Fiction

Warisan Cinta # 3

“Adik Kintan kejang-kejang!” Sebuah teriakan keras lain,  menghentikan ayunan tangan Galang. Dia menoleh ke arah lubang yang mulai tertutup rata dengan tanah yang dipijaknya.

“Serahkan pada kami, Lang!” sebuah suara terdengar.

Galang mengangguk. Dengan langkah gontai,  dia berjalan mendekati kerumunan yang sedang mengelilingi adik Kintan.

“Kakak! Kakak!” teriak  Adik Kintan histeris.

Galang segera menghampiri ranjang  rumah sakit.

“Kenapa aku pakai baju ini?” Mata Adik Kintan melotot ke arah Galang.

“Tenang, Silvie! … namamu Silvie, kan?” tanya Galang setelah mendapat pelototan mata Silvie. Tangan Silvie menggenggam erat atasan rumah sakit yang dikenakannya.

“Bajumu basah, saat sampai di rumah sakit. Suster yang mengganti bajumu.”

Wajah Silvie nampak  sedikit lega. “Aku mau pulang!” ujar Silvie  seraya bermaksud turun dari tempat tidur.

Tangan Galang memegang kedua pundak Silvie. Dia melepaskan tangannya, begitu mata Silvie lagi-lagi memelototinya.

“Sorry. Tinggallah sebentar di rumah sakit. Kau akan menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap.”

selective focus photography of thunder

source

“Aku tidak sakit!” tukas Silvie marah.

“Begitu juga dengan almarhumah!” tandas Gilang tak kalah marah.

“Aku bukan Kakak!”

“Kintan pasti banyak berkorban untukmu! Kau mau menyia-nyiakan pengorbanan kakakmu begitu saja? Kau mau menyerah, hingga bisa menyusul kakakmu ke kuburan?” seru Galang dengan wajah kaku.

“Aku tidak mau kau kasihani!”

Galang menatap Silvie tepat di matanya. “Aku tidak kasihan padamu! Kakakmu pernah menyelamatkan jiwaku. Aku belum sempat membalas kebaikannya. Dan aku orang yang tidak suka berhutang. “

Silvie memalingkan wajahnya terlebih dahulu, dari adu pandang di tengah raungan  suara guntur dan halilintar.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Silvie dengan bibir gemetar. Tiba-tiba tubuh Silvie menegang. “Novel kakak! Mana novel kakak?” Gadis itu menatapnya dengan sorot mata cemas.

Tangan Galang menunjuk ke arah meja di depan sofa. “Semua barang kakakmu, ada di sana.”

Silvie dengan cepat menyibakkan selimut. Sebelum kaki menjejak tanah, tubuhnya tersungkur ke lantai.

Galang membantu gadis keras kepala itu  berdiri. “Naik lagi ke tempat tidur! Akan kubawa semua barang-barangnya ke sini.”

Silvie melihatnya sebentar, sebelum mengangguk.

Galang meletakkan kardus di tepi ranjang Silvie.

person submerged on body of water holding sparkler

source

Tangan gadis itu langsung membuka kardus. Hembusan nafas leganya terdengar keras. Dia melihat ke arah Galang. “Kakak ingin memberimu novel ini. Itu sebabnya dia ingin menemuimu.”

Galang menatap kosong novel yang  terangkat di udara. Novel? Kintan tahu dia tidak pernah membaca buku jenis ini. Bahkan terang-terangan, dia selalu mengatakan Kintan buang-buang waktu, bila gadis itu larut dalam sebuah novel.

Kintan tersenyum lebar. “Novel-novelnya  membuatku percaya ada dunia yang sempurna. Ada cinta  yang menumbuhkan. Ada kebahagiaan sejati. Hidup bahagia selama-lamanya. Novel ini membuatku jadi Kintan yang lebih baik.”

“Happily ever after. Hoax!” sergah Galang sembari tertawa. Tangannya melambai, ketika namanya dipanggil teman-teman himpunan yang lewat. Mereka baru saja selesai rapat.

“Kalau memang kabar baik, kenapa kita engga percaya?” Kintan balik bertanya.

Galang memberikan buku yang mau dipinjam Kintan. “Bisa gila kamu, kalau percaya mitos itu. Yang riel Kintan”

“Ada hal-hal yang harus kamu percaya, bahkan sebelum kamu melihatnya. Memang kamu harus lihat wujud Allah dulu, baru mau sholat? Novel ini keren banget, lho, Lang. Kamu harus baca.”

Engga mau.” Kepala Galang meneleng. Tempat mereka  duduk sangat teduh. Tempat favorit  Kintan. Pohon yang ditanam para mahasiswa baru,  puluhan tahun lalu, membuat taman dan lingkungan di sekitar kampus mereka sangat asri. Angin menerbangkan helaian rambut di kedua sisi wajah  cantik itu.

“Galang! Aku lagi serius. Kenapa malah ngeliatin aku,” sungut Kintan manja.

Galang tersenyum. “Kamu cantik, Kintan.  Engga pernah bosan lihat muka kamu. Tadi aku cape banget, lihat kamu langsung segar lagi otak aku  ….”

Alis Galang terangkat tinggi, “Kalau kamu  bacain, aku mau dengerin.”

Wajah Kintan merona. “Kalau aku bilang ke teman-teman, Galang itu sebenarnya manja banget, suka ngerayu … pasti aku langsung viral jadi ratu gosip.”

“Kalau manjanya ke kamu, kan engga apa-apa.” Mata Galang melihat sekeliling. Suasana sore itu sangat cerah. Banyak mahasiswa dan mahasiswi bergerombol di bangku-bangku taman yang bertebaran atau di hamparan rumput. Dia cinta kampus ini. Tangannya terangkat, ketika mereka memanggil namanya dari kejauhan. Pandangannya kembali mengarah ke Kintan.

Senyum Kintan mengembang lebar. “OK. Ok ….  Aku bacain. Kapan kamu ada waktu?”

“Nanti ya. Setelah tugas akhir selesai.”

“Tiga bulan lagi!” seru Kintan dengan mata melotot.

“Katanya novelnya bagus. Kenapa kamu jadi gampang emosi seperti ini, kalau novelnya bisa buat kamu jadi orang lebih baik. Biasanya kamu engga pernah marah,” Galang memandang kekasihnya dengan senyum menggoda. Dia mengedipkan sebelah mata.

“Susah ngomong sama kamu! Ayo sholat dulu. Sudah mau jam lima ini.”  Kintan menarik  lengan kaos Galang.

“Setelah sholat makan ice cream, yuk. Aku nemu tempat ice cream enak.”

“Galang!”

Galang tertawa melihat tangan Kintan membentuk tanda hati. Ice cream  memang kesukaan kekasihnya.

“Ini untukmu!” suara keras Silvie membawanya kembali ke masa kini. Dia menarik nafas panjang. Bahkan setelah tiada pun, Kintan  masih memberinya sesuatu.

“Terima kasih,” ujarnya perlahan.

“Sama-sama. Alhamdulillah, syukurlah amanat kakak telah kulaksanakan. Terima kasih, kakak sangat bahagia, tiga setengah tahun terakhir ini,” suara Silvie bergetar menahan tangis.

Tiba-tiba Galang  sangat merindukan Kintan. Ya Allah, pemakaman baru saja dilakukan.

Kintan tidak mau mengganggunya, supaya dia bisa meraih ambisinya. Memilih menjalani penderitaan  sendirian.

Mata Gilang menyipit. Dia tidak akan bergantung pada siapa pun lagi mulai saat ini. Hanya dirinya, yang bisa merealisasikan mimpi-mimpi besar, yang sering dikatakannya pada Kintan.

Galang melihat wajah Silvie sesaat. Apa yang harus aku lakukan padamu?

Bandung Barat, Kamis 4 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

 

 

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *