Story

Saya Iri

Source

Rabu, 17 Oktober 2018, beberapa saat menjelang magrib, saya bertemu seorang teman. Setelah bicara ngalor ngidul, tiba-tiba dia berkata, “Bu, saya teh kalau ada masalah kan, pengennya keluar. Karena sudah tidak ada yang harus diurus di rumah, jadi saya keluar. Berhenti makan, di tempat saya pengen makan.”

“Me Time, ya, hehehe,” ujar saya,

Kepalanya mengangguk seraya tersenyum. “Ya, me time.”

Kami  berdua terus berjalan perlahan menuruni undakan tangga mesjid, “Pernah suatu kali, saya ada masalah yang menurut saya berat … saya muter aja, setelah makan, jalan lagi … engga disengaja, saya  lewat mesjid. Saat itu sudah Slewat waktu dzuhur, jadi saya mampir ke mesjid … Saya ke lantai atas,  tidak ada orang di sana. Setelah sholat,  pas baca istighfar. Tiba-tiba airmata keluar aja …. Wah saya nangis engga karu-karuan. Setelah itu rasanya plong. Pas sampai rumah lagi. Masalah sih engga berubah, tetap sama. Cuma …  hati rasanya lebih tenang. Saya yakin saja, Allah pasti nolong, dan kita tidak sendirian.”

Ini mungkin peristiwa biasa. Saya dan sahabat, mungkin  sering mengalami hal ini. Tapi kelanjutan cerita ini yang membuat saya, seperti mendapat sebuah pengingat.

Teman saya lanjut bercerita, “Wah rasanya, Bu, waktu saya nangis di mesjid itu, teh. Asa tidak sendirian … terasa, Allah hadir-nya, teh …. Saya kan suka ngajar ngaji ibu-ibu. Saya bilang, ilmu saya masih sedikit. Tapi, saya akan berbagi, sedikit yang saya punya … jadi saya ceritakan pengalaman saya,  ke ibu-ibu. Intinya sih …  lebih untuk mengingatkan diri sendiri, Alhamdulillah bisa berbagi sama yang lain.”

Orang yang paling beruntung, adalah orang yang memiliki banyak  manfaat  bagi orang lain. Pekerjaannya sebagai guru ngaji, membuatnya harus terus belajar mendekati Allah dan terus mencari cara,  bagaimana, mengikat kelompok mengajinya, agar terus semangat hadir dalam pengajian.

Teman saya, sudah bisa men-sedekah-kan ilmu yang dipelajarinya, pada orang lain.

Saat itu, dalam hati saya merasa iri. Saya belum bisa mengajar mengaji seperti dia. Pengalamannya yang dibagikan, bisa menolong banyak orang.

Yang menjadi passion saya saat ini adalah menulis novel. Awal gabung di Steemit juga karena ada reward yang bisa diterima.

Syukurlah, seiring dengan berjalannya waktu, salah satu tujuan saya menulis novel, semoga hasil karya, bisa menjadi amal jariah. Bisa jadi sedekah ilmu. Namun terkadang, imbalan upvote dan kenaikan reputasi, jadi motivasi lain yang lebih kuat.

Alhamdulillah. Cerita teman saya, meluruskan  niat kembali ke jalur. Semoga informasi yang saya bagikan, bisa bermanfaat bagi para pembaca. Postingan saya bisa jadi sedikit  sedekah  ilmu. Karena banyak sekali manfaat sedekah. Diantaranya; Allah melipatgandakan apa yang kita sedekahkan, membuka pintu rezaki, Allah mengganti harta yang disedekahkan, menyembuhkan penyakit, mengabulkan hajat, menjauhkan bencana.

Sebuah berita mengejutkan saya terima. Sepupu dari pihak  ayah saya, meninggal dunia, Sabtu 20 Oktober 2018. Usianya lebih muda dari saya. Ajal memang tidak pandang bulu.

Apa niat sahabat terus bergabung di Steemit?

Sudahkah sahabat bersedekah hari ini?

 

Bandung Barat, Minggu 21  Oktober 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *