Fiction

Indahnya Persahabatan # 60

aerial photo of tennis court surrounded with trees

source

Waktunya berganti tempat. Ia berjalan melalui tempat duduk Burhan.

“Mara, kenalkan ini Burhan … Ini Mara, istriku.”

Burhan yang sedang menjabat tangan Mara, melihat Nendo dengan alis berkerut.

“Hehehe, masih muda ya,” komentar Nendo dengan senyum lebar.

Gue kirain ponakan loe yang lain,” sahut Burhan seraya kembali mengarahkan pandangannya pada Mara. “Kenapa mau, kawin sama om-om?” tanyanya serius pada Mara.

“Sialan loe... makin tua makin banyak santennya, lagi!  Eh, lepasin tuh tangan!” seru Nendo ketika melihat Mara berusaha melepaskan tangannya dengan sopan, namun Burhan masih belum melepaskannya.

Sorry, lupa!” Burhan cengar-cengir sendirian.

“Lagi imbang nih. Kita main satu set lagi dulu, ya,” ujar  Nendo dengan suara penasaran.

Mara melihat baseline Nendo sangat kuat. Ia sengaja memberikan bola-bola pendek  di depan net, kemudian memberi loop panjang ke atas belakang. Berkali-kali Nendo gagal mengembalikan bola Mara. Mara mengangkat raketnya ke atas, ketika terakhir Nendo kembali gagal mengembalikan bolanya.

Loe kalah Nen, sama cewek?” goda Burhan.

“Mainnya curang, ngasih bolanya kayak begitu!” dengus Nendo kesal. Ia masih tidak percaya, Mara berhasil mengalahkannya.

“Main kan untuk menang. Ya, pakai strategi, dong!” kilah Mara gembira. Kalau Nendo tidak bermain-main dan menganggapnya enteng  di awal, dia belum tentu menang.

Burhan tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Mara. Baru sekali ini, sahabatnya itu terlihat seperti kehabisan kata-kata. “Loe belajar forehead lagi, Bro!” Burhan menghibur Nendo.

Alis Nendo terangkat ke atas. Dia tahu, Mara memang suka olahraga. Tapi dengan keahlian seperti ini, sama sekali tidak terbayangkan olehnya. Pasti ini salah satu hasil karya mama. “Yang lain belum sampai?” tanya Nendo.

“Lagi di jalan! Kayaknya pada mau sampai makan malam, di sini,” ujar  Burhan santai.

“Makan malam! Bukannya katanya pada punya acara penting?”

Engga tahu, lihat aja di grup!” Burhan memasang wajah innocent-nya. Ia sudah menggambarkan istri Nendo melalui japri pada kedua temannya. Karena penasaran pada Mara, ia menyarankan mereka untuk membuka pembicaraan mau makan malam di rumah Nendo. Keduanya menyetujuinya.

Mara yang langsung mengganti pakainnya yang basah, sudah kembali membawa minuman. Ekor kudanya, nampak bergoyang-goyang.

Setelah Nendo memeriksa di grup, mereka ternyata memang bermaksud makan malam di rumahnya. Ia mengikuti arah pandangan mata Burhan, yang memandang ke satu arah tanpa  berkedip. Memperhatikan Mara yang sedang berjalan ke arah mereka.

“Hei, mata!” seru Nendo dengan suara sedikit kesal.

Sorry … bini loe masih muda banget, Nen?”

“Namanya juga  anak baru lulus SMA?”

“Hahhhh!!!! Beneran loe! Emang anak SMA sudah boleh kawin?”

“Kalau engga gue kawinin sekarang, dia nanti keburu diambil orang.”

“Iya benar juga loe ya… terus mau langsung punya anak?”

Enggalah … dia juga masih mau nerusin kuliah.”

“Mau ngapain lagi kuliah? Duit loe kan udah engga keitung.”

“Kuliah kan engga cuma untuk cari duit, tapi yang paling penting untuk memperluas wawasan.”

“Sekarang apa kesibukannya?”

“Selain nemenin gue... dia ambil Sastra  Inggris di UT …” ketika sahabatnya melihatnya dengan heran, Nendo meneruskan, “… waktu itu kan gue lagi ngurusin renovasi  pesantren mama … jadi dia engga sempat daftar di sini.”

“Ooohhhhh,” Burhan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

“Mas, minumnya,” Mara menyerahkan sebotol air putih pada Nendo.

“Makasih ya.”

“Hm.” Mara duduk di sebelah suaminya.

Tak lama kemudian kedua teman yang ditunggu datang. Karena sudah menjelang sore, mereka hanya main satu set.

Pertandingan kali ini berjalan imbang. Gelak tawa, berkali-kali mengudara. Mara tersenyum sendiri. Menyenangkan sekali, melihat wajah suaminya sudah kembali normal seperti biasa.

Dari jauh dia  melihat Bu Inah kerepotan,  membawa troli yang penuh berisi makanan. Ia segera bangkit berdiri, berjalan  menghampiri Bu Inah.

“Mau keliatan sok baik?” tanya Tari yang tiba-tiba  berjalan  melenggang  di belakang Bu Inah, dengan suara sinis.

“Kasihan Bu Inah.” Tanpa memperdulikan Tari, ia terus  membantu Bu Inah.

“Jangan sentuh makanan-makanan itu! Biar aku yang menyajikannya,” seru sepupunya tajam.

Setelah sampai ke meja batu, yang berada tidak jauh dari lapangan tenis,  Mara segera meninggalkan Bu Inah. Dia kembali menonton pertandingan di lapangan.

“Terima kasih, Bu,” ujar  Bu Inah perlahan.

“Sama-sama,  Bu Inah,” sahut Mara juga dengan suara pelan.

Tari sedang bercanda dengan teman-teman Nendo. “Wah, Mara,  katanya pada mau makan malam di sini sekalian, kita sediain apa ya?”

“Wah, kalau yang nyiapin cewek-cewek cakep, makanannya pasti enak,” ujar Burhan seraya mengerdipkan mata pada Tari.

Nendo memanggil Mara mendekat. Dia mengenalkan Mara, pada Dudi dan Moko. Setelah itu Mara duduk di sebelah Nendo. Nendo mengambil tangan Mara, kemudian menggenggamnya. Sejenak mereka berdua bertatapan, kemudian saling melempar senyum.

Cewek! Bukan cewek-cewek. Yang ini sudah ada yang punya,” ujar  Nendo sambil mengangkat tangan Mara, memperlihatkan cincin yang dikenakan Mara.

flat lay photography of coffee in teacup near plate of sliced cake

source

Tari menyuguhkan snack  serta pesanan minum  ketiga teman Nendo, sembari  tertawa riang.

“Sudah mau Magrib, masuk duluan yuk, Mara?” ajak Tari.

Nendo mengeratkan genggaman tangannya.

“Nanti,  aku bareng sama Mas Nendo,” sahut Mara.

“Kalau begitu, aku duluan, ya … sampai nanti semuanya.”

Bye, Tari. Ditunggu ya, setengah delapan,” ujar  Dudi riang. Dia memperhatikan goyangan pinggul Lestari.

“Dia beneran saudara loe kan , Nen? … waktu gue bilang  ke  Burhan sama Moko, mereka engga percaya.”

“Dia baru semester satu,  tapi—“ kata-kata Moko dipotong Mara.

“Dia sepupu aku.”

“Benar, Mara?” tanya Burhan pada Mara. Matanya beralih dari Mara kembali ke Tari, “Engga ada mirip-miripnya.”

Tuh, kan! Benar kan feeling gue, dia bukan saudara Nendo!” ujar  Moko pada Dudi. “Han! Kembar identik aja masih  ada beda, apalagi ini cuma sepupu. Ima aja beda banget sama Nendo.  Belajar biologi engga sih loe?”

“Duh, yang dosen!” sungut Dudi. “Nendo bisa dapetin anak SMA, masa loe engga   bisa dapetin satu aja mahasiswi sih,  dari segitu banyaknya.”

“Tanya dulu sana, sama Nendo, apa rahasianya?” ujar  Burhan sambil tertawa terbahak-bahak.

“Apa Nen,  rahasianya?” tanya Moko dengan wajah serius.

“Kalau dibilangin, namanya bukan rahasia,” ujar Nendo sembari tertawa.

Mara memperhatikan teman-teman Nendo menyukai masakan daging, dari kue-kue yang disediakan Bu Inah. Ia akan membuat makanan khas korea. Hatinya sangat gembira, ketika di tempat penyimpan ada kimchi.

Karena tidak punya rencana makan malam di rumah Nendo, setelah membersihkan diri, mereka mengelilingi meja makan dengan pakaian santai.

Melihat Nendo mengenakan pakaian santai, untuk menyesuaikan diri dengan teman-temannya, membuat Mara memilih gaun terusan santai selutut berwarna biru eletrik. Dia mengenakan mascara, sapuan tipis blush on,  dan lipstik warna merah bata. Rambutnya diurai. Sendal flatnya senada dengan warna gaunnya.

“Padahal tadi sore makan kenyang banget, kenapa jadi laper lagi ya sekarang?”  tanya Dudi pada Moko.

Makanan di atas meja memang ditata sangat cantik, hingga menimbulkan selera makan.

“Piano loe baru lagi, Nen?” tanya Burhan.

Nendo menganggukkan kepala.

Engga bisa main piano, beli piano bagus-bagus,” ujar  Dudi sambil menaikkan alisnya ke atas sedikit.

Lagi-lagi Nendo hanya tersenyum. Kali ini sangat lebar.

“Mara bisa main piano,” sela Tari dengan suara keras. Dia jengkel sekali, dari tadi sepertinya tidak ada yang memperhatikannya. Dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Kenapa dari tadi Mara ikut tertawa, kalau mereka tertawa.

Begitu semua mata memandangnya, ia langsung menyesal. Ini berarti, Mara akan mempertunjukkan kebolehannya lagi. Kalau ada mama enak, dia pasti bisa mengalihkan perhatian. Mama memang pintar sekali.

Kalau ngomong pakai otak, suara mamanya saat marah pada papa, terdengar jelas di telinganya.

Tari tiba-tiba merasa jijik, ketika ia merasa jadi orang bodoh, seperti papanya.

Bandung Barat, Selasa 11 September 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *