Uncategorized

Human, Desire, Hope # 6

source

Galang berdiri mematung. Otaknya berputar cepat. Dari balik kaca mata hitam, dia melihat Dania berjalan semakin mendekat. Sebelum sempat bereaksi, gawai Dania berdering. Wanita itu langsung berbalik arah menuju mobilnya, setengah berlari.

Dengan hati lega, Galang menjalankan motor. Dahinya berkerut dalam, mendengar teriakan deru mesin mobil Dania. Pasti panggilan darurat dari rumah sakit. Dia harus berhenti membuntuti Dania, hari ini.

Setelah nyaris ketahuan kemarin, ia kembali menyerahkan tugas membuntuti Dania, pada orang kepercayaannya. Apa yang terjadi? Kenapa Dania pergi ke tempat itu? Kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri, dia tidak akan percaya. Benar-benar di luar kebiasaan wanita itu.

Dia bangkit, menggeser  pintu kantor yang mengarah  ke  luar. Seperti biasa angin keras berhembus, di lantai tertinggi gedung ini.  Langit biru cerah. Sangat biru, bersih, dan luas.  Tidak ada awan segumpal pun. Dia melepas sepatu, berjalan di bawah pohon besar di sisi kanan kolam renang. Udara segar memenuhi paru-paru.

Dia hanya menarik alis ke atas sedikit, ketika kalimat tauhid itu kembali dilantunkan dalam hati. Tanpa diperintah. Dia  membiarkannya, kali ini. Rasa sesak  yang menekan  berangsur-angsur mereda. Dadanya mulai terasa lebih lega. Ketenangan mulai memasuki hati.  Dia kembali masuk ruangan.

Tiba-tiba gawai  berdering.

“Halo Ma, apa kabar?”

“Baik… Kamu lagi sibuk engga, Galang?” tanya mama dari seberang.

“Hm … ada apa, Ma?” sahutnya sambil berjalan ke arah meja kerja. Dia  memainkan pulpen di tangan, setelah duduk di kursi.

“Mama, mau ketemuan sama Tante Faren,  … Sahabat Mama …. Kita tetanggaan waktu kamu masih SMP… Mama sekarang sudah di jalan …. Temenin Mama, yuk! Dia juga diantar sama anaknya. Eh… kamu masih ingat engga, sama  anaknya?  …. Yang suka kamu tarik-tarik rambut panjangnya sampai nangis. Dia juga mau ikut,” lanjut mama tanpa jeda.

Galang tersenyum kecil. Penyakit mama kambuh lagi. Entah sudah berapa kali, dia dikenalkan pada anak teman mama. Dan sepertinya, teman-teman mama sangat banyak. Tidak habis-habisnya dia dikenalkan dengan anak teman dan sahabatnya. Walaupun mama belum lama kembali ke Indonesia.

Namun saat ini, moodnya lagi jelek. Dia sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Apalagi anak perempuan cengeng.

“Aduh… maaf ya, Ma. Aku lagi ada kerjaan,” sahut Galang perlahan. Tangannya mengambil tumpukan dokumen yang harus diperiksa dan dia tandatangani.

“Iya, engga apa-apa, sayang …. Mama juga kok iseng banget ya, telpon kamu jam segini. Padahal kalau mendadak seperti ini, biasanya kamu pasti engga bisa…. Lagi pula, anak Tante Faren,  juga sudah punya pacar,” ujar Mama sambil  menghela nafas. “OK deh, bye honey.” Tanpa menunggu jawabannya, Mama memutuskan sambungan.

Galang tersenyum kecil. Mama seperti sangat tidak sabar, ingin bertemu Tante Faren. Memiliki banyak sahabat, dna dari mama. Dia tersenyum penuh syukur. Tiba-tiba  senyumnya melebar, saat ingat, bagaimana ia sering kali menarik rambut  anak perempuan lucu, yang tiga tahun lebih muda, sampai anak itu menangis.

Anak perempuan dengan rambut panjang yang selalu di kepang. Walaupun kulitnya tidak seputih Tante Faren, tapi Galang selalu menganggapnya, anak yang lucu dan manis. Anak itu baik hati. Dia sering kali melihat anak itu, memberi sesuatu, jika ada peminta-minta di jalan. Hanya karena jengkel dipaksa mamanya pergi, padahal sebenarnya dia ingin jalan  bersama teman-temannya, dia sering iseng mengganggu anak itu.

Seakan tahu kejengkelan hatinya, anak itu  tidak pernah mau bila diajaknya berbicara.  Kalau kedua keluarga mereka bertemu, dia akan menempel seperti permen karet ke mamanya. Mama  selalu menyuruhnya mengajak  anak itu  bermain. Untung saja gadis kecil itu selalu menolaknya. Tentu saja. Dia selalu mengajaknya bermain, dengan mata melotot.

Karena mama tidak berhenti menyuruh,  dia sengaja menarik-narik ujumg kepang, sampai anak perempuan itu menangis. Kalau sudah menangis, mamanya tidak akan sibuk memelototinya. Mama dan Tante Faren akan sibuk, mendiamkan tangis anak perempuan itu.

Senyum Galang menghilang, saat matanya kembali menatap foto-foto Dania. Apa yang harus kulakukan sekarang? Tapi ….

Mengapa Bram tak kunjung melamar Dania? Bahkan setelah tujuh tahun pacaran, mereka sama sekali belum bertunangan.

Walaupun menurut informasi yang diperolehnya, kedua orangtua Bram  sudah sangat  mendesak  anak mereka,  melamar Dania, keliatannya laki-laki itu sama sekali tidak berfikir ke arah sana. Belakangan,  malah santer berita tentang kedekatannya dengan wanita lain.

Bram pasti sudah gila.

 

 

source

Telpon di meja  berdering. Dengan malas dia mengangkat gagang telpon. Suara sekretarisnya terdengar.

“Sambungkan!”  ujar Galang dengan hati berdebar-debar. Dia sudah berpesan, kalau ada berita terbaru dan penting, dia harus langsung dihubungi. Kapan pun waktunya.

Ada sebuah kiriman ke gawai. Sambil mendengarkan, dia membuka pesan masuk.

Tiba-tiba tubuhnya menegang. Hatinya seperti terlompat keluar, saat melihat foto-foto yang baru diterimanya.

Mama  mencium seorang gadis muda. Ya Tuhan! Gadis itu Dania. Galang menepuk keningnya keras. Telpon itu langsung ditutup.  Dilihatnya lagi foto-foto yang baru masuk kegawai. Tante Faren … Nia … ternyata ….

Wanita yang membuatnya terobsesi selama tujuh tahun terakhir, ternyata  anak kecil, yang dulu selalu diganggunya sampai menangis.

Galang segera menyambar jas yang tersandar di kursi kerja. Setengah berlari, dia keluar dari ruangan kantornya, sembari mengenakan jas.

“Suruh Dono siapkan mobil di bawah. Saya mau pergi sekarang!” teriaknya pada Carla, sekretarisnya.

“Baik, Pak,” sahut Carla.

Carla segera mengangkat telpon, dengan kening berkerut. Tidak pernah dia melihat Galang terburu-buru seperti itu.  Ada apa, ya? Penting sekali keliatannya.

Seorang petugas lift eksekutif,  langsung memencet tombol turun, begitu melihat Galang setengah berlari menuju lift.

Galang segera menelpon mamanya. Dia kembali menelpon, begitu panggilan pertama mati, karena belum diterima.

Bandung Barat, Jumat 12 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *