Story

I Want My Way

Sebenarnya, saya ingin sekali memasang foto keluarga. Tapi salah satu anggota tim kami, kurang berkenan hehehe

ya jadi foto ini saja yang dipakai. Sekarang yang di rumah hanya kami berdua.

 

diambil dari Grup wa Keluarga Haha Hihi

 

Kenapa saya senang sekali menggunakan foto keluarga?

Karena melalui platform ini, dengan teknologi blockchain, semua postingan bisa dibaca dan menjadi salah satu jejak peristiwa penting dan berharga. Seumur hidup.  Hingga nanti, para cicit dan generasi-generasi  setelahnya, bisa membaca dan mengenal saya. Walaupun kami mungkin tidak akan bertemu.

 

diambil dari Grup wa Keluarga Haha Hihi

Selasa, 11 September 2018, sepupu terakhir di generasi saya menikah. Generasi ketiga dari Mbah Kakung Imam Talkah almarhum. Saya memiliki dua saudara kandung. Dua orang adik. Laki-laki dan perempuan. Enam  sepupu, lima orang sepupu perempuan dan seorang  sepupu laki-laki. Sepupu laki-laki, telah mendahului kami, bertahun-tahun lalu.

Dokumentasi Perempuan Tiga Generasi (Diambil dari Grup wa Keluarga Haha Hihi)

 

diambil dari Grup wa Keluarga Haha Hihi

 

Selain informasi di atas, ada dua hal yang membuat saya sangat terharu. Kemarin pagi, Selasa 18 September 2018 pagi, sulung saya telpon.

“Ma, aku ikut pelatihan Mencari Tujuan Hidup.”

“Di mana, Bang?”

“Di sini. Kantor, Ma. Yang ngadain.”

“Siapa saja yang ikut?”

“Semua pegawai yang mau ikut. Biayanya Rp.500.000 per orang.”

“Wah! Hebat benar kantor kamu, Bang. Alhamdulillah. Terus gimana pelatihannya? Abang dapat apa?”

“Aku terkesan , Ma. waktu trainer-nya bilang. Sesuatu diciptakan bukan  untuk kepentingannya sendiri. Sesuatu diciptakan untuk kepentingan user. Jadi kita harus mencari tahu, apa maksud dari penciptaan kita.”

Abang terdiam sesaat. Sepertinya koneksi gratis kami sedikit bermasalah hehehehe

“Makanya aku suka bingung. Kalau aku mau punya mobil, rumah, setelah itu apa? … itu semua bukan tujuan hidup. Masuknya ke hal-hal yang kita inginkan dalam hidup.”

“Gimana caranya, Bang, cari tujuan hidup?”

“Ini, Ma. Ada tiga pertanyaan yang harus kita jawab.

  1. Topik apa yang kita peduli. Bukan hanya sekedar pengen tahu, atau kita dalamin. Tapi yang benar-benar ingin kita tahu lebih banyak. Dan kita ingin melakukan sesuatu, berkaitan dengan hal itu.
  2. Bakat/Talent. Sesuatu yang mudah untuk kita, namun sulit bagi orang lain
  3. Passion. Sesuatu yang kita lakukan dengan mengorbankan sesuatu, misalnya: uang, waktu, tenaga, pikiran, dan kita melakukannya dengan ikhlas, tanpa keterpaksaan.”

“Terus kamu sudah dapat?”

“Sudah, Ma. Aku tahu apa yang aku inginkan. Tahu apa yang harus aku kerjain.  I Want My Way. Jadi aku engga bingung lagi.”

“Abang pengen dalemin apa?”

“Mesin, Ma.”

“S 1 nya  jadi dong?”

“S2 di Jerman, Ma. Doain ya.”

“Iya, Bang. Mama doain. Bahasa apa yang dipakai di sana?”

“Inggris sama Jerman, Ma.

“Mulai belajar dari sekarang, ya, Bang.”

“Iya, Ma.”

“Alhamdulillah ya Bang tempat kerja kamu. Bisa dapat ilmu, kerja praktek teori kuliah kamu, dapat uang,  sekaligus bisa memperluas wawasan kamu. Jadi semangat kerjanya, Bang?”

“Semangat, Ma. Cuma ada yang masih ganjel.”

“Apa, Bang?”

“Aku kan mikirnya, kalau mau kaya, harus bisnis. Tapi aku pengen banget  dalemin mesin, Ma.”

“Bang, yang penting, kamu kerjain yang kamu senang.  Tujuan kamu, supaya lebih bermanfaat untuk banyak orang kan?”

“Iya, Ma.”

Engga  apa-apa. Dalemin aja mesin. Bidang yang jadi passion kamu. Kalau kamu sudah ngerti, kan bisa seperti Henry Ford, yang manggil insinyur-insinyur mesin hebat, untuk produksi mobil di jaman itu … atau jadi penemu mesin-mesin yang memang dibutuhkan orang banyak, lalu kamu petenkan … atau coba lihat, yang buat facebook …. mereka semua mulai dari passion.”

“Iya, juga ya, Ma.”

“Iya, sayang. Yang penting, kamu kuasai bidang yang  kamu suka … masalah kaya atau engga, itu kan urusan Allah … mumpung kamu masih muda, belum beli susu, pampers buat anak–”

“Bayar cicilan mobil, rumah, ya, Ma.”

“Iya, Bang. Mumpung bebannya sekarang, cuma harus belajar dan menghebatkan diri sendiri. Kalau masalah perempuan gampang. Kalau kamu sudah mapan, ketemu wanita sholehah, dua hari kenal,  kamu nikahin, juga bisa.”

“Bener juga, ya, Ma.”

Alhamdulillah. Pelatihan itu mengakhiri kebingungannya. Rencananya sangat beragam setiap kali kami bertemu, minimal satu bulan sekali. Biasanya akhir bulan, setelah gajian, dia akan pulang ke Bandung.

Dari mau ganti hp, ganti laptop, beli mobil, beli rumah, dan beberapa ide lainnya. Maklum baru beberapa bulan terima gaji hehehe ….

Saking pusingnya saya, akhirnya kata terakhir dari saya, menanggapi pertanyaannya yang meminta pertimbangan, walaupun lebih hanya jadi pemberitahuan, pada akhirnya.

“Terserah kamu mau beli apa saja. Yang penting, kamu selesaikan S 1 kamu!”

Beberapa waktu sebelumnya, saat  saya dan suami jemput Ade, ke Jatinangor Sumedang, dengan semangat dia menceritakan pengalamannya tentang ospek fakultas.

“Hebat, Ma, dekan aku.”

“Kenapa, De?”

“Dia double degree di luar. Terus katanya S 3 HI cuma ada satu di Indonesia, dan adanya di UNPAD.”

“Wah bisa langsung, dong?” celetuk suami.

“Apa, sih, Pa?” kilah Ade dengan nada menggoda papanya. “Kalau mau ambil S 2 langsung, jadi  tidak terlalu lama  … rame banget, Ma. Kirain wah … ngantuk … pasti bosenin … ternyata engga. Seru, Ma. Banyak ketawanya, tapi bikin aku bangga sama fakultas aku.”

Ade mengambil nafas sejenak. “Dia bilang, kalau mau sukses di HI mesti selfless. Sudah tidak memikirkan diri sendiri. Jadi kita harus finish with myself dulu.”

Saat mendengarnya, saya merasa sangat terharu. Karena sebenarnya inilah yang saya maksudkan, dan terus saya wanti-wanti ke mereka.

Menghadirkan Allah menjadi sebuah kebutuhan setiap saat. Tidak hanya saat sedang susah. Sudah tahu mengapa melakukan ibadah, jadi tidak hanya mengerjakan ritual.  Sudah tahu ingin jadi apa. Mulai melakukan sesuatu setiap harinya, yang semakin mendekati tujuan. Sudah mandiri secara emosional. Tidak selalu memerlukan orang lain, untuk memutuskan sesuatu atau mengganti suasana hati pribadi.

Hanya saya tidak tahu, apa istilahnya.

Hehehe

Ternyata finished with my self. Saya jadi  dapat ide baru, untuk diselipkan di salah satu bagian novel Mara.

Ini juga bukan berarti saya sudah menguasai semua keterampilan di atas. Saya masih terus belajar. Luar biasa gembira, kedua buah hati saya, mulai mempelajarinya, di usia yang jauh lebih muda, dibanding saya.

Saat itu, masih dalam perjalanan, setelah Ade menceritakan pengalamannya, saya  berpikir. Bagaimana caranya menyampaikan hal yang sama ke abangnya?

Allah menjawab kekhawatiran saya. Abang, juga mendapat pelajaran, yang intinya sama. Di waktu yang hampir bersamaan. Allah baik sekali pada saya.

Saya sangat berhutang budi, pada para mentor, dosen, dan semua orang yang secara tidak langsung, menjadi wakil saya, dalam memberikan pelajaran tentang keterampilan hidup (life skill) pada keduanya.

Semoga Allah membalas kebaikan mereka berlipat ganda. Semoga Allah menjaga anak-anak mereka.

Pada waktu yang tidak jauh berbeda, saya melihat sebuah tayangan di TV. Nabi Muhammad memiliki jeda lima tahun, dari wahyu pertama, sampai waktu harus berdakwah secara terbuka. Dengan seruan  Iqra’ (Bacalah).

Dan ini sangat memacu saya, untuk mengambil pelatihan menulis lagi. Hingga apa yang ingin  saya sampaikan melalui novel, bisa tersampaikan dengan ringan, tanpa kesan menggurui. Dan  makna novel-novel saya, bisa meninggalkan jejak  di hati para pembaca.

Keajaiban. Kami bertiga. belajar materi yang sama. di tempat yang berbeda. dengan situasi berbeda.

Yuk kita belajar lagi. Apa pun. Mulai dari sesuatu yang sahabat sukai.

Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita semua, dan memberi kita kekuatan, hingga mudah berlari menuju kepada-Nya.

Salam pembelajar

 

Bandung Barat, Rabu 19 September 2018

Salam

Cici SW

 

 

 

 

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *