Story

Fleksibilitas Metode Berpikir dan Keyakinan

Niat awal hanya mau ke Lembang, makan siang. Sesampai di sana, lanjut sampai Gunung Tangkuban Perahu. 29,5 km dari tempat saya tinggal.

Sebenarnya, hari Sabtu dan Minggu, sengaja saya alokasikan, untuk menyiapkan materi yang akan diposting minggu depan. Namun Sabtu pagi saya harus rapat kepala sekolah se-kecamatan sampai menjelang dzuhur. Sampai rumah, ketiduran  sampai sore. Malamnya, karena Ade tidak bisa pulang, gantian kita berdua yang apelin Ade ke Jatinangor.

Minggu pagi setelah beres-beres rumah, mantan saya mengajak pergi. Sebenarnya sudah lama dia mengajak saya. Touring. Tapi kebayang, naik motor,  panas-panas, biasanya saya gampang masuk angin. Kepala terasa berat. Perut kembung. Pundak rasanya berat sekali. Tapi hari itu, entah kenapa saya semangat sekali.

Selepas dari pasar Lembang, lanjut menuju daerah wisata Gunung Tangkuban Perahu. Udara berubah jadi sejuk. Jalanan kelak-kelok, turun naik, jajaran  pohon pinus yang sudah berumur  di kiri kanan jalan, membuat perjalanan tidak seperti yang saya bayangkan. Sangat menyenangkan.

Naik motor  memberi sensasi berbeda. dan yang paling penting, saya tidak masuk angin dan teman-temannya  hehehehe.

Sampai rumah sore hari. Harapan memiliki waktu panjang, untuk mempersiapkan postingan seminggu ke depan, lenyap. Tapi di sisi lain,  menemani mantan, jadi prioritas utama.

Saya  ingin sekali berbagi, melalui tulisan. Sesuatu yang saya sukai.  Namun yang selama ini diyakini, saya perlu waktu  yang banyak, untuk menghasilkan sebuah tulisan yang menurut saya, bisa dan layak diposting. Standar itu tentu saja sangat subjektif hehehehe…. Berlalunya waktu tanpa me time menulis, agak meresahkan hati.

Sebagai seorang perfeksionisme, tentu saja yang saya inginkan, memiliki dan mendapatkan dua hal tersebut sekaligus. Serakah ya hehehehe

Satu-satunya  cara mendapatkan keduanya, hanya dengan mengubah mindset dan keyakinan pribadi. Menghancurkan keyakinan lama dan mencoba memperjuangkan  keyakinan baru. Bisa menulis, tanpa perlu waktu lama, panjang, dan sendiriaan, saat berkontemplasi.

Melatih myelin baru (keterampilan baru), sembari memohon pertolongan Allah. Agar dikuatkan tekad dan dimudahkan, dalam proses membentuk keyakinan baru. Tapi kalau dipikir-pikir. Bila saya punya keyakinan baru seperti di atas. Maka menulis akan jadi proses yang jauh lebih mudah, sederhana, dan menyenangkan.

Mungkin dengan kondisi ini, saya bisa melenturkan dan menguatkan otot menulis. Melatih menulis dengan seluruh tubuh dan panca indera. Tidak hanya mengunakan imajinasi. Seperti saran Teh @mariska.lubis, yang masih belum saya mengerti dan belum bisa saya terapkan.

Pernahkah sahabat harus mengubah keyakinan, saat harus beradaptasi  dan menjadi pemenang, dalam menghadapi   situasi baru?

Maraknya teknologi Blockchain dalam jagad raya Steemit, mengindikasikan perubahan yang harus segera direspon.

Yuk, kita periksa. Apakah keyakinan dan cara berpikir kita saat ini, bisa membuahkan kehidupan lebih baik di masa depan?

 

Bandung Barat, Selasa 23 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *