Fiction

Doa Hati di Keheningan Jiwa # 65 Episode Terakhir

Bab Tujuh Belas

Doa Hati di Keheningan Jiwa

landscape photography of mountains with cloudy skies during golden hour

source

“Kenapa baru memberitahuku sekarang?” tanya Mara dengan nada lembut  menegur.

“Aku ingin kau benar-benar pulih, sebelum mendengar semua cerita ini,” Nendo menatap mata Mara  penuh kasih.

Mara menghela nafas. “Sebenarnya, aku kasihan pada Tari.”

“Ya, aku tahu … kalau tidak, kau tidak akan mengakui Tari sepupumu, ketika teman-temanku mulai membicarakannya.”

Wajah Mara menunduk. Ia sudah membaca diary almarhumah Tari. Tulisan-tulisannya seperti jeritan minta tolong, walau ia menuliskan kemenangan-kemenangan di dalamnya. Karena nama Mara banyak disebut, di awal penulisan diary, Pakde Parman menyerahkan diary itu pada Mara.

“Tari sedang hamil?” Matanya menatap jauh ke samudera luas.

“Ya …. beruntung Pakde Parman mengetahui Tari bukan anaknya,  sesaat sebelum kecelakaan maut itu.”

Mara menoleh ke arah suaminya, “Bagaimana mungkin?”

“Apanya yang bagaimana mungkin? … kita harus menjaga anak-anak kita dengan sangat hati-hati … memberikan kasih sayang pada mereka, hingga mereka tidak perlu mencarinya di tempat lain, atau dari orang lain.”

Mara mengangguk menyetujui.

“Kenapa, Mas?” tanya Mara ketika tiba-tiba tubuh Nendo bergetar.

“Racun itu … tadinya racun itu yang akan diberikannya padamu.”

Mara mengangguk perlahan.“Saat itu aku juga heran, kenapa tiba-tiba dia penuh perhatian padaku. Tapi …  aku tidak berpikir, Bude Parman mampu berbuat sejauh itu.”

“Mara,” Nendo mendekap tubuh Mara dengan erat. “Aku tidak tahu, apa yang harus kulakukan, kalau kau sampai minum racun itu.”

“Karena itu, jangan memikirkan seandainya!” ujar  Mara seraya belik memeluk erat  tubuh suaminya.

 

man and woman in wedding attire holding each other

source

Perlahan Nendo melepaskan pelukannya. Menjauhkan tubuh Mara dari dirinya.

“Tujuh harinya jadi dua bulan,” ujar  Mara lirih dengan suara bergetar.

“Lima puluh delapan hari,” Nendo membetulkan hitungan Mara seraya semakin mendekatkan wajahnya. Ketika bibirnya baru menempel di bibir Mara, sebuah suara yang terdengar ragu-ragu, terdengar.

“Apakah kami harus pergi sekarang?” tanya Ima dengan suara lirih. “Aku mau peluk Mama Mara.”

“Kenapa dia selalu muncul di saat yang tepat?” keluh Nendo tanpa menjauhkan dirinya.

Mara tertawa perlahan, untuk menormalkan pernafasannya. Dengan lembut, Mara menjauhkan diri dari suaminya. Ia menghadapkan badannya ke arah Ima.  Tangannya mengembang dengan senyum lebar di bibirnya.

“Tidak, kemarilah! Ganti Ima sekarang yang peluk Mama Mara!”

Ima berlari dan memeluk Mara erat. Melalui bahu Ima, Mara melihat Dini memalingkan wajahnya yang merona. Namun dia sempat melihat airmata menitik di wajah itu, sebelum cepat-cepat dihapus Dini.  Setelah Ima melepaskannya, Mara menghampiri Dini. Dia memeluk Dini.

“Terima kasih, sudah menjagaku!”

Walaupun awalnya tidak bereaksi, akhirnya Dini balas memeluk Mara.

“Senang sekali, bisa melihat Bu Mara tersenyum lagi,” ujar Dini. Menyerah pada desakan hatinya,  dan menerima uluran persahabatan Mara.

“Mara, kalau  hanya ada kita berdua dan di tengah keluarga,” ujar  Mara membetulkan, sembari  tersenyum hangat pada Dini.

Nendo duduk di batu besar di sebelah Sayati.

“Dia harus berhati-hati dengan ucapannya!” sungut Nendo perlahan. Matanya memperhatikan Mara yang sedang tertawa dengan Ima dan Dini.

“Ucapan apa?” tanya Sayati bingung. Ia mengikuti arah pandangan Nendo. Menantunya terlihat sangat menawan.

“Dia bilang dua bulan … aku sudah membetulkan hitungannya, lima puluh delapan hari … tapi keliatan-nya benar-benar akan jadi enam puluh hari.”

Sayati tidak dapat menahan derai tawanya.

“Tenang saja … waktu kalian masih sangat panjang … kamu ingin secepatnya memberikan cucu padaku?”

“Sekarang usia Mara  sembilan  belas tahun. Kami akan menggunakan cara yang alami … memang kemungkinan gagalnya lebih tinggi, dibanding menggunakan kontrasepsi lain. Kalau akhirnya dia hamil, mungkin itu yang terbaik untuk kami.”

“Nenek, ayo! Katanya tadi mau ngajak aku naik banana boat,” Ima menarik tangan Sayati.

“Berani, Ma?” tanya Nendo sangsi.

“Kalau Mama engga berani, bisa kamu jadi seperti ini?” ujar  Sayati dengan kepala tegak. “Ayo, Ima! Kita tunjukkin sama Papa, siapa kita. Papa kamu, engga berani naik banana boat.”

Ima menoleh ke arah Nendo dengan pandangan tidak percaya. “Iya, Nek? Yang benar, aku engga percaya,” ujar Ima dengan suara lebih pelan.

“Ayo, Tante Dini!” ajak Ima.

Setelah ketiganya berjalan menjuh, tangan Nendo kembali melingkari pundak Mara. “Bisa kita lanjutkan, yang tadi?” tanyanya di telinga Mara.

Sikut Mara menusuk rusuk Nendo perlahan.

Wajah Nendo meringis.

“Dengan dua satpam seperti itu?” Mara balik bertanya. Ia memandang  suaminya  dengan perasaan bahagia.

Benar, Ima dan Sayati, bisa menjadi lebih tidak berperasaan dibanding Dini. Nendo terpaksa mengakui kebenaran kata-kata Mara dalam hatinya.

“Tuti mengirimkan kartu ucapan terima kasih. Katanya gedung PAUD dan semua pembangunan yang  direncanakan  sudah terealisasi.”

Nendo hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Kau juga memperbaiki jalan desa?” tanya Mara, ketika Nendo tidak mengatakan sepatah kata  pun.

Lagi-lagi Nendo hanya mengangguk.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” tanya Mara penuh rasa ingin tahu.

“Aku tidak ingin membuatmu  terbebani hal kecil.”

Alis Mara terangkat sedikit. “Hal kecil?”

Dia pernah melihat rencana anggaran pembangunan di desanya. Membuatnya seperti berhenti bernafas sejenak. Itu belum termasuk biaya perbaikan jalan. “Lalu apa hal besar untukmu?”

“Melihatmu tersenyum dan tertawa bahagia.” Nendo mencolek pipi Mara dengan lembut.

Airmata Mara mengalir  tanpa bisa ditahannya.

Nendo menghapus airmata Mara dengan ibu jarinya. Hijab membuat wajah  istrinya, terlihat semakin cantik. ”Dasar anak kecil! Bukankah tugas seorang suami membahagiakan istrinya?”

“Aku bukan anak kecil!” sungut Mara jengkel. Airmatanya langsung berhenti. Ia menghapus sisa airmata dengan kedua tangannya. Menatapnya  dengan sinar mata menantang.

Perlahan Nendo meraih pinggang Mara dan memeluknya. “Aku seorang pengusaha. Jadi untuk kasus tertentu, aku harus membuktikannya terlebih dahulu,” ujarnya lirih dengan pandangan menggoda.

Wajah Mara merona mendengar jawaban suaminya. “Aku ingin Dini bisa terus mendampingiku, bolehkah?” tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.

calm sea under golden clouds

source

“Akan kupenuhi semua permintaanmu,” Nendo mencium kening Mara  lembut. Perlahan menurunkan kepalanya. Dia ingin secepatnya  dikelilingi  banyak Mara dan Nendo kecil.

Keduanya tertawa berbarengan, ketika sayup-sayup terdengar suara Ima memanggil dari kejauhan. Menghadap lautan, mereka melambaikan tangan ke arah Ima, Dini,  dan Sayati.

Benar, masih banyak waktu untuk mereka di masa depan.

Limpahan karunia Allah terasa begitu kental di sekeliling. Janji-janji kebahagiaan dan kegembiraan abadi, memancar kuat, namun lembut  dan indah.

Ya Hayyu Ya Qayyum  … Ya Hayyu Ya Qayyum … Ya Hayyu Ya Qayyum  … Ya Hayyu Ya Qayyum … Yang Maha Hidup. Yang selalu mengurus mahluk-Nya.

Tanpa dikomando, tanpa keduanya saling mengetahui, kalimat itu bergema di dalam keheningan  hati mereka.

 

T A M A T

 

Terima kasih banyak, pada semua sahabat yang  tidak dapat saya sebutkan satu per satu, yang telah membaca, mendukung,  dan memberi masukan  selama penulisan novel ini. Semoga setiap pembaca merasa terhibur, saat membaca kisah cinta Mara dan Nendo.

Saya akan sangat berterima kasih, bila ada yang berkenan memberikan komentar, masukan, dan saran membangun, hingga ke depan, saya bisa menulis novel yang lebih baik, ringan, indah, dan bermakna.

Sampai jumpa di novel berikut.

Bandung Barat, Minggu 16 September 2018

Salam

Cici SW

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *