Fiction

The Edge of Chaos # 2

Bab Satu

The Edge of Chaos

 

Galang memelototi laporan di atas meja. Sudah dia baca berulang kali. Setiap kata sudah berakhir di memori kepala. Setiap kali dorongan membaca tidak bisa dia tahan, dan dia selalu menindaklanjuti insting kuat,   selalu timbul  harapan. Ada informasi yang terlewat matanya.

Dia tersenyum sinis. Tentu saja harapan gila itu tidak terkabul. Ingatan  kuat dan ketelitian seperti sudah menjadi suratan takdir kerja otaknya.

Sebelah tangan melonggarkan ikatan dasi, setelah meletakkan jas di punggung kursi kerja. Vest hitam pekat, mencetak tubuh yang disiplin dia ajak olahraga. Dia membuka kancing  yang menempel di ujung manset, kemudian menggulung lengan kemeja  sampai ke bawah siku.

Dahinya mengernyit dalam. Sebuah fakta masuk memori.  Doa, yang tidak pernah dilakukannya sejak kematian Kintan, dikabulkan.

Dia menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Namanya masuk daftar Forbes under 30 di bidang Retail dan e-Commerce empat tahun lalu. Matanya menyipit, memperhatikan sekeliling.

Desain ruangan kantor   pribadi,    dia pilih bernuansa alam. Suasana ini membuatnya hatinya lebih damai dan tenang, menghadapi tekanan pekerjaan. Pepohonan hijau, batang kayu, kursi rotan, sofa-sofa besar dan empuk, dipadu unsur air,  bisa menjaga kewarasannya selama ini.

Dia tempat duduk,  dia bisa melihat dua sisi sekaligus. Desain kantor  ala cafe, tata ruang kantor terbuka, dengan beberapa ruang rapat berpartisi kaca di sisi kanan. Di sisi kiri, dia bisa melihat kolam renang dengan lantai kayu, dan pohon-pohon hijau di sisi.

source

Bukti nyata kerja keras.

Dengan cepat dia mengusir usikan kecil hati. Toh selama ini, tanpa doa,  dia bisa sukses sejauh ini.

Tangannya meraih map file lain. Membaca ulang rencana bisnis yang tertera di dalamnya. Sudut bibir Galang terangkat sedikit. Ide Silvie sangat original. Memenuhi kebutuhan prestise para wanita yang semakin buas.

Senyumnya menghilang ketika sebuah kenangan masuk ke memori.

Galang menekan kuat tangan ke pipi. Menghapus kasar airmata di pipi.  Bukan waktunya menangis sekarang. Dia menelan ludah, sebelum mendekati wanita yang menangis histeris.

“Maaf, kemana almarhumah akan dibawa?” Lagi-lagi dia menahan nafas. Air muka Kintan menatapnya sedih. Kembar identik. Mata   bengkak  dengan wajah bingung  itu menggeleng perlahan

Galang menguatkan hati. “Alamat. Di mana alamat rumahmu?”

“Kami … berdua … kos.” Badan gadis itu berguncang menahan tangis.

Dia menelan ludah seperti menelan bola ping pong penuh paku di lingkaran luar. “Saudara lain?” tanyanya sangat lirih.

Kepala itu lagi-lagi menggeleng.

Galang menampar pipinya berkali-kali tanpa ampun dalam pikiran. Dia mengepalkan tangan, menahan raungan yang siap meledak. Kepalanya  menoleh ke pintu, ketika namanya dipanggil. Beberapa teman muncul di ambang pintu.

“Tolong izin ke rektorat. Kita akan mengadakan sholat jenazah di masjid raya kampus,” perintah  Galang dengan suara sedikit gemetar.

Beberapa kepala mengangguk, dan langsung pergi lagi dengan mata berkaca-kaca.

“Stand by kan gawaimu! Kita akan koordinasi, selama persiapan ini,” ujar salah seorang dari mereka, sebelum pergi.

Galang mengangguk lemah. Beberapa rekan menghampirinya.

“Jaga di sini! Aku mau ngurus administrasi dulu,” Tanpa menunggu jawaban, dia langsung berjalan keluar ruangan. Isi perutnya memaksa mau keluar.

Galang mengangkat wajah ke langit yang menghitam. Ratusan orang ikut sholat jenazah. Tidak heran. Kekasihnya dikenal banyak orang. Kintan seorang gadis ceria yang baik hati. Selalu siap membantu siapa pun. Lintas fakultas. Sampai kadang-kadang dia suka marah. Mana mungkin dia mengira, beban yang dipikul gadis mungil itu sedemikian hebat.

Matanya kembali mengarah ke bumi. Isak tangis mewarnai  area pemakaman, ketika jenazah  diturunkan ke dalam bumi.

Kenapa harus dia, Ya Allah? Apa salahnya? Tidak adil! Kenapa harus Kintan? Kenapa harus sekarang? Kenapa dia tidak ada  saat gadis itu menderita? Kenapa harus secepat ini? Kenapa dia tidak membuka  gawai lebih awal? Kenapa dia tidak diberi kesempatan, memenuhi permintaan terakhir Kintan?

Ketika lubang itu mulai ditimbun, hujan deras tiba-tiba mengguyur bumi.

“Pasang terpal di atas lubang!” teriaknya.  Dia maju setelah mengambil pacul, ikut membantu menimbun. Untung anak-anak fakultas  pertanian, punya alat-alat pertanian lengkap. Teman-teman yang lain segera mengikuti langkahnya.

Kenapa harus hujan? Tidak bisakah turun setelah pemakaman selesai? Kenapa, Ya Allah? Kenapa orang baik, kau susahkan seperti ini?

Dia menatap marah ke arah langit di kejauhan sesaat. Tangannya dengan cepat memindahkan tanah dengan pacul.

“Gilang, adik Kintan pingsan lagi!” teriak seorang mahasiswi.

“Lang, serahkan urusan ini pada kami! Tolong urusi adik Kintan,” Tangan wakil ketua kelompok menghentikan ayunan pacul Galang.

Dia tidak mengindahkan seruan itu. Dengan kasar menepis tangan yang menahan. Dia terus memasukkan  tanah ke lubang yang menganga.  Airmata keluar  tidak terkendali.

Dia tidak bisa menuruti keinginan terakhir Kintan. Dan puluhan permintaan Kintan lainnya. Dia terlalu sibuk mengurus himpunan, kuliah, dan pertandingan bulutangkis yang seperti tidak ada henti. Untuk apa?

source

Mana Belas kasih-Mu! Mana Maha Penyayang-Mu. Kau bilang rahmat-Mu melampaui murka-Mu. Mana buktinya? Kenapa gadis sebaik Kintan mendapat murka-Mu!

“Tolong! Tolong! Adik Kintan kejang-kejang! ” teriak seorang mahasiswi.

 

Bandung Barat, Rabu 3 Oktober 2018

Salam Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *