Story

Tahukah apa prioritas hidupmu?

 

Source

 

Pernahkah sahabat merasa banyak sekali  yang harus dilakukan?

Waktu 24 jam rasanya kurang?

Kita sudah kelelahan, bekerja tidak berhenti, tapi bukan berkurang, rasanya pekerjaan semakin bertumpuk? Banyak hal belum terselesaikan. Berteriak minta segera  diselesaikan.

Belum lagi kejadian-kejadian tidak terduga, yang membutuhkan penanganan saat itu juga.

Rasanya sesak nafas.

Ketika keadaan seperti ini menyerang, biasanya yang ada, saya malah ingin tidur, tarik selimut sampai leher. Tapi setelah bangun tidur, bukannya segar, biasanya kepala terasa berat, asam lambung naik hehehehe.

Yang  membuat frustasi, saya tidak  tahu dan tidak sadar, di mana akar masalahnya? Tanpa mengetahui akar, penanganan yang tepat tidak  mungkin bisa dilaksanakan.

Kondisi ini terus berlangsung. Tubuh memberikan sinyal, berupa  efek  samping. Hati terasa tidak tenang, badan terasa lelah dan seperti kehabisan tenaga. Batang leher terasa sakit dan tegang. Terkadang, mengambil nafas pun terasa berat.

Saya beruntung,  hari  itu, guru bahasa Inggris saya, menanyakan sebuah pertanyaan sederhana.

What’s your priority?

Oh my God.

Ternyata, langkah pertama menyelesaikan masalah, adalah dengan mengajukan pertanyaan yang tepat.

Menulis menjadi prioritas setelah Allah dan keluarga.

Jadi saya mengurangi kegiatan  lain, agar memiliki lebih banyak waktu lagi, untuk belajar menulis.

Namun masih ada yang terasa mengganjal, sampai  tanpa sengaja, menemukan sebuah terjemahan sebuah ayat, saat menyelesaikan  tugas pelatihan menulis.

 

Dan Kami tidak menjadikan engkau penjaga mereka; dan engkau bukan pula pemelihara mereka.

(QS. Al – An’am [6]:107)

 

Tanpa disadari, saya banyak menyimpan  rasa khawatir, untuk  teman-teman guru (10 orang) dan 63 murid kami.

Bila ada sesuatu, yang berjalan di luar rencana, dan itu sering terjadi, karena inilah hidup. Saya merasa harus membereskan segala sesuatu. Mengembalikannya  ke jalur.

Bila mereka sedih atau sedang menghadapi tantangan,  saya merasa bertanggung jawab menghilangkan kesedihan  dan kesulitan mereka. Terkadang saya bisa bantu. Tapi lebih banyak dan sering, tidak bisa bantu. Ini memberi sedikit tekanan di bawah sadar. Dan lama kelamaan, tentu saja membukit.

Membaca ayat di atas, membuat hati terasa lebih ringan. Karena bukan saya yang menjaga dan memelihara mereka. Allah yang menjaga dan memelihara mereka. Beban rasanya menguap. Langkah kaki menjadi semakin ringan.

Tugas saya, hanya menjaga dan memelihara diri sendiri. Dengan menjadi pribadi yang lebih baik, saya bisa melaksanakan tugas sebagai kepala sekolah lebih baik lagi. Karena saat hati tenang, setiap langkah dan kejadian, seperti sudah diatur Allah. Persiapan bisa dilakukan lebih baik dan teliti. Akibatnya, tentu saja, hasil akan semakin baik. Dan itu yang saya alami.

Mengagumkan sekali. Pekerjaan berat bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Jadi sahabat, saat kita malas melakukan apa pun, coba periksa prioritas.

Lakukan  aktivitas dari prioritas tertinggi. Konsentrasi di sana, sampai tugas kita selesai, baru beralih ke aktivitas lain.

Jangan pikirkan semua orang, sampai tidak ada energi  dan waktu tersisa, memikirkan diri sendiri.

Jangan lupa jaga pola makan dan olahraga rutin.

Semoga bermanfaat.

 

Salam bahagia

Bandung Barat, 31 Oktober 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *