya sama Pakde Parman. Kalian boleh memakai mobil yang mana saja. Cuma Audi dan Dini tidak boleh dipakai, ya! Itu khusus untuk Mara.” Dia langsung membalikkan badan, setelah sekali lagi, memastikan telah memberikan senyum andalan pada Tari.

Berhasil! Nendo  luluh padanya.

Bibirnya yang sedang tersenyum lebar, langsung mengerucut, melihat Nendo  berjalan menjauh. Rasa marah dan irinya pada Mara  memuncak. Ia ingin memiliki Nendo. Dia  akan memintanya, pada mama. Mama pasti  memberikan apa pun yang dia mau. Seperti biasa. Dan saat melihat  wajah Mara dipenuhi airmata, akan jadi saat kemenangan puncak  baginya.

woman in black hat

source

“Mara!” panggil  Bude Parman ramah, ketika Nendo sudah berjalan meninggalkan mereka bertiga,  menggandeng tangan istrinya.

“Ya, Bude.” Giliran Mara yang  membalikkan tubuh ke arah Bude Parman.

“Kamu tidak cium tangan Bude, dulu,” Bude Parman menjulurkan tangannya. Ketika Mara mencium tanganya dengan suara lirih perlahan, ia berkata, “Kalau sampai kau menceritakan pada Nendo, habislah kau!”

Kepala Mara mendongak. Melihat wajah Bude Parman tersenyum lebar padanya. “Hati-hati, ya,” lanjutnya dengan suara keras.

Setelah mencium tangan Pakdenya, Mara berjalan  ke arah Nendo yang sedang menunggu di sebelah pintu mobil.

“Tolong siapkan pakaian tenis untuk Mara,” ujar  Nendo perlahan pada Dini. Dahi Nendo berkerut, melihat rambut Mara yang bersinar tertimpa cahaya matahari, membuatnya wajahnya  terlihat semakin menawan. Wajah dan matanya menyorotkan kebahagiaan.  Mara melangkah dengan anggun dan penuh percaya diri,  semakin mendekat padanya. “Cari yang tertutup!” tambahnya dengan nada lebih lirih.

“Baik, Pak,” ujar  Dini sembari mengangguk. Dini langsung berjalan menuju bangunan utama, ketika mobil Nendo sudah menghilang dari pandangannya.

Dengan langkah lebar, Bude Parman segera menjajari langkah  Dini. “Apa yang dikatakan Nendo, padamu?” tanyanya  angkuh.

Wanita yang bertugas menjadi pengawal Mara itu berhenti berjalan. “Maaf, kalau Pak Nendo mengatakannya perlahan, itu berarti ia tidak ingin,  banyak orang  mendengar,” sahut Dini perlahan dengan suara tegas.

Mata Bude Parman melotot mendengar jawaban Dini. Dagunya terangkat, ketika ia berkata,”Nendo pasti membayarmu sangat mahal, untuk menjaga istri?”

“Sepertinya begitu.”

“Kau tahu, anakku sebentar lagi akan jadi istri Nendo. Kau akan kehilangan pekerjaanmu yang sangat menjanjikan ini, kalau kau tidak bisa bekerja sama denganku.”

Wajah  Dini tidak menampakkan emosi apapun.

“Aku bisa membuat Nendo mengeluarkanmu!” Bude Parman menegaskan maksud perkataannya. “Tentu saja kalau kau suka membangkang seperti ini ….” ia menggantung kata-katanya.

Dini membuka map yang sedang dibawanya. Ia mengeluarkan secarik kertas. Menyerahkannya pada Bude Parman. Tari dan Pakde Parman  segera  mengelilingi Bude Parman.

Mata Bude Parman terbelalak melihat angka yang tertera di surat perjanjian itu.

“Dalam perjanjian kerja tertulis, perintah yang harus saya patuhi hanya dari Pak Nendo atau Bu Mara saja. Kalau wanprestasi, saya akan dikenakan denda sepuluh kali lipat dari total gaji saya setahun. Dan sebuah pernyataan of the record dari Pak Nendo, saya tidak akan diterima bekerja,  di mana pun. Kalau Ibu bersedia memberikan pernyataan tertulis,  akan memberikan saya gaji lebih, membayar setahun di muka, saya akan berganti majikan.”

“Dasar mata duitan!” seru Bude Parman dengan wajah merah padam. Dia meremas surat yang ada di tangannya, melemparkannya ke wajah pengawal Mara. “Kau pasti akan menyesal memilih membangkangku!” Dengan langkah lebar, dia berjalan menuju sayap kiri rumah besar itu.

“Kurang ajar! Dipikir siapa dirinya? Berani-beraninya membangkan perintahku?” Bude Parman berdiri di tengah ruang tamu tempat tinggalnya.

“Ma, jangan berteriak-teriak!”  seru  Pakde Parman dengan wajah khawatir. Ia melihat sekelilingnya. Untungkah. Tidak nampak seorang pun. “Ada CCTV. Nendo suka melihat rekamannya,  kalau punya waktu senggang.”

“Dasar suami penakut! Tidak berguna! Kau kira aku sebodoh itu? Semua orang di sini,  sudah dalam genggamanku!” seru Bude Parman sengit.

“Apa maksudmu?” tanya Pakde Parman dengan wajah khawatir.

“Aku sudah merencanakan segala sesuatunya … Mereka tidak akan berani melaporkannya pada Nendo.”

“Rencana? Rencana apa yang kau maksudkan?” Pakde Parman  berjalan mendekati istrinya.

“Ini semua gara-gara kamu! Dasar suami tidak bertanggung jawab! Kalau Mara tidak ada, Nendo pasti  akan menikahi Tari!”

Dahi Pakde Parman berkerut. Ia menoleh ke arah anak gadisnya. Seperti tidak mendengar apapun, anaknya dengan santai   memperhatikan kuku-kuku yang baru saja dimanicure.

Dengan mengurut dada, pandangannya beralih ke istrinya. “Nendo sendiri, yang meminta Mara bekerja padanya!” sergah Pakde Parman.

“Kalau foto sialan itu tidak terjatuh di kaki Nendo, dari mana ia tahu tentang Mara? Dia bukan paranormal, yang mengetahui ada seorang gadis  bernama Mara. Sudah! Jangan ikut campur urusanku. Aku sudah menyusun rencana, untuk membuat Nendo menikah dengan Tari. Kau pasti akan  menghancurkannya,  hanya dengan membalikkan telapak tangan. Tutup saja mulutmu!  Kirim uang sejumlah ini ke rekeningku!” Bude Parman memperlihatkan layar gawainya, pada suaminya.

“Untuk apa uang sebanyak itu?” seru Pakde Parman dengan wajah kaget, melihat angka yang tertera.

“Kau tidak dengar, Nendo sendiri yang menyuruhku meminta uang padamu,  untuk membeli pakaian?” seru Bude Parman tidak sabar.

“Tapi kenapa harus sebanyak itu, untuk membeli baju saja?”

“Dasar laki-laki bodoh! Ini semua karena kamu tidak becus cari uang,” desis Bude Parman marah. “Harga ini tidak seberapa, dibanding hadiah Nendo,  untuk anak kampung sialan itu!”

“Ma, baju renang yang baru Mama belii untuk aku, keliatan murah sekali, kalau dibandingkan baju renang yang dipakai Mara tadi pagi! Aku enga mau pakai baju renang itu lagi!”

“Bukankah itu baju paling mahal,  yang ada di toko olahraga itu?” ujar  Bude Parman dengan nada lembut membujuk. “Kita beli belum seminggu, lho.”

“Keliatan ketinggalan zaman,  dibandingkan  yang dipakai Mara!” Tari menghentak-hentakkan kakinya dengan jengkel ke lantai.

“Lihat anakmu! Beliin baju renang aja engga bisa,  masih mau komplain tentang mahalnya harga baju! Kamu mau, anakmu keliatan seperti pembantu, saat menemani sahabat Bu Sayati yang dari Amerika?” tanya Bude Parman marah,  seraya menoleh kembali  ke arah suaminya.

“Sesuaikan dengan kemampuan kita,” ujar  Pakde Parman dengan nada lebih lunak.

“Tidak bisa! Aku harus membuatnya keliatan secantik mungkin malam itu. Statusku juga naik. Sekarang aku adalah Tante Nendo. Aku juga harus meningkatkan standar penampilanku … sudahlah, berikan saja uangnya! Mulailah berpikir tentang perceraian, aku tidak ingin hidup kekurangan terus menerus, seperti ini.”

Pakde Parman mentransfer uang yang diminta istrinya. “Kau selalu mengancamku dengan perceraian. Aku juga sudah lelah dengan semua ini … aku akan mulai serius memikirkannya,” Tanpa menunggu jawaban istrinya, ia langsung berjalan  meninggalkan ruangan. 

Gembira dengan uang sebanyak itu hanya untuk membeli gaun, membuatnya tidak memperdulikan apa yang dikatakan suaminya. Suaminya yang penakut, tidak akan berani menceraikannya. “Ayo Tari, kita belanja sekarang!”

“Aku mau naik Audi putih itu, Ma!” rengek Tari.

“Sabar … kamu  akan punya yang lebih mahal nanti,” janji Bude Parman sepenuh hati.

“Benar, Ma!” pekik Tari gembira. Dia memeluk mamanya. “Asik! Aku juga mau jadi istri Nendo.”

Bude Parman melepaskan pelukan anaknya. Dia  memandang Tari dengan hati berbunga-bunga. “Kau menginginkannya?” tanyanya riang. Semangatnya menyingkirkan Mara semakin berkobar.

Tari menganggukkan kepalanya dengan yakin.

“Kenapa kau berubah pikiran?” Kepalanya meneleng, memperhatikan wajah  penuh tekad  putri cantiknya,  dengan hati bangga.

“Aku baru sadar … wajah Nendo keren sekali Tidak terlihat tua sama sekali.  Setiap perempuan pasti melihatku dengan iri, kalau kami jalan  berdua.  Apalagi uangnya juga  tidak berseri. Lagi pula, Nendo kan sibuk sekali, tidak apa-apa aku juga tetap main,  dengan teman-temanku yang sekarang. Dia pasti tidak keberatan.”

“Bagus! Begitu caranya pilih calon suami. Tenang aja, Nendo pasti akan jadi suamimu.” Dia mengangguk setuju. “Benar, Nendo pasti tetap mengizinkanmu,  tetap bersosialisasi dengan teman-teman sebayamu.”

“Bener, ya,  Ma? Mama sudah janji, ya!”

“Mama tidak pernah ingkar janji padamu, kan?” Dia tersenyum lembut  pada anak semata wayangnya. “Ayo siap-siap, kita pergi sekarang!”

Dengan wajah gembira, Tari menuju kamarnya.

Bude Parman menekan rasa sedih, melihat Tari sangat gembira, bisa menghabiskan uang yang tidak seberapa, dibandingkan, yang telah dikeluarkan Nendo barusan,  untuk anak kampung itu.

Kurang ajar! Anak kampungan itu jalan-jalan, dan dia harus kerja sekarang.

Matanya kembali memandang ke arah Tari menghilang. Kasihan sekali anaknya. Baju renang saja, kalah dengan Mara. Bude Parman menyeringgai buas. Dia tidak akan memaafkan anak kampung, yang sudah membuatnya jadi pembantu di rumah ini.

Kau pasti  membayar penghinaan ini,  berkali-kali lipat, Mara! Tunggu saja tanggal mainnya!

 

Bandung Barat, Minggu 9 September 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *