Fiction

Dokter Dania # 9

pink and red roses on clear glass vase

 

source

Dania  sengaja parkir di  jajaran depan mobil Bram parkir. Dia  menatap mobil Bram, dengan perasaan tidak menentu.

Aneh, apa yang kurasakan saat ini?

Dania mengeleng-gelengkan kepala. Berusaha mengusir emosi  negatif yang tiba-tiba menyergap.

Dia memaksakan  senyum di wajah dan  di  hati. Setelah merasa lebih nyaman  dan tenang, baru tangan Dania meraih handle pintu. Sesaat matanya melihat ke arah spion atas. Senyumnya melebar.

Seperti biasa, pasien sudah banyak yang menunggu. Pasiennya lintas usia. Sambil tersenyum, pada para pasien yang sudah duduk rapi di ruang tunggu, dia masuk ruangan. Jam di dinding putih ruang praktek , di atas lemari obat  menunjukkan pukul 8.45.

source

Alhamdulillah, aku bisa menenangkan diri terlebih dahulu.

Dania memejamkan mata, merilekskan seluruh tubuh. Aroma lemon dari pengharum ruangan yang terpasang di ujung ruangan, tercium indra pembau.  Lima menit kemudian, setelah dia membuka mata, masuk suster yang biasa membantunya dalam ruangan.

“Pagi, Dokter Dania … penampilan baru, Dok?”

“Pantes engga?” Dania merasa sedikit sungkan menerima tatapan meneliti suster, yang membawa data-data pasiennya.

“Tambah cantik, aja Dokter, keliatannya. Selama ini tidak pernah pakai warna cerah … padahal pantas sekali pakai warna pink. Potongan rambutnya juga cocok dengan wajah Dokter.”

“Terima kasih,” ujar Dania sedikit malu. Setelah meminta persetujuannya, suster mulai memanggil nama pasien.

“Halo, selamat pagi,” sapa Dania dengan ramah dengan senyum tersungging di bibir.

“Pagi, Dok,” sahut seorang ibu yang mengantar anaknya, sambil duduk di hadapannya. “Ini Dok, katanya perutnya sakit. Pusing. Batuk. Agak panas badannya.”

Dania menulis keluhan  di kartu pasien.

“Kenapa Karin…?” Dania tersenyum menatap Karin. Seorang anak perempuan berusia 10 tahun, terlihat sangat pucat. “…perutnya mual?”

Karin mengangguk lemah.

“Yuk, periksa dulu,”  ujar Dania. Saat memeriksa dada dan punggung  Karin dengan stetoskop , Dania berkata, “Tarik nafas panjang! … dadanya sesak, ya? ”

Lagi-lagi Karin  mengangguk.

Dania berjalan kembali menuju meja.

“Asam lambungnya naik … Kamu lagi mau ujian?” tanya Dania, setelah mengecek kedatangan terakhir Karin.

“Mau UAS, Dok,” sahut Mama Karin.

“Kenapa, kamu takut ya?” tanya Dania lembut.

Karin hanya terdiam, menatap Dania dengan pandangan tidak mengerti.

“Biasanya dia selalu dapat rangking satu. Keliatannya memang agak sedikit tertekan, takut  tidak juara satu lagi,” sahut Mama Karin, yang sudah  sering menjadi pasien Dania.

Dania  mengangguk. Mengalihkan pandangannya ke arah Karin.

“Ini kalau Dokter Dania lihat, kamu sakit hanya menjelang kenaikan kelas, atau bagi rapot semesteran…. Asam lambung  Karin naik,  ini karena terlalu khawatir…. Karin rajin belajar?”

Anak kecil itu menggeleng sangat perlahan.

“Sekarang rasanya sakit sekali, ya?”

“Dokter kasih obat … sementara makan bubur dulu … jangan makan yang pedes dan gorengan dulu, ya. Engga enak rasanya sakit, Karin?”

“Iya, Dokter. Tidak enak.”

“Kalau mau sehat terus gampang. Setiap hari Karin  belajar sungguh-sungguh, dan rajin berdoa. Hatinya pasti lebih tenang, saat menjelang ujian atau menerima rapot…. Kalau tidak takut atau khawatir, asam lambung Karin tidak  akan naik. Mau jadi apa nanti kalau sudah besar?” tanya Dania.

“Jadi dokter,” sahut Karin sembari tersenyum malu-malu.

“Wah, hebat sekali!. Kalau mau jadi dokter  hebat, harus rajin belajar, mulai sekarang, ya …. Ini  obatnya.”

“Terima kasih banyak, Dok,” ujar Mama Karin.

“Sama-sama, Bu. Semoga lekas sembuh ya, Karin!”

Dania memperhatikan Karin dan Mama Karin meninggalkan ruangan, dengan mengucapkan syukur di hati, karena bisa membantu seseorang.

“Pak Broto,” panggil suster.

Seorang lelaki tua memasuki ruang praktek Dania, ditemani laki-laki  tampan.

“Pagi, Pak Broto,” sapa Dania. Dia menjabat tangan yang diulurkan Pak Broto.

“Pagi, Dok,” sahut Pak Broto. “Saya pusing sekali, Dok!”

“300 per 160, Dok,” ujar suster.

“Tensinya tinggi sekali, Pak. Bapak kenapa?” tanya Dania lembut.

“Periksa dulu, ya Pak,”  ujar Dania sembari berdiri, kemudian berjalan ke tempat tidur pasien.

“Makannya sembarangan, ya?” tanya Dania, sembari menulis resep tambahan, setelah dia kembali duduk.

“Hehehe… ketahuan ya? Kemarin cucu-cucu pada datang semua. Diajak makan sate kambing, tongseng, gulai, waktu pada mau pulang. Langsung terasa sakit kepalanya.”

“Pak Broto, makanan Bapak sudah harus dijaga. Sesekali boleh, tapi jangan over seperti itu. Saya kasih tambahan obat ya, dietnya seperti biasa. Ini putranya, Pak?”

“Iya, Dok. Yang bungsu, baru pulang dari Amerika, ambil S3. Belum punya istri, Dok. Sama kayak Dokter Dania,” ujar Pak Broto, sambil tersenyum lebar.

Mata Dania mengerjap mendengar keterusterangan Pak Broto. Pipinya terasa panas. “Hehehehe… Pak Broto …. ”

Dia melihat sekilas ke arah anak Pak Broto. Laki-laki muda di samping Pak Broto, tertegun sesaat menatapnya. Dengan segera anak Pak Broto  mengulurkan tangan.

“Eko,” katanya memperkenalkan diri.

“Dania,”  ujar Dania sambil tersenyum setengah resmi.

Pak Broto tersenyum lebar, melihat Dania yang tampak malu.

“Kamu kalau sendiri, belum tentu Dokter Dania mau kenalan sama kamu ….  Benar kan, yang Papa bilang. Dokter Dania ini cantik sekali, baiknya luar biasa. Papa saja, begitu masuk ruangannya, pusingnya sudah hilang.”

“Pantas, dari kemarin mau di bawa ke rumah sakit lain, Papa nolak. Katanya sudah cocok sama Dokter Dania. Wah, besok-besok kalau ke sini, mama harus diajak, Pa, ” canda Eko  riang.

“Mama kamu juga pasiennya Dokter Dania. Malah dia lebih rajin dari Papa. Setiap bulan, sakit engga sakit, pasti datang ke sini. Katanya kangen mau liat Dokter Dania, begitu bilangnya kalau lagi tidak sakit.”

Dania hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka berdua.

“Pak Eko-“

“Eko aja, Dok,” sahut laki-laki itu  sambil tersenyum.

“OK … Pak Broto ini pernah kena stroke ringan. Diusahakan jangan sampai terulang lagi …. Makanannya harus sangat di jaga. Orang-orang terdekatnya, harus berani mengatakan tidak, kalau sudah terlalu banyak makan, makanan yang harus dihindari.”

“Papa tidak bisa dibilangin, Dok. Bandel, suka semaunya sendiri,” tukas Sigit dengan dahi berkerut.

“Wah… kalau begitu repot, Pak Broto.” Dania mengalihkan pandangannya pada Pak Broto. “Gimana rasanya dikunjungi  cucu-cucu Bapak?”

“Senang luar biasa, Dok. Cucu saya sudah ada yang mau kuliah, ada yang masih SMP, dan SD. Ada yang mau disunat. Eko,  nanti ingatkan Papa ya, undang Dokter Dania…” ujar Pak Broto seraya menoleh ke arah Eko.

“Terima kasih.” Dania tersenyum pada Pak Broto.

“Kalau Bapak  sehat, Bapak bisa menemani cucu Bapak, jalan-jalan, kalau mereka datang. Kalau  Bapak sakit, sudah tidak  bisa kemana-mana, badan juga  tidak bisa bebas digerakkan. Semua harus dibantu. Jadi  kalau Bapak tidak jaga makan,  Bapak tidak  bisa  senang-senang  dan pargi sama cucu-cucu lagi, gimana?” tanya Dania.

Pak Broto menatap wajah Dania dengan wajah serius.

“Seperti nabung makanan pantangan, supaya banyak senang-senang ya, Dok?”

“Iya … seperti itu, Pak,”  sahut Dania sembari tertawa kecil.

Pak Broto manggut-manggut. “OK, mulai sekarang, saya akan jaga makanan saya. Saya mau sehat terus, biar bisa lihat cucu-cucu saya menikah.”

“Kok cucu-cucu, Pa! Aku aja juga belum menikah!” sela Eko.

“Oh iya… kamu juga,” kata Pak Broto sambil menepuk punggung Eko perlahan.

Dania mengacungkan jempol.

“OK, Dokter Dania, terima kasih banyak, ya. Salam dari ibu,” ujar Pak Broto sambil mengulurkan tangannya.

“Thanks ya, Dok. Papa  keliatannya nurutnya sama Dokter aja. Kalau saya mau ketemu, Dokter,  tidak harus jadi pasien seperti mama, kan ya?” tanya Eko.

Pak Broto dan Dania tersenyum mendengar pertanyaan Eko.

Dia mengantar kepergian Pak Broto dan Sigit dengan pandangan mata. Hatinya kembali mengucapkan syukur, telah membantu seseorang lagi.

Saat sedang berhadapan dengan para pasienya, Dania seakan-akan melupakan semuanya. Dia begitu senang, bisa membantu meringankan beban orang lain. Satu persatu pasien keluar masuk ke ruang praktek Dania. Ketika pasien terakhir meninggalkan ruangannya, jam di ruangannya menunjukkan pukul 12.30.

Ya Allah, sudah lewat sejam, dari waktu janji ketemu  dengan Bram. Apakah Bram masih menunggunya?

 

Bandung Barat, Selasa 16 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *