Fiction

Buah Keputusan dan Tindakan # 64 (2 Episode Terakhir)

Ketika Bude Parman dan Tari memasuki kamar Mara, Nendo ada di dalam. Tiba-tiba gawai  Nendo berbunyi. “Maaf, saya akan terima di luar.”

“Silakan, Nendo … kami juga tidak akan lama … mau pamitan aja, sama Mara,” ujar  Bude Parman dengan perasaan luar biasa gembira. Semuanya seperti sudah diatur  di  atas nampan emas baginya.

“Bude,” Mara memaksakan senyum.

brass-colored cup filled with crushed ice with mint

source

“Tidak usah bangun, Mara. Maaf baru sempat datang,” ujar  Bude Parman. Ia mengeluarkan gelas berisi minuman dari balik bajunya, kemudian meletakkannya di meja kecil, di samping ranjang besar Mara.

“Bagaimana perasaanmu? Masih pusing?” tanya Bude Parman penuh perhatian.

Tari mengerutkan alisnya, mendengar suara mamanya  sangat lembut. Dia tidak pernah mendengar mamanya berkata seperti itu  padanya.

“Mau minum Mara? … ini,  akan membuat tubuhmu terasa segar,” Bude Parman mengambil gelas, menyorongkan sedotan ke bibir Mara.

Perasaan marah  dan iri Tari berubah menjadi puas, ketika melihat gelas itu.

Dengan terpaksa Mara menyedotnya. Ketika akan berhenti, Bude Parman terus memaksanya. Setelah menghabiskan setengah gelas, ia sudah benar-benar tidak kuat.

“Sudah, Bude terima kasih.” Walaupun perutnya mual, tetapi tubuhnya terasa lebih enak. Dia memang belum makan apa-apa. Minuman yang terasa manis itu, seperti memberinya tenaga.

Bude Parman langsung ke kamar mandi. Ia  membuang sisa minuman dan  mencuci bersih gelas itu. Memasukkannya  ke dalam tasnya, dengan sangat hati-hati. Setelah itu,  mereka berpamitan pada Mara. Nendo tidak keliatan. Mereka hanya bertemu dengan Dini,  yang menjaga dengan wajah tegang  di depan kamar.

Pakde Parman mendekati mereka. “Ayo, kita berangkat sekarang!”

woman holding white mug while standing

source

Ketika sudah sampai dekat mobil, Bude Parman menghentikan langkahnya.

“Katanya kamu mau menceraikan aku?” Wajah cantiknya dengan angkuh menatap Pakde Parman.

“Maaf, waktu itu aku lagi emosi,” ujar  Pakde Parman lirih, setelah menarik nafas panjang.

“Sekarang aku lagi engga emosi,” Bude Parman tersenyum lebar. “Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Aku minta cerai, talak tiga langsung.”

“Jangan gegabah, Ma. Coba pikirkan  Tari!”

Senyum semakin lebar tersungging di bibirnya. Sejak tahu mobil-mobil mewah itu bukan milik Parman, dia tidak sudi mengandung anak pembohong besar itu.

“Tenang saja, Tari bukan anakmu. Jadi kau tidak perlu khawatir. Ada satu permintaanku, kita akan umumkan ini secara terbuka tiga bulan lagi. Tapi mulai saat ini, kau  tidak boleh tidur di rumah.”

“Ayo, cepet. Panas nih!” teriak Tari marah dari samping mobil. “Aku pusing.”

Pakde Parman melihat ke arah Tari sesaat, dadanya terasa lega luar biasa. “Kau yakin dia bukan anakku?”

Kepala Bude Parman menggeleng sembari tersenyum puas. “Bukan … aku  tidak sudi mengandung anakmu. Aku sudah memastikannnya dengan tes DNA.”

Pakde Parman lagi-lagi  menarik nafas lega. Beban dan rasa khawatir  yang dirasakannya bertahun-tahun selama melihat pertumbuhan anak itu,  menghilang tanpa bekas. Pantas saja dia seperti merasa  tidak ada ikatan batin, dengan anak itu.

Walaupun selalu mencoba mendekati Tari, sinyal ‘jauhi Tari’  yang diberikan istrinya tidak sanggup dia abaikan. Kasih sayangnya, dicurahkannya dalam bentuk memenuhi kebutuhan anak itu, melalui permintaan segunung istrinya.  Tiba-tiba timbul rasa kasihan melihat Tari.

“Seharusnya kau mendidiknya dengan lebih baik,” ujar Pakde Parman.

“Jangan ajari aku bagaimana mengurus anakku! Urus saja dirimu sendiri!” kilah Bude Parman sengit dengan mata melotot.

Kepala Pakde Parman mengangguk-angguk sembari tersenyum prihatin.

“Aku selalu  memberikan semua uang yang kuhasilkan padamu. Yang kupunya hanya ini!” Pakde Parman menyerahkan kunci mobilnya.

“Aku tidak akan berbasa-basi untuk mencoba menolaknya.”

“Tidak perlu … aku memberikannya sukarela,” Dada Pakde Parman mengembang lega. Senyum merekah di bibir Pakde Parman,  melihat Bu Siti, kepala pengurus rumah tangga  Nendo,  yang sedang berjalan di lorong rumah.

Mata Bude Parman mengikuti arah pandangan Pakde Parman. “Dasar kampungan, seleramu tidak berubah!”

“Kita sudah bercerai, kau sendiri yang minta talak tiga!” ujar  Pakde Parman mengingatkan.

Bude Parman mengibaskan tangan dengan angkuh. “Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan.  Tapi … jangan beritahu Nendo sekarang!”

“Takut diusir?” Alis Pakde Parman naik tinggi

“Dasar laki-laki tidak berguna! Tidak tahu diuntung!—”

Tanpa menunggu kata-kata Bude Parman selesai, Pakde Parman meninggalkan Bude Parman, “Bu Siti! Bu Siti,” suara teriakannya terdengar gembira.

Bude Parman mengenakan kacamata hitamnya dengan perasaan jijik. Dasar laki-laki berselera rendah. Pembohong bodoh. Untung aku sudah tidak memerlukannya lagi!

Ia harus segera meninggalkan tempat ini. Dia  dan Tari, harus membeli  gaun berkabung hitam yang sangat indah, untuk pemakaman.

Setelah itu, ia akan melakukan apa pun yang diinginkannya. Sebagian uang yang diberikan suaminya, tersimpan aman di dalam rekening banknya. Cukup untuk beberapa bulan, sampai Nendo akan meminta Tari menjadi istrinya, Demi Ima.

Ia menyetel tape. Ikut menyanyikan lirik lagu lama, yang mengingatkannya  pada  masa mudanya yang sangat menyenangkan, sebelum papanya bangkrut. Ketika sampai ke dekat jalan yang akan melewati rel kereta, ia membuka jendela. Membuang gelas, sedotan dan tisu yang membungkus keduanya. Mengagumi kecerdikannya sendiri.

Dari dulu, semua temannya memang mengagumi kepandaiannya, mengorganisir pesta. Semua pesta yang diaturnya, selalu mendapatkan acungan jempol dari mereka. Sekarang, ia sedang mengatur pesta untuk dirinya sendiri. Senyumnya mengembang lebar.

Gawainya berbunyi.

”Halo,” sahutnya riang. “Jadi dong… sekarang aku kan sudah bebas.”

Ia menjalankan mobilnya perlahan. Melihat orang-orang di pinggir jalan berteriak-teriak. Tapi seperti biasa, ia  mengacuhkan semua orang yang tidak selevel dengan dirinya.

Matanya melirik sekilas ke arah mural  mata yang melotot menatapnya, di tembok yang membatasi rel.

Kenapa rel ini selalu membuatku takut, kalau melewatinya?

Pandangannya teralih pada Tari yang berwajah pucat. Melihat Tari memegangi perutnya, ia langsung mematikan gawainya dengan tubuh menggigil.

Jangan-jangan! Dasar anak bodoh!

“Kau minum air yang kubuatkan untuk Mara?” tanyanya dengan mata terbelalak ketakutan.

Senyum puas tersungging di bibir Tari yang pucat.

“Mama tidak pernah membuatkanku minuman.  Aku mau minuman, yang dibuat tangan Mama sendiri,” sahut  anaknya  lirih.

“Dasar anak bodoh!” teriak Bude Parman sambil menampar pipi Tari sekuat tenaga.

Tangan Tari memegang pipinya yang terasa sakit. Namun dalam hatinya, jauh terasa lebih menyakitkan. Airmatanya  langsung berlinang.

“Aku bodoh, Ma?” tanyanya dengan perasaan sedih. Kepalanya bertambah pusing.  Perutnya semakin sakit. Dari sudut mulutnya terasa keluar sesuatu, tapi ia tidak bisa mengangkat tangan untuk membersihkannya.  Dadanya terasa sesak. Dia mulai susah bernafas.

“Aku mau …  jadi wanita cantik dan pintar …  seperti  Mama ….” ujarnya lemah. Melihat mamanya sibuk melepaskan seatbelt-nya, ia melihat keluar jendela.

“Ma …  kereta …. ” ujarnya semakin lirih. Nafasnya terasa semakin sesak. Kengerian hebat menyerangnya.

Bude Parman menengok ke arah samping. Mobilnya berhenti di tengah-tengah rel. Suara dencitan rem terdengar  memekakkan telinga. Ia mencoba menjalankan mobilnya, karena terburu-buru,  mesin mobilnya malah mati. Ketika akan menstater kembali dengan tangan gemetar, ia justru menjatuhkan kunci mobil ke dekat kakinya.

Tangannya menekan-nekan  tombol untuk melepaskan seatbelt dengan panik. Seatbelt-nya akhirnya terbuka. Matanya melirik mulut Tari  yang  sudah dipenuhi busa. Ketika menoleh  ke jendela, kereta sudah begitu dekat dengan mobilnya.

Parman sialan! Dasar laki-laki pembawa sial!

Bandung Barat, Sabtu 15 September 2018

Salam

Cici SW

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *