Fiction

Langkah Hati # 59

Bab Lima Belas

Langkah Hati

“Kita mau kemana, Mas ?” tanya Mara, sesaat setelah mereka keluar gerbang rumah, dan melaju di tengah padatnya lalu lintas.

woman and man holding hands

source

“Kau sering sekali  mendengarkan sound musik tentang  pantai. Aku akan mengajakmu ke sana …  tempat aslinya… tapi karena teman-temanku akan datang nanti sore … kita akan ke lokasi terdekat.” Nendo menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Tangannya meraih tangan Mara. Dia mencium lembut punggung tangan istrinya.

“Ada apa, Mas?”

“Hm,” sahut Nendo lirih.

“Bukan sifatmu, ingin menunjukkan apa yang kau miliki?” desak Mara lembut. Wajah Mas Nendo tidak seperti biasanya. Yang sedang dilihatnya saat ini dari samping, wajah yang tidak menampilkan emosi apa pun. Sesuatu yang besar telah terjadi.

Pandangan Mara mengarah ke depan. Sesekali dia melirik wajah suaminya. Masih belum nampak emosi apapun di sana. Dia menoleh ke jendela samping. Inikah yang dimaksud Sayati, laki-laki akan masuk goa, ketika mereka berhadapan dengan masalah? Kali ini masalahnya  pasti sangat  berat.

Subhanallah wa bihamdihi … subhanallah wa bihamdihi … subhanallah wa bihamdihi … otomatis terlantun tanpa jeda,   dalam hati Mara.

Nendo hanya tersenyum kecil, tanpa mengalihkan perhatian dari jalan raya,  menjawab pertanyaan Mara. Tidak ada lagi pertanyaan menyusul.  Dia kembali mencium punggung tangan Mara.  Dia senang, istrinya tidak  mendesaknya memberi jawaban.

Setelah memarkir mobil, dia mengajak Mara berjalan menyusuri pantai. Dia menggenggam tangan Mara  lembut. Tidak nampak seorang pun di pinggir pantai siang itu.

aerial photo of body of water

source

 

Mata Mara memandang hamparan air di hadapannya dengan takjub. “Indah sekali, Mas!” seru Mara gembira.

“Kau menyukainya?”

Mara memeluk Nendo dengan erat. Dia mencium bibir Nendo sekilas, setelah memastikan tidak ada seorang pun di pantai itu. “Alhamdulillah. Terima kasih … Mas baik sekali sama aku.”

Tangan Nendo melingkari pinggang Mara. “Aku senang, kalau itu bisa membuatmu tersenyum.”

“Bukannya aku mudah sekali senyum?”

Nendo tertawa kecil. Dia mengangguk. “Bagaimana pengalaman hari  pertamamu di rumah?”

“Semuanya baik-baik saja. Tadi pagi aku ketemu Ima ….”

“Sikapnya masih seperti dulu?” tanya Nendo dengan mata memandang garis cakrawala. Dia sudah mendapat laporan, bagaimana pertemuan Mara dengan Ima tadi pagi.

“Jauh lebih manis,” sahut Mara tenang.

Nendo menarik nafas panjang. Ia menyukai hati Mara yang lembut dan penuh kasih.

“Syukurlah … pada dasarnya dia anak  baik… aku yang salah,  terlalu memanjakannya … mungkin karena aku merasa bersalah, tidak bisa sering berada di sampingnya … dengan Nisa di dekatnya, mudah-mudahkan sifat manjanya bisa berubah.”

Dia memeluk suaminya. Tidak bertemu beberapa jam saja,  sudah membuatnya merindukan laki-laki itu. Mungkin karena aku tidak mengenal seorang pun di sini.

Tiba-tiba Mara teringat sesuatu.

“Kau tadi menciumku lebih dari lima detik … ” Dia tersenyum di dada suaminya. “Mas tadi  ke kantor?” tanya Mara dengan kepala mendongak.

Tatapan Nendo terpaku pada bibir Mara yang setengah terbuka. Ia mengangguk. “Mereka tadinya ingin menemuiku, tapi mendadak ada urusan penting yang harus kuselesaikan.”

“Mas sudah lama tidak ke kantor. Pasti banyak sekali yang ingin mereka bicarakan sama Mas.”

Nendo tertawa kecil. Urusan kantornya, tidak bisa menunggu selama itu. Setiap detik, berharga bagi  bisnis mereka. “Mereka mau mengucapkan selamat padaku.”

Kepala Mara mengangguk-angguk, dia berpikir sesaat, “Bagaimana kalau kita ajak mereka makan siang di sini?”

“Kau tidak apa-apa?” Alis Nendo terangkat tinggi. Berusaha membaca wajah istrinya.

“Menyenangkan sekali, melihat  mereka secara langsung, setelah banyak mendengar cerita tentang mereka… ajak Jamie sekalian.”

Nendo mengangkat telponnya. “Jamie, tolong pesankan tempat dan menu untuk mereka. Aku akan pesan sendiri makananku. Spesial request dari istriku, katanya Jamie  harus ikut.”

Tidak sampai sejam serombongan orang  mendekati meja Nendo dan Mara  dengan wajah serius. Semua yang datang nampak sangat berhati-hati dan bersikap formal, setelah Nendo memperkenalkan istrinya.

“Pak Rauf, kemarin bertanya, siapa yang menerima telpon dari China?” Nendo membuka pembicaraan setelah mereka semua duduk.

“Ya.  Saya  sangat penasaran. Mereka sangat terkesan dengan kefasihan bahasa China-nya. Karena itu mereka memberikan penghargaan,  dengan memprioritaskan pesanan kita. Selamatlah pesanan besar kita kemarin!”

Nendo tersenyum dalam hati. Strateginya berhasil.  Membicarakan keberhasilan hebat perusahaan, selalu mencairkan suasana. “Mara yang menerima telpon itu,” sahut Nendo singkat.

Semua mata memandang Mara, seolah tidak percaya.

“Saya  sangat suka belajar bahasa,” sahut Mara perlahan, dengan senyum di bibirnya. Pipinya terasa panas.

“Ada bahasa  lain yang kau kuasai?” tanya Pak Rauf penasaran.

“Selain Inggris dan China, saya  belajar bahasa Jepang, Korea, dan Perancis.”

“Kenapa bahasa korea?” tanya Jamie penasaran.

“Saya  sangat suka drama korea yang bagus. Penuh filosofi dan pembelajaran hidup.”

“Bagaimana kalau pembicaraan ini kita lanjutkan dalam bahasa Inggris?” usul Nendo.

“I think that’s a brilliant idea,” ujar  Pak Rauf cepat. Ia masih menyangsikan kata-kata Nendo. Suami mana yang tidak membangga-banggakan istrinya? Walaupun ia tahu, Nendo tidak pernah berkata tanpa dasar.

Dia langsung bertanya pada Mara tentang drama korea dalam bahasa Korea, karena istrinya juga salah satu pecintanya. Mara menjawabnya dengan fasih dan lancar. Ketika Pak Kardi yang kebetulan sering berhubungan dengan klien dan supplier dari Jepang, bertanya dalam bahasa Jepang, Mara menjawabnya dengan bahasa yang sama. Mereka berdua lanjut  bercakap-cakap menggunakan bahasa Jepang.

Mara benar-benar berterima kasih pada Sayati, karena setelah ia belajar bahasa asing,  Sayati akan mengundang kenalan-kenalannya, baik orang Indonesia ataupun orang asing, untuk bercakap-cakap dalam bahasa tersebut. Hingga ia terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa tersebut dalam kesehariannya, selama hampir empat  bulan kemarin.

“Wow, Pak Kardi, you should take a japanese course with Mara,” ledek Jamie.

Semua orang tertawa mendengarnya. acara makan siang dilanjutkan  dalam suasana santai penuh kekeluargaan. Tak henti-hentinya mereka menggoda Mara dan Nendo.

Jamie yang duduk di sebelah Mara adalah seorang wanita setengah baya yang sangat menyenangkan. Mara langsung menyukainya. Mereka berdua langsung merasa akrab satu sama lain.

“Terus terang saya kaget sekali, ketika Pak Nendo mengundang kami makan siang,” ujar  Jamie perlahan.

“Kenapa?” tanya Mara heran.

“Tadi pagi … sudahlah … lupakanlah … anggap aku tidak mengatakan apa-apa, kau keliatan masih muda sekali,” Jamie membelokkan  pembicaraan.

“Ya …  usiaku 19 tahun…” sahut Mara tenang. Karena saat itu, semua orang memang sedang sibuk memasang telinga mendengarkan apa yang dibicarakan Jamie dan Mara, jawaban Mara nampak  mengejutkan  semua orang.

Melihat sekelilingnya terdiam, karena kaget. Mara memandang Nendo. Mereka bertukar senyum.

“Itu akan membuatku tetap awet muda,  bukan?” ujar  Nendo dengan nada bercanda. “Dia baru lulus SMA tahun ini,” lanjut Nendo.

Semua kepala mengangguk. Hanya kali ini  tanpa berkomentar. Percakapan ngalor-ngidul di atas meja,   meliputi berbagai hal. Dari politik sampai olah raga. Dan Mara terlibat aktif, dalam setiap topik pembicaraan. Makan siang itu  kembali berlangsung dalam suasana akrab yang menyenangkan.

Pertemuan  itu menjadi langkah sukses pertama Mara, memasuki lingkungan pergaulannya. Mereka sudah tidak mempertanyakan lagi,  sisi intelektual Mara. Penampilan luarnya yang menawan, diimbangi dengan intelektual yang tinggi. Kemudaannya menjadi nilai tambah, karena sudah menguasai berbagai keahlian di usia yang masih muda.

Nendo melihat dengan hati puas, punggung mereka yang menjauh, dari tempatnya dan Mara berdiri. Tidak seperti kedatangan mereka dengan dengan wajah formal, mereka pergi dengan wajah cerah dan penuh canda tawa. Lingkaran utama bisnisnya, sudah menerima Mara dengan suara bulat.  Mereka mengakui tanpa kata, wanita yang sedang direngkuh pundaknya saat  ini,  memang pantas menjadi pendampingnya.

Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah

Tanpa dikomando, dalam diam, kedua hati yang sedang menatap kepergian sekelompok orang terdekat Nendo, melafazkan ucapan yang sama.

***

“Kirain sudah ada yang datang,” ujar  Burhan sambil duduk di pinggir lapang pada Nendo. Matanya langsung memperhatikan seorang wanita muda yang sedang melakukan service. Bola dengan kecepatan tinggi melewati net, jatuh pas di garis bagian dalam.

“Ace!” seru Nendo kaget, seolah tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Ini ace  kelima kalinya.

Bandung Barat, Senin 10 September 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *