Fiction

Prolog # 1

Galang memperhatikan kelompok-kelompok yang sedang mempersiapkan presentasi akhir tugas mereka. Wajah-wajah cerah dan penuh semangat, beredar di aula itu.

“Bagus Galang. Terima kasih banyak, kuliah kerja nyata kali ini, sangat bermanfaat bagi warga desa,” ujar Pak Kades, yang berdiri di sebelahnya. “Program-program yang dilaksanakan,  mampu jadi pemicu perkembangan ekonomi dan sosial desa.”

“Alhamdulillah, Pak. Kalau sedikit ilmu kami bisa— “ Galang menghentikan kalimatnya, ketika ada yang meneriakkan namanya. Matanya mencari asal suara.

“Galang! Galangggg! Di mana kamu!” Seorang anggota kelompoknya berdiri di ambang pintu masuk, dengan nafas terengah-enggah.

“Maaf, Pak, sebentar,” ujarnya pada Pak Kades, setelah aula itu menjadi hening.

“Silakan! Silakan!” Pak Kades lanjut berkeliling ditemani Pak Sekdes.

Galang mengangkat sebelah tangan sembari berjalan cepat ke ambang pintu. Dia melihat temannya berlari mendekatinya.

“Ada apa?” Dahi Galang berkerut dalam. Dia harus menekankan sopan santun, pada rapat evaluasi berikut.

Teman-teman yang lain mulai mengerumuni mereka berdua. “Kintan! Kintan di rumah sakit!”

“Sakit apa?” Galang mengeluarkan gawainya. Kemarin mereka masih berkomunikasi via wa.

“Kanker, Lang! Kondisinya kritis sekarang!”

Galang menatap mata pembawa berita tanpa berkedip. Seruan-seruan kaget bergaung di udara. Mencari tanda-tanda bercanda atau dia sedang dikerjai. Mata yang ditatapnya memperlihatkan kesedihan dalam.

Mata Galang kembali mengarah ke  layar gawainya. Sejak semalam dia belum sempat membuka pesan-pesan yang masuk. Dengan cepat telunjuknya membuka pesan dari Kintan. Tubuhnya terasa dingin. “Pinjam motormu!”

Dia langsung menyambar kunci yang diacungkan. Berlari cepat ke halaman depan balai pertemuan. Tidak diindahkannya, teriakan pemilik motor, “Lang, STNK-nya! Gedung C, lantai 5! Kamar 501!”

Seperti kesetanan dia mengendarai motor di sepanjang jalan. Tiga lampu merah dia langgar. Suara-suara klakson dan dencitan rem menemani  perjalanannya.

 

Galang, terima kasih sudah menjadi orang yang menyayangiku selama ini. Maaf, bukannya aku tidak mau jujur padamu. Tapi aku tidak ingin mengganggu dan menjadi penghalang rencanamu. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu, berlipat ganda.

Ibuku meninggal karena penyakit ini. Aku tidak menyangka, aku juga mengidapnya. Dokter bilang, katanya penyakit ini menurun.

Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini adalah pilihanku, menjalani akhir ini tanpa dirimu. Aku ingin kau tetap mengenangku, sebagaimana aku yang selama ini kau kenal.

Tapi …  entah kenapa, aku ingin sekali melihatmu …  untuk yang terakhir kali.

Orang yang sangat mencintaimu.

Kintan.

 

Galang memarkir motor di depan pintu masuk rumah sakit. Dia berlari secepat kita menuju lift. Pintu lift baru saja tertutup. Dia segera lari ke tangga. Seperti orang kesetanan, dia menaiki dua anak tangga sekaligus di setiap langkah.

Matanya mencari nomor kamar 501. Dia terpaku di depan pintu kamar. Suara wanita mentalqin sembari menangis sayup-sayup terdengar. Dengan tangan gemetar, dia membuka pintu. Matanya tak berkedip menatap sosok tubuh ringkih di atas ranjang.

“Kakak! Kakak jangan meninggal … jangan tinggalin aku! Aku sama siapa, nanti!” seorang wanita yang tadi mentalqin mengguncang-guncang tubuh itu.

“Istighfar, Nak! Istighfar Silvie!” seorang perawat setengah tua memegang bahu wanita itu dari belakang.

Engga mau! Engga mau! Kakak jangan meninggal. Jangan mati! Aku engga mau sendirian. Kakak bangun! Kakak bangun!” Tangan kurus itu mengguncang-guncang tubuh Kintan keras. Tubuh kekasihnya tidak melawan.

Galang berjalan perlahan dengan kaki gemetar menuju sisi lain  ranjang. Senyum yang tidak pernah absen tersungging menghiasi wajah Kintan, menghilang. Godaan dan gurauan yang selalu membuat jengkel namun selalu berhasil menghadirkan senyumnya, diganti bibir yang tersenyum damai.

Airmata keluar tanpa dia sadari. Tangannya meraih tangan  di atas ranjang itu. Masih hangat.

Ya Allah. Kintan belum lama pergi.

Dia mencium tangan yang mulai terasa dingin. Dia tidak bisa memenuhi keinginan terakhir Kintan. Pandangan buram karena tertutup airmata, menatap tubuh Kintan yang jadi sangat kurus. Dia tidak mengenali wajah yang terlihat lelah dan sakit, bila tidak melihat senyum itu.

Kintan! Kintan! Maafkan aku. Maafkan aku ….

“Kakak! Kakak!” Tubuh Galang merinding mendengar  jeritam histeris itu. Dia menoleh. Nafasnya tertahan di tenggorokan. Wajah kekasihnya seperti dijiplak di wajah wanita muda itu.

“Silvie! Silvie! Kasihan kakakmu, kalau kamu seperti ini … kakakmu sudah tidak merasa sakit lagi … Lihat! Kakakmu tersenyum. Ayo kamu yang kuat!”

Suster setengah tua itu dengan lembut menggeser tubuh wanita muda itu ke samping. Dia ikut bergeser ke samping.

Galang berusaha bernafas, melihat perawat mulai melepaskan selang-selang yang dipasang ditubuh kekasihnya. Tubuhnya bersandar ke dinding, mencari kekuatan. Matanya melihat sekeliling. Tidak ada orang lain di ruangan itu, kecuali gadis yang sedang menangis histeris dan seorang suster.

“Maaf, apakah Bapak anggota keluarga?” tanya seorang suster.

Galang tidak mampu menjawab. Masih tidak percaya. Kemarin pagi, gadis itu masih mengirimkan pesan padanya. Mengirimkan lelucon, yang membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Dia hanya menggelengkan kepala.

Kintan meninggal? Gadis manis yang selalu memberinya semangat dan inspirasi?

“Kasihan! Dia yatim piatu,” ujar suster yang tadi bertanya padanya perlahan,  pada suster lain yang baru datang ke ruangan.

Galang menahan nafas. Dadanya seperti mau pecah. Kepalanya kembali berpaling perlahan ke arah ranjang. Airmatanya jatuh tanpa kompromi. Sebuah tangan menutup wajah kekasihnya.

Kintannya yatim piatu? Mereka sudah pacaran hampir dua tahun, dan dia tidak tahu? Di mana Allah? Kintan tidak pantas berakhir seperti ini.

 

Bandung Barat, Selasa 2 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *