Story

Ya Allah, Berikanlah Kemampuan Menulis Sebaik-baiknya Padaku

Dalam sebuah pelatihan menulis online bersama Kak @diyanti86, saya kebagian menulis biografi dan ensiklopedi DR. ‘Aidh al-Qarni. Penulis buku bestseller La Tahzan.

Tahukah sahabat, berapa banyak buku referensi yang beliau gunakan, saat menulis buku La Tahzan?

300 buku, dari berbagai bahasa. Buku itu disusun selama tiga tahun. Dan 100 halaman pertama, beliau tulis, saat ada di balik jeruji besi.

Banyak sekali yang saya peroleh dari pelatihan, yang saat ini masih berlangsung. Baik dari pemateri, sosok DR. ‘Aidh al-Qarni, maupun dari sesama teman yang mengikuti pelatihan. Diantaranya antara lain:

Apa yang menarik?

Sudah sering kata ini saya baca, namun sepertinya hanya masuk kuping kanan keluar kiri. Tapi saat saya menulis biografi dan ensiklopedia beliau, pertanyaan ini begitu menggelitik.

Biasanya hanya ada satu pertanyaan, apakah yang saya tulis bermanfaat? Sekarang pertanyaannya bertambah satu lagi. Apa yang menarik dari apa yang kutulis?

Menghabiskan waktu 2 – 3 jam per hari untuk anak atau keluarga

Saya kembali diingatkan. Walaupun kami hanya berdua di rumah, harus ada us time. Jalan terdekat menuju surga. Mencari ridho suami.

Banyak membaca bacaan-bacaan lintas minat, hingga akan memperkaya wawasan kita. Kita akan lebih mampu melihat dari sudut yang berbeda. Menemukan benang merah, dari satu informasi dengan informasi lainnya. Menjalin cerita dengan perspektif berbeda.

Menulis, berarti membawa pembaca mengunjungi taman-taman indah.

Mindset ini sangat penting dalam proses penulisan novel. Salah satu kegiatan yang saya sukai.

Kemana pembaca akan saya bawa sekarang? Keberhasilan seorang penulis, ditentukan seberapa mampu dia mampu mengajak pembaca berkelana.

 

Setiap kali Dr. ‘Aidh al – Qarni umrah, beliau¬† selalu berdoa memohon pada Allah, agar diberi kemampuan menulis sebaik-baiknya.”

 

Banyak sekali mutiara dan hikmah yang ditulis beliau di buku La Tahzan.

Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.

Sebuah kalimat pendek, namun memerlukan perjuangan keras untuk meyakininya.

Semoga kita semua, secepatnya bisa meyakini kalimat di atas. Dan menjalani sisa hidup kita dengan berpegang teguh pada ‘Allah bersama kita’.

Bandung Barat, Selasa 30 Oktober 2018

Salam

Cici SW

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *