Story

Sudah Siap Menikah?

Bertepatan dengan hari santri, 22 Oktober, kami sudah 23 tahun bersama.

Awal perkenalan kami berdua, gara-gara parcel.

Saat itu saya tinggal bersama keluarga almarhum Le Ato. Suatu malam, pintu rumah diketuk. Karena tidak ada orang, terpaksa saya yang keluar. Ada yang mengirim parcel untuk Le Diah.

Setelah tanda tangan, salah seorang dari mereka minta minum. Ketika saya keluar membawa air minum, terdapat sekelompok anak kuliah di ambang pintu. Yang minta minum, meminta nomor telepon rumah, katanya, bosnya suka cross check, apakah benar kiriman sudah sampai.

Yang minta nomor telepon saya, bukan Duzan (mantan saya). Singkat cerita saya dan Duzan segera menjadi sahabat baik. Satu setengah tahun, kami suka bertemu dan saling telpon. Karena rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Dia menjadi sahabat laki-laki saya satu-satunya.

Setelah selesai kuliah, dia kerja di luar pulau. Kabar terakhir yang saya terima dari Duzan, dia akan menikah. Tiga setengah tahun kami tidak pernah bertemu atau berkirim kabar.

Tahun baru 1995, saya berpisah dengan teman kuliah saya. Saat itu saya telpon ke rumah Duzan, kata ibunya, Duzan masih tidur. Agak kaget sebenarnya, saat saya telpon, dan dia ada di rumah. Tidak lama dia telpon balik, kami bertemu lagi. Dia menemani hari-hari menangis saya hehehehe

Saat beberapa hari kemudian, ketika dia akan kembali bertugas, kami memutuskan untuk mencoba memulai hubungan baru. Dasar pertimbangannya sangat realistis. Kami sudah bersahabat selama lima tahun. Dan karena bersahabat, kami lebih mengenal satu sama lain.

Sepuluh bulan kemudian, kami memutuskan menikah.

Diambil dari Grup WA Keluarga Agus Salim

Saat itu saya merasa sudah siap menikah. Berbekal IPK 3, sekian bla bla bla … ternyata, saya baru sadar sekarang. Saat itu saya belum siap menikah. Merasa harus dibahagiakan suami, menjadi salah satu kekecewaan dan kemarahan, yang tanpa sadar, saya nikmati.

Tentu saja. Sebaik dan sesempurna apa pun pasangan kita, tidak ada yang bisa membahagiakan diri kita. Setelah 15 tahun kemudian, saat berusaha mengalahkan kedua kista di dua indung telur saya, baru kebenaran ini, bisa saya pahami.

Setelah sulung saya kerja di kota lain, dan Ade kuliah di kota lain, kami kembali tinggal berdua. 23 tahun, membuat kami lebih bisa mengerti, dan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak menuntut pasangan untuk membahagiakan, dan lebih sering saling mengingatkan untuk mendekati-Nya, menjadi salah satu kunci utama, perubahan kualitas hubungan kami.

Masing-masing dari kami, menekuni passion berbeda. Bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kesejahteraan pribadi. Memberi waktu satu sama lain. Memohon pada-Nya, agar kami tidak saling menuntut kelak dan bisa berkumpul lagi.

Foto Diambil dari Grup WA Keluarga Agus Salim

 

Saya bilang pada kedua anak saya, kami berdua, bisa menjalani kehidupan perkawinan seperti ini, setelah 23 tahun. Saya berharap, Abang dan Ade, tidak perlu memerlukan waktu selama ini, agar bisa berada dalam situasi yang sama.

Selesaikan pr pribadi secepatnya. Menemukan passion dan menjalaninya. Bergantung  dan bersandar pada Allah. Mampu bangkit, tanpa harus dibantu orang lain, saat down. Dan mandiri secara finansial, agar bisa lebih leluasa memberi manfaat bagi banyak orang.

Generasi berikut, harus punya kehidupan yang lebih baik bukan?

Sudah siapkah sahabat menikah?

 

Bandung Barat, Sabtu 00.40  27 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *