Fiction

Kuali Hati # 12

“Hm ….” sahut Dania lembut, “Ada apa, Mama sayang? … Mama tadi makan di mana,  sama Tante Miranda?”

“Eh … banyak … napak tilas … Dania … tadi Galang datang. Kamu masih ingat Galang?”

“Oh, yang suka  tarik rambut aku dulu ya? …. Masihlah, Ma. Gimana kabarnya dia sekarang? …. Anaknya sudah berapa?” tanya Dania dengan senyum lebar.

“Lho! Kok nanyanya begitu?” sungut Mama Dania.

“Engga anehlah, Ma! Waktu aku masih SD aja, dia kan sudah SMP …. Dia beberapa  tahun di atas aku. Kalau sudah menikah dan punya anak, ya wajar kan,” sahut Dania,  sembari  membuka pembungkus  plastik buku baru.

“Dia belum menikah … punya pacar juga engga.”

Dania meliriknya dengan mata tersenyum. “Hehehe …  Mama. Kayak peramal aja!”

“Orang   Miranda sendiri yang bilang.”

Dia  duduk di sebelah Dania. Melihat buku   yang sedang dibaca anak perempuannya sekilas. Kakinya diangkat ke atas ranjang Dania.  Tangannya  menarik selimut  lembut yang wangi sampai menutupi paha. Kemudian duduk seperti sedang bermeditasi. Suara binatang malam mulai terdengar. Aroma lavender tercium hidungnya.

“Mama sayang, ada apa sih? Bingung banget kayaknya!” Dania meletakkan buku yang sedang dibacanya, di tempat tidur, kemudian memeluk dirinya.

Mama Dania membalas pelukan Dania. Dia  mengelus punggung Dania dengan lembut, sebelum  melepaskan pelukannya. Setelah berfikir sejenak, sambil menghela nafas, Mama Dania merapikan anak rambut Dania.

“Mama bisa ngomong apa aja kan, sama kamu?” tanyanya perlahan.

Dengan pasti Dania mengangguk. Dia segera memindahkan buku yang diletakkan ke kasur, ke meja kecil di samping tempat tidurnya. Dania menggeser tubuh, hingga mereka duduk berhadapan. Melihat sikap mama yang kebingungan seperti ini, pasti ada sesuatu yang sangat penting, yang akan disampaikan. Biasanya mama selalu bersikap santai dan penuh percaya diri.

“Itu … mama dan Tante Miranda, Mama Galang, waktu kita masih kecil …  pernah buat janji …. Kalau punya anak laki-laki dan perempuan … kita mau … besanan,” ujar Mama Dania dengan pasrah.

Dania menatap mamanya dengan mulut terbuka. Matanya terbelalak.

“Mama!”

“Iya … iya …  Mama tahu. Mama tidak  punya hak mengatur hidup kamu … Cuma, tadi kami berdua tiba-tiba teringat  janji itu …. Mama …  sedikit kepikiran,” sahut Mama Dania lemah.

“Tapi Mama sudah bilang, kamu sudah punya pacar …. Lagi pula,  Tante Miranda kan juga sudah dengar dari mulut kamu sendiri tadi … Mama cuma mau bilang aja sama kamu. Tidak  apa-apa kan!” lanjut Mama Dania cepat. Tangannya  merapikan anak-anak rambut Dania.

source

“Mama …”

“Tidak  usah dipikirin sayang …. Kita bersahabat, kan?  Kalau ada yang mengganjal, seperti biasa,  sebaiknya kita bicarakan, bukan? …  Mama tidak  akan beratin kamu …. Tenang aja! Ini masalah Mama. Mama akan bicara dengan Tante Miranda nanti.”

Mama Dania  menepuk pundak Dania  perlahan. Sambil tersenyum, dengan langkah lunglai, ia meninggalkan kamar Dania.

Dania menatap langit-langit kamar dengan perasaan tidak karuan. Kenapa perasaannya jadi bimbang  seperti ini? Mama toh, tidak akan memaksa. Tante Miranda juga sudah tahu keadaanku.

Seperti biasa, saat menghadapi masalah yang tidak bisa diatasinya, saat itu juga, ia akan meninggalkan masalah itu. Menenangkan hati, dengan mulai dan terus melafazkan la ilaha illallah … la ilaha illallah … la ilaha illalah …

Tiba-tiba kantuk menyerang. Diucapkannya kalimat-kalimat tersebut tanpa henti, sampai dia tertidur.

source

Miranda menatap wajah suaminya, dengan perasaan jengkel. Tampak sekali Papa Galang berusaha keras, agar tidak tertawa terbahak-bahak.

“Pa, jangan begitu dong!” seru Miranda. “Tahu kan, aku sering mencemaskan Galang, sejak dia patah hati waktu kuliah.”

Matanya menerawang ke kejauhan dengan jengkel.

Setelah mampu menenangkan diri, sambil menghela nafas panjang Papa Galang  berkata, “Tapi Ma … kamu kayak engga kenal Galang aja! Lagi pula, berapa sekarang usianya? Hidupnya saat ini  sudah mapan begitu. Kita tidak boleh terus campur tangan hidup dia terus, lho!”

“Iya, aku tahu…” Miranda menyesap teh hijaunya yang sudah dingin. “Tapi aneh sekali… waktu aku ketemuan sama Mama Dania, dia telpon,  Pa! Sampai dua kali! Akhirnya malah nyamperin kita …. Dia yang jadi sopir aku sama Mama Dania!”

“Kenapa dia telpon?” sahut Papa Galang dengan alis terangkat tinggi.

“Katanya sih, mau nanyain kabar aku! Tapi suaranya itu lho … engga biasanya terdengar seperti itu. Meeting-nya batal. Katanya mumpung ada waktu senggang, dia mau datang. Sayangnya, Dania ditelpon rumah sakit, harus ke sana. Mereka engga sempet ketemu.”

“Iya … memang aneh, kalau begitu,” sahut Papa Galang. Untuk seorang pengusaha sekelas Galang, sedikit tidak logis, bila sebuah pertemuan bisnis, begitu mendadak dibatalkan. Diambilnya sepotong pisang keju yang keliatan sangat enak.

“Dia nemenin kalian berdua, seharian?”

“Iya… pas dia telpon aku matiin. Dania dapat telpon waktu itu, harus ke rumah sakit. Belum sempat aku telpon lagi, dia sudah telpon lagi. Aduh honey… ” Tangan Miranda menepuk paha suaminya perlahan.

“Dania itu menyenangkan sekali. Melihatnya saja, sudah sangat menyenangkan. Cantik, pandai, baik hati, sopan—“

“Tahu dari mana dia baik hati, Mama kan baru ketemu sekali?”

“Kamu tahu, kan, aku sangat sensitif.  Dekat Dania, rasanya nyenengin banget … Waktu dia mau pamit, berkali-kali dia mengatakan menyesal. Karena sudah janjian, mau pergi seharian  nemenin kami berdua. Anak sekarang, mana ada yang seperti itu?  Mengorbankan waktu libur yang jarang, nemenin mamanya pergi.”

Kepala Papa Galang  manggut-manggut.

“Cantik ya Ma, anaknya?”

“Wah … jangan ditanya.  Menjelang tiga puluh, dia masih terlihat sangat  muda. Mungkin karena hidupnya bahagia dan gembira. Mamanya juga bilang, dia punya banyak anak asuh … anak-anak panti.”

“Kenapa belum nikah, ya? Apa pacarnya engga takut, Dania diambil orang.”

“Iya,  mamanya  juga  bingung, dengan hubungan mereka berdua …. Sudah tujuh tahun katanya …. Tapi yang membuatnya agak tenang, mereka memang sama-sama sibuk. Walaupun praktek ditempat yang sama, jarang pergi berduaan. Apalagi pacar Dania sekarang sibuk sekali.”

“ Iya sih … namanya juga orangtua …. Punya anak gadis yang sudah dewasa dan mandiri. Pacarnya juga. Sama-sama dokter spesialis. Aku pasti akan merasa khawatir juga.”

Miranda menghela nafas sambil menyandarkan tubuh  ke bahu suaminya. Dia menarik nafas dalam, dengan mata terpejam. Berusaha meredakan rasa kecewa yang begitu menggigit. Suara rintik hujan memecahkan keheningan malam.

“Kami berdua … sama-sama memendam kekhawatiran terhadap Galang dan Dania …. Makanya,  begitu ide itu terlintas, kami berdua langsung menyukai ide tersebut.”

“Kalau seperti ini kondisinya sih,  lain lagi  Ma, ceritanya. Masih  ada kesempatan, buat kalian berdua,” ujar Papa Galang  tiba-tiba.

Miranda dengan cepat menegakkan tubuh. Dia menoleh ke arah suaminya dengan mata terbuka lebar, “Apa maksud Papa?”

“Aku lihat, banyak bolong hubungan Dania dengan pacarnya. Kalau aku jadi pacarnya, begitu aku mendapatkan pekerjaan, aku pasti akan segera melamarnya,” ujar Papa Galang  sambil menatap wajah istrinya dengan mesra.

Miranda tersenyum lebar.

“Di pihak lain, Galang juga masih belum punya pacar. Masih sendiri. Feeling kamu kan so good. Kalau kamu begitu senang sama Dania, keliatannya dia orang yang tepat, untuk menjadi menantu kita.”

“Aduh sayang !!!! … aku tahu kamu jenius. Tapi engga nyangka sejenius ini!” pekik Miranda kegirangan. Logika pikiran dan prediksi suaminya, sering sekali menjadi kenyataan di dunia nyata.

Dia mencium pipi suaminya sekilas.

“Gimana  kasih tahu Galangnya, ya …? Ini kan belum pasti … keadaannya juga  masih tidak jelas begini? Apalagi Dania sendiri, masih punya pacar sekarang.”

 

Bandung Barat, Jumat 19 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *