Fiction

Silvie Davira

cloudy sky

source

 

Silvie Davira mengetuk  pintu ruangan lembut. Dia membuka handle pintu perlahan ketika suara di dalam menyuruh masuk. Matanya langsung mendapat sosok tubuh tinggi atletis berdiri membelakanginya.

Alis Silvie terangkat sedikit, melihat pakaian yang dikenakan bosnya, ketika tubuh tegap tanpa lemak itu berbalik. Jeans belel, kemeja biru polos yang mulai pudar, ditekuk di bawah siku. Dia menghela nafas, tetap saja tidak mengurangi daya tarik pria itu.

“Silakan duduk, Silvie,” Galang ikut duduk di kursi di belakang meja kerja.

“Terima kasih, Pak,” Silvie mengangguk seraya tersenyum.

“Jangan panggil aku, Pak, kalau kita hanya berdua,” Kening Galang mengernyit sedikit.

“Maaf, kebiasaan. Bagaimana rencana bisnis yang aku ajukan?” Silvie duduk tegak di kursi.

“Bagus. Penjualan barang second original yang masih bagus. Aku akan berikan modal  yang kamu butuhkan.”

“Nominalnya tidak kecil. Kau akan berikan begitu saja?” tanya Silvie tidak percaya.

Kepala Galang meneleng. Wajahnya terlihat serius. “Aku tidak senaif itu, Silvie. Walaupun aku sudah lama mengenalmu, bisnis tetap bisnis. Kau sudah melakukan riset pasar dengan teknologi dan tenaga-tenaga terbaik. Orang-orang yang akan kau rekrut, kompeten di bidang masing-masing. Apa lagi yang kau khawatirkan?”

“Bagaimana kalau bisnis ini gagal dan semua modalmu habis?”

“Dalam setiap bisnis akan selalu ada resiko. Selama kau sudah mempersiapkan yang terbaik, maju terus. Kita sudah melakukan bisnis e-Commerce sejak lima tahun lalu.” Kepala Galang  lagi-lagi meneleng, ”Kau tidak belajar sesuatu?”

“Aku belum pernah pegang langsung. Walau selalu jadi tim inti inovasi, tetap saja aku bekerja sebagai tim.  Hanya menjadi follower. Bebannya tidak sebesar ini,” kilah Silvie.

Galang tersenyum lebar  memandang wajah cantik yang terlihat cemas. “Tandanya kamu naik kelas, kalau diberi tanggung jawab lebih.”

Silvie terpana melihat senyum Galang. Dia tidak pernah melihat laki-laki di hadapannya ini tersenyum santai. Bahkan saat momen-momen bersejarah perusahaan, atau ketika dia meraih berbagai penghargaan di tingkat nasional. Hanya kedua  sudut bibir naik sedikit. Sebuah wajah resmi yang sudah terlatih baik.

Berbeda dengan cerita-cerita langsung atau catatan di diary kakak. Laki-laki itu digambarkan sosok periang, selalu membuat kakak tertawa. Manja dan sering menggoda kakak. Bersama Galang, kakak bisa menjadi diri sendiri. Hanya memikirkan diri sendiri. Bukan jadi malaikat  penjaga, yang siap membantu orang yang memiliki kesulitan. Siapa pun atau apa pun mahluknya. Kakak memang luas biasa penyayang.

Awal tentu saja dia tidak percaya. Tidak ada laki-laki sempurna. Kaya, ganteng, pintar, baik hati, setia. hanya ada di dongeng Hans Christian Andersen.

Lebih banyak kepedihan, kesedihan, dan orang jahat yang ditemuinya. Tidak seperti kakak yang mudah bergaul, dan gampang dekat dengan orang, dia sangat tertutup. Tertolong kecerdasannya, banyak orang mendekati dan berusaha jadi temannya. Dia bisa memilih sedikit dari mereka, jadi sahabat.

Galang  yang dikenalnya,  bukan sosok orang yang selalu diceritakan  kakak. Sejak awal bertemu, saat kakak berpulang, wajah itu terlihat sangat menyeramkan.   Tapi hatinya mempercayai laki-laki itu. Feeling-nya terbukti.

Dia mengurus semua pemakaman kakak. Bahkan sejak dari  rumah sakit. Galang juga  memberi support financial penuh padanya. Tempat kos mewah, uang saku bulanan, buku-buku referensi yang bahkan dia belum tahu.

Ketika dia menolak, Galang melotot padanya, berkata,”Kamu harus sukses! Jangan biarkan kematian kakakmu sia-sia.”

Laki-laki itu sering datang menemuinya, sebelum dia melanjutkan kuliah bisnis di Cambridge. Memastikan dengan mata kepala sendiri, dia tidak kekurangan apa pun. Bahkan saat kuliah di luar, semua bantuan dan dukungan tidak berhenti. Hanya kunjungan rutin, digantikan sahabat-sahabat dekatnya.

Syukurlah, kebiasaan mandiri yang ditanamkan kakak sudah berurat akar dalam mentalnya. Dia tidak menggunakan uang saku dari Galang. Dia tetap mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Dia menerima tawaran mengajar les anak-anak SMP dan SMA.

Semua uang dari Galang, digunakannya untuk mengambil S2. Magister Administrasi Bisnis – Kewirausahaan. Selain kakak, hanya laki-laki itu. Orang yang tidak membutuhkan sesuatu darinya, tapi selalu ada dan seperti hadir dalam keseharian hidupnya. Bagaimana dia tidak ….

Sebuah perasaan aneh tiba-tiba memasuki perasaan. Ada yang berubah. Matanya melihat sekilas, novel kucel di atas meja. Nafasnya tercekat. Novel warisan kakak. Baru sekarang novel itu terlihat lagi. Selama ini  laki-laki itu  tidak pernah membiarkan siapa pun, termasuk dirinya, mengetahui kehidupan emosionalnya.

Kesedihan tanpa sebab merembes. Laki-laki di hadapannya berubah karena kakak meninggal. Mungkinkah sekarang ….

source

Profesionalisme Galang mengambil alih. Ia mengamati Silvie sesaat. Ada kecemasan di wajah yang biasanya terlihat tenang. Dia memperbaiki posisi duduk, melihat arlojinya sekilas. Memotivasi Silvie, harus menggunakan hati dan logika berbarengan.

“Aku melakukan pendekatan berbeda saat ini.”

Mata Silvie bersinar. “Aku akan memanggil teman–”

“Jangan! Belum saatnya, aku berbagi,” ujar Galang lembut. Melihat wajah gadis itu merona, dengan cepat dia melanjutkan, “Aku belum siap berbagi dengan teman-teman. Kau kuanggap sebagai ….”

“Sahabat dekat,”Dengan lembut  Silvie melanjutkan kata-kata Galang, ketika melihat laki-laki itu kebingungan memilih kata-kata. Rasa hangat dan bahagia, menyebar perlahan dalam hatinya. Menyirnakan kegelisahan.

Galang hanya menganggukan kepala. “Kita hanya diminta, bekerja! Jadi bekerjalah! Jangan pikirkan hasilnya. Ucapkan bismillahirrahmanirrahiim. Perkuat dengan ikhlas kalimat laa ilaha illallah.”

Dahi Galang mengernyit,  ketika Silvie hanya memandangnya, tanpa mengatakan apa pun. Tiba-tiba dia melihat airmata mengalir di kedua pipi wanita itu. “Silvie, kenapa menangis?” tanya Galang kaget.

“Kau sudah memaafkan-Nya?” tanya Silvie dengan suara bergetar

Galang mengambil saputangan yang sengaja diletakkan di laci mejanya. Dia tersenyum lemah, ketika memberikan saputangan itu pada Silvie. “Apa maksudmu?”

“Aku ada di sana bertahun-tahun, Galang,” tukas Silvie. Ia menghapus air mata kebahagiaan. Perasaan lega membanjiri hati.

“Aku sudah mulai bisa memaafkan diriku sendiri … jadi tidak perlu kambing hitam,” sahut Galang lembut. “Aku sangat beruntung. Dia sangat baik padaku.”

Wanita dihadapannya, mengkhawatirkannya selama bertahun-tahun. “Kenapa kau tidak pernah mengatakan sesuatu?”

“Kakak pernah bilang, saat kau sudah mengambil sikap, hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hatimu … jadi, aku tidak akan membuang-buang energi. Tapi, kau orang baik. Allah pasti akan membalikkan hatimu.”

“Terima kasih sudah mendukung dan mempercayaiku selama ini.” Lagi-lagi Galang menarik nafas panjang. Sama seperti Dania, wanita di hadapannya, juga menemani jatuh bangun selama ini. Wanita ini juga ….

La ilaha illallah … la ilaha illallah … la ilahaillah ….

“Apa yang membuatmu sangat putus asa, sampai kau mulai kembali padanya?” tanya Silvie lembut.

Nafas Galang tertahan di tenggorokan.

 

Bandung Barat, Selasa 9 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *