Uncategorized

Rezeki dari Arah Tak Terduga# 61

“Baru belajar,” Mara menetralisir suasana yang tiba-tiba menjadi hening.

“Ayo, Mara. Coba main piano! Pengen tahu, baru belajarnya Mara, seperti apa?”  ujar  Moko. Dia sempat tidak percaya, ketika diberitahu Mara mengalahkan Nendo main tenis. Padahal dari cerita Burhan, istri Nendo baru latihan empat bulan terakhir. Langsung bisa mengalahkan Nendo, walaupun harus jatuh bangun mendapatkan nilai poin per poin? Itu terdengar seperti sebuah keajaiaban.

Mara menoleh ke arah Nendo.

“Engga apa-apa, sekalian latihan untuk besok,” ujar Nendo santai.

“Kenapa besok, Nen?” tanya Dudi.

“Mau ada acara perkenalan Mara. Kebetulan temen mama juga ada yang dateng. Biasanya mama nemenin mereka. Karena masih sibuk banget, mama minta tolong Mara, wakilin mama. Kalau ada waktu, pada datang aja. Kita kumpul lagi. Sudah lama sekali, tidak kumpul seperti ini.”

“Kolega loe kan banyak, kenapa engga bikin resepsi aja,  biar sekalian?” tanya Moko. “Dari pada nanti ada berita miring tentang pernikahan loe.”

“Biar aja kalau ada,” sahut Nendo santai. “Yang penting kan, sudah nikah resmi.”

assorted donuts top of white area

source

Pintu terbuka. Bu Inah masuk membawa hidangan penutup.

“Masih muat engga, nih?” Dudi menepuk-nepuk perutnya.

Dengan sigap, Lestari bangkit dari duduknya, dan langsung membantu Bu Inah membagikan dessert.

Mara membuka lembaran buku  musik yang diberikan Mama. Syukurlah, saat SMP dia sangat serius, saat guru mengajarkan tentang not balok. Hal ini sangat memudahkannya saat  belajar  musik di SMA dan piano sekarang. “Mama minta berapa lagu, Mas?”

“Tiga.”

steamed dumplings on steamer

source

Dua malam berikutnya,  Nendo selalu mendapatkan tepukan di pundaknya. Teman mama sendiri, nampaknya sangat gembira, bisa bertemu Mara. Tak henti-hentinya mereka memuji kecantikan dan kepandaian Mara memasak, dan main piano. Setiap kali Nendo memperkenalkan Mara pada tamunya yang baru datang, keduanya akan segera bergabung.

Nendo tidak bisa berhenti tersenyum. Mara terlihat begitu luwes memperkenalkan diri,  sekaligus mengimbangi setiap pembicaraan para koleganya. Dengan senyum tulus yang membuat wajah istrinya bercahaya, Mara menjadi bintang  yang bersinar di  tengah kerumunan orang.

***

“Keterlaluan!” Bude Parman menggebrak meja makan dengan keras.

“Ada apa lagi, sekarang?” tanya Pakde Parman,  sembari mengangkat pandangan dari koran yang sedang dibacanya.

“Keponakanmu makin kurang ajar!”

Alis Pakde Parman berkerut dalam. “Apa yang dia lakukan?”

“Ngomong pakai bahasa Inggris!”

“Temennya Mama Nendo mana ngerti bahasa Indonesia.”

“Pakai masak dan main piano segala!” teriak Bude Parman histeris. Makanan-makanan yang direkomendasikan Mara, disukai para tamu. Ide-ide tentang pengaturan dekoratif dan rangkaian bunga, membuat suasana semakin hidup dan elegan.  Dia mengepalkan jari. Anak itu tidak bisa dipandang sebelah mata.

Apa yang telah dilakukan Sayati padanya? Pasti anak itu konsultasi dengan Sayati, namun berbuat seolah-oleh itu ide pribadinya.

“Ma, sadar Ma!” Pakde Parman mengguncang tubuh istrinya. Setelah istrinya terdiam, ia berkata, “ Kau ada di sana waktu Mama Nendo telpon. Bu Sayati yang bersikeras.”

“Dia memang orangnya suka pamer!” seru Bude Parman geram. “Kasian anak kita, Pa. Pantas saja, teman-teman Nendo tidak ada yang meliriknya. Mara mendominasi segala-galanya.”

“Aku malah melihat sebaliknya,” Pakde Parman menarik nafas panjang. “Dia tidak melakukan apapun. Hanya tersenyum, bersalaman dengan setiap orang, dan mereka sendiri semua seperti berebut ingin berkenalan dengannya.”

Pakde Parman menarik nafas panjang. Pakaian Mara dan anaknya, bagai siang dan malam. Gaun panjang dan tertutup yang dikenakan keponakannya, membuat Mara terlihat seperti selebritis terkenal di TV. Sedangkan anaknya ….

Dia berpikir sejenak, kemudian melanjutkan,”Kurasa sudah waktunya kita pulang ke rumah. Dari awal, Mara sudah tidak memerlukan kita. Bu Sayati mempersiapkannya dengan sangat baik, agar bisa mendampingi Nendo.”

“Apa katamu? Pulang! Bagaimana kita bisa meninggalkan tempat ini  sekarang  ”

“Nendo bukan orang bodoh, Ma. Dia pasti sudah tahu, kalau Mara bisa melakukannya. Tapi dia tidak mau mempermalukan kita. Aku akan mengatakan padanya, kita akan pulang. Paling lama minggu depan.”

“Jangan macam-macam! Kau harus menuruti perintahku, kalau tidak—“

“Kalau tidak apa?” potong Pakde Parman dengan kepala tegak. “Kalau sekali lagi kata-kata cerai keluar dari mulutmu, aku akan dengan senang hati memberikan talak tiga!” Matanya dengan tajam menghujam mata Bude Parman.

Mata Bude Parman terbelalak. Tidak pernah sekali pun ia membayangkan, suaminya akan berkata seperti itu. Ia menatap kepergian Pakde Parman dengan kebencian luar biasa.

“Dasar laki-laki tidak berguna!” ujarnya perlahan seolah berkata pada dirinya sendiri. “Si kurang ajar Dini, juga menempel pada Mara seperti lintah.” Melalui mata-matanya, ia tahu, hubungan Mara dengan Nendo semakin mesra.

Bibirnya meruncing. Nendo memang terlihat amat protektif pada istri kecilnya. Dia tidak segan-segan menunjukkan kemesraan, di depan mereka bertiga dan para pembantunya. Otaknya berputar keras.

Ima. Ya, dia kan memanfaatkan celah ini, untuk menghancurkan Mara, sampai gadis itu akan lupa caranya tersenyum.

***

“Pakde bilang mereka akan pergi paling lambat minggu depan,” ujar  Nendo.

“Hm.” Mara mengganti posisi tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya ke dada Nendo.

“Lagi baca apa, sayang?” Dagu Nendo mengusap-usap kepala Mara.

“Coba ulangi lagi.” Mara menengadahkan wajahnya ke arah Nendo.

“Yang sayangnya,” ujar Mara lagi, ketika suaminya menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Kenapa memang?” Nendo  tersenyum lebar

“Senang aja dengarnya.” Mara kembali merubah posisinya. Dengan tetap menyandarkan kepala pada dada Nendo. Tapi sekarang matanya bisa melihat wajah Nendo.

Engga mau, ah kalau diliatin seperti itu,” wajah Nendo menjadi merah, karena malu.

“Mas, juga bisa merah ya mukanya?” tanya Mara dengan mata terbelalak.

“Cape, Mara,  belakangan ini?” Nendo membelokkan pembicaraan.

Engga! Kan selalu sama Mas. Lagi pula Dini banyak sekali membantuku … tapi dia tidak pernah mau, kalau kuminta panggil namaku.”

“Kau tidak boleh melakukan hal itu pada sembarang orang.” Alis Nendo berkerut sedikit.

“Aku tahu. Tapi hatiku bilang, dia orang baik … belum ngantuk, Mas?”

“Sudah mulai.”

Dengan malas, Mara bergerak. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur sutra hitam. Ketika Mara sudah terbaring di ranjang, Nendo mengikutinya. “Jangan tidur terlalu malam. Mas,”  ujar  Mara dengan mata terpejam.

“Tidak tidur?” tanya Nendo, ketika melihat Mara kembali  membuka matanya.

Melihat kilatan aneh di mata Nendo. “Kau—“

“Ya … sudah kembali lagi.”

Mara memeluk Nendo erat.

“Bukannya harusnya gembira? Kenapa malah nangis?” Nendo  mengusap-usap kepala Mara dengan lembut.

“Ini  keajaiban! Rezeki luar biasa dari Allah,” Sekujur tubuh Mara dialiri rasa lega. Rasa bersalah yang dipendamnya jauh dalam hati, menguap. “Hanya dalam hitungan bulan?”

“Empat puluh  hari, tepatnya.” Nendo menciun ubun-ubun istrinya.

“Bagaimana mungkin?”

“Cinta menyembuhkan segalanya … kukira  hanya sebuah kata mutiara, sampai aku mengalaminya sendiri  … sudah berhentilah menangis! Bukankah ini adalah sesuatu yang harus kita rayakan?”

Terdengar suara pintu terbuka. “Papa!” teriak Ima kaget.

Mara langsung secara refleks mendorong tubuh Nendo. “Kau tidak mengunci pintu?” tanya Mara lirih.

Nendo tersenyum minta maaf sekilas pada Mara.

“Ima, ada apa?” tanya Nendo. Ia berjalan mendekati Ima. Mengajaknya keluar kamar.

Mara menutupi selimut sampai ke dagunya. Pipinya terasa sangat panas. Tiba-tiba aiphone di kamarnya berbunyi.

“Maaf, aku harus menemani Ima malam ini,” ujar  Nendo dengan suara sangat menyesal di ujung sana. “Katanya dia mimpi buruk,  engga berani tidur sendiri, malam ini.”

“Iya, engga apa-apa.” Setelah berpikir sejenak, Mara meraih hpnya.

“Maaf, Ma. Telpon malam-malam … engga, engga ada apa-apa … Cuma mau ngasih tahu ….

***

“Kenapa Ima?” tanya Mara, ketika melihat wajah Nendo tidak seperti biasanya, saat sarapan pagi.

“Katanya ia ingin tinggal dengan kita,” ujar  Nendo dengan  wajah bimbang.

“Lalu kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Mara sembari menepuk  punggung tangan Nendo perlahan.

“Aku akan bicarakan dulu dengan mamanya … bagaimana menurutmu?”

“Rumah ini memang terlalu besar untuk kita berdua … tapi,  kenapa tiba-tiba ia ingin tinggal dengan kita?”

“Katanya mamanya selalu sibuk, jadi jarang di rumah.”

“Bukannya kau sendiri juga sibuk?”

“Makanya … katanya ia ingin Tari menemaninya di sini.”

“Oooh,” Mara mengerti. Namun dia tidak mengatakan apa-apa.

“Aku tidak tahu, kalau dia dekat dengan Tari. Mereka jarang bertemu. Mara—“ Dengan mata bersinar, Nendo  mendekati Mara.

“Tadi pagi aku mau sholat Subuh, tapi engga jadi,” ujar  Mara lirih.

Mulut Nendo terbuka. Dia duduk di sebelah Mara . “Setelah sekian lama … benar-benar tamu tidak diundang,” ujarnya dengan tubuh lemas.

“Bersyukurlah… berapa discount yang diberikan Allah dari sebelas tahun targetmu?” tanya  Mara sambil tertawa lebar.

“Alhamdulillah ,,, alhamdulillah …”  ucap  Nendo dengan mata terpejam dan tangan memijit-mijit pelipisnya. Ia membuka matanya, menatap wajah Mara dengan tatapan serius,”Berapa lama Mara biasanya?”

“Tujuh hari,” sahut  Mara dengan wajah merona.

“Berarti kita punya waktu,   memikirkan bagaimana bagusnya untuk Ima … aku tahu … ia membencimu,” akhirnya dia bisa juga mengucapkan kata-kata itu.

“Dia masih kecil,” sahut Mara membela Ima.

Nendo menarik nafas panjang. “Kebenciannya padamu, membuatku berat menyatukan kalian. Aku tidak ingin ada sesuatu yang membuatmu susah.”

“Menghindari semua kesulitan, akan membuatku menjadi wanita yang lemah,” sergah Mara. “Bukankah kesulitan yang bisa dilalui, yang akan membuat kita naik kelas?”

“Ima sangat keras kepala.”

“Sama seperti papanya,” Mara tersenyum “Biarkan untuk sementara waktu dia di sini … lagi pula, bukannya Tari juga masih akan di sini sampai minggu depan…”

“Iya juga, ya.”

“Kita lihat aja alirannya ke mana.”

“Terima kasih,’ Nendo mencium pipi Mara sekilas.

“Kenapa di situ?” tanya Mara dengan suara menggoda.

“Bidadari engga boleh jadi setan,” Nendo mencolek ujung hidung Mara.

“Mas, apakah kita akan sering pergi ke acara-acara seperti itu?”

“Tidak. Aku sendiri tidak menyukainya.”

“Syukurlah.”

“Apa rencanamu sekarang? Mau mengelola sendiri fortofoliomu?” Dia melihat. Mara memiliki  insting dan ketertarikan dalam bidang isvestasi

“Iya. Keliatannya itu akan cocok untukku. Aku tidak terlalu suka bertemu dengan banyak orang.”

Nendo menarik nafas lega. Dia juga tidak suka istrinya bertemu banyak orang. “Tidak mau jadi satpamku lagi?” godanya untuk menutupi rasa lega luar biasa.

“Enak aja, jadi satpam! Aku sedang mencari, apa yang akan kudalami. Kemarin-kemarin, aku masih mencari. Apa ada kegiatan sosial di kantormu?”

“Banyak sekali.”

“Apa yang paling darurat?”

“Konseling remaja.”

“Konseling remaja?”

“Ingat! Kau sendiri masih remaja.” Nendo tertawa kecil melihat wajah Mara yang sangat serius.

“Akan kupikirkan lagi, apa yang akan kulakukan selain memperdalam tentang fortofolio.”

“Batasnya sampai tujuh hari.”

“Tujuh hari! Kenapa?”

“Setelah tujuh hari, aku tidak ingin kau konsentrasi ke hal yang lain,” sahut Nendo dengan suara kalem.

Wajah Mara menjadi merah padam, setelah ia mengerti apa maksud suaminya.

***

“Aku sudah mengatakannya pada Nendo, beberapa hari yang lalu. Kita akan pergi paling lambat dua hari lagi,” ujar  Pakde Parman kepada Bude Parman.

Bude Parman tidak bereaksi. Dua hari lagi. Aku sudah memiliki barangnya. Ima sudah di sini. Tinggal menunggu waktu yang tepat.

 

 

Bandung Barat, Rabu 12 September 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *