Fiction

Jalan Pintas # 62

Bab Enam Belas

Jalan Pintas

Mara yang baru saja mengantar suaminya berangkat kerja  berpapasan dengan Ima. Gadis kecil berkuncir dua, yang berjalan dari bagian rumah yang ditempati keluarga Bude Parman, mengenakan pakaian renang. Wajah murung  dan bahu menurun anak itu, entah kenapa menimbulkan rasa ibanya.

“Ima mau berenang?” tanya Mara lembut.

Ima membuang mukanya. Terus berjalan.

Melihat tubuh Ima yang keliatan lesu, insting  Mara  menyuruhnya  mengikuti gadis kecil itu. “Kalau Ima mau, Mbak bisa ajarin Ima berenang.”

Langkah Ima terhenti. Sudah berkali-kali istri papanya mencoba berteman dengannya. Baik saat papanya ada, maupun saat papa tidak ada di dekat mereka. Tapi  lebih sering saat papa tidak di rumah. Seperti saat ini.

Ketika papa meluluskan keinginannya tinggal di sini,  pesan papa hanya satu, papa sayang pada mereka berdua. Dirinya dan istri papa. Papa dan mama sudah tidak mungkin bersatu lagi, karena mereka berdua, sudah memilih jalan masing-masing, belasan tahun lalu.

two bowls of oatmeal with fruits

source

Dia senang, sekarang papa lebih sering di rumah. Dan saat mereka berdua sedang menghabiskan waktu bersama, istri papa pasti meninggalkan mereka berdua. Biasanya memasakkan makanan atau membuatkan minuman,  kesukaan mereka berdua. Setelah memberi makanan dan minuman, sering kali kembali pergi. Walaupun papa menyuruhnya tetap tinggal, selalu saja dia bisa kembali meninggalkan mereka berdua. Namun papa malah senyum-senyum, bukannya marah. Kebiasaan papa kalau keinginannya, tidak dituruti. Entah apa yang dikatakannya pada papa.

Pernah suatu kali, saat papa di rumah, dia sedang menanyakan pr. Tiba-tiba papa harus pergi. Istri papa dengan ramah membantunya,  menjelaskan pelajaran yang tidak dimengertinya. Caranya menerangkan, membuatnya gampang mengerti. Ia  tiba-tiba jadi suka materi itu. Dan saat ulangan  dia dapat nilai 10. Senang sekali rasanya, melihat musuh bebuyutannya melotot marah. Biasanya dia yang mendapat angka tertinggi di kelas.

Dia menceritakan hal itu pada papa. Papa jadi  lebih sering lagi di rumah. Beberapa kali di saat dia sedang menanyakan pr, papa dapat telpon, dan harus segera pergi. Pernah dia nanya Mbak Tari, tapi Mbak Tari engga bisa katanya.   Untung saja istri papa ada di rumah. Walaupun dia benci diajarin istri papa, nilainya pasti paling tinggi saat ulangan.

Karena dia tinggal sama papa, dia harus pindah sekolah. Dia malu  sekali, tadi pagi.  Saat pelajaran berenang, lagi-lagi musuh bebuyutannya sejak dia masuk,  mengejeknya. Dibilang dia  berenang gaya batu, di depan teman-temannya. Mama dan Nenek Sayati  sudah menyuruhnya les renang, tapi waku itu,  ia lebih senang pergi sama teman-temannya.

Perlahan ia membalikkan badannya. Memperhatikan istri papa yang berdiri tegak di hadapannya,  dengan saksama. Wajah itu memberikan senyum yang enak dilihat. Ia tidak menemukan, raut mengejek seperti  muka musuh bebuyutannya. “Aku mau,” sahutnya lirih, seraya memalingkan wajah.

“Bagus sekali! Kalau begitu Mbak ganti baju dulu sekarang. Tunggu sebentar, ya.”

Selintas rasa hangat, menyelinap di hati Ima, melihat istri papa setengah berlari menuju ke kamar. Tanpa sadar bibirnya tersenyum lebar. Dia pasti dapat keajaiban lagi, kalau diajarin sama istri papa. Dia mau lihat, seperti apa wajah musuh bebuyutannya, saat pelajaran renang dua minggu lagi.

gold framed orange lens Aviator-style sunglasses beside pool

source

Mara mengenakan pelampung di kedua lengan Ima.

“Bagian ini tidak dalam, lihat hanya sedadamu. Lagi pula kau menggunakan pelampung. Kau tidak akan tenggelam,” ujar Mara,  begitu melihat sinar ketakutan di mata Ima. Ima memegang tangannya kencang sekali.

“Pegang pinggiran ini!” Mara memegang bagian bawah perut Ima. “Luruskan kakimu, mulai gerakkan ke atas dan bawah. Bagus! Ya, bagus! Terus seperti itu.”

Mara tersenyum gembira. Karena termasuk anak yang berani dan berkemauan keras, Ima dengan cepat bisa menguasai gaya katak. Walau pun kadang-kadang dia masih kesulitan mengambil nafas. Dia sudah bisa berenang, dari ujung ke ujung, lintasan pendek.

“Kalau sudah cape, istirahat dulu!” ujar Mara ketika Ima sudah berada di ujung lain kolam. Dia berjalan di dalam kolam renang mendampingi Ima.

Ima berhenti. Nafasnya terengah-engah, namun wajahnya terlihat gembira. “Aku sudah bisa berenang!” teriaknya gembira.

Mara ikut tersenyum lebar. Kepalanya mengangguk. “Ya. Tinggal sering latihan. Kalau gaya ini sudah kau kuasai, kita akan belajar gaya yang lain. Naiklah! Kita sudah dua jam di sini. Bibirmu sudah kebiruan. Kalau mau, kita bisa berlatih lagi, besok  sore.”

Ima mengiyakan dengan gerakan kepalanya.

Mara keluar dari kolam renang.  Ketika melihat Ima kesusahan keluar dari kolam, Mara mengulurkan tangan. Tiba-tiba ia  melihat kilatan jahil di mata Ima. Sebelum menyadarinya, tubuhnya sudah kembali tercebur.

“Ima!!!!!”

Ima tertawa-tawa.

Tiba-tiba Mara mendapatkan inspirasi. “Perhatikan, aku akan memperlihatkan gaya-gaya yang lain.” Ia berenang dari satu sisi ke sisi lintasan panjang kolam renang. Memakai keempat gaya secara bergantian langsung. Masing-masing gaya satu putaran.

Mata Ima melihat dengan kagum. Istri papa berenang dengan gerakan indah dan lincah. Setelah selesai, dia tidak keliatan cape. Dadanya sama sekali tidak keliatan naik turun sepertinya. Padahal satu lintasan pendek saja, sudah membuatnya kehabisan nafas. Dia pengen bisa berenang seperti istri papa. Ima tersenyum lebar, membayangkan dia sendiri yang berenang sejago itu.

Dia juga mau minta ajarin belajar piano. Nenek Sayati pasti kaget, kalau dia sudah bisa main piano lagu kesukaannya.

“Masih menjadi herder, Dini?” tanya Bude Parman yang tiba-tiba muncul dan berdiri di sebelah Dini.

“Mereka akan segera menjadi teman baik,” ujar Dini tanpa menoleh ke arah Bude Parman.

Keduanya melihat Mara dan Ima tertawa-tawa di kolam renang. Dengan dengusan kesal, Bude Parman segera membalikkan tubuhnya. Ia memasuki kamar Tari. Dilihatnya anak gadisnya masih tidur.

“Bangun, Tari! Ini sudah jam 11.00.”

Tari membuka matanya. Kemudian menutupnya lagi, sambil menarik selimut sampai  menutupi kepala.

“Tari bangun! Lihat! Ima berenang sama Mara.”

“Ya, harus begitu,” ujar Tari dengan malas dan mata terpejam. “Dia bangunin aku pagi-pagi sekali, minta ajarin berenang. Aku marahin dia.”

Bude Parman langsung menarik selimut Tari.

“Kamu apain? Kamu marahin? Dasar anak bodoh!” seru Bude Parman marah.

Mata Tari langsung terbuka, mendengar kata bodoh.

“Belum saatnya kita berlaku sekehendak hati kita. Nanti kalau kau sudah menikah dengan Nendo, baru kita balas tingkah lakunya yang menyebalkan itu. Sekarang kita harus bersabar dulu.”

Tari menatap wajah marah mamanya.

Menikah dengan Nendo, secepat ini? Bagaimana dengan Mara? Ah peduli  amat! Semakin cepat melihat wajah itu bengkak karena air mata, semakin baik baginya. Tapi kenapa mama menyebutnya bodoh? Apakah aku bodoh seperti Papa?

Tiba-tiba ia merasa jijik pada dirinya sendiri.

“Kapan aku bisa menikah dengan Nendo, Ma?”

“Serahkan pada Mama! Mama akan mengaturnya. Ayo bangun sekarang!”

Kalau Mama sudah mengatakan hal itu, biasanya itu akan menjadi kenyataan. Hatinya menjadi lebih tenang. Ia gembira, membayangkan jadi istri Nendo. Punya barang-barang baru mahal. Tapi tiba-tiba bibirnya meruncing. Siapa pun yang melihat mereka berdua, pasti tahu, keduanya benar-benar saling menyukai.

Nendo selalu menyentuh Mara. Entah menggandeng atau hanya sekedar meletakkan tangannya di bahu Mara. Dan hanya dengan itu saja, wajah Mara akan berubah menjadi merah dan dia akan mulai tersenyum.

Pacar-pacarnya tidak pernah seperti itu. Mereka hanya akan berlaku mesra, kalau menghendaki sesuatu darinya. Dan karena tidak ingin kehilangan mereka, ia memberikan apa pun yang mereka minta darinya. Dengan itu, tidak seperti teman-temannya yang lain, dia tidak pernah tidak punya pacar.

Begitu putus dengan seseorang, mereka akan berebut menjadi pacarnya. Apalagi dia sendiri sangat royal. Uang jajan yang diberikan mamanya sangat besar. Ia bebas, ingin mentraktir dan berteman dengan siapa pun.

“Temanmu yang tinggi tadi ke sini. Mama mengusirnya!”

Tari diam saja. Ia tahu, kalau mamanya  lagi  marah-marah, dan ia mengatakan sesuatu yang tidak disukai mama, mama pasti akan marah lagi padanya. Kakak tingkatnya pasti minta jatah. Tari merasa dadanya dipenuhi rasa bangga.

Laki-laki keren yang menjadi buah bibir di kampus dan menjadi incaran para mahasiswi, takluk padanya. Ia tidak ingin kehilangan laki-laki itu. Setelah mengirimkan pesan, ia bergegas bangkit.

“Mau ke mana?” tanya Bude Parman.

“Kuliah, Ma! Ke mana lagi?” Tari memperhatikan bayangannya di cermin.Tubuhnya berbentuk indah. Kulitnya putih mulus. Mama selalu ribut menyuruhnya luluran. Namun sekarang ia merasa  senang. Pacar-pacarnya selalu memuji kulitnya yang halus dan lembut. Ia menambahkan lipstik merah di bibirnya, yang mereka bilang sangat seksi.

“Apakah tidak berlebihan dandananmu?” tanya Bude Parman dengan alis berkerut.

“Sekali-kali datang dong ke kampus aku! Baju mereka terbuka, Ma.” Ia membuka atasannya. “Seperti ini.” Melihat muka ngeri mamanya, dia segera tertawa, dan kembali mengenakan atasannya. “Ma, minta uang dong!”

Bude Parman memberikan uang.

“Masa cuma segini, Ma?” Tari melihat lima lembar uang ratusan ribu di tangannya. Wajahnya tersenyum lebar ketika Bude Parman kembali membuka dompetnya.

“Papamu harusnya lebih pintar cari uang!” gerutu Bude Parman. “Dikirain murah kali, nguliahin anak.”

“Iya, Ma! Marahin aja! Suruh papa cari uang yang banyak. Pergi dulu ya, Ma.” Dengan langkah bergegas,  ia berjalan menuju mobil keluaran terbaru,  yang dipinjamnya dari garasi Nendo. Kakak tingkatnya tidak suka menunggu. Karena tinggal nunjuk, dari puluhan pemuja, posisinya bisa digantikan dalam sekejap.  Keliatannya dia sedang tidak senang hati, pesannya bahkan belum dibaca. Dia mempercepat langkahnya.

Tari memainkan  rambut panjangnya dengan senyum lebar. Ah gampang. Kalau dia memenuhi keinginan laki-laki keren itu, senyum yang membuat  setiap mahasiswi  mabuk kebayang, pasti tersungging lagi di wajah itu.  Tari melepaskan atasannya dan melemparkannya ke kursi belakang.

***

“Ima! Ima!” Mara mencari ke sekeliling rumah.

“Dini, tolong bantu cari Ima.” Mara keluar rumah. Taman model Jepang  yang luas di sekeliling rumah suaminya menghalangi pandangannya. Ada yang melihat, Ima berlari masuk ke sana belum lama.

“Ima! Ima!” Dia mencari diantara pohon-pohon yang besar dan rimbun. Tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis dari atas pohon.

Bandung Barat, Kamis 13 September 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *