Fiction

Proposal # 13

 

“Ngomong aja sama Galang, via telpon. Kasih tahu kondisi yang sebenarnya. Ini sih kan sekedar sebuah pemberitahuan. Proposal.” Malik menatap wajah istrinya, yang tampak sumringah. Miranda segera meraih hpnya.

Source

 

Sambil tiduran di sofa kesayangannya, Galang memencet remote tv. Belum ada siaran yang menarik perhatiannya. Matanya melirik jam dinding. Sudah setengah jam dia berganti-ganti chanel.

Pikirannya kembali melayang-layang. Mencerna  informasi  baru. Ternyata …  Dania adalah Nia, gadis manis yang selalu ditarik-tarik rambut panjangnya, saat dia masih SMP. Keinginan untuk menyerah menguap. Dania berasal dari keluarga baik-baik. Nilai tambah wanita itu. Selama belum ada janur kuning melengkung, dia masih punya kesempatan.

Dia akan masuk dari titik terlemah Bram.

Gawai  Galang berdering nyaring,  merobek kesunyian ruangan santai  Dengan malas diraihnya benda yang tergeletak di atas meja. Bunyi itu menandakan mama yang menelpon.

“Halo Ma. Apa kabar?”

“Baik sekali, Galang. Terima kasih. Kamu lagi kenapa, sayang?”

Galang menjauhkan gawai dari telinga. Dia menatap gawai dengan heran. “Engga kenapa-kenapa. Memangnya aku kenapa, Ma?”

“Aduh Galang! Kamu kan sudah jadi anak Mama, puluhan tahun. Anak Mama juga cuma satu lagi. Masak Mama engga tahu,kalau ada sesuatu yang ganggu kamu.”

“Aku engga apa-apa, Ma …. Tumben Mama telpon malam-malam?” Galang balik bertanya,  mengalihkan perhatian.

Miranda mendehem. “Kamu … sudah punya pacar …?”

Source

 

“Hahahahaha  Mama … Kenapa tiba-tiba nanya? …. ” Galang menhentikan tawa, ketika suara protes mamanya terdengar keras.

“Kalau sudah punya, aku pasti kenalin …. Di usia aku, pacaran sudah bukan untuk having fun lagi.”

“Iya, Mama pikir juga begitu. Tapi ngomong-ngomong, sudah ada orang yang kamu suka?”

“Hahaha …. Mama kayak mak comblang aja. Kenapa emangnya, mau jodohin aku lagi ya?” Galang kembali tertawa terbahak-bahak. Menelpon mama memang selalu membuat suasana hatinya jadi positif.

Miranda melirik suaminya dengan tatapan jengkel. Engga bapak, engga anak, sama aja. Apa lucunya sih, bantu anak mendapatkan jodoh yang baik.

“Ih kamu ini … persis banget sama Papamu-!”

“Papa kenapa, Ma?”

“Iya … sama seperti kamu. Ketawa-ketawa begitu. Kalau engga dipelototin Mama,pasti keluar air mata dia, saking ngerasa lucunya!” gerutu Miranda.

Papa Galang  yang mendengarkan percakapan mereka sambil nonton TV, senyum-senyum sendirian.

“Ya, iyalah …Mama ini! Zaman sekarang, kok masih mau jodoh-jodohin. Memangnya Mama  dapet wangsit darimana? Kok tahu-tahu punya ide ini. Biasanya … cuma nyuruh aku,  ketemuan sama anak temen Mama aja.”

“Kalau yang ini beda,  Galang. Sebenarnya ini sih soal janji kita waktu masih SMP …”  ujar  Miranda perlahan, setelah menarik nafas panjang sesaat.

Tubuh Galang menegang. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia segera duduk tegak. Bersiap mendengarkan kelanjutan perkataan mamanya dengan seksama. Jangan-jangan ….

Tapi mamanya tak kunjung berkata apa-apa. Rasanya seperti menunggu bertahun-tahun, sebelum dia mendengar suara mamanya lagi.

“Iya…kamu kan tahu. Tante Faren itu sahabat terbaik Mama.”

Galang seperti melayang di udara. Tanpa sadar dia melenguh.

“Galang … kamu kenapa?” suara Mama terdengar sangat panik.

“Engga apa-apa, Ma. Terusin aja,” tukas Galang cepat. Dia berusaha menenangkan jantungnya  yang berdebar hebat.

“Ini sih cuma sebuah pemberitahuan aja … Sebuah proposal, kata Papamu. Lagi pula kondisinya saat ini juga serba tidak pasti. Yah … kamu tahu kan, namanya juga anak-anak …. Kita berdua merasa lebih dari sekedar saudara. Mama sama Mama Dania dekat sekali. Semua guru dan teman-teman, memanggil kami si kembar. Malah kami sering mendapatkan rangking satu bersama-sama. Tentu saja, walaupun nilainya sama, kami bersaing dengan sehat. Kami unggul di mata pelajaran yang berbeda.”

Miranda menghela nafasnya. “…  suatu hari, salah seorang teman sekelas kami,  melontarkan  ide ‘kalau kalian punya anak laki-laki dan perempuan, nikahkan saja mereka. Hingga kalian akan benar-benar menjadi keluarga’. Saat itu kami berdua sama-sama tertawa terbahak-bahak, sama seperi reaksi kamu dan papamu saat ini. Lucu sekali rasanya, punya pacar belum, sudah mau menjodohkan anak-anak.”

“Karena kakekmu harus keluar negeri, Mama pergi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal pada Mama Dania. Setelah sekian lama, akhirnya kami bertemu lagi, saat kamu SMP…. Kami berdua teringat lelucon saat kami SMP. Makanya kami selalu mengajakmu dan Dania, saat kami berdua bertemu …. Seperti masa lalu, Mama pun harus menemani Papamu yang sedang mengembangkan bisnisnya di mancanegara. Hari ini setelah lima belas tahun, kami bertemu lagi …”

Miranda menunggu beberapa saat. Ketika Galang tidak berkomentar dia melanjutkan,”Kami berdua sih, tidak terlalu berharap, walaupun sangat menginginkannya …. Karena apabila berada di posisi yang sama, kami pun akan keberatan …. Apalagi kalian sama-sama sudah dewasa dan sukses …. Mama tidak akan memaksakan kehendak Mama. Cuma … apabila kalian mau berusaha lebih saling mengenal, itu sudah cukup bagi kami.”

Galang tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Berita ini tidak hanya membuatnya sangat terkejut, tetapi juga sangat menggembirakannya.

“Galang … kamu masih di sana?”

“Iya, Ma…”

“Jangan terlalu dipikirkan juga …. Mama tidak ingin kamu tertekan karena hal ini. Lagipula saat ini, Dania juga sudah punya pacar…”

Suasana hening ketika Miranda selesai bicara.

Galang sudah bisa menguasai dirinya lagi. “Ma, jodoh  kan di tangan Allah.”

“Galang! Kamu menerima proposal ini!” pekik Miranda, seolah tak percaya. “Bagaimana mungkin-?”

“Ma, Dania kan juga sudah punya pacar! Kan Mama yang bilang …. Jadi biarkan aja semuanya mengalir,” sahut Galang cepat.

“Oh iya juga yah … engga apa-apa. Yang penting kamu setuju dulu. Eh, ngomong-ngomong, kenapa suara kamu jadi sangat bersemangat?”

“Mama jangan aneh! Orang mau dijodohin  sama cewek yang sudah punya pacar, masak aku dibilang semangat hehehe … Ini kan karena benar-benar engga pasti. Jadi aku tetap nurut kan sama orangtua.”

Gawat kalau mamanya tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini, wah bisa runyam semuanya.

“Bagus … bagus Mama seneng sekali dengarnya. Kita kan masih belum tahu gimana tanggapan Dania ya. Minimal satu penghalang sudah terlewati. Makasih ya sayang, Mama doain kamu, supaya bisa berjodoh dengan Dania. Mama benar-benar menyukainya,” sahut Mamanya sambil menutup hpnya.

Galang segera mengambil map-map yang berisi informasi tentang Dania dan foto-fotonya. Saat bertemu Mamanya, Dania terlihat sangat ceria dan segar. Dilihatnya lagi  laporan-laporan tersebut. Harapannya terkabul, ada informasi baru yang menyenangkannya sekarang.

Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah

Dia sudah mendapatkan kunci. Otaknya bekerja dengan kekuatan penuh. Apa strategi pendekatan  yang efektif dan efisien untuk membalikkan hati Dania padanya?

 

Bandung Barat, Kamis 25 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *