Fiction

Transformasi. Untuk siapa? # 10

source

Dania  menarik nafas lega, begitu melihat sosok Bram sedang duduk  di cafetaria.  Laki-laki itu sibuk menulis di laptop. Dia mempercepat langkah.

“Sorry, Bram. Baru selesai. Sudah lama?” Dania menarik kursi di hadapan Bram.

Bram melihat arlojinya sekilas. “Lumayan,” sahut Bram tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. Tangannya terus sibuk mengetik.

“Mau makan apa, Bram?” tanya Dania, begitu melihat hanya ada gelas bekas minum di atas meja. Perutnya keroncongan.

“Aku engga bisa lama …. “ Kalimat Bram terhenti, ketika kepala itu akhirnya mendongak. Mata Bram  tidak teralih dari wajahnya.

Dada Dania mengembang dengan kebahagiaan. Sudah lama sekali, Bram tidak menatapnya seperti ini.

“Aku ganti model rambut. Gimana, pantes engga?” Dania memegang rambutnya dengan senyum lebar.

Pandangan Bram turun dari wajah ke tubuhnya. Dahi Bram sedikit berkerut.

“Cantik. Pantes. Kenapa tiba-tiba mengubah penampilanmu?”

Dania mendekatkan wajah ke arah Bram. “Katanya,  aku keliatan lebih muda, ya?”

Bram mengangguk. “Apa yang mau diomongin, Dania?”

Dania memperhatikan sekeliling sekilas. Cafetaria semakin penuh. Orang lalu lalang. Suasana  hiruk pikuk. Begitu selesai makan, meja dibersihkan, langsung ditempati pengunjung lain, yang sudah menunggu.  “Bisakah kita pindah tempat?”

Kepala Bram meneleng. “Sebentar lagi aku harus pergi, Dania.”

Dania mengangguk. Ia menarik nafas dalam. “Begini, Bram. Kita kan sudah lama bersama, apa tidak sebaiknya  kita –“

“Maaf, dr. Bram, boleh minta foto-nya?” potong seorang gadis cantik, yang tiba-tiba berdiri di sebelah kursi Dania.

Bram mengangguk, sembari mengulas senyum

Dania bersandar ke punggung kursi. Wanita cantik itu hanya pembuka. Tiba-tiba meja mereka sudah dikelilingi orang.  Dia sudah menunggu 10 menit, nampaknya fans Bram di cafetaria itu semakin bertambah, bukannya berkurang.

Tiba-tiba gawai  Bram berdering. Ia minta izin sejenak, untuk menerima telepon. Melihat arloji sejenak, sebelum menutup pembicaraan. “Maaf, saya harus pergi sekarang.”

“Dok, sekali lagi, Dok!”

Bram mengangguk. Lagi-lagi berpose sembari tersenyum. Kemudian dengan terburu-buru dia membereskan  laptop. “Sorry, Dania, aku harus pergi.”

“Telpon dari siapa?” tanya Dania jengkel.

“Dari yang punya PH. Mau ada perubahan acara Talkshow, kita harus konsolidasi dulu … nanti aku telpon, ya.” Tanpa menunggu jawaban Dania, Bram bergegas pergi.

Dania menarik nafas panjang.  Perutnya tiba-tiba terasa kenyang. Dia menyandarkan punggung. Berusaha mencerna peristiwa yang baru terjadi.

Ketika tidak ada satu pun alasan baik yang terlintas, ia tersenyum lembut pada diri sendiri. Alhamdulillah, dia melakukan perubahan make up wajah dan penampilan, untuk menyenangkan diri sendiri.

Ingat Dania! Semua takdir Allah hanya punya dua efek. Baik dan baik sekali. Dia sangat baik kepadamu.

Yaa Aziz Yaa Hakim, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Bijaksana. Yaa Aziz Yaa Hakim …  Yaa Aziz Yaa Hakim … Yaa Aziz Yaa Hakim …  Yaa Aziz Yaa Hakim ….

Source

Dania melihat, seorang wanita cantik paruh baya berdiri di ambang pintu cafe,  sedang  melihat arloji. Mamanya langsung berdiri.

“Miranda!” teriak Mama Dania, seraya berjalan mendekat.

Wanita tersebut menoleh ke arah sumber suara.

“Fareeeennn!” Sebuah suara tak kalah nyaring menimpali.

Seperti film India, mereka berdua langsung berlari dan berpelukan. Melepaskan pelukan mereka. Saling mengguncangkan badan masing-masing, kemudian berpelukan lagi sambil tertawa-tawa dan menangis.

Dania geleng-geleng melihat tingkah mamanya. Tapi keliatan asik sekali. Bertemu dengan sahabat SMP, setelah lama tidak bertemu. Dia menopang dagu di atas meja. Memperhatikan keduanya, dengan senyum lebar. Bisa jadi salah satu bahan novel.

Mama lupa, kalau ke sini sama aku.

Dia memandang sekeliling.  Para pengunjung masih memperhatikan mama  dan Tante Miranda, yang memang sangat heboh. Apalagi, di usia mereka yang menjelang setengah abad, keduanya memang masih tampak anggun dan menawan. Tiba-tiba kepala mama celingukan.

“Ma…!” teriak Dania sambil melambaikan tangan.

Mama Dania  menggandeng tangan  Miranda, menuju meja Dania.

“Dania sayang!” Miranda langsung menarik tangan Dania, memeluk erat, dan langsung mencium kedua belah pipi Dania.

“Aduh! Kamu cantik sekali, sayang …. Kemana rambut panjangmu?…. Tapi, dengan model seperti ini, kamu tampak luar biasa.”  Miranda segera  duduk di sebelah Dania.

Dania tersenyum lebar. “Terima kasih, Tante. Tante Miranda juga  cantik, seperti dulu,” ujar Dania.

“Terima kasih, sayang ….  Aduuuhhhh, kamu masih nyenengin aja,”  sahut Miranda.

Kepala Miranda menoleh ke arah sahabat lamanya, “Berapa  lama kita tidak bertemu? Sekitar 15 tahun …?”

Mama Dania  mengangguk. “Kamu engga berubah ya! Gimana kabar Galang, sekarang?”

Bibir Miranda mengerucut sesaat. “Sebelum berangkat aku telpon. Lagi ada urusan yang  tidak bisa ditinggal katanya,” sahut Miranda. “Dania, kamu sudah punya pacar, ya?”

Dania mengangguk sambil tersenyum kecil.

“Wah, sayang yah …  tapi gadis menarik sepertimu, seorang dokter, mustahil kalau tidak punya pacar,” ujar Miranda. Ponselnya berbunyi. Miranda mengambil hp dari dalam tasnya.  alisnya terangkat sedikit, melihat nama yang tertera di layar.

“Hai Ma? Lagi apa?”

Suara Galang  terdengar buru-buru. Alisnya terangkat lebih tinggi. “Ketemuan sama Tante Faren, Mama Dania. Kan tadi Mama sudah bilang!”

Ponsel Dania berbunyi. Setelah bicara sebentar, dia segera menutup gawai. Dania  berpaling ke arah mamanya, dengan wajah menyesal.

Miranda melihat ke arah  wajah Dania, dengan khawatir. “Galang, nanti Mama telpon lagi!” bergegas dia menutup telpon anaknya. “Ada apa, Dania?”

Bandung Barat, Rabu 17 Oktober 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *