Fiction

Kapan Kamu Kawin?

person holding smartphone

source

dr. Dania Nur Salsabila Sp. PD duduk bersandar pada headboard. Dia mematikan siaran ulangan talkshow kesehatan,  setelah presenter acara, dr. Bram Bagaskoro Sp.B, mengucapkan kalimat penutup. Tangannya mengambil gawai dan  bundel agenda mingguan dari nakas.

Pertama memeriksa gawai. Pesannya semalam sudah dibaca. Belum dibalas.

Bram memang sangat sibuk belakangan ini, hibur Dania pada diri sendiri. Karirnya sebagai presenter di acara  Healthy Talkshow sangat cemerlang. Penampilan dandy dan bawaan lahir pandai membawa diri, sangat menunjang karir baru Bram di dunia entertainment.

Kenapa sih Bram belakangan ini seperti menjauh darinya? Dania, kamu sendiri punya rahasia, yang tidak kamu beritahu Bram. Engga adil dong, kamu nuntut, sesuatu yang engga bisa kamu kasih juga ke dia. Dania menggembungkan pipi, mendengar debat di kepalanya. Lagi-lagi, logika menang. Bahunya turun sedikit.

Tangannya meraih  agenda mingguan. Membuka agenda  minggu lalu. Senyum tersungging di bibir, ketika  membuat tanda silang di daftar target mingguan. Deretan target mingguan tercapai.  Dahinya mengernyit, ketika tiba di target terakhir. Meningkatkan hubungan pribadi dengan Bram.

Dahinya mengerut  lebih dalam. Seperti kebiasaannya, bila menemukan indikasi penyakit dalam kronis, yang telat mendapat penanganan.  Target  terakhir  memerlukan kerjasama Bram. Bagaimana bisa mencapai target ini, bila berkomunikasi saja  sangat sulit?  Matanya menatap boneka panda besar  yang diberikan Bram, ketika mereka baru pacaran. Delapan tahun lalu.

Dia merebahkan tubuh kembali ke ranjang. Mata dipejamkan perlahan. Memerintahkan seluruh anggota tubuh rileks. Dania  dengan santai  memperhatikan lalu lintas pikirannya. Tidak ada  satu pun pikiran atau ingatan  terlintas.

Rasa kecewa menelusup lembut ke hati. Walaupun diletakkan di akhir, sebenarnya itu menjadi agenda utama sebulan terakhir.  Bibirnya tersenyum ketika sebuah pikiran,  memasuki belahan otak yang memiliki fungsi berkaitan dengan rasio.

Allah pasti nolong aku.  La Ilaha  Illallah … La Ilaha Illallah … La Iaha Illalah

Hatinya terus melafazkan kalimat itu berkali-kali. Setelah perasaannya menjadi lebih tenang, dia bangun dan berjalan ke arah jendela. Udara segar menyerbu masuk ke paru-paru kanan dan kiri. Ketika jendela besar kamarnya, yang berhadapan dengan halaman belakang terbuka.

selective focus photography of pink rose flower

source

Matanya memandang gerombolan mawar beraneka warna. Tangkai-tangkai mawar merunduk, menahan beban bunga-bunga yang mekar. Tanaman  blackberry yang ditopang  kayu setinggi satu meter  dipenuhi  buah.  Tangan mama memang dingin, bila berhubungan dengan bunga dan buah.  Senyumnya mengembang semakin lebar.

Pandangannya mengarah ke langit. Warna jingga malu-malu mulai terlihat. Dia menarik nafas panjang dan dalam beberapa kali.  Dania menghirup, menahan dan membuang nafas dengan jeda waktu yang sama. Masing-masing 30 detik.   Perasaannya bertambah lega.

Langkahnya menuju meja kerja. Memeriksa  kalender di atas meja. Tidak ada seminar dan pelatihan yang harus dihadirinya minggu ini. Tidak setiap minggu, dia bisa bebas seperti ini. Weekend yang sempurna. Bibirnya lagi-lagi  tersenyum lebar.

“Masuk, Ma,” ujar Dania ketika mendengar pintu kamarnya diketuk perlahan. Tidak ada yang berani mengetuk pintu kamarnya sepagi ini, kecuali mama tersayangnya.

“Sayang, sudah punya rencana weekend ini?” tanya Mama Dania ketika berjalan masuk ke kamarnya.

“Mama mau diantar ke mana?” sahut Dania sembari memeluk pinggang mama dari tempatnya duduk.

“Kalau kamu ada waktu, kita pergi berempat yuk! Kakakmu kebetulan libur juga.”

“Ayo!” Dania mengangguk antusias. Ada Dandi, kakaknya, berarti  dia bisa tidur sepanjang perjalanan. “Tapi janji!”

“Ya! Engga akan nanya, kapan kamu kawin,” Mama Dania tertawa kecil.

Belakangan ini dia agak sensitif. Menyebalkan sekali ditanya hal yang sama berulang kali. Apalagi dari orang-orang terdekat. Dania melepaskan pelukannya. “Mama kok tambah cantik aja sih, sekarang,”

Mama Dania mengusap-usap rambutnya perlahan, dengan mata bersinar bahagia. “Kamu ini! Ayo, siap-siap sekarang! Eh, Dania … Mama mau panen blackberry sekarang. Sengaja nunggu kamu libur. Mau ikutan?”

“Mau! Mau! Ma … Kak Dandi sudah bangun?” Dia selalu rebutan dengan kakaknya,  saat panen buah blackbeery mama.

“Sudah sarapan sama papa kamu.”

Dania menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jam 6 pagi sudah pada sarapan?

“Wah aku sendiri yang telat ya. Sebentar, Ma. Aku mandi dulu.”

“Kapan terakhir kamu keramas?” tanya Mama Dania dengan dahi sedikit mengernyit.

“Baru kemarin, Ma. Kenapa? Sudah kusam lagi?” Dania memegang kepala dengan dua tangan. Semalam dia olahraga sampai kepala dan badannya basah mandi keringat.

“Keramas lagi, biar mukanya seger.”

Bibir Dania mengerucut, “Tadinya mau mandi bebek.”

“Nanti kamu digodain kakak terus di jalan, ngambek.”

Bola mata Dania diarahkan ke atas sesaat. Lebih baik dia mandi setengah jam, dari pada mendengar komentar Kak Dandi sepanjang jalan. Komentarnya pasti tidak jauh. Males keramas sih, makanya jauh jodoh.

“Jangan lama-lama mandinya,” ujar Mama saat berjalan menuju pintu.

Begitu pintu kamar tertutup, senyum Dania bilang.

Iya Dania, kapan kamu kawin? Usiamu sudah 29 tahun sekarang. Apalagi alasanmu sekarang?

Bandung Barat, 5 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *