Fiction

Keberuntungan VS Kesempatan Terakhir # 63 (3 Episode Terakhir)

Dia menemukan Ima sedang duduk menangis  di dahan  sebuah pohon besar. “Ima! Ayo, turun sayang!” ujar  Mara dengan nada membujuk.

Engga mau! Mama jahat!”

“Mamamu kenapa?… ayo sayang, turun dulu!”

Engga mau! Mama bohong!”

“Bohong kenapa? Ayo! Ima turun dulu, ceritain  ke  Mbak!.”

 

brown mountain under cumulos clouds

source

Mara memandang langit yang berawan hitam tebal dengan khawatir. Angin kencang menerbangkan rambutnya.

“Ima, ayo turun!” Gemuruh suara hujan terdengar di kejauhan. Tiba-tiba tetesan hujan menyentuh kulit Mara.

“Aku engga bisa turun!” teriak Ima  ketakutan di sela tangis kerasnya.

“Ya sudah. Kamu di situ saja! Mbak yang naik,” Baru selangkah kaki Mara bergerak, dia mendengar suara derak pohon.

“Loncat, sayang! Dahannya mau patah!” seru Mara dengan suara yang berusaha ditenangkannya.

Mara melambaikan tangannya ke arah Dini.

Dini  segera berlari menghampirinya. Tiba-tiba Mara kembali  mendengar suara berderak.

“Mbak!” suara Ima terdengar sangat takut, bercampur deru hujan deras dan angin kencang.

“Lepaskan tanganmu. Mbak tangkap di bawah!” seru Mara dengan kecemasan yang tidak bisa lagi disembunyikannya. Dahan berukuran besar itu semakin miring. Suara deraknya semakin keras. Suara kilat menyambar seperti  tepat di atas kepalanya.

“Ima! Lepaskan tanganmu!” teriak Mara.

Ima yang ketakutan kaget mendengar suara Mara. Tanpa sadar  melepaskan tangannya.

Tubuh Mara terjatuh menahan berat badan Ima. “Lihat, Mbak sudah bilang akan menangkapmu, bukan?” tanya Mara dengan wajah tersenyum namun penuh airmata.

“Mbak!” Ima memeluk tubuh Mara yang berada di bawahnya.

“Awas!!!!” Mara mendengar Dini berteriak keras.  Ia melihat ke atas.

“Awas!” Dengan sekuat tenaga ia melemparkan tubuh Ima ke samping. Dia hanya sempat menutupi wajahnya dengan tangan.

***

Secepat mungkin Dini berlari mendekati tempat  Mara berdiri. Dia menahan nafas, sembari mempercepat lainya,  melihat Ima melayang dari atas pohon. Dahan  terlihat semakin miring.

“Awas!!!! Mara, pergi dari situ!!!!!! Teriaknya seraya  berlari sekuat tenaga. Matanya melotot, ketika melihat dahan itu menimpa tubuh Mara, setelah ia melemparkan Ima.

Dengan segera ia sampai di sana. Memindahkan dahan besar  dari atas  tubuh Mara.

“Mara! Mara!” dengan tangan gemetar ia mencoba membangunkan Mara. Bernafas  sedikit lebih lega, ketika memeriksa nadi Mara masih berdenyut. Ia tidak berani memindahkan tubuh Mara.

Ketika Mara tidak bereaksi, ia meraih ponselnya, menelpon petugas kesehatan yang memang sudah standby di rumah Nendo, untuk berjaga-jaga. Menekan tombol lain, mengabarkan keadaan darurat, Sirene tanda bahaya meraung-raung. Ia segera memeluk dan menjauhkan Ima dari Mara.

“Sudah, jangan menangis! Mbak Mara engga apa-apa!” ujarnya pada Ima.

“Mbak Mara! Mbak Mara!” Ima meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri sambil menangis histeris.

“Jangan ke sana. Badan Mbak Mara jangan  digerakkan! Akan membuatnya lebih parah lagi, nanti!”

Mendengar kata-kata tegas Dini, baru Ima berhenti meronta. Ia memeluk Dini erat, menangis histeris. “Mbak Mara, bangun! Mbak Mara, maafin Ima!”

Dini berusaha mengatur emosinya. Hujan deras membasahi mereka bertiga. Kilat menyambar-nyambar tanpa henti. Suara geledek serasa memecahkan gendang telinga.

“Ima tunggu di sini dulu, ya! Saya mau lihat, kondisi Bu Mara dulu.” Melihat Ima mengangguk dengan wajah basah. Campuran airmata dan hujan. Dini segera  melepaskan pelukannya.

Dia berjalan mendekati Mara. Matanya  terpaku melihat tubuh Mara yang terbaring kaku. Tangannya menutupi wajah  cantik yang terpejam, hingga terhindar dari derasnya tetesan hujan.  Suara gesekan keras  daun dengan ranting,  dibarengi tangisan histeris Ima, membuat suasana  semakin  mencekam.

Lama sekali rasanya ia menunggu, sampai beberapa pria dan wanita berseragam putih datang membawa tandu. Mereka memindahkan tubuh Mara dengan sangat hati-hati, setelah memasang penyangga leher untuk Mara.

Wajah Nendo pucat pasi. Di jalan ia sudah mendengar apa yang terjadi. Syukurlah dia belum jauh dari rumah. Beberapa penjaga sudah berada di sana. Melihat tubuh Mara yang tidak bergerak  di tanah dari kejauhan, Ima yang menangis histeris di sebelah Dini yang berada di dekat Mara, membuatnya terpaku beberapa saat.

Begitu tersadar dia langsung  berlari secepat mungkin. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara takut.

“Bagian kepala luka. Untuk lebih jelasnya, kita akan adakan pemeriksaan dulu di rumah sakit, Pak,” sahut dokter yang memeriksa Mara.

Ima berhambur ke pelukan Nendo. “Maaf, Pa … maaf Pa, aku yang buat Mbak Mara  tertimpa pohon.”

“Sudah … sudah. Tidak apa-apa. Papa mau ke rumah sakit dulu, ya.” Nendo menepuk-nepuk punggung Ima.

“Aku ikut,” Ima memeluk tubuh Nendo dengan kuat.  Tidak bisa berhenti menangis. “Mbak Mara tadi jatuh pas nangkap aku, Pa.”

“Jangan! Nanti kalau sudah selesai di periksa, Papa akan bawa Mbak Mara  lagi ke rumah. Sekarang kamu sama Tante Dini dulu, ya.” Nendo menyerahkan Ima ke  Dini.

“Maafkan, saya, Pak,” ujar  Dini dengan suara tersendat. Kepalanya tertunduk. Tidak berani melihat wajah Nendo.

Tangan Nendo menepuk-nepuk pundak Dini dengan lembut, melihat wajah itu pucat bagai mayat. “Ini bukan salahmu. Tidak apa-apa. Aku titip Ima dulu.”

Dini mengangguk. Ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Dia tidak pernah terlibat secara emosional, pada orang-orang yang dijaganya. Tapi, seperti semua orang yang dilihatnya, Mara  juga membuatnya jatuh hati padanya.

Sikapnya yang ceria dan tulus, upayanya yang terus menerus menawarkan persahabatan, meluluhkan hatinya tanpa disadarinya. Airmatanya tidak dapat di tahannya, melihat rombongan orang yang membawa tandu dan pundak Nendo yang turun ke bawah. Ia benar-benar berharap, wajah cantik itu bisa tersenyum lagi padanya.

close-up photography of woman wearing white top during daytime

source

“Mara sudah sadar?” tanya Bude Parman gembira. “Sudah boleh dijenguk ya?”

Setelah menunggu dua hari yang rasanya seperti dua abad. Keberuntungan akhirnya memihaknya. Dia memang selalu ditakdirkan, jadi orang yang  selalu beruntung. Bibirnya tersenyum lebar. Kecelakaan itu membuat rencananya lebih mudah dijalankan.

“Iya. Kata Si Inah,” Tari membaringkan tubuhnya tanpa semangat di sofa. Semua bajunya sudah di masukkan  ke koper-koper.

Mamanya membuatkan segelas minuman. “Ayo, kita jenguk Mara, sebelum pergi! Mama sudah buatkan minuman, untuk menyegarkan, Mara.”

“Mama buatin minuman untuk Mara?” tanya Tari dengan nada  iri.

“Dia kan lagi sakit, sayang. Kita harus baik sama dia dong. Bagaimana pun juga, dia itu keponakan Mama.”

“Kita engga perlu di sini, Ma?” tanya Tari penuh harap. Rumah ini sangat menyenangkan untuknya.

“Mama Nendo  mau  datang. Kamu pernah ketemu Bu Sayati, kan? Mama engga mau dekat-dekat penyihir itu,” Bude Parman bergidik. Membayangkan tatapan tajam Sayati padanya setiap saat.

“Ma, aku juga mau dibuatin minuman dong, sama Mama.”

“Kamu kan sudah besar.” kilah Bude Parman. “Nah! Inah!”

Langkah Bu Inah tergopoh-gopoh menghampiri Bude Parman. “Iya, Bu.”

“Lama benar, sih dipanggil! Punya kuping, engga?”

“Maaf, Bu.” Tubuh Bu Inah mengkerut ketakutan.

“Buatkan minuman untuk Non Tari. Engga pakai lama!”

Setelah bayangan Bu Inah lenyap dari pandangannya, Bude Parman membalikkan tubuhnya ke arah Tari.

“Kenapa dari semalam kamu bengong terus. Tenang aja, engga lama lagi, kamu pasti jadi istri Nendo. Mama janji.”

“Benar, Ma!” tanya Tari semangat. “Mama janji?”

“Mama janji,” ujar  Bude Parman yakin. Ia bernyanyi kecil menuju kamarnya. “Ayo, pakai baju paling bagus! Kau harus keliatan cantik di depan Nendo.”

“Ok, Ma.” Tari tersenyum puas. Ia memang tidak pernah, tidak punya laki-laki menarik di sekelilingnya. Kemarin sore, setelah dia memberi yang diminta kakak tingkatnya,  tiba-tiba laki-laki itu bangkit dan berkata ia tidak ingin bersama Tari lagi. Dia tidak bisa terima, diperlakukan seperti itu oleh mama Tari.

Tari langsung mengeluarkan dompet. Alis pacarnya naik sedikit, saat menerima dompetnya. Ia mengambil semua uang yang ada di dalamnya, tanpa berkata apa-apa. Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk. Pacarnya langsung membukakan pintu.  Seorang gadis cantik yang tidak dikenalnya, berjalan di belakang pacarnya. Pacarnya mengenakan arloji  hadiah ulang tahun darinya dengan cepat.

“Temanku  mau  ke pesta. Dia tidak punya teman  minta aku temenin …  bilang ke perempuan bermulut ular itu, sumpal mulutnya pakai lakban, kalau tidak bisa berhenti ngomong! ” ujarnya santai. Keduanya keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Kejadiannya begitu cepat, hingga Tari tidak menyadari apa yang sudah terjadi. Gawainya dibanting, ketika menelpon pacarnya,  yang didengarnya adalah nada sibuk.

Lagi-lagi mama benar. Seharusnya dia tidak usah membantah apapun yang dikatakan mama. Tari mengepalkan tangannya.  Dia dicampakkan terang-terangan. Setelah menjadi istri Nendo,  dia akan membalas penghinaan ini. Dia tidak akan menerima perlakuan kelas dua lagi.

Dia akan minta mobil sport baru yang lebih mewah dan mahal, dari mobil Mara. Akan dia buat, laki-laki mata duitan itu keluar biji matanya, melihat kekayaannya yang tidak bakalan habis tujuh turunan.

Bu Inah masuk, membawa gelas yang sama. Tari memperhatikan kedua gelas tersebut. Mulai sekarang dia  tidak akan menerima perlakuan kelas dua.

Dia meminum air dalam gelas sampai habis. Ada sedikit pahit, tapi hatinya terasa puas. Dengan langkah gembira, dia masuk kamar dan berganti pakaian.

Ketika keluar kamar, dengan wajah heran ia berkata, “Tumben Mama pakai baju longgar?”

“Kan keliatan lebih sopan. Sudah, kamu kayak polisi aja, nanya-nanya terus!” kilah Bude Parman tajam dengan dahi mengernyit dalam.

Tari tidak bertanya lagi, ketika melihat mamanya menyembunyikan gelas minuman untuk Mara,  di balik baju longgarnya.

Bandung Barat, Jumat 14 September 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *