Fiction

Ambang Batas Harapan # 4

Dering gawai membuyarkan lamunan Galang. Dia langsung matikan, begitu nomor tidak dikenal muncul di layar. Pandangannya tertuju pada novel kucel di atas meja. Novel itu dimainkan di antara jemari tangan kanan. Pembatas buku yang dibuatnya dari edelweis kering terjatuh.

Dahinya berkerut dalam. Kintan benar. Novel ini merubah hidupnya. Masa menyepi dan kerja gilanya, hanya ditemani novel-novel karya Rory Valda Pradakian. Selain semua buku, diklat, seminar,  dan mentor yang dia butuhkan.

Mengenal Rory Valdi Pradakian, melalui belasan novel karya novelis itu, membuat emosinya lebih stabil. Rasa bersalah sedikit demi sedikit terkikis. Semangatnya mulai tumbuh. Walaupun sikapnya tidak banyak berubah, sesuatu dalam dirinya tumbuh dan berkembang. Setelah bencana itu. Hanya percayanya sudah menghilang.

Rory Valdi Pradakian menemani hari-hari sepi, sedih, dan kecewanya. Membuatnya kembali bangkit, setiap kali terjatuh. Dia merasa menjadi pribadi yang lebih kuat dan matang. Sampai akhirnya di setiap keberhasilanan pun, dirayakannya bersama karya novelis itu.

Novel yang selalu dibelinya, setiap kali novelis itu meluncurkan novel baru, membuat kekaguman berubah jadi rasa yang  mengkristal. Dia seperti mengikuti dan ikut berpetualang, di  perjalanan  dan pertumbuhan holistik seorang sahabat.

 

 

person with red umbrella walking on street during nighttime

source

Kedalaman rasa mengalahkan logika. Rory Valdi Pradakian  nama pena, dan tidak seorang pun tahu, dia laki-laki atau perempuan. Tapi dia tidak mampu membendung rasa yang semakin kuat.

Bukannya semakin samar dan menghilang, karakter Rory Valdi Pradakian justru semakin kuat membayanginya. Saat kerinduannya tak tertahankan, seperti orang gila,  dia akan pergi ke suatu tempat dan membaca buku-buku Rory Valdi Pradakian. Atau bekerja sampai tubuhnya terlalu lelah dan akhirnya tertidur.

Alis Galang berkerut dalam. Virus keyakinan almarhumah menular. Dia mencatat dalam pikirannya, agar tidak mengejek keyakinan orang lain. Berlawanan dengan cerita cintanya yang kandas, ia meyakini,  ada cerita  cinta  indah di dunia nyata. Ia memijit batang lehernya yang mengeras.

Menunggu tujuh tahun, harapannya tidak juga  terealisasi. Bukannya  memudar.  Ia semakin terpesona dengan pemikiran dalam cerita-cerita yang dijalin. Kedalaman pikiran dan kekuatan yang tercermin melalui tokoh-tokoh novel, membuatnya semakin mencintai novelis itu.

boy standing on ladder reaching for the clouds

source

Sudah berkali-kali dicobanya berkencan dengan gadis-gadis  cantik, cerdas,  dan menarik. Dia sudah berusaha sungguh-sungguh. Hatinya bersikeras  tidak mau  diajak negosiasi.  Sudah waktunya dia melakukan sesuatu, untuk membuang obsesi,  yang sudah  mulai  mengganggu konsentrasi bisnis. Pusat dunianya.

Ia mulai mencari jati diri Rory Valdi Pradakian. Tidak memerlukan waktu lama, pencariannya membuahkan hasil. Selintas  kelegaan luar biasa  memasuki hati. Novelis yang membuatnya terobsesi seorang wanita. Fakta lain membuat dahi Galang mengernyit.  Wanita  itu  sudah tidak sendiri.

Galang bersandar ke punggung kursi. Sebenarnya mudah baginya,  mencari siapa novelis itu. Pusat riset dan pengembangan yang dimilikinya,  memiliki teknologi  sangat canggih dan dipegang para profesional yang kompeten.

Tapi selama ini dia pikir, kasusnya pasti  sama. Seperti ketika rasa bersalah membuatnya hancur.  Perlahan dia  bisa menata  hidup hingga  kembali  normal.  Ketertarikan  pada Rory Valdi Pradakian, akan   hilang  seiring berjalannya waktu.

Galang menegakkan tubuh  dari  sandaran kursi empuk, yang berlapiskan kulit halus mahal yang hitam mengkilat. Dania, seorang dokter yang populer di kalangan pasien dan koleganya, nama asli  Rory Valdi Pradakian  di dunia nyata. Galang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tampaknya tak ada seorang pun di sekelilingnya yang tahu, dia adalah Rory Valdi Pradakian.

Diraihnya foto-foto yang bertebaran di meja kerjanya. Foto-foto Dania tampak begitu ceria dan bahagia. Tampak sangat cantik dan menarik. Selalu tersenyum dan gembira, di setiap jepretan orang yang disuruhnya membuntuti Dania.  Persis  seperti sosok yang dibayangkan Galang, saat membaca  tulisan-tulisannya.

Dalam foto-fotonya dengan kekasihnya, Bram, Dania terlihat sangat … sangat bahagia. Dia menarik nafas panjang. Dadanya sesak. Cemburu bergejolak naik sampai ke kepala. Dia mengambil pulpen. Diletakkannya foto-foto tersebut. Dicoret-coretnya semua wajah  Bram sampai foto itu hampir bolong.

Diambilnya foto-foto yang lain. Foto Dania dengan keluarga Bram. Sepasang suami istri setengah tua yang kelihatan baik hati dan seorang gadis yang lebih muda dari Dania. Keliatannya mereka berempat sangat akrab, walaupun Bram tidak ada.

Sudah sebulan informasi ini melayang dan bermain-main di kepala. Logika memberi ide, ia harus melepaskan Dania. Dia memang bukan tipe orang yang menghalalkan segala cara, untuk mendapatkan keinginan.

Tapi … sesuatu dalam hati, seperti  menyuruh menunggu …. Ditambah …  dia belum siap melepaskan Dania begitu saja. Tidak mengetahui sosok novelis itu saja sudah membuatnya kelimpungan. Apalagi setelah dia melihat sosok itu di dunia nyata. Hidupnya pasti tidak sama lagi seperti sebelumnya. Dia tahu, kali ini, mungkin luka hatinya, tidak akan pernah sembuh.

Galang menghela nafas panjang. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Tanpa sadar hatinya berkata-kata, “La Ilaha Illallah … La Ilaha Illallah … La Ilaha Illallah ….

Dia tertegun, saat menyadari, salah satu tindakan,  yang akan dilakukan Dania, jika  tokoh berada dalam posisi yang membuatnya bingung. Sebuah perasaan damai asing memasuki hati. Ini  kedua kali, tanpa sadar dia menghadirkan-Nya dalam usaha.

Sudah tujuh tahun dia menjauh, namun semua  bisnis yang dibangunnya malah berjalan lancar dan sukses. Selama ini dia tidak memerlukan Allah dalam menjalani hidup. Galang menyisir rambut dengan jari.  Dia pasti sudah sampai di ambang batas harapan. Bram dan Dania, dari sudut mana pun dia melihat, keduanya pasangan serasi.

Pandangannya mengarah ke langit-langit kantornya. Matanya berkeliling ke penjuru ruangan. Empat perusahaan startup-nya di bidang e-Commerce sukses.  Begitu perusahaan pertama meraih sukses, sembari memperbaiki sistim perusahaan dan sedikit kekurangan di beberapa lini, dia membuka perusahaan  startup  penjualan barang online. Menyusul penjualan furniture online. Kecepatan dan peningkatan value, menjadi jiwa perusahaan. Pundi-pundi uang berdesakan mengalir deras  ke rekening.

Dia sudah memiliki semua yang diimpikan. Bahkan jauh melampaui impian-impian tergilanya. Dengung lembut desir AC, tidak berefek. Tubuhnya malah sedikit berkeringat.

Seorang wanita baik yang kuat, sosok yang diinginkannya menjadi istri dan ibu anak-anaknya. Matanya tanpa sadar melirik map file Silvie. Apa kurang wanita itu?

Dahinya berkerut. semua kriteria yang dia ajukan,  dipenuhi adik almarhumah.

Kenapa adik almarhumah mengambil jurusan bisnis, tahun berikutnya,  sembari terus meneruskan kuliah di Fakultas Keperawatan?

Kerutannya makin dalam.

Mungkinkah?

 

Bandung Barat, Senin 8 Oktober 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *